Orang Kanekes: Perbedaan revisi

35 bita ditambahkan ,  9 bulan yang lalu
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan peramban seluler
Bahasa yang mereka gunakan adalah [[Bahasa Sunda]]. Untuk berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah. Orang Kanekes Dalam tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat-istiadat, kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan lisan saja.
 
Orang Kanekes tidak mengenal sekolah, karena pendidikan formal berlawanan dengan adat-istiadat mereka. Mereka menolak usulan pemerintah untuk membangun fasilitas sekolah di desa-desa mereka. Bahkan hingga hari ini, walaupun sejak era [[Soeharto]] pemerintah telah berusaha memaksa mereka untuk mengubah cara hidup mereka dan membangun fasilitas sekolah modern di wilayah mereka, orang Kanekes masih menolak usaha pemerintah tersebut. Namun masyarakat kanekesKanekes memiliki caranya sendiri untuk belajar serta mengembangkan wawasan mereka hingga sepadan dengan masyarakat diluardi luar suku Baduy.
 
== Kelompok masyarakat ==
Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu ''tangtu'', ''panamping'', dan ''dangka'' (Permana, 2001).
 
Kelompok ''tangtu'' adalah kelompok yang dikenal sebagai [[Baduy Dalam|Kanekes Dalam]] (Baduy Dalam), yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di tiga kampung: Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik. Ciri khas Orang Kanekes Dalam adalah pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua (warna [[tarum]]) serta memakai ikat kepala putih. Mereka dilarang secara adat untuk bertemu dengan orang asing.
 
Kanekes Dalam adalah bagian dari keseluruhan orang Kanekes. Tidak seperti Kanekes Luar, warga Kanekes Dalam masih memegang teguh adat-istiadat nenek moyang mereka.
 
Sebagian peraturan yang dianut oleh sukuOrang Kanekes Dalam antara lain:
* Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi
* Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki
== Asal usul ==
[[Berkas:COLLECTIE TROPENMUSEUM Afgevaardigden van de Badui (oftewel Kanekes) bevolking TMnr 60016564.jpg|jmpl|ka|300px|Delegasi Kanekes sekitar tahun 1920]]
Menurut kepercayaan yang mereka anut, orang Kanekes mengaku keturunan dari Batara Cikal, salah satu dari tujuh dewa atau batara yang diutus ke bumi. Asal usul tersebut sering pula dihubungkan dengan Nabi Adam sebagai nenek moyang pertama. Menurut kepercayaan mereka, Adam dan keturunannya, termasuk warga Kanekes, mempunyai tugas bertapa atau ''asketik'' (mandita) untuk menjaga harmoni dunia.
 
Pendapat mengenai asal usul orang Kanekes berbeda dengan pendapat para ahli sejarah, yang mendasarkan pendapatnya dengan cara sintesis dari beberapa bukti sejarah berupa prasasti, catatan perjalanan pelaut Portugis dan Tiongkok, serta cerita rakyat mengenai 'Tatar Sunda' yang cukup minim keberadaannya. Masyarakat Kanekes dikaitkan dengan [[Kerajaan Sunda]] yang sebelum keruntuhannya pada [[abad ke-16]] berpusat di [[Pakuan Pajajaran]] (sekitar [[Bogor]] sekarang). Sebelum berdirinya Kesultanan Banten, wilayah ujung barat [[pulau Jawa]] ini merupakan bagian penting dari Kerajaan Sunda. Banten merupakan pelabuhan dagang yang cukup besar. Sungai Ciujung dapat dilayari berbagai jenis perahu, dan ramai digunakan untuk pengangkutan hasil bumi dari wilayah pedalaman. Dengan demikian penguasa wilayah tersebut, yang disebut sebagai Pangeran Pucuk Umun menganggap bahwa kelestarian sungai perlu dipertahankan. Untuk itu diperintahkanlah sepasukan tentara kerajaan yang sangat terlatih untuk menjaga dan mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan dengan tugasnya yang khusus tersebut tampaknya menjadi cikal bakal Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang masih mendiami wilayah hulu Sungai Ciujung di Gunung Kendeng tersebut (Adimihardja, 2000). Perbedaan pendapat tersebut membawa kepada dugaan bahwa pada masa yang lalu, identitas dan kesejarahan mereka sengaja ditutup, yang mungkin adalah untuk melindungi komunitas Kanekes sendiri dari serangan musuh-musuh Pajajaran.
 
Van Tricht, seorang dokter yang pernah melakukan riset kesehatan pada tahun 1928, menyangkal teori tersebut. Menurut dia, orang Kanekes adalah penduduk asli daerah tersebut yang mempunyai daya tolak kuat terhadap pengaruh luar (Garna, 1993b: 146). Orang Kanekes sendiri pun menolak jika dikatakan bahwa mereka berasal dari orang-orang pelarian dari Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda. Menurut Danasasmita dan Djatisunda (1986: 4-5) orang Baduy merupakan penduduk setempat yang dijadikan mandala' (kawasan suci) secara resmi oleh raja, karena penduduknya berkewajiban memelihara ''kabuyutan'' (tempat pemujaan leluhur atau nenek moyang), bukan agama Hindu atau Budha. ''Kebuyutan'' di daerah ini dikenal dengan ''kabuyutan'' Jati Sunda atau 'Sunda Asli' atau Sunda Wiwitan (''wiwitan''=asli, asal, pokok, jati). Oleh karena itulah agama asli mereka pun diberi nama [[Sunda Wiwitan|Sunda Wiwitan.]]
[[Berkas:Baduy van de residentie Banten, West-Java, Jannes Theodorus Bik (attributed to), c. 1816 - c. 1846.jpg|jmpl|264x264px|Lukisan seorang [[Baduy]] di [[Rijksmuseum]] [[Amsterdam]] sekitar tahun 1816 - 1846]]
 
== Kepercayaan ==
Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai ajaran [[Sunda Wiwitan]], ajaran leluhur turun temurun yang berakar pada penghormatan kepada ''karuhun'' atau arwah [[leluhur]] dan pemujaan kepada roh kekuatan alam ([[animisme]]). Meskipun sebagian besar aspek ajaran ini adalah asli tradisi turun-temurun, pada perkembangan selanjutnya ajaran leluhur ini juga sedikit dipengaruhi oleh beberapa aspek ajaran [[Hindu]], [[agama Buddha|Buddha]], dan di kemudian haridari ajaran [[Islam]].
 
Bentuk penghormatan kepada roh kekuatan alam ini diwujudkan melalui sikap menjaga dan melestarikan alam; yaitu merawat alam sekitar (gunung, bukit, lembah, hutan, kebun, mata air, sungai, dan segala ekosistem di dalamnya), serta memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada alam, dengan cara merawat dan menjaga hutan larangan sebagai bagian dalam upaya menjaga keseimbangan alam semesta. Inti kepercayaan tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari 'pikukuh' (kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep "tanpa perubahan apa pun", atau perubahan sesedikit mungkin:
 
:''Lojor heunteu beunang dipotong, pèndèk heunteu beunang disambung.'' (panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung).
(Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung)
 
[[Tabu]] tersebut dalam kehidupan sehari-hari diinterpretasikan secara harafiah. Di bidang [[pertanian]], bentuk pikukuh tersebut adalah dengan tidak mengubah kontur lahan bagi ladang, sehingga cara berladangnya sangat sederhana, tidak mengolah lahan dengan [[bajak]], tidak membuat [[terasering]], hanya menanam dengan [[tugal]], yaitu sepotong [[bambu]] yang diruncingkan. Pada pembangunan rumah juga kontur permukaan tanah dibiarkan apa adanya, sehingga tiang penyangga rumah Kanekes sering kali tidak sama panjang. Perkataan dan tindakan mereka pun jujur, polos, tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar.
 
53

suntingan