Jayabaya: Perbedaan revisi

12 bita ditambahkan ,  3 bulan yang lalu
Copy edit
Tag: Suntingan visualeditor-wikitext
(Copy edit)
Ramalan Jayabaya ditulis ratusan tahun yang lalu, oleh seorang raja yang adil dan bijaksana di [[Mataram]]. Raja itu bernama Prabu Jayabaya (1135-1159). Ramalannya kelihatannya begitu mengena dan bahkan masih diperhatikan banyak orang ratusan tahun setelah kematiannya. [[Soekarno|Bung Karno]] pun juga merasa perlu berkomentar tentang ramalan ini.
 
:: "Tuan-tuan Hakim, apakah sebabnya rakyat senantiasa percaya dan menunggu-nunggu datangnya "Ratu Adil", apakah sebabnya sabda Prabu Jayabaya sampai hari ini masih terus menyalakan harapan rakyat ? Tak lain ialah karena hati rakyat yang menangis itu, tak habis-habisnya menunggu-nunggu, mengharap-harapkan datangnya pertolongan. Sebagaimana orang yang dalam kegelapan, tak berhenti-berhentinya menunggu-nunggu dan mengharap-harap "''Kapan, kapankah Matahari terbit''?". (Soekarno, 1930, ''Indonesia'' ''Menggugat'')
 
Ramalan Jayabaya ini memang lumayan fenomenal, banyak ramalannya yang bisa ditafsirkan mendekati keadaan sekarang. Di antaranya:
 
# Datangnya bangsa berkulit pucat yang membawa tongkat yang bisa membunuh dari jauh dan bangsa berkulit kuning dari Utara (zaman penjajahan ).
# "''kreto mlaku tampo jaran''", "''Prau mlaku ing nduwur awang-awang''", kereta berjalan tanpa kuda dan perahu yang berlayar di atas awan (mobil dan pesawat terbang?)
# Datangnya zaman penuh bencana di Nusantara (''Lindu ping pitu sedino, lemah bengkah, Pagebluk rupo-rupo ''), gempa tujuh kali sehari, tanah pecah merekah, bencana macam-macam.
# Dan ia bahkan (mungkin) juga meramalkan ''global'' ''warming'', "''Akeh udan salah mongso''", datangnya masa di mana hujan salah musim.
 
Naik turunnya peradaban sebenarnya sudah banyak dianalisis oleh para ilmuwan, bahkan sejak ratusan tahun lalu. Di antaranya oleh [[Ibnu Khaldun]] (''Muqaddimah'', 1337, Wikipedia: Ibn Khaldun), Gibbon (''Decline'' ''and'' ''Fall'', 1776), Toynbee (melalui bukunya ''A Study of History''), atau [[Jared Diamond]]. Intinya, manusia atau bangsa, bisa berubah. Manusia bisa lupa, dan sebaliknya juga bisa belajar. Bangsa bisa bangkit, hancur, dan bisa juga bangkit lagi.
 
Banyak juga teori tentang manusia-manusia istimewa yang datang membawa perubahan. Di dunia, orang-orang itu sering disebut "Promethean", diambil dari nama dewa Yunani Prometheus yang memberikan api (pencerahan) pada manusia. Toynbee menamakannya ''Creative Minorities''. Tapi mereka bukan sekadar “manusia-manusia ajaib”, melainkan orang-orang yang memiliki kekuatan dahsyat, yaitu kekuatan ilmu, dan kecintaan pada bangsanya, sesama manusia, dan pada Tuhannya. Lihat misalnya berapa banyak hadis Nabi Muhammad tentang pentingnya ilmu. Dan perhatikan lanjutan pidato Bung Karno ini: