Manumanasa: Perbedaan revisi

1.573 bita ditambahkan ,  12 tahun yang lalu
menambhakan sub judul akhir hayat
k
(menambhakan sub judul akhir hayat)
 
Satrukem kelak menjadi [[resi]] mewarisi pertapaan ayahnya, sedangkan Sriati menjadi [[raja]] dan mendirikan [[Kerajaan Mandaraka]].
 
== Keluarga dan musuh ==
Sebagaimana disebutkan di atas, Resi Manumanasa menikah dengan Batari Kaniraras, yang namanya diganti menjadi Retnawati. Dari perkawinan itu lahir tiga orang putra bernama Satrukem, Sriati, dan Manumadewa.
 
Manumanasa memiliki kakak ipar sekaligus pembantunya, bernama [[Semar]]. Ia juga memiliki cantrik atau murid berwujud kera putih bernama Supalawa. Supalawa ini terkenal sakti dan sering menumpas para raksasa yang mencoba mengganggu pertapaan.
 
Musuh besar Manumanasa bernama Resi Dwapara. Ia seorang pendeta yang berhati licik, penuh iri dan dengki. Antara lain, Dwapara pernah mengadu domba Manumanasa dengan Partawijaya, mertua cucunya, [[Sakri]]. Dalam sebuah adu kesaktian akhirnya Dwapara berhasil ditewaskan oleh Supalawa.
 
== Akhir hayat ==
Manumanasa merupakan seorang resi suci yang berhasil mencapai [[moksa]]. Ia sempat terlebih dahulu mewariskan [[Pertapaan Saptaarga]] kepada [[Satrukem]], putra sulungnya.
 
Ketika Manumanasa hendak naik ke [[kahyangan]], ia dihalangi [[Semar]] yang mengaku kesepian jika berpisah dengannya. Padahal saat itu Semar sudah didampingi dua orang anak angkat bernama [[Gareng]] dan [[Petruk]].
 
Manumanasa pun menjawab bahwa Semar tidak akan kesepian karena bayangannya akan selalu menyertainya. Seketika itu pula bayangan Semar tercipta menjadi seorang laki-laki bertubuh bulat yang mirip dengannya. Manumanasa memberinya nama [[Bagong]].
 
Versi lain menyebut Bagong diciptakan dari bayangan Semar oleh [[Sanghyang Tunggal]].
 
== Lihat pula ==
* [[Wasista]], leluhur Wyasa versi ''Mahabharata''.
 
[[Kategori:Mahabharata]]
1.096

suntingan