Sejarah pemikiran evolusi: Perbedaan antara revisi

14 bita ditambahkan ,  1 tahun yang lalu
k
 
[[Berkas:Anaximander Mosaic (cropped, with sundial).jpg|jmpl|Filsuf Yunani
[[AnaximanderAnaximandros|AnaximanderAnaximandros dari MiletusMiletos]] berpendapat bahwa manusia bermulaberasal dari ikan.<ref name="Krebs"/>]]
{{See also |Esensialisme}}
 
[[Empedokles]] (sekitar 490 – 430 SM), berpendapat bahwa apa yang kita sebut kelahiran dan kematian pada hewan sebenarnya hanyalah pencampuran dan pemisahan unsur-unsur yang menghasilkan "berpuak-puak makhluk fana".<ref>{{harvcoltxt |Kirk |Raven |Schofield |1983 |pp=291–292}}</ref> Khususnya, hewan dan tumbuhan pertama memiliki bentuk seperti bagian-bagian terputus hewan dan tumbuhan zaman sekarang. Beberapa bagian tersebut masih bertahan dengan bergabung dalam kombinasi-kombinasi yang berbeda, dan kemudian bercampur aduk semasa perkembangan embrio,{{efn |Bukan dalam pengertian [[filogeni]]: Empedokles tidak memiliki pengertian konsep evolusi dalam jangka waktu geologi.}} dan manakala "segala sesuatunya berujung seolah-olah terjadi dengan sengaja, [sebenarnya] makhluk-makhluk tersebut bertahan hidup karena tergabung secara tepat secara tidak sengaja."<ref>{{harvcoltxt |Kirk |Raven |Schofield |1983 |p=304}}</ref> Para filsuf lainnya yang lebih berpengaruh pada masa itu, termasuk [[Plato]] (sekitar 428/427 – 348/347 SM), [[Aristoteles]] (384 – 322 SM), dan para anggota [[Stoikisme|mazhab filsafat Stoikisme]], meyakini bahwa seluruh jenis benda, tidak hanya makhluk hidup, berbentuk tetap sesuai rancangan ilahi.
 
[[Berkas:Sanzio 01 Plato Aristotle.jpg |jmpl|kiri|[[Plato]] (kiri) dan [[Aristoteles]] (kanan), sebuah detail gambar dari lukisan ''[[SekolahLa scuola di AthenaAtene]]'' (1509–1511) karya [[Raphael]]]]
 
Plato disebut sebagai "antiwirawan besar evolusionisme" oleh biologis [[Ernst Mayr]]<ref>{{harvnb |Mayr |1982 |p=304}}</ref> karena ia mempromosikan kepercayaan esensialisme, yang juga disebut sebagai [[teori bentuk]]. Teori ini menyatakan bahwa setiap jenis objek alam di dunia yang teramati adalah perwujudan tak sempurna dari bentuk atau "spesies" ideal yang menentukan jenis objek tersebut. Dalam karyanya ''[[Timaeus (dialog)|Timaeus]]'' sebagai contohnya, Plato memiliki sebuah tokoh yang mengisahkan sebuah cerita bahwa [[Demiurge]] menciptakan [[kosmos]] dan segala sesuatunya karena Ia baik, dan sehinnga, "... bebas dari rasa dengki, Ia ingin segala sesuatunya seperti diriNya sejauh mungkin." Sang pencipta menciptakan segala bentuk kehidupan yang terbayangkan sebab "... tanpanya, alam semesta menjadi tidak lengkap, karena ia tidak akan mengandung setiap jenis hewan yang seharusnya ia kandungi, apabila alam semesta itu sempurna."[[Prinsip kelimpahan]]" seperti ini, yakni gagasan bahwa segala bentuk potensi kehidupan adalah esensial dalam suatu penciptaan ideal, sangat mempengaruhi pemikiran [[Kristen]].<ref name="oet">{{harvnb |Johnston |1999 |loc=[http://records.viu.ca/~johnstoi/darwin/sect3.htm "Section Three: The Origins of Evolutionary Theory"]}}</ref> Namun, beberapa sejarawan sains mempertanyakan seberapa besar pengaruh esensialisme Plato dalam filsafat alam. Banyak filsuf-filsuf setelah Plato meyakini bahwa spesies memiliki kemampuan untuk bertransformasi dan gagasan bahwa spesies biologi berbentuk tetap dan memiliki sifat esensi yang tak berubah belumlah berpengaruh sampai pada permulaan kemunculan bidang taksonomi biologi pada abad ke-17 dan ke-18.<ref name="species">{{cite journal |last=Wilkins |first=John |date=July–August 2006 |title=Species, Kinds, and Evolution |url=http://ncse.com/rncse/26/4/species-kinds-evolution |journal=[[Reports of the National Center for Science Education]] |volume=26 |issue=4 |pages=36–45 |accessdate=2011-09-23}}</ref>