Islam pada masa Dinasti Ming: Perbedaan revisi

47 bita ditambahkan ,  5 bulan yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
k (Bot: Perubahan kosmetika)
 
Ketika [[Dinasti Yuan]] runtuh, banyak orang-orang [[Mongol]] dan juga [[Muslim]] yang datang menetap di [[Tiongkok]]. Kebanyakan dari keturunan mereka mengambil nama [[Tionghoa]] dan menjadi bagian dari budaya Tiongkok.<ref Namename="theearth">Richard Bulliet, Pamela Crossley, Daniel Headrick, Steven Hirsch, Lyman Johnson, and David Northrup. The Earth and Its Peoples. 3. Boston: Houghton Mifflin Company, 2005. ISBN 0-618-42770-8</ref> Saat pemerintahan [[Dinasti Ming|Ming]] selanjutnya ([[1368]]-[[1644]]), orang-orang Muslim benar-benar mengambil budaya Tionghoa. Banyak dari mereka menjadi fasih berbahasa Cina dan menggunakan nama Tionghoa dan ibu kota, [[Nanjing]], menjadi pusat pembelajaran Islam.
 
Pada masa pemerintahan Dinasti Ming, jumlah penduduk Muslim merosot dengan cepat di [[kota pelabuhan]]. Hal ini disebabkan oleh penutupan semua [[perdagangan]] ke dunia luar melalui jalan laut kecuali perdagangan yang dikontrol dengan ketat oleh pemerintah.
 
== Cheng Ho ==
[[Berkas:KangnidoMap.jpg|jmpl|300px|[[Peta Kangnido]] (1402) sebelum Pelayaran Cheng Ho dan diperkirakan ia memiliki informasi geografi detail pada sebagian besar [[Dunia Lama]].]]
[[Dinasti Ming]] turut memberi dukungan kepada seorang Cina Muslim termashyur, [[Cheng Ho]], penjelajah, pelaut, dan laksamana armada. Ia dilahirkan pada tahun 1371 di [[Yunnan]]. Ia menjadi penasehat [[Kaisar Yongle]] ([[1403]]-[[1424]]), kaisar ke-3 [[Dinasti Ming]]. Antara 1405 dan 1433, pemerintah Ming membiayai ekspedisi Cheng Ho ke [[Samudra Hindia]], hingga sejauh [[Afrika Timur]]. [[Sejarawan]] amatir [[Gavin Menzies]] mengklaim bahawa [[Cheng Ho]] mengembara Ke [[Afrika Barat]], [[Amerika Utara]] dan [[Amerika Selatan|Selatan]], [[Greenland]], [[Antartika]] dan [[Australia]], meskipun gagasan ini tidak dianggap serius oleh sejarawan profesional.
 
== Referensi ==
119

suntingan