Kidung Gregorian: Perbedaan revisi

21 bita ditambahkan ,  1 bulan yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
(Add 1 book for Wikipedia:Pemastian (20210509)) #IABot (v2.0.8) (GreenC bot)
 
Kumpulan besar kidung ini adalah musik tertua yang dikenal karena merupakan kumpulan kidung pertama yang diberi [[notasi]] pada abad ke-10. Secara umum, kidung-kidung Gregorian dipelajari melalui metode [[viva voce]], yakni dengan mengulangi contoh secara lisan, yang memerlukan pengalaman bertahun-tahun lamanya di [[Schola Cantorum]]. Kidung Gregorian bersumber dari kehidupan [[monastik]], di mana menyanyikan 'Ibadat Suci' sembilan kali sehari pada waktu-waktu tertentu dijumjung tinggi seturut [[Peraturan Santo Benediktus]]. Melagukan ayat-ayat mazmur mendominasi sebagian besar dari rutinitas hidup dalam komunitas monastik, sementara sebuah kelompok kecil dan para solois menyanyikan kidung-kidung.
 
Menurut tradisi, kidung Gregorian dinyanyikan oleh [[paduan suara]] laki-laki dewasa dan kanak-kanak di dalam gereja, atau oleh para biarawan dan biarawati di dalam [[kapel]] [[biara (tempat tinggal)|biara]] masing-masing. Kidung Gregorian adalah kidung [[Ritus Romawi]] yang dinyanyikan dalam [[Misa|perayaan Misa]] maupun dalam [[Ibadah harian (Kristen)|ibadat harian]] di biara-biara. Meskipun tradisi-tradisi nyanyian ibadat asli lainnya dalam Gereja Barat telah tergantikan atau terpinggirkan oleh kidung Gregorian, [[kidung Ambrosian]] masih tetap lestari di kota Milan, dan ada pula pakar-pakar musik yang mendalami kedua ragam kidung ini maupun [[kidung Mozarab]] umat Kristen Spanyol. Kidung Gregorian sekarang ini tidak lagi diwajibkan, namun Gereja Katolik Roma secara resmi masih menganggapnya sebagai ragam musik yang paling sesuai untuk peribadatan.<ref name=Catholic>[http://www.christusrex.org/www1/CDHN/v8.html Konstitusi Mengenai Liturgi Suci, Konsili Vatikan II] {{Webarchive|url=https://archive.is/20121220134142/http://www.christusrex.org/www1/CDHN/v8.html |date=20 Desember 2012 }}; [[Paus Benediktus XVI]]: [http://www.cwnews.com/news/viewstory.cfm?recnum=44963 Catholic World News 28 Juni 2006] kedua-duanya diakses pada 5 Juli 2006</ref> Pada abad ke-20, kidung Gregorian kembali diminati, baik di bidang kajian musik maupun di kalangan masyarakat umum.
 
== Sejarah ==
Selama abad-abad berikutnya kidung Gregorian tetap menempati jantung [[musik Gereja]], di mana ia menumbuhkan berbagai cabang dalam arti bahwa praktik-praktik performansi yang baru bermunculan di mana musik baru dalam naskah yang baru diperkenalkan ataupun kidung-kidung yang sudah ada diberi tambahan dengan cara menyusunnya menjadi [[Organum]]. Bahkan musik [[polifonik]] yang muncul dari kidung-kidung kuno nan luhur dalam Organa oleh [[Leonin]] dan [[Perotin]] di [[Paris]] (1160-1240) berakhir dengan kidung monofonik dan dalam tradisi-tradisi di kemudian hari gaya-gaya komposisi baru dipraktikkan dalam jukstaposisi (atau ko-habitasi) dengan kidung monofonik. Praktik ini berlanjut sampai ke masa hidup [[Francois Couperin]], yang misa-misa organnya dimaksudkan untuk dinyanyikan silih berganti dengan kidung [[homofonik]]. Meskipun hampir tidak digunakan lagi sesudah periode [[Baroque]], kidung mengalami kebangkitan kembali pada abad ke-19 dalam [[Gereja Katolik Roma]] dan sayap [[Anglo-Katolik]] dari [[Komuni Anglikan]].
 
=== [[Notasi musik|Notasi]] ===
Kidung-kidung Gregorian ditulis dalam notasi grafis yang menggunakan seperangkat tanda-tanda khusus yang disebut [[neuma]], yang memperlihatkan suatu gerak musik dasar (lihat [[notasi musik]]). Dalam buku-buku kidung yang terdahulu, pemberian notasi dilakukan dengan cara menyingkat kata-kata dalam kalimat syair sedapat mungkin lalu diimbuhi neuma-neuma di atasnya. Dalam tahap selanjutnya ditambahkan satu atau lebih garis [[paranada]], dan pada [[abad ke-11]] kebutuhan untuk memperlihatkan pula interval-interval menciptakan notasi balok, yang kelak menjadi sumber dari notasi balok modern dalam lima garis [[paranada]] yang dikembangkan pada [[abad ke-16]].<ref>Perkembangan gaya-gaya notasi dibahas dalam [http://www.dolmetsch.com/musictheory2.htm Dolmetsch online], diakses 4&nbsp;Juli&nbsp;2006</ref> Kidung gregorian merupakan tradisi musik yang dominan dan sentral di seluruh Eropa dan menjadi akar perkembangan musik yang bersumber darinya, seperti kebangkitan [[polifoni]] pada [[abad ke-11]].
 
110

suntingan