Kesultanan Palembang: Perbedaan revisi

140 bita ditambahkan ,  1 bulan yang lalu
Mengembalikan kepada versi stabil terakhir
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler Dikembalikan Menghilangkan referensi
(Mengembalikan kepada versi stabil terakhir)
Tag: Pengembalian manual
Pada tahun 1818 Belanda menuntut balas atas kekalahan mereka sebelumnya dan menyerang Palembang serta berhasil menangkap Sultan Ahmad Najamuddin II dan mengasingkannya ke Batavia. Namun Kesultanan Palembang kembali bangkit melakukan perlawanan yang kemudian kembali dipimpin oleh Sultan Mahmud Badaruddin II. Lalu pada tahun [[1819]], Sultan mendapat serangan dari pasukan Hindia yang antara lain dikenal sebagai [[Perang Menteng]] (diambil dari kata Mungtinghe). Pada tahun 1821 dengan kekuatan pasukan lebih dari 4000 tentara, Belanda kembali menyerang Palembang dan berhasil menangkap Sultan Mahmud Badaruddin II yang kemudian diasingkan ke Ternate.<ref name="Ricklefs140"/> Kemudian pada tahun 1821 tampil Sultan Ahmad Najamuddin III anak Sultan Ahmad Najamuddin II sebagai raja berikutnya, tetapi pada tahun 1823 Belanda menjadikan kesultanan Palembang berada dibawah pengawasannya, sehingga kembali menimbulkan ketidakpuasan di kalangan istana. Puncaknya pada tahun 1824 kembali pecah perang, tetapi dapat dengan mudah dipatahkan oleh Belanda, pada tahun 1825 Sultan Ahmad Najamuddin III menyerah kemudian diasingkan ke Banda Neira.<ref name="Ricklefs140"/>
 
==Para Penguasa Palembang (1455-1823)<ref>{{Cite book|title=“Kesultanan Palembang” Perang Palembang Melawan VOC|last=Soetadji|first=Nanang S.|publisher=Pemerintah KotaKotamadya Palembang|year=1996|isbn=|location=Palembang|pages=27-30|url-status=live}}</ref>==
{| class="wikitable"
|+
!No
!Periode
!Nama Penguasa
|-
|1