Fajar Adriyanto: Perbedaan revisi

402 bita dihapus ,  26 hari yang lalu
k
Fajar termasuk salah satu pilot [[F-16]] [[TNI AU]] yang pernah terlibat dalam peristiwa duel udara dengan pesawat-pesawat [[F/A-18 Hornet]], [[Angkatan Udara Amerika Serikat]] yang terjadi di wilayah udara [[Pulau Bawean]], pada 3 Juli 2003. Pada saat itu radar [[Komando Pertahanan Udara Nasional Indonesia]] dan Pusat Operasi Pertahanan Nasional menangkap ada lima titik mencurigakan yang terbang dalam formasi rapat dan tidak teridentifikasi. Namun ketika satu flight pesawat tempur TNI AU dikirimkan untuk melakukan identifikasi, tidak ditemukan obyeknya. Dua jam kemudian, terlihat manuver-manuver pesawat terbang tanpa identitas dan ada laporan dari para penerbang pesawat [[Bouraq Indonesia Airlines]] dan [[Bouraq Indonesia Airlines]] bahwa manuver-manuver mereka yang berkecepatan tinggi sudah membahayakan kesalamatan dan keamanan penerbangan sipil berjadual. Pesawat-pesawat itu juga tidak melakukan komunikasi dengan menara pengatur lalu-lintas penerbangan nasional.<ref name=":8">{{Cite web|url=https://www.antaranews.com/berita/618202/f-16-nomor-registrasi-ts-1603-berjasa-pada-insiden-pulau-bawean|title=F-16 nomor registrasi TS-1603 berjasa pada insiden Pulau Bawean|last=P. Marboen|first=Ade|date=15 Maret 2017|website=Antara News|access-date=09 Juli 2020}}</ref>{{Sfn|Bachtiar|2018|p=xix - xx}}<ref>{{Cite news|last=Dudi|first=Sudibyo|date=07 Juli 2003|title=Perang Elektronika di Kawasan Bawean: Beberapa manuver dalam perang elektronika antara F-16 TNI AU dengan F-18 Hornet AL AS|work=KOMPAS|access-date=09 April 2021}}</ref><ref name=":10">{{Cite news|last=Dudi|first=Sudibyo|date=04 Juli 2003|title=Lima Pesawat F-18 AS Bermanuver di Bawean|work=KOMPAS|access-date=09 April 2021}}</ref>{{Sfn|Hakim|2018|p=305 - 311}}
 
[[Komando Pertahanan Udara Nasional Indonesia|Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional Indonesia]], saat itu dijabat [[Marsekal Muda|Marsekal Muda TNI]] [[Teddy Sumarno]], mengirimkan dua [[F-16|F-16 B]] untuk melakukan misi mencegat, mengidentifikasi dan mengusir mereka dari wilayah udara nasional. Penerbangan ini memiliki ''call sign Falcon Flight''. Pemimpin penerbangan bersandikan Falcon 1 yang diawaki oleh [[Ian Fuady]] dan Fajar Adriyanto. Falcon 2 diawaki oleh [[Kapten (TNI)|Kapten PNB]] Tony Heryanto dan [[Kapten (TNI)|Kapten PNB]] Satriyo Utomo. Dalam misinya, mereka bertugas untuk identifikasi visual dan menghindari konfrontasi, dengan cara tidak mengunci (''lock on'') sasaran dengan radar atau rudal sehingga misi identifikasi tidak dianggap mengancam.<ref name=":8" />{{Sfn|Bachtiar|2018|p=xix - xx}}<ref>{{Cite news|last=Dudi|first=Sudibyo|date=04 Juli 2003|title=Lima Pesawat F-18 AS Bermanuver di Bawean|work=KOMPAS|access-date=09 April 2021}}</ref>{{Sfn|Hakim|2018|p=305 - 311}}<ref name=":10" /><ref name=":10" />
 
Ketika ''Falcon Flight'' tiba di lokasi, mereka langsung disambut oleh dua pesawat [[F/A-18 Hornet]] milik [[Angkatan Udara Amerika Serikat]] sehingga mereka terlibat dalam perang radar (''radar jamming''). Dalam peristiwa itu, salah satu penerbang tempur TNI AU sudah dalam posisi terkunci secara radar oleh penerbang tempur AU AS. Sedang pesawat lainnya sedang saling berkejaran dalam posisi ''dog fight'' cukup ketat. Pesawat TNI AU kemudian berinisiatif melakukan gerakan menggoyang sayap (''rocking wing'') yang menyatakan bahwa mereka tidak dalam posisi mengancam pesawat AU AS.<ref name=":8" />{{Sfn|Bachtiar|2018|p=xix - xx}}<ref>{{Cite news|last=Dudi|first=Sudibyo|date=04 Juli 2003|title=Lima Pesawat F-18 AS Bermanuver di Bawean|work=KOMPAS|access-date=09 April 2021}}</ref>{{Sfn|Hakim|2018|p=305 - 311}}<ref name=":10" /><ref name=":10" />
 
Ketika komunikasi berhasil dibuka, diketahui bahwa kedua pesawat AU AS dan jajaran kapal induk [[Angkatan Laut Amerika Serikat]], [[USS Carl Vinson|USS Carl Vinson (CVN-70)]], merasa bahwa mereka berlayar di wilayah perairan internasional dan meminta agar kedua pesawat TNI AU untuk menjauh. Namun disampaikan oleh pesawat TNI AU bahwa mereka, pesawat-pesawat AU AS berada dalam wilayah kedaulatan Republik Indonesia sesuai dengan [[Deklarasi Djuanda]]. ''Falcon Flight'' meminta mereka untuk segera mengontak ke ATC setempat, Bali Control, yang hingga saat itu tidak mengetahui keberadaan mereka. Mengetaui adanya itu, pesawat-pesawat AU AS itu kemudian terbang menjauh.<ref name=":8" />{{Sfn|Bachtiar|2018|p=xix - xx}}<ref>{{Cite news|last=Dudi|first=Sudibyo|date=04 Juli 2003|title=Lima Pesawat F-18 AS Bermanuver di Bawean|work=KOMPAS|access-date=09 April 2021}}</ref>{{Sfn|Hakim|2018|p=305 - 311}}<ref name=":10" /><ref name=":10" />
 
=== Komandan Pangkalan TNI AU Manuhua, Biak ===
7.418

suntingan