The Jakarta Post: Perbedaan revisi

758 bita ditambahkan ,  4 bulan yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
(Dikembalikan ke revisi 17178801 oleh 180.251.74.241 (bicara): Slogan dan moto tidak penting. (🍔))
Tag: Pembatalan
|owners = PT Bina Media Tenggara
|headquarters =The Jakarta Post Building, Jl. Palmerah Barat No. 142-143, [[Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat]]
| circulation = 999,800,500
| readership = 999,800,500
|editor =
|website = {{URL|http://www.thejakartapost.com/}}
|ISSN=0215-3432
}}
'''''The Jakarta Post''''' adalah nama [[surat kabar]] [[nasional]] ber[[bahasa Inggris]] [[Indonesia]] yang berkantor pusat di [[Jakarta]]. Koran The Jakarta Post diterbitkan oleh PT Bina Media Tenggara. Kantor pusatnya terletak di The Jakarta Post Building, Jl. Palmerah Barat No. 142-143, [[Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat]]. Koran ini pertama kali terbit sejak pada [[25 April]] [[1983]] di [[Jakarta]]. Surat kabar ini slogan dan motto adalah '''Always Bold. Always Independent'''. Surat kabar tersebut sekarang menjadi surat kabar dengan sirkulasi secara [[nasional]] terbesar di [[Jakarta]] dan [[Indonesia]] untuk berbagai [[bahasa Inggris]].
 
''The Jakarta Post'' didirikan oleh gabungan antara empat media Indonesia atas desakan dari Menteri Penerangan [[Ali Moertopo]] dan politikus [[Jusuf Wanandi]]. Setelah pertama kali terbit tanggal 25 April 1983, ''The Jakarta Post'' selama beberapa tahun dapat bertahan hanya dengan beberapa iklan dan sirkulasinya makin meningkat. Setelah pergantian kepala editor tahun 1991, harian ini mulai mengambil posisi pro-demokrasi. ''The Jakarta Post'' adalah salah satu harian Indonesia berbahasa Inggris yang selamat dari [[krisis keuangan Asia 1997]] dan saat ini memiliki sirkulasi sebesar 40.000 eksemplar.
=== Pendirian dan pengembangan ===
[[Berkas:The Jakarta Post logo.svg|jmpl|200px|Mantan logo ''The Jakarta Post''. Digunakan sampai 31 Maret 2016.]]
The Jakarta Post merupakan gagasan dari Menteri Penerangan [[Ali Moertopo]] dan politikus [[Jusuf Wanandi]]. Moertopo dan Wanandi kecewa pada bias yang dirasakan terhadap Indonesia dalam sumber-sumber berita asing.{{sfn|Tarrant|2008|p=47}} Pada saat itu, ada dua harian berbahasa Inggris, ''Indonesia Times'' dan ''Indonesian Observer''.{{sfn|Siagian 2003, Grabbed at the creation}} Namun, karena persepsi publik yang negatif mengenai koran yang ada mereka memutuskan untuk membuat yang baru. Dalam rangka untuk memastikan kredibilitas, keduanya sepakat untuk meyakinkan sekelompok koran yang bersaing (''[[Suara Karya]]'' yang didukung [[Golkar]], ''[[Kompas (surat kabar)|Kompas]]'' milik Katolik, ''[[Sinar Harapan]]'' milik Protestan, dan mingguan ''[[Tempo (majalah)|Tempo]]'') untuk menyokong koran yang baru lahir ini.{{sfn|Tarrant|2008|p=47}} Koran ini diharapkan menjadi kertas berkualitas berbahasa Inggris untuk negeri Jiran, mirip dengan ''[[The Straits Times]]'' di [[Singapura]], ''[[Bangkok Post]]'' di [[Thailand]], dan ''[[New Straits Times]]'' di Malaysia.{{sfn|Tarrant|2008|p=67}} The Jakarta Post sebuah [[surat kabar]] [[harian]] ber[[bahasa Inggris]] pertama kali yang terbit di [[Jakarta]] sejak pada [[25 April]] [[1983]], maka dari itu tanggal [[25 April]] dijadikan hari lahir The Jakarta Post.
 
Setelah mendirikan PT Bina Media Tenggara untuk mendukung koran ini,{{sfn|The Jakarta Post, The Jakarta Post}} Wanandi menghabiskan beberapa bulan menghubungi tokoh-tokoh berpengaruh di koran yang ditargetkan. Untuk menerima kerja sama mereka, ''Kompas'' meminta bagian 25 persen di surat kabar baru, untuk menangani operasi bisnis sehari-hari, seperti pencetakan, sirkulasi, dan iklan. ''Tempo'' menawarkan untuk membantu dengan manajemen dengan imbalan 15 persen, sementara [[Sabam Siagian]] dari ''Sinar Harapan'' dipekerjakan sebagai pemimpin redaksi pertama, untuk itu Sinar Harapan menerima saham. Pembentukan koran selanjutnya dibantu oleh Menteri Penerangan [[Harmoko]], yang menerima bunga 5 persen untuk perannya dalam memperoleh lisensi. Secara total, biaya awal mencapai [[Rupiah|Rp]]500 juta (US$700.000 pada saat itu).{{sfn|Tarrant|2008|pp=54–56}} [[Muhammad Chudori]], ko-pendiri ''The Jakarta Post'' yang sebelumnya menjadi wartawan untuk [[Lembaga Kantor Berita Nasional Antara|Antara]], menjadi [[manajer umum]] pertama dari koran ini.{{sfn|The Jakarta Post 2013, Senior journalist}}
== Penghargaan dan pengakuan ==
Pada tahun 2006, Serikat Wartawan Indonesia mengakui 'The Jakarta Post' sebagai salah satu surat kabar Indonesia yang mengikuti [[etika jurnalisme dan standar]]; Surat kabar lain yang sangat dikenal adalah '' [[Kompas]] '' dan '' [[Jawa Pos|Indo Pos]] '{{sfn|Gatra 2006, PWI Give Awards}} Makalah tersebut menerima Penghargaan Adam Malik pada bulan Januari 2009 untuk melaporkan politik luar negeri mereka; Liputan tersebut dianggap akurat dan terdidik, dengan analisis yang bagus. {{sfn|Pakpahan 2009, The Jakarta Post}} Tahun berikutnya tiga reporter menerima Adiwarta Award dari [[Sampoerna]] untuk fotografi unggulan di bidang budaya, hukum, Dan politik. Wartawan lainnya menerima Penghargaan Adam Malik pada tahun 2014 untuk tulisan-tulisannya yang membantu kementerian untuk mendistribusikan informasi mengenai pelaksanaan kebijakan luar negeri. {{Sfn|The Jakarta Post 2014, 'The Jurnalis Jakarta Post}}
 
== Slogan dan Motto ==
{| class="wikitable" border="1"
|-
! Slogan dan Motto
! Digunakan sejak
! Digunakan sampai dengan
|-
| '''Always Bold. Always Independent'''
| [[25 April]] [[1983]]
| sekarang
|}
 
== Kantor Pusat ==
The Jakarta Post Building, Jl. Palmerah Barat No. 142-143, [[Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat]]
 
== Referensi ==
Pengguna anonim