Jamus Kalimasada: Perbedaan revisi

3.253 bita dihapus ,  11 bulan yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa istilah ''Kalimahosaddha'' sudah dikenal masyarakat Jawa sejak beberapa abad sebelum munculnya Sunan Kalijaga. Mungkin yang terjadi adalah Sunan Kalijaga memadukan istilah ''Kalimahosaddha'' dengan ''Kalimat Syahadat'' menjadi ''Kalimasada'' sebagai sarana untuk berdakwah. Tokoh ini memang terkenal sebagai ulama sekaligus budayawan di Tanah Jawa.
 
== Kisah dalam Pewayangan ==
Salah satu kisah [[wayang|pewayangan]] [[Jawa]] menceritakan tentang asal usul terciptanya pusaka Jamus Kalimasada. Pada mulanya terdapat seorang raja bernama Prabu Kalimantara dari Kerajaan Nusahantara yang menyerang kahyangan bersama para pembantunya, yaitu Sarotama dan Ardadedali. Dengan mengendarai Garuda Banatara, Kalimantara mengobrak-abrik tempat tinggal para [[dewa]].
 
[[Batara Guru]] raja kahyangan meminta bantuan [[Sakutrem|Bambang Sakutrem]] dari pertapaan Sapta Arga untuk menumpas Kalimantara. Dengan menggunakan kesaktiannya, Sakutrem berhasil membunuh semua musuh para dewa tersebut. Jasad mereka berubah menjadi pusaka. Kalimantara berubah menjadi kitab bernama Jamus Kalimasada, Sarotama dan Ardadedali masing-masing menjadi panah, sedangkan Garuda Banatara menjadi payung bernama Tunggulnaga.
 
Sakutrem kemudian memungut keempat pusaka tersebut dan mewariskannya secara turun-temurun, sampai kepada cicitnya yang bernama [[Wiyasa|Resi Wiyasa]] atau [[Abyasa|Abiyasa]]. Ketika kelima cucu Abiyasa, yaitu para [[Pandawa]] membangun kerajaan baru bernama [[Indraprasta|Amarta]], pusaka-pusaka tersebut pun diwariskan kepada mereka sebagai pusaka yang dikeramatkan dalam istana.
 
Di antara pusaka-pusaka Kerajaan Amarta, Jamus Kalimasada menempati peringkat utama. Kisah-kisah pedalangan banyak yang bercerita tentang upaya musuh-musuh Pandawa untuk mencuri Kalimasada. Meskipun demikian pusaka keramat tersebut senantiasa kembali dapat direbut oleh Yudistira dan keempat adiknya.
 
]] yang tunggal, serta [[Nabi Muhammad]] sebagai utusan-Nya.
 
Menurut pendapat tersebut, istilah Kalimasada diciptakan oleh [[Sunan Kalijaga]], salah seorang penyebar agama Islam di [[Pulau Jawa]] pada abad ke-16. Konon, Sunan Kalijaga menggunakan [[wayang kulit]] sebagai media dakwah, antara lain ia memasukkan istilah Kalimat Syahadat ke dalam dunia pewayangan.
 
Namun pendapat lain mengatakan bahwa sebelum datangnya agama Islam, istilah Kalimasada sudah dikenal dalam kesusastraan Jawa. Pendapat ini antara lain dikemukakan oleh Dr. Kuntara Wiryamartana, SJ. Istilah Kalimasada bukan berasal dari kata ''Kalimat Syahadat'', melainkan berasal dari kata ''Kalimahosaddha''.
 
Istilah ''Kalimahosaddha'' ditemukan dalam naskah ''[[Kakawin Bharatayuddha]]'' yang ditulis pada tahun [[1157]] atau abad ke-12, pada masa pemerintahan [[Jayabhaya|Maharaja Jayabhaya]] di [[Kerajaan Kadiri]]. Istilah tersebut jika dipilah menjadi ''Kali-Maha-Usaddha'', yang bermakna "obat mujarab Dewi Kali".
 
''Kakawin Bharatayuddha'' mengisahkan perang besar antara keluarga [[Pandawa]] melawan [[Korawa]]. Pada hari ke-18 panglima pihak Korawa yang bernama [[Salya]] bertempur melawan [[Yudistira]]. Yudistira melemparkan kitab pusakanya yang bernama ''Pustaka Kalimahosaddha'' ke arah Salya. Kitab tersebut berubah menjadi tombak yang menembus dada Salya.
 
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa istilah ''Kalimahosaddha'' sudah dikenal masyarakat Jawa sejak beberapa abad sebelum munculnya Sunan Kalijaga. Mungkin yang terjadi adalah Sunan Kalijaga memadukan istilah ''Kalimahosaddha'' dengan ''Kalimat Syahadat'' menjadi ''Kalimasada'' sebagai sarana untuk berdakwah. Tokoh ini memang terkenal sebagai ulama sekaligus budayawan di Tanah Jawa.
 
Kisah dalam Pewayangan
Salah satu kisah [[wayang|pewayangan]] [[Jawa]] menceritakan tentang asal usul terciptanya pusaka Jamus Kalimasada. Pada mulanya terdapat seorang raja bernama Prabu Kalimantara dari Kerajaan Nusahantara yang menyerang kahyangan bersama para pembantunya, yaitu Sarotama dan Ardadedali. Dengan mengendarai Garuda Banatara, Kalimantara mengobrak-abrik tempat tinggal para [[dewa]].
 
617

suntingan