Kota Tanjungbalai: Perbedaan revisi

8.110 bita ditambahkan ,  3 bulan yang lalu
(Penjelasn)
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler VisualEditor
|kodearea =+62 623
|motto ="Balayar Satujuan Batambat Satangkahan"
Artinya : <i>Seia Sekata Dalam Mencapai Tujuan<i>
|lambang =[[Berkas:Logo Kota Tanjungbalai.jpg|120px]]
|koordinat ={{coord|2.947739|99.766716}}
|agama =[[Islam]] 86.30%<br> [[Kristen]] 8.3%<br>- [[Protestan]] 7.51%<br>- [[Katolik]] 0.79%<br> [[Agama Buddha|Buddha]] 5.33%<br> [[Hindu]] 0,019%<br> Lainnya 0,018%<ref name="TANJUNGBALAI">{{cite web|url=https://tanjungbalaikota.bps.go.id/publication/2021/02/26/a9ae0ef1324a15547eeb6043/kota-tanjungbalai-dalam-angka-2021.html|title=Kota Tanjungbalai Dalam Angka 2021|website=www.tanjungbalaikota.bps.go.id|accessdate=18 Maret 2021|page=115|format=pdf}}</ref>
|bahasa = [[Bahasa Indonesia]], [[Bahasa Melayu]], [[Bahasa Batak]], [[Bahasa Jawa]]
|flora =[[daun buasDaun Buas-buas]]
|fauna =[[Lundu]]
|zona waktu =[[Waktu Indonesia Barat|WIB]]
|nama wakil kepala daerah= ''lowong''
|web ={{URL|http://www.tanjungbalaikota.go.id/}}
|julukan=Tanjungbalai Si Kota Kerang}}
 
[[Berkas:Tugu Bangsal Tanjungbalai.png|jmpl|211px|Tugu Bangsal Tanjungbalai]]
[[Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Brug over de Silau rivier bij Tandjoengbalai die de stad met het spoorwegemplacement verbindt TMnr 60039321.jpg|jmpl|300px|Jembatan angkat di atas [[sungai Silau]] dekat Tanjungbalai]]'''Kota Tanjungbalai''' (Jawi: كوتا تنجوڠ بلاي) adalah salah satu [[kota]] di [[provinsi]] [[Sumatra Utara]], [[Indonesia]]. Luas wilayahnya 60,52 km² dan penduduk berjumlah 175.233 jiwa tahun [[2019]].<ref name="TB2020"/> Kota ini berada di tepi [[Sungai Asahan]], sungai terpanjang di Sumatra Utara. Jarak tempuh dari [[Medan]] lebih kurang 186 KM atau sekitar 5 jam perjalanan kendaraan.
[[Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Tandjoengbalei 1895 TMnr 60038665.jpg|jmpl|300px|Tanjungbalai pada tahun 1895]]
 
'''Kota Tanjungbalai''' (Jawi: كوتا تنجوڠ بلاي) adalah salah satu [[kota]] di [[provinsi]] [[Sumatra Utara]], [[Indonesia]]. Luas wilayahnya 60,52 km² dan penduduk berjumlah 175.233 jiwa tahun [[2019]].<ref name="TB2020"/> Kota ini berada di tepi [[Sungai Asahan]], sungai terpanjang di Sumatra Utara. Jarak tempuh dari [[Medan]] lebih kurang 186 KM atau sekitar 5 jam perjalanan kendaraan.
 
Sebelum Kota Tanjungbalai diperluas dari hanya 199 ha (2 km²) menjadi 60,52 km², kota ini pernah menjadi kota terpadat di [[Asia Tenggara]] dengan jumlah penduduk lebih kurang 40.000 orang dengan kepadatan penduduk lebih kurang 20.000 jiwa per km². Akhirnya Kota Tanjungbalai diperluas menjadi ± 60 Km² dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 20 Tahun 1987, tentang perubahan batas wilayah Kota Tanjungbalai dan [[Kabupaten Asahan]].
 
== Sejarah ==
Berdasarkan sejarah, keberadaaan Kota Tanjungbalai tidak dapat dipisahkan dengan kerajaan Asahan yang telah berdiri ± 392 tahun yang lalu. Tepatnya dengan penobatan Sultan Abdul Jalil sebagai sultan pertama [[Kesultanan Asahan]] di Kampung Tanjung yang merupakan cikal bakal nama Tanjungbalai pada tahun 1620. Asal-usul nama Kota Tanjungbalai menurut cerita rakyat bermula dari sebuah balai yang ada di sekitar ujung tanjung di muara sungai Silau dan aliran sungai Asahan. Lama – kelamaan balai tersebut semakin ramai disinggahi karena letaknya yang strategis sebagai bandar kecil tempat melintas bagi orang-orang yang ingin berpergian ke hulu [[Sungai Silau]] dan [[Sungai Asahan]]. Selanjutnya kampung tersebut dan wilayah sekitarnya dinamakan "Kampung Tanjung" dan orang lazim menyebutnya “ Balai di Tanjung”.
 
Tanggal 27 Desember yang merupakan hari mangkatnya Sultan Kerajaan Aceh Sultan Iskandar Muda yang merupakan ayahanda Sultan Abdul Jalil yang kemudian telah dijadikan sebagai hari lahir Kota Tanjungbalai yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan DPRD Kotamadya Tanjungbalai Nomor 4 / DPRD / TB / 1986 tanggal 25 November 1986.
 
Kerajaan Asahan pernah diperintah oleh 8 orang raja sejak raja pertama Sultan Abdul Jalil pada tahun 1620 sampai dengan raja terakhir Sultan Syaibun Abdul Jalil Rahmadsyah pada tahun 1933. Raja terakhir mangkat pada tanggal 17 April 1980 di Medan dan dimakamkan di lingkungan Masjid Raya Tanjungbalai.
 
Di zaman penjajahan Belanda, pertumbuhan dan perkembangan Kota Tanjungbalai semakin meningkat dan strategis. Kota Tanjungbalai dijadikan sebagai ''[[Gemeente|Gementee]]'' berdasarkan ''Besluit G.G''. tanggal 27 Juni 1917 dengan ''Stbl''. 1917 Nomor 284. Hal ini sejalan dengan berdirinya perkebunan – perkebunan  di daerah Asahan dan Sumatera Timur, seperti H.A.P.M, SIPEF, London Sumatera (Lonsum) dan lain-lain. Pembangunan jalur transportasi seperti jalan, jembatan dan jalur kereta api mempermudah akses ke Kota Tanjungbalai. Sehingga hasil-hasil dari perkebunan dapat dipasarkan dengan lancar ke luar negeri melalui pelabuhan Tanjungbalai. Maka Kota Tanjungbalai berkembang sebagai kota pelabuhan yang diperhitungkan di pantai timur Sumatera Utara.
 
Pembukaan kantor – kantor dagang berbagai maskapai Belanda di Tanjungbalai pada abad XX, seperti K.P.M., Borsumeij dan lain-lain, maka mulailah bangsa Eropa menetap di Kota Tanjungbalai. ''Asisten Resident van Asahan'' berkedudukan di Tanjungbalai yang jabatannya bertindak sebagai Walikota dan Ketua Dewan Kota (''Voorzitter van den Gemeenteraad''). Maka mulai saat itu Kota Tanjungbalai selain tempat kedudukan Raja, juga merupakan tempat kedudukan Asisten Resident.
 
Sejak kemerdekaan Republik Indonesia, keberadaan Kota Tanjungbalai sebagai daerah otonom ditetapkan berdasarkan Undang – Undang Nomor 9 Darurat Tahun 1956 (LN Tahun 1956 Nomor 60, TLN Nomor 1092) tentang Pembentukan Daerah Otonom Kota – Kota Kecil dalam Lingkungan Daerah Provinsi Sumatera Utara, nama ''Gementee'' Tanjungbalai diganti dengan Kota Kecil Tanjungbalai. Berdasarkan Surat Mendagri Nomor U.P.15/2/3 tanggal 18 September 1956, jabatan Walikota Tanjungbalai terpisah dari Bupati Asahan. Selanjutnya dengan Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1957, nama Kota Kecil Tanjungbalai diganti menjadi Kotapraja Tanjungbalai.
 
Pada waktu ''Gementee'' Tanjungbalai didirikan tahun 1917, luas wilayah Kota Tanjungbalai hanya 106 Ha. Atas persetujuan Bupati Asahan melalui Maklumat Nomor 260 tanggal 11 Januari 1958, daerah – daerah yang dikeluarkan (menurut Stbl. 1917 Nomor 641) dikembalikan pada batas semula, sehingga luasnya menjadi ± 190 – 200 Ha ( ± 2 km²). Berdasarkan Sensus penduduk tahun 1980, dengan luas wilayah 2 km² dan jumlah penduduk ± 40.000 jiwa (kepadatan penduduk ± 20.000 jiwa per km²), menjadikan Kota Tanjungbalai sebagai Kota terpadat di [[Asia Tenggara]] saat itu.
 
Selanjutnya dengan terbitnya PP Nomor : 11 Tahun 1984 (LN Tahun 1984 Nomor 12) tanggal 29 Maret 1984, maka oleh Gubernur Sumatera Utara atas nama Mendagri, pada tanggal 5 Januari 1985 telah meresmikan terbentuknya 2 (dua) Kecamatan di Kotamadya Dati II Tanjungbalai, yaitu Kecamatan Tanjungbalai Selatan dan Kecamatan Tanjungbalai Utara.
 
Kemudian berdasarkan PP Nomor 20 Tahun 1987 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Dati II Tanjungbalai dengan Kabupaten Dati II Asahan, serta Inmendagri Nomor 22 Tahun 1987 tentang Pelaksanaan PP Nomor 20 tahun 1987, maka luas wilayah Kota Tanjungbalai berubah menjadi 6.052 Ha dengan 5 Kecamatan 11 Kelurahan dan 19 Desa. Berdasarkan Perda Nomor 23 Tahun 2001 tentang Perubahan Status Desa menjadi Kelurahan di Wilayah Kota Tanjungbalai, 19 Desa tersebut telah diubah statusnya menjadi Kelurahan. Semenjak itulah di Kota Tanjungbalai terdapat 5 Kecamatan dengan 30 Kelurahan.
 
Kemudian berdasarkan Peraturan Daerah Kota Tanjungbalai Nomor 4 tahun 2005 telah ditetapkan pembentukan kecamatan [[Datuk Bandar Timur, Tanjungbalai|Datuk Bandar Timur]] sebagai hasil pemekaran kecamatan [[Datuk Bandar, Tanjungbalai|Datuk Bandar]]. Selanjutnya berdasarkan Perda Kota Tanjungbalai Nomor 3 Tahun 2006 telah ditetapkan pembentukan kelurahan [[Pantai Johor, Datuk Bandar, Tanjung Balai|Pantai Johor]] di kecamatan [[Datuk Bandar, Tanjungbalai|Datuk Bandar]]. Dengan demikian sampai saat ini, Kota Tanjungbalai terdiri dari 6 kecamatan dan 31 kelurahan.<ref>{{Cite web|title=Sejarah Kota Tanjungbalai|url=https://tanjungbalaikota.go.id/sejarah/#:~:text=Asal%2Dusul%20nama%20Kota%20Tanjungbalai,Silau%20dan%20aliran%20sungai%20Asahan.&text=Hal%20ini%20sejalan%20dengan%20berdirinya,Lonsum)%20dan%20lain%2Dlain.|website=Portal Resmi Pemerintah Kota Tanjungbalai}}</ref>
 
== Geografi ==
Kota Tanjungbalai terletak di antara 2° 58' LU dan 99° 48' BT, dengan luas wilayah 60,52 km² (6.052 ha),. Kota Tanjungbalai dikelilingidkelilingi oleh wilayah2 [[Kabupatensungai, Asahan]].yaitu [[Sungai Silau]] yang mengalir ke [[sungaiSungai Asahan]] di wilayah timur laut kota.
 
Kota Tanjungbalai memiliki pelabuhan tertua kedua di provinsi Sumatra Utara sesudah [[Pelabuhan Belawan]] yaitu Pelabuhan Teluk Nibung. Keberadaan Pelabuhan Teluk Nibung telah dikenal sejak zaman kolonial Belanda sebagai pelabuhan internasional yang memiliki kegiatan ekspor-impor yang cukup ramai dikunjungi karena berdekatan dengan negara tetangga Malaysia, Singapura, dan Thailand.
 
Selain itu, Kota Tanjungbalai juga memiliki jembatan terpanjang di provinsi Sumatra Utara sepanjang ±600m yang menghubungkan Kota Tanjungbalai dengan desa [[Sei Kepayang Kiri, Sei Kepayang Barat, Asahan|Sei Kepayang Kiri]], [[Sei Kepayang Tengah, Sei Kepayang, Asahan|Sei Kepayang Tengah]], dan [[Sei Kepayang Kanan, Sei Kepayang, Asahan|Sei Kepayang Kanan]] kabupaten [[Kabupaten Asahan|Asahan]], serta Open Stage yang menjadi kebanggaan masyarakat Kota Tanjungbalai, yang berdiri megah di atas Lapangan Pasir Kota Tanjungbalai.<ref>{{Cite web|date=19 Oktober 2016|title=Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Tanjung Balai - Sejarah|url=https://djpb.kemenkeu.go.id/kppn/tanjungbalai/id/profil/114-profil/2517-sejarah.html|website=Direktorat Jenderal Perbendaharaan - Kementerian Keuangan Republik Indonesia}}</ref>
 
=== Batas Wilayah ===
|4 || Tanjungbalai Utara ||TB Kota III, TB Kota IV, Sejahtera, Kuala Silo Bestari, Matahalasan
|-
|5 || Sei Tualang Raso ||Muara Sentosa, SumberSdumber Sari, Pasar Baru, Keramat Kubah, Sei Raja
|-
|6 || Teluknibung ||Perjuangan, Pematang Pasir, Kapias Pulau Buaya, Beting Kuala Kapias, Sei Merbau
|}
 
=== Potensi Unggulan Daerah ===
== Sejarah terbentuknya jembatan tabayang yang hubungkan kota tanjung balai dengan kecamatan Sai apung - asahan ==
Berdasarkan letak geografis yang sangat strategis, maka potensi Kota Tanjungbalai yang dapat dikembangkan antara lain :
[[Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Luchtfoto van Tandjoengbalai TMnr 10017791.jpg|jmpl|300px|Foto udara Tanjungbalai pada tahun 1930-an]]
 
[[Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Silaukade te Tandjoengbalai Asahan Sumatra TMnr 10007928.jpg|jmpl|300px|Pelabuhan Tanjungbalai pada masa [[Hindia Belanda]]]]
# Sebagai Pusat Pelayanan Sekunder A yakni Pusat Pembangunan Kawasan Sektor Unggulan meliputi : Perkebunan, Pertanian dan Industri terhadap wilayah ''hinterland-''nya sesuai Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 7 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Utara.
[[Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Kantoor Güntzel en Schumacher aan de Heerenstraat in Tandjoengbalai TMnr 60021646.jpg|jmpl|300px|Kantor perusahaan Güntzel & Schumacher di jalan Heerenstraat di Tanjungbalai tahun 1917]]
# Sebagai jalur transit perdagangan internasional dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura dan Pelabuhan alternatif bagi daerah ''hinterland'', seperti : [[Kabupaten Asahan]], [[Kabupaten Labuhanbatu|Kabupaten Labuhan Batu]], [[Kabupaten Simalungun]], [[Kabupaten Tapanuli Selatan]], [[Kepulauan Riau|Provinsi Kepulauan Riau]], Pesisir [[Riau|Provinsi Riau]] dan kota-kota besar lainnya di Sumatra Utara.
Sejarah perkembangan kota ini sangat berkaitan dengan kehadiran [[Kesultanan Asahan]], sekitar pertengahan abad ke-18, kemudian kerajaan ini dianeksasi oleh pemerintah Hindia Belanda, menjadi suatu ''[[gemeente]]'' berdasarkan ''Besluit Governeur General'' tanggal 27 Juni 1917 dengan [[Staatblatt|Stbl.]] no. 284/1917, sebagai akibat dibukanya perkebunan-perkebunan di daerah [[Sumatra Timur]], termasuk daerah Asahan, seperti H.A.P.M., SIPEF, [[:en:PT_Perusahaan_Perkebunan_London_Sumatra_Indonesia|London Sumatera]] ("Lonsum"), dan lain-lain. Kota Tanjungbalai menjadi kota pelabuhan dan pintu masuk ke daerah Asahan yang penting artinya bagi lalu-lintas perdagangan [[Hindia Belanda]].
# Mempunyai lahan yang cukup luas dan produktif untuk pengembangan sebagai kota industri, perdagangan, pelayanan jasa telekomunikasi yang didukung oleh Pelabuhan Teluk Nibung sebagai andalan keluar masuk barang (ekspor – impor) dan penumpang.
# Dapat dilalui dengan sarana transportasi baik darat maupun sungai.
# Fasilitas andalan yang tersedia seperti ; jaringan air minum, listrik, transportasi darat dan kereta api, sarana pendidikan, sarana kesehatan, serta sarana lainnya.
# Mempunyai sumber daya alam yang dapat dikembangkan di sektor perikanan khsususnya perikanan tangkap dan budidaya.
# Sumber Daya Manusia yang dapat dikembangkan sebagai modal pembangunan kedepan.
# Sumber Daya Alam yang tersedia seperti : kandungan mineral, galian C Sungai Silau dan Sungai Asahan. Sumber daya alam yang sangat besar dari sungai Asahan adalah pasir sungai. Pasir sungai Asahan ini merupakan bahan alami yang terbentuk dari proses pengikisan tanah disepanjang sungai mulai dari hulu hingga hilir. Pasir sungai Asahan mengandung 70-80% silica. Dengan kandungan silica yang besar ini, pasir sungai Asahan mempunyai karakteristik yang khas dan sangat baik untuk beberapa bahan baku, diantaranya :
 
* Bahan baku industri kaca
* Bahan baku penyaring dan penjernih air
* Bahan baku pencampur dalam industri keramik dan porselin
* Bahan baku untuk kontruksi<ref>{{Cite web|title=Potensi Unggulan Daerah Kota Tanjungbalai|url=https://tanjungbalaikota.go.id/potensi-unggulan-daerah/|website=Portal Resmi Pemerintahan Kota Tanjungbalai}}</ref>
 
 
== Pemerintahan ==
=== Daftar Wali Kota ===
{{utama|Daftar Wali Kota Tanjungbalai}}
{{:Daftar Wali Kota Tanjungbalai}}
 
=== Dewan Perwakilan ===
{{utama|Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Tanjungbalai}}
== Pariwisata ==
=== Wisata kuliner ===
Beberapa makanan khas kota Tanjungbalai diantaranya adalah kerang daguk ([[kerang batu]]), [[kerang bulu]], [[ikan asin]] mayung, [[ikan teri]] [[Kota Medan|Medan]] (Teri Putih), udang asin (udang pukul), [[belacan]] (Rm.Ratu), [[gulai]] asam, [[Daun ubi tumbuk|sayur daun ubi tumbuk]], kamudi[[Kerang hijau|kemudi kapal (kerang hijau)]], utak kotam, [[sombam ikan]], [[anyang]] [[pakis]], dan [[anyang]] Kepah[[Kupang (moluska)|kepah]], [[saksang]] (es ka es ge), [[Babi panggang Karo|BPK]] <ref>[http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/11/21/melancong-ke-tanjung-balai-si-kota-kerang-412206.html "Melancong ke Tanjung Balai si Kota Kerang"] {{Webarchive|url=https://web.archive.org/web/20131105124159/http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2011/11/21/melancong-ke-tanjung-balai-si-kota-kerang-412206.html |date=2013-11-05 }}, [[Kompasiana]]</ref>.
 
=== Lain-lain ===
 
== Pranala luar ==
 
* [https://tanjungbalaikota.go.id/ Portal Resmi Pemerintah Kota Tanjungbalai]
 
* [http://tanjungbalaikota.bps.go.id Badan Pusat Statistik Kota Tanjung Balai]
{{Kota Tanjung Balai}}
317

suntingan