Pakubuwana XII: Perbedaan antara revisi

161 bita ditambahkan ,  1 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
k (→‎Riwayat Pemerintahan: Menambahkan foto)
Tidak ada ringkasan suntingan
{{Infobox royalty
|name = Sri Susuhunan Pakubuwana XII
|image = PakubuwonoXII.jpg
|image = COLLECTIE TROPENMUSEUM Pakoe Boewono XII de Susuhunan van Solo in de kraton TMnr 60052129.jpg
|caption = Pakubuwana XII, antara tahun 1945-1955
|succession = [[Susuhunan Surakarta]]
|reign = 11 Juni 1945 – <br>11 Juni 2004
Nama aslinya adalah '''Raden Mas Surya Guritna''' ([[Bahasa Jawa]]: ''Raden Mas Suryo Guritno'', [[Hanacaraka]]: ꦫꦢꦺꦤ꧀ꦩꦱ꧀ꦯꦸꦂꦪꦓꦫꦶꦠ꧀ꦤ), putra [[Pakubuwana XI]] yang lahir dari permaisuri KRAy. Koespariyah (bergelar GKR. Pakubuwana) pada tanggal [[14 April]] [[1925]]. Ia juga memiliki seorang saudara perempuan seibu bernama GRAy. Koes Sapariyam (bergelar GKR. Kedaton).
 
Surya Guritna pada masa kecilnya pernah bersekolah di ELS (Europeesche Lagere School) Pasar Legi, [[Surakarta]]. Oleh teman-temannya, Surya Guritna sering dipanggil dengan nama '''Bobby'''. Di sekolah yang sama ini pula beberapa pamannya, putra [[Pakubuwana X]] yang sebaya dengannya menempuh pendidikan. Surya Guritna termasuk murid yang mudah bergaul dan hubungannya dengan teman-teman berlangsung akrab, bahkan ketika di sekolah pun ia bergaul tanpa memandang status sosial yang disandangnya. Waktu kecil ia gemar mempelajari tari-tarian klasik, dan yang paling digemari adalah Tari Handaga dan Tari Garuda. Ia juga pemuda yang gemar mengaji pada Bapak Pradjawijata dan Bapak Tjandrawijata dari Mambaul Ulum. Kegemarannya yang lain adalah olahraga panahan. Mulai tahun [[1938]] Surya Guritna terpaksa berhenti sekolah cukup lama, sekitar lima bulan, karena harus mengikuti ayahandanya yang memperoleh mandat mewakili kakeknya, [[Pakubuwana X]], pergi ke [[Belanda]] bersama raja-raja di [[Hindia Belanda]] saat itu untuk menghadiri undangan perayaan peringatan 40 tahun kenaikan [[tahtatakhta]] [[Ratu Wilhelmina]].
 
Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke ''[[Hoogere Burgerschool te Bandoeng]]'' ([[HBS]] Bandung, sekarang ditempati [[SMA Negeri 3 Bandung]] dan [[SMA Negeri 5 Bandung]]) bersama beberapa pamannya. Baru dua setengah tahun ia belajar, pecah [[Perang Pasifik]], dan waktu itu bala tentara [[Kekaisaran Jepang|Jepang]] menang melawan [[sekutu]] dan [[Hindia Belanda]] pun jatuh ke tangan Jepang.
 
[[Pakubuwana XI]] memintanya pulang dari [[Bandung]] ke [[Surakarta]]. Kemudian, ia harus menerima kenyataan menyedihkan lantaran pada Sabtu, [[1 Juni]] [[1945]], [[Pakubuwana XI]] wafat. Berdasarkan tradisi maka KGPH. Mangkubumi, putra sulung [[Pakubuwana XI]], sesungguhnya yang paling berhak meneruskan tahtatakhta. Namun peluang itu tertutup setelah ibundanya, GKR. Kencana (istri pertama [[Pakubuwana XI]]), telah mendahului wafat pada tahun [[1910]] sehingga tidak berkesempatan diangkat sebagai permaisuri tatkala suaminya mewarisi tahtatakhta kerajaan. Maka terbukalah peluang untuk Surya Guritna bisa menggantikan [[Pakubuwana XI]] sekalipun berumur paling muda.
 
Teka-teki itu kian terkuak waktu jenazah [[Pakubuwana XI]] dimakamkan di [[Pemakaman Imogiri|Astana Imogiri]], Surya Guritna tidak terlihat hadir di pemakaman. Sebelum naik tahtatakhta sebagai raja, Surya Guritna diangkat sebagai putra mahkota dengan gelar KGPH. Purbaya ([[Bahasa Jawa]]: ''Kangjeng Gusti Pangeran Haryo Purboyo''). Terlepas setuju atau tidak, keluarga [[Keraton Surakarta|keraton]] harus mulai bisa menerima pertanda itu, sebab berdasarkan kepercayaan adat [[Keraton Surakarta|keraton]], bakal raja dipantangkan datang ke pemakaman. Namun versi lain menyebutkan, pengangkatan Surya Guritna itu berkaitan erat dengan peran yang dimainkan [[Soekarno|Presiden Soekarno]]. Pakubuwana XII dipilih karena masih muda dan mampu mengikuti perkembangan serta tahan terhadap situasi. Meski raja baru telah disepakati, tetapi bukan berarti seluruh persoalan terselesaikan. Rencana penobatan Surya Guritna itu sempat mendapat tentangan keras dari ''Kooti Jimu Kyoku Tyokan'', Pemerintah [[Gubernur]] [[Kekaisaran Jepang|Jepang]]. Jepang menyatakan tidak berani menjamin keselamatan calon raja.
 
== Riwayat Pemerintahan ==
=== Masa Revolusi Fisik ===
[[Berkas:Soesoehoenan Pakoe Boewono XII van Solo bij gewonde soldaten.jpg|jmpl|303x303px|Susuhunan Pakubuwana XII mengunjungi tentara yang terluka di tahun [[1949]].]]
Raden Mas Surya Guritna naik takhta sebagai Pakubuwana XII pada tanggal [[11 Juni]] [[1945]]. Awal pemerintahan Pakubuwana XII hampir bersamaan dengan lahirnya [[Republik Indonesia]]. Karena masih berusia sangat muda, dalam menjalankan pemerintahan sehari-hari, ia sering kali didampingi ibunya, GKR. Pakubuwana, yang dikenal dengan julukan ''Ibu Ageng''. Pakubuwana XII dijuluki '''Sinuhun Hamardika''' karena merupakan Susuhunan Surakarta pertama yang memerintah pada era kemerdekaan.
 
Pada awal pemerintahannya, Pakubuwana XII dinilai gagal mengambil peran penting dan memanfaatkan situasi politik [[Republik Indonesia]], sehingga pamornya di mata rakyat kalah dibanding [[Hamengkubuwana IX]] di [[Yogyakarta]].
 
Sebenarnya Pakubuwana XII sudah berusaha untuk mengembalikan status [[Daerah Istimewa Surakarta]]. Pada [[15]] [[Januari]] [[1952]] Pakubuwana XII pernah memberi penjelasan tentang Wilayah Swapraja Surakarta secara panjang lebar pada Dewan Menteri di [[Jakarta]], dalam kesempatan ini ia menjelaskan bahwa Pemerintah Swapraja tidak mampu mengatasi gejolak dan rongrongan yang disertai ancaman bersenjata, sementara Pemerintah Swapraja sendiri tidak mempunyai alat kekuasaan. Namun usaha itu tersendat-sendat karena tak kunjung menemui titik temu. Pada tahun [[1954]], akhirnya Pakubuwana XII sendiri memutuskan untuk meninggalkan keraton guna menempuh pendidikan di [[Jakarta]]. Ia menunjuk KGPH. Kusumayudha, pamannya, sebagai wakil sementara di keraton.<ref name=royalark.net/>.
 
Pada masa pemerintahannya, terjadi dua kali musibah yang melanda [[Keraton Surakarta]]. Pada tanggal [[19 November]] [[1954]], bangunan tertinggi di kompleks keraton, yaitu Panggung Sangga Buwana, mengalami kebakaran yang menghancurkan sebagian besar bangunan termasuk atap dan hiasan di puncak bangunan. Selanjutnya pada tanggal [[31 Januari]] [[1985]], di malam Jumat Wage, kompleks inti keraton terbakar pada pukul 21.00 WIB. Kebakaran terjadi di bangunan Sasana Parasdya, Sasana Sewaka, Sasana Handrawina, Dalem Ageng Prabasuyasa, Dayinta, dan Paningrat. Seluruh bangunan termasuk segala isi dan perabotannya tersebut musnah dilalap api.<ref name=karatonsurakarta.com>[https://karatonsurakarta.com/?page_id=16 Paku Buwono - Keraton Surakarta.]</ref>.
 
[[Berkas:SunanPBXII.jpg|jmpl|kiri|Susuhunan Pakubuwana XII saat upacara ''Tingalandalem Jumenengan'' di [[Keraton Surakarta]].]]
Pada [[26 September]] [[1995]], lima puluh tahun setelah kemerdekaan [[Indonesia]], berdasarkan SK No. 70/SKEP/IX/1995, Pakubuwana XII mendapat pemberian Penghargaan dan Medali Perjuangan Angkatan '45 dari pemerintah pusat. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk penghormatan kepada Pakubuwana XII yang pada masa awal kemerdekaan merupakan raja pertama di [[Indonesia]] yang menyatakan setia dan berdiri di belakang pemerintah republik. Pakubuwana XII juga secara sukarela menyumbangkan sebagian kekayaan pribadinya maupun kekayaan [[Keraton Surakarta]] kepada pemerintah pusat saat itu.
 
Meskipun pada awal pemerintahannya Pakubuwana XII dapat dikatakan kurang berhasil secara politik, tetapi Pakubuwana XII tetap menjadi sosok figur pelindung kebudayaan [[Jawa]]. Pada zaman [[reformasi]], para tokoh nasional, seperti [[Abdurrahman Wahid|Presiden Abdurrahman Wahid]], tetap menghormatinya sebagai salah satu sesepuh tanah [[Jawa]].<ref name=santrigusdur.com>[http://santrigusdur.com/2015/12/keraton-dan-perjalanan-budayanya/ Abdurrahman Wahid: Keraton dan Perjalanan Budayanya.] dari situs Santri Gus Dur - Komunitas Pemikiran Gusdur</ref>.
 
=== Akhir Pemerintahan ===
Pada pertengahan tahun [[2004]], Pakubuwana XII mengalami koma dan menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Panti Kosala Dr. Oen [[Surakarta]]. Akhirnya pada tanggal [[11 Juni]] [[2004]], Pakubuwana XII dinyatakan wafat.<ref name=liputan6.com>[https://www.liputan6.com/news/read/79999/paku-buwono-xii-mangkat Solo: Paku Buwono XII Mangkat.] dari situs Liputan6.com</ref>. Wafatnya Pakubuwana XII bersamaan dengan keramaian kampanye [[Pemilihan umum Presiden Indonesia 2004|Pemilihan Umum Presiden]] di [[Surakarta]]. Sepeninggalnya sempat terjadi perebutan tahtatakhta antara KGPH. Hangabehi dangan KGPH. Tejowulan, yang masing-masing menyatakan diri sebagai [[Pakubuwana XIII]].
 
== Silsilah ==
[[Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Pakoe Boewono XII de Susuhunan van Solo in de kraton TMnr 60052129.jpg|jmpl|ka|Susuhunan Pakubuwana XII dalam sebuah kesempatan di Sasana Handrawina, [[Keraton Surakarta]], sekitar tahun [[1945]]-[[1955]].]]
[[Berkas:IMG 4292.JPG|jmpl|ka|Lukisan Susuhunan Pakubuwana XII sebagai salah satu [[Pahlawan Nasional]] dari [[Kasunanan Surakarta]] karya KGPH. Puger.]]
* Anak laki-laki pertama dari [[Pakubuwana XI|Susuhunan Pakubuwana XI]] dan permaisuri GKR. Pakubuwana, atau anak terakhir dari kesebelas putra-putri [[Pakubuwana XI|Susuhunan Pakubuwana XI]].
* Memiliki enam istri:<ref name=royalark.net>[https://www.royalark.net/Indonesia/solo9.htm ''The Surakarta Dynasty: GENEALOGY''.] dari situs The Royal Ark</ref>:
# KRAy. Mandayaningrum
# KRAy. Rogasmara
# KRAy. Retnadiningrum
# KRAy. Pujaningrum
* Memiliki lima belas putra dan dua puluh putri:<ref name=royalark.net/>:
# GRAy. Koes Handawiyah/GKR. Alit
# GRM. Surya Partana/KGPH. Hangabehi (naik tahtatakhta sebagai [[Pakubuwana XIII|Susuhunan Pakubuwana XIII]])
# GRM. Surya Suprapta/KGPH. Hadi Prabawa
# GRAy. Koes Supiyah/GKR. Galuh Kencana
1.533

suntingan