Sri Tanjung: Perbedaan revisi

77 bita ditambahkan ,  6 bulan yang lalu
Rescuing 0 sources and tagging 1 as dead.) #IABot (v2.0.8
k (Membatalkan 1 suntingan oleh 36.90.162.77 (bicara) ke revisi terakhir oleh AABot (TW))
Tag: Pembatalan
(Rescuing 0 sources and tagging 1 as dead.) #IABot (v2.0.8)
 
== Cerita ==
Berikut ini adalah salah satu versi cerita.<ref>{{cite web |url=http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2002/8/10/bd2.htm |title=Candi Penataran, Tri Bhuwana Tungga Dewi dan Megawati |author= |date=10 August 2002 |work= |publisher=Bali Post |accessdate=6 May 2012 }}{{Pranala mati|date=Maret 2021 |bot=InternetArchiveBot |fix-attempted=yes }}</ref> Kisah diawali dengan menceritakan tentang seorang [[ksatria]] yang tampan dan gagah perkasa bernama Raden Sidapaksa yang merupakan keturunan keluarga [[Pandawa]] ([[Sadewa]] atau Sudamala). Ia mengabdi kepada Raja Sulakrama yang berkuasa di Negeri Sindurejo. Sidapaksa diutus mencari obat oleh raja kepada kakeknya, Bhagawan Tamba Petra, yang bertapa di pegunungan. Di sana ia bertemu dengan seorang gadis yang sangat ayu bernama Sri Tanjung. Sri Tanjung bukanlah gadis biasa, karena ibunya adalah [[bidadari]] yang turun ke bumi dan diperistri seorang manusia. Karena itulah Sri Tanjung memiliki paras yang luar biasa cantik jelita. Raden Sidapaksa jatuh hati dan menjalin cinta dengan Sri Tanjung yang kemudian dinikahinya. Setelah menjadi istrinya, Sri Tanjung diboyong ke Kerajaan Sindurejo.
 
Raja Sulakrama diam-diam terpesona akan kecantikan Sri Tanjung. Sang Raja menyimpan hasrat untuk merebut Sri Tanjung dari tangan suaminya, sehingga ia mencari siasat agar dapat memisahkan Sri Tanjung dari Sidapaksa. Lantas Raja Sulakrama mengutus Sidapaksa untuk pergi ke [[Swargaloka]] dengan membawa surat yang isinya ''"Pembawa surat ini akan menyerang Swargaloka"''. Atas bantuan Sri Tanjung yang menerima warisan selendang ajaib peninggalan ibunya <!--dari ayahnya, Raden Sudamala-->, Sidapaksa dapat terbang ke Swargaloka. Setibanya di Swargaloka, Sidapaksa yang tidak mengetahui apa isi surat itu menyerahkan surat itu kepada para dewa. Akibatnya, dia dihajar dan dipukuli oleh para dewa. Namun akhirnya, dengan menyebut leluhurnya adalah Pandawa, maka jelaslah kesalahpahaman itu. Raden Sidapaksa kemudian dibebaskan dan diberi berkah oleh para dewa.