Wayang beber: Perbedaan revisi

23 bita ditambahkan ,  11 bulan yang lalu
k
k
Catatan asing pertama mengenai pertunjukan ini dilaporkan oleh [[Ma Huan]] dan [[Fei Xin]] dalam kitab [[Yingyai Shenglan|''Ying-Yai-Sheng-Lan'']]<ref name=":0" />. Kitab tersebut menceritakan kunjungan [[Cheng Ho]] ke Jawa pada sekitar tahun 1413-1415 (masa kerajaan [[Majapahit|Majapahi]]<nowiki/>t dipimpin oleh [[Wikramawardhana]], anak [[Hayam Wuruk]]). Mereka menyaksikan orang-orang berkerumun mendengarkan seseorang bercerita mengenai gambar-gambar yang ditampilkan pada lembaran kertas yang sebagian tergulung. Pencerita memegang sebilah kayu yang dipakai untuk menunjuk gambar-gambar yang terdapat pada lembaran tersebut. Praktik semacam itu masih sama seperti pertunjukan wayang beber di masa-masa kemudian. Namun demikian, menurut penuturan dari kalangan pujangga Jawa, wayang beber diawali dari masa Kerajaan Pajajaran<ref name=":0" />.
 
Gambar-gambar adegan pewayangan dilukiskan pada lembaran kain atau [[daluang|deluwang]], setiap lembar berisi beberapa adegan (disebut ''pejagong'') sesuai dengan urutan cerita. Gambar-gambar ini dimainkan dengan cara "dibeber", yaitu membuka gulungan sesuai adegan satu per satu. Dalang bercerita mengenai hal-hal terkait dengan adegan yang ditampilkan, termasuk dialog.
 
Konon oleh [[Wali Songo|Walisanga]], di antaranya adalah [[Sunan Kalijaga]], wayang beber ini dimodifikasi bentuk menjadi [[wayang kulit]] dengan bentuk bentuk yang bersifat ornamen yang dikenal sekarang, karena ajaran [[Islam]] tidak menganjurkan bentuk gambar makhluk hidup (manusia, hewan) maupun patung serta menambahkan [[Pusaka Hyang Kalimusada]]. Wayang hasil modifikasi para wali inilah yang digunakan untuk menyebarkan ajaran Islam dan yang kita kenal sekarang.
30.972

suntingan