Surat Batak: Perbedaan revisi

Tidak ada perubahan ukuran ,  7 bulan yang lalu
(AB)
Tag: Suntingan visualeditor-wikitext
 
==Media==
Surat Batak secara tradisional ditulis di sejumlah media, di antaranya yang paling lumrah adalah bambu, tulang, dan kulit kayu. Naskah dengan media-media tersebut dapat ditemukan dalam ukuran dan tingkat kerajinan yang bervariasi. Tulisan sehari-hari umum digurat pada permukaan bambu atau tulang dengan pisau kecil. Guratan ini kemudian dihitamkan dengan jelaga untuk meningkatkan keterbacaan. Bambu dan tulang yang ditulisi oleh surat Batak lumrah dimanfaatkan sebagai perkakas sehari-hari, misal sebagai tabung penyimpanan [[pinang]] atau kalung sekaligus jimat penolak bala. Kulit kayu khusus digunakan untuk naskah ''[[pustaha]]'' yang digunakan kaum pendeta. Untuk membuat pustaha, kulit dalam pohon [[gaharu]] (''Aquilaria malaccensis'') dipotong dan dihaluskan menjadi lembar panjang yang diseputdisebut ''laklak''. Panjang lembar ini bisa berkisar antar 60 cm hingga 7 m, meski diketahui pula pustaha yang lembarannya memiliki panjang hingga 15 m. Lembar laklak ini kemudian dilipat-lipat, dan kedua ujungnya dapat direkatkan pada sampul kayu bernama ''lampak'' yang seringkali memiliki [[gorga|ukiran]] [[ilik|kadal Boraspati]].{{sfn|Kozok|1996|pp=234–241}} Berbeda dengan naskah bambu dan tulang, naskah pustaha ditulis dengan tinta menggunakan pena dari rusuk daun [[enau|aren]] (''Arenga pinnata'') yang disebut ''suligi'' atau pena dari tanduk kerbau yang disebut ''tahungan''.{{sfn|Teygeler|1993|pp=601–607}} Kertas baru digunakan dengan jumlah yang terbatas pada pertengahan abad 19 M ke atas,<ref>{{Cite book|title=Codices Batacici|first=P|last=Vorhooeve|publisher=Universitaire Pers Leiden|place=Leiden|page=101|year=1977}}</ref> namun bambu, tulang, dan kulit kayu terus digunakan sebagai media utama penulisan aksara Batak hingga abad 20 M ketika tradisi tulis aksara Batak mulai menghilang.{{sfn|Kozok|1996|pp=245–246}}
 
== Penggunaan ==