Safiatuddin dari Aceh: Perbedaan revisi

4 bita ditambahkan ,  9 bulan yang lalu
 
==== Sastra dan budaya ====
Kajian dan literatur Islam mengalami perkembangan pesat pada masa Sultanah Safiatuddin. Terdapat berbagai karya sastra penting yang ditulis pada masa kekuasaannya. [[Syekh al-Islam]] Aceh [[Nuruddin ar-Raniri]] menulis setidaknya tujuh buku mengenai agama, sejarah, literatur, dan hukum, seperti ''[[Shiratul Mustaqim]]'' (Jalan Lurus), ''[[Syaiful-Qutub]]'' (Obat untuk Hati), dan ''[[Bustanul Salathin fi Dzikrilawwalin wal-Akhirin]]'' (Kebun Sultan mengenai Biografi Tokoh Masa Lalu dan Depan). Safiatuddin juga menugaskan [[Abdul Rauf al-Singkel]] untuk menulis sebuah buku mengenai [[fikih]], yang kini dikenal dengan sebutan ''[[Mir’at al Tullab]]''; buku yang diselesaikan pada tahun 1663 ini merupakan buku pertama mengenai hukum agama ynag ditulis dalam [[bahasa Melayu]]. Dengan perkembangan berbagai karya ini, sejarawan Sher Banu A.L. Khan berkomentar bahwa masa Sultanah Safiatuddin dapat dianggap sebagai "zaman keemasan Islam dan Melayu di Aceh yang tak tertandingi hingga kini".{{sfn|Khan|2017|p=191}}
 
== Catatan kaki ==