The Red Badge of Courage: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 6:
 
== Genre ==
Penulis Joseph Conrad setuju bahwa konflik utama novel itu adalah internal daripada eksternal, dan bahwa Fleming "berdiri di depan yang belum mengenal diri sendiri. Dia ingin membuktikan kepada dirinya sendiri dengan beberapa proses penalaran bahwa dia tidak akan ' lari dari pertempuran '. Dia sendirian dengan masalah keberanian." <ref>{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/76064586|title=Stephen Crane's The red badge of courage|date=2007|publisher=Bloom's Literary Criticism|others=Bloom, Harold.|isbn=0-7910-9367-0|location=New York|oclc=76064586}}</ref> Penggambaran realistik Crane tentang psikologis mengenai sebuah kunci, menurut seorang kritikus kontemporer untuk The New York Press: "Kadang-kadang deskripsi itu begitu jelas sehingga hampir mencekik. Pembaca berada tepat di tengah-tengahnya di mana patriotisme dilarutkan ke dalam elemen-elemennya dan di mana hanya selusin orang yang dapat terlihat, menembak secara membabi buta. Ini adalah perang dari sudut pandang baru."<ref name=":0" /> Penggunaan majas ironi, simbolisme, dan metafora yang berat, novel ini juga cocok untuk bacaan yang tersirat.<ref>{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/12749528|title=Interpretation and genre : the role of generic perception in the study of narrative texts|last=Kent, Thomas, 1947-|date=1986|publisher=Bucknell University Press|isbn=0-8387-5088-5|location=Lewisburg [Pa.]|oclc=12749528}}</ref> Seperti banyak karya fiksi Crane, dialog novel sering menggunakan dialek lokal yang khas, berkontribusi pada historisitasnya yang nyata; misalnya, Jim Conklin merenung di awal novel: "''I s'pose we must go reconnoiterin' 'round th' kentry jest t' keep 'em from gittin' too clost, or t'develope'm, or something''". Nada ironis meningkat dalam keparahan seiring dengan perkembangan novel, terutama dalam hal jarak ironis antara narator dan [[protagonis]].<ref>{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/8034933|title=Interpretive conventions : the reader in the study of American fiction|last=Mailloux, Steven.|date=1982|publisher=Cornell University Press|isbn=0-8014-1476-8|location=Ithaca, N.Y.|oclc=8034933}}</ref> Diceritakan dalam sudut pandang orang ketiga yang terbatas, novel ini mencerminkan pengalaman batin Henry Fleming, seorang [[prajurit]] muda yang melarikan diri dari pertempuran, daripada ke dunia luar di sekitarnya. Lencana Merah Keberanian menonjol dalam uraiannya yang jelas dan prosa yang disempurnakan dengan baik, yang keduanya membantu menciptakan ketegangan di dalam cerita. Para kritikus secara khusus telah menunjuk pada penggunaan berulang-ulang pencitraan warna di sepanjang novel, baik secara literal maupun figuratif, sebagai bukti penggunaan impresionisme dalam novel tersebut. Seragam biru dan abu-abu disebutkan, seperti juga sinar matahari kuning dan oranye, dan hutan hijau, sementara wajah pria menjadi merah karena marah atau berani, dan abu-abu karena kematian. <ref name=":2">{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/52242909|title=A Stephen Crane encyclopedia|last=Wertheim, Stanley.|date=1997|publisher=Greenwood Press|isbn=0-313-00812-4|location=Westport, Conn.|oclc=52242909}}</ref> Crane juga menggunakan citra kebinatangan untuk mengomentari orang, alam, dan perang itu sendiri. Misalnya, novel dimulai dengan menggambarkan tentara sebagai entitas hidup yang "berbaring di atas bukit, beristirahat."
 
Penggunaan majas ironi, simbolisme, dan metafora yang berat, novel ini juga cocok untuk bacaan yang tersirat.<ref>{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/12749528|title=Interpretation and genre : the role of generic perception in the study of narrative texts|last=Kent, Thomas, 1947-|date=1986|publisher=Bucknell University Press|isbn=0-8387-5088-5|location=Lewisburg [Pa.]|oclc=12749528}}</ref> Seperti banyak karya fiksi Crane, dialog novel sering menggunakan dialek lokal yang khas, berkontribusi pada historisitasnya yang nyata; misalnya, Jim Conklin merenung di awal novel: "''I s'pose we must go reconnoiterin' 'round th' kentry jest t' keep 'em from gittin' too clost, or t'develope'm, or something''". Nada ironis meningkat dalam keparahan seiring dengan perkembangan novel, terutama dalam hal jarak ironis antara narator dan [[protagonis]].<ref>{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/8034933|title=Interpretive conventions : the reader in the study of American fiction|last=Mailloux, Steven.|date=1982|publisher=Cornell University Press|isbn=0-8014-1476-8|location=Ithaca, N.Y.|oclc=8034933}}</ref> Diceritakan dalam sudut pandang orang ketiga yang terbatas, novel ini mencerminkan pengalaman batin Henry Fleming, seorang [[prajurit]] muda yang melarikan diri dari pertempuran, daripada ke dunia luar di sekitarnya. Lencana Merah Keberanian menonjol dalam uraiannya yang jelas dan prosa yang disempurnakan dengan baik, yang keduanya membantu menciptakan ketegangan di dalam cerita. Para kritikus secara khusus telah menunjuk pada penggunaan berulang-ulang pencitraan warna di sepanjang novel, baik secara literal maupun figuratif, sebagai bukti penggunaan impresionisme dalam novel tersebut. Seragam biru dan abu-abu disebutkan, seperti juga sinar matahari kuning dan oranye, dan hutan hijau, sementara wajah pria menjadi merah karena marah atau berani, dan abu-abu karena kematian. <ref name=":2">{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/52242909|title=A Stephen Crane encyclopedia|last=Wertheim, Stanley.|date=1997|publisher=Greenwood Press|isbn=0-313-00812-4|location=Westport, Conn.|oclc=52242909}}</ref> Crane juga menggunakan citra kebinatangan untuk mengomentari orang, alam, dan perang itu sendiri. Misalnya, novel dimulai dengan menggambarkan tentara sebagai entitas hidup yang "berbaring di atas bukit, beristirahat."
 
== Awal ide cerita ==
Stephen Crane menerbitkan novel pertamanya, Maggie: A Girl of the Streets, pada bulan Maret 1893 pada usia 22 tahun. Penulisan novel ini belum berhasil. Crane menemukan inspirasi untuk novel berikutnya sambil menghabiskan waktu berjam-jam di studio teman pada awal musim panas pada tahun 1893. Di sana, ia menjadi terpesona dengan masalah-masalah Century Magazine yang sebagian besar dikhususkan untuk pertempuran terkenal dan para pemimpin militer dari Perang Sipil.<ref name=":1" /> Frustrasi dengan cerita-ceritanya yang tidak berhasil, Crane menyatakan, "Saya ingin mendengar kisah mereka. Mereka Mereka tampak melakukan banyak hal dengan datar." <ref>Linson, Corwin K. (1958). ''My Stephen Crane''. Syracuse: Syracuse University Press.</ref> Saat itu dia memulai menulis cerita perang. Pada saat itu, Crane bekerja sebagai penulis lepas, berkontribusi artikel ke berbagai surat kabar [[Kota New York|New York City]]. Dia mulai menulis Lencana Merah Keberanian pada bulan Juni 1893, ketika tinggal bersama kakak laki-lakinya Edmund di Lake View, New Jersey.<ref name=":2" /> Crane memahami kisah itu dari sudut pandang seorang pribadi muda yang pada awalnya dipenuhi dengan mimpi-mimpi kekanak-kanakan tentang kemuliaan perang, hanya untuk menjadi kecewa dengan kenyataan perang. Dia mengambil nama keluarga, "Fleming," dari nama gadis saudara iparnya. Bekerja di malam hari sampai jam lima pagi. Karena dia tidak mampu membeli mesin tik, dia dengan hati-hati menulis dengan tinta di atas kertas berukuran legal. Jika, dia mengubah sesuatu, dia akan menulis ulang seluruh halaman.<ref name=":1" /> Dia kemudian pindah ke New York City, di mana dia menyelesaikan novel pada April 1894. <ref name=":2" />
 
Pada saat itu, Crane bekerja sebagai penulis lepas, berkontribusi artikel ke berbagai surat kabar [[Kota New York|New York City]]. Dia mulai menulis Lencana Merah Keberanian pada bulan Juni 1893, ketika tinggal bersama kakak laki-lakinya Edmund di Lake View, New Jersey.<ref name=":2" /> Crane memahami kisah itu dari sudut pandang seorang pribadi muda yang pada awalnya dipenuhi dengan mimpi-mimpi kekanak-kanakan tentang kemuliaan perang, hanya untuk menjadi kecewa dengan kenyataan perang. Dia mengambil nama keluarga, "Fleming," dari nama gadis saudara iparnya. Bekerja di malam hari sampai jam lima pagi. Karena dia tidak mampu membeli mesin tik, dia dengan hati-hati menulis dengan tinta di atas kertas berukuran legal. Jika, dia mengubah sesuatu, dia akan menulis ulang seluruh halaman.<ref name=":1" /> Dia kemudian pindah ke New York City, di mana dia menyelesaikan novel pada April 1894. <ref name=":2" />
 
== Referensi ==