Perbandingan Nazisme dan Stalinisme: Perbedaan revisi

 
==== Partai totaliter ====
Friedrich dan Brzezinski juga melihat beberapa kemiripan khas antara partai politik Nazi dan Stalinis. Baik Partai Nazi maupun Partai Komunis Uni Soviet di bawah Stalin memiliki persyaratan keanggotaan yang sangat ketat dan tidak menerima anggota hanya berdasarkan kesepakatan dengan ideologi dan tujuan Partai. Sebaliknya, mereka secara ketat menguji calon anggota, dengan cara yang mirip dengan klub eksklusif, dan sering terlibat dalam pembersihan keanggotaan secara politis, membersihkan sejumlah besar orang dari barisan mereka (dan terkadang menangkap dan membantu I (mengeksekusi) mereka yang dikeluarkan, seperti dalam Pembersihan Besar atau Malam Pisau Panjang).<ref>Carl J. Friedrich and Zbigniew K. Brzezinski, ''Totalitarian Dictatorship and Autocracy'', Cambridge: Harvard University Press, 1965, p. 45</ref> Dengan demikian, partai totaliter menumbuhkan gagasan bahwa menjadi anggota adalah hak istimewa yang perlu diperoleh, dan kepatuhan total kepada pemimpin diperlukan untuk mempertahankan hak istimewa ini. Meskipun Nazisme dan Stalinisme mengharuskan anggota partai untuk menunjukkan kesetiaan total dalam praktik, mereka berbeda dalam cara mereka menanganinya dalam teori. Nazisme secara terbuka menyatakan ideal hierarki kepatuhan mutlak kepada Führer sebagai salah satu prinsip ideologis utamanya (''Führerprinzip''). Stalinisme, sementara itu, menyangkal bahwa ia melakukan hal serupa, dan sebaliknya mengklaim untuk menegakkan prinsip-prinsip demokrasi, dengan Kongres Partai (yang terdiri dari delegasi terpilih) dianggap sebagai otoritas tertinggi.<ref>Carl J. Friedrich and Zbigniew K. Brzezinski, ''Totalitarian Dictatorship and Autocracy'', Cambridge: Harvard University Press, 1965, p. 48</ref> Namun, pemilihan Stalinis biasanya hanya menampilkan satu kandidat, dan Kongres Partai sangat jarang bertemu dan menyetujui keputusan Stalin. Jadi, terlepas dari perbedaan dalam klaim ideologis yang mendasarinya, partai-partai Nazi dan Stalinis dalam praktiknya diorganisir dengan cara yang sama, dengan hierarki yang kaku dan kepemimpinan terpusat.<ref>Carl J. Friedrich and Zbigniew K. Brzezinski, ''Totalitarian Dictatorship and Autocracy'', Cambridge: Harvard University Press, 1965, p. 58</ref>
Setiap partai totaliter dan diktator didukung oleh ideologi totaliter tertentu. Friedrich dan Brzezinski berpendapat, sesuai dengan pendapat Arendt, bahwa para pemimpin Nazi dan Stalinis benar-benar percaya pada ideologi mereka masing-masing dan tidak hanya menggunakannya sebagai alat untuk mendapatkan kekuasaan. Beberapa kebijakan besar, seperti kolektivikasi pertanian Stalinis atau [[Solusi Akhir]] Nazi, tidak dapat dijelaskan dengan apa pun selain komitmen yang tulus untuk mencapai tujuan ideologis, bahkan dengan biaya yang besar.<ref>Carl J. Friedrich and Zbigniew K. Brzezinski, ''Totalitarian Dictatorship and Autocracy'', Cambridge: Harvard University Press, 1965, p. 86</ref> Ideologi berbeda dan tujuan mereka berbeda, tetapi kesamaan yang mereka miliki adalah komitmen utopis untuk membentuk kembali dunia, dan tekad untuk bertarung dengan cara apa pun yang diperlukan melawan musuh yang nyata atau yang dibayangkan. Musuh stereotip ini dapat digambarkan sebagai "Yahudi kaya yang gemuk atau Bolshevik Yahudi" untuk Nazi, atau "Kaum Wallstreet Amerika Serikat yang suka perang dan menggunakan bom atom" untuk Soviet.<ref name="Carl J 1965, p. 90">Carl J. Friedrich and Zbigniew K. Brzezinski, ''Totalitarian Dictatorship and Autocracy'', Cambridge: Harvard University Press, 1965, p. 90</ref>