Aksara Bali: Perbedaan revisi

1 bita dihapus ,  9 bulan yang lalu
Tag: Suntingan visualeditor-wikitext
 
=== Penggunaan kontemporer ===
Hingga kini, lontar beraksara Bali masih dihasilkan dan digunakan untuk sejumlah fungsi dalam kehidupan masyarakat Bali kontemporer. Aksara Bali dan praktek menulis pada lontar masih diajarkan sebagai bagian dari muatan lokal di sekolah-sekolah Bali dan Lombok, dan sejumlah juru tulis masih aktif menerima pesanan untuk membuat dan menyalin ulang lontar. Tiap banjar di Bali umumnya memiliki kelompok ''pĕsantian'' yang diundang untuk membacakan lontar di sejumlah acara dan saling berlomba antara satu sama lainnya dalam kompetisi hingga tingkat provinsi.<ref name="sudewa">{{cite journal|url=https://www.unicode.org/L2/L2003/03118-balinese.pdf|title=Contemporary Use of The Balinese Script |first=Ida Bagus Adi|last=Sudewa|date=2003-03-02|journal=ISO/IEC JTC1/SC2/WG2|issue=L2/03-118|page=6-9}}</ref>{{sfn|Rubenstein|1996|pp=144-147}} Meski begitu, berkurangnya penggunaan sehari-hari aksara Bali (misal untuk catatan biasa) serta konotasi keramat lontar dalam berbagai upacara membuat sebagian masyarakat Bali segan-segan dengan lontar tradisional; Lontar beraksara Bali dianggap sebagai benda keramat yang dihormati, namun kadang takut dipelajari karena kurang lumrahnya penggunaan lontar di luar ritual.<ref name="fox">{{cite book|url=https://books.google.co.id/books?id=DKlaDwAAQBAJ&dq=More+Than+Words:+Transforming+Script,+Agency,+and+Collective+Life+in+Bali&source=gbs_navlinks_s|title=More Than Words: Transforming Script, Agency, and Collective Life in Bali|last=Fox|first=Richard|isbn=9781501725364|publisher=Cornell University Press|year=2018|page=40-42}}</ref>{{efn|Dalam wacana mengenai tradisi naskah Lontar Bali yang diterbitkan oleh koran [[Bali Orti]], edisi Radite Kliwon, 21 April 2013, terbit pula artikel pendamping ''Nentĕn Mĕsti sĕtata Katĕngĕtang'' ("Tidak Mesti Dipandang sebagai ''Katĕngĕtang''"). Isi artikel tersebut menanggapi reputasi lontar sebagai ''tĕngĕt'', barang keramat dengan potensi kekuatan yang sebaiknya tidak dipegang orang awam. Sang penulis artikel menyayangkan bahwa sikap ini kadang malah menghalang-halangi masyarakat untuk melestarikanmempelajari tradisi penggunaan lontar, sehingga sang penulis mendorong masyarakat untuk tidak takut membaca lontar yang dalam kenyataannya memiliki berbagai macam isi dan topik pembahasan.<ref name="fox"/>}}
Sebagai upaya melestarikan dan melumrahkan penggunaan aksara Bali dalam ranah publik, Pemerintahan Provinsi Bali melalui Peraturan Gubernur no. 80 tahun 2018 mewajibkan sekolah, pura, lembaga pemerintahan, dan fasilitas-fasilitas umum untuk menggunakan aksara Bali dalam penulisan plang nama masing-masing.<ref>