Pulau Enggano: Perbedaan revisi

330 bita ditambahkan ,  1 bulan yang lalu
Marco Polo diduga adalah orang pertama yang mencatat keberadaan Pulau Enggano saat melakukan perjalanan kembali ke Venesia setelah 24 tahun di Asia (Bartoli, 1864). Pada 1345 atau 53 tahun setelah Marco Polo, Ibnu Battutah juga mencatat keberadaan "Pulau Telanjang" di selatan Pulau Sumatra.<ref>{{Cite journal|last=Monteil|first=Vincent|date=1970|title=The Introduction to the Voyages of Ibn Battutah|journal=The Islamic Review & Arab Affairs}}</ref><ref>{{Cite book|last=Battuta|first=Ibn|date=1980|title=Travels in Asia and Africa: 1325–1354|publisher=Routledge & Kegan Paul|url-status=live}}</ref><ref>{{Cite book|last=Mackintosh-Smith|first=T.|date=2002|title=Travels with a Tangerine: A Journey in the Footnotes of Ibn Battutah|publisher=Picador|url-status=live}}</ref><ref>{{Cite book|last=Euben|first=Roxanne Leslie|date=2006|url=https://www.worldcat.org/oclc/69792066|title=Journeys to the other shore: Muslim and Western travelers in search of knowledge|location=Princeton|publisher=Princeton University Press|isbn=0-691-12721-2|oclc=69792066|url-status=live}}</ref> Meski demikian, tidak diketahui apakah keduanya mendarat di Pulau Enggano.
 
Terdapat catatan-catatan awal pendaratan pelaut-pelaut Eropa ke Pulau Enggano. Pelaut Eropa yang tercatat pertama kali mendarat di Pulau Enggano adalah pelaut Portugis di bawah pimpinan Alvaro Talesso atau Alonzo Talesso. Pada 1506, kapalnya terhempas badai sehingga mereka terdampar di Pulau Enggano.<ref name=":0" /> Pada 5 Juni 1596, ekspedisi Belanda di bawah pimpinan Cornelis de Houtman tercatat mendarat di Pulau Enggano.<ref name=":1">{{Cite book|date=2017|url=https://www.worldcat.org/oclc/1033541966|title=Ekspedisi Pulau Enggano|location=Jakarta|isbn=978-979-799-944-5|editor-last=Maryanto|editor-first=Ibnu|editor-last2=Hamidy|editor-first2=A.|editor-last3=Keim|editor-first3=A. P.|editor-last4=Sihotang|editor-first4=V. L.|editor-last5=Lupiyaningdyah|editor-first5=P.|editor-last6=Irham|editor-first6=M.|editor-last7=Ardiyani|editor-first7=M.|oclc=1033541966|url-status=live}}</ref>
 
Sejak 1596 hingga 1771, tidak ada orang Eropa yang hadir secara terus menerus di Pulau Enggano (Maryanto et al.,<ref 2017,name=":1" p. 15)./> Meski Belanda pernah melakukan ekspedisi dari Batavia pada 1645, Pulau Enggano termasuk pulau yang mereka telantarkan. Pada 1684, Pulau Enggano berada di bawah kekuasaan Inggris bersamaan dengan keberhasilan mereka merebut Bengkulu dari Belanda (Maryanto et al.,<ref 2017,name=":1" p. 15)./> Catatan pertama tentang keberadaan masyarakat adat Enggano berasal dari buku catatan pelayaran pelaut Inggris bernama Charles Miller yang berlayar dari Bengkulu ke Pulau Enggano pada 1771.<ref>{{Cite (journal|last=Miller|first=Charles|last2=King|first2=Edward|last3=Frere|first3=John|date=1778|title=An Account of the Island of Sumatra, 1778)&c. By Mr. Charles Miller. Communicated by Edward King, Esq.|url=https://www.jstor.org/stable/106321|journal=Philosophical Transactions of the Royal Society of London|volume=68|pages=160–179|issn=0261-0523}}</ref>
 
== Lingkungan Hidup ==
12.609

suntingan