Suku Banjar: Perbedaan revisi

3 bita ditambahkan ,  6 bulan yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
k (replaced: komoditi → komoditas)
 
Suku bangsa Banjar berasal dari [[daerah Banjar]] yang merupakan pembauran masyarakat beberapa [[daerah aliran sungai]] yaitu [[Sungai Bahan|DAS Bahan]], [[Sungai Barito|DAS Barito]], [[Sungai Martapura|DAS Martapura]] dan DAS Tabanio. Dari daerah pusat budayanya ini suku Banjar sejak berabad-abad yang lalu bergerak secara meluas melakukan migrasi secara sentrifugal atau secara lompat katak ke berbagai daerah di Nusantara hingga ke Madagaskar.
 
Lembaga Biologi Molekuler Eijkman meneliti DNA orang Dayak pada tahun 2012 yang bertujuan memastikan kaitan antara Dayak Maanyan dan Madagaskar.<ref name="DNA Orang Dayak">{{id}} {{cite news
|author=Yunanto Wiji Utomo
|title=DNA Orang Dayak Akan Diteliti
|location=Indonesia
|publisher=Kompas.com
|url=https://nasional.kompas.com/read/2012/06/21/1826016/DNA.Orang.Dayak.Akan.Diteliti
|date=21 Juni 2012
|isbn=}}</ref>
 
Upaya-upaya sebelumnya untuk menemukan asal Asia Malagasi menyoroti Kalimantan secara luas sebagai sumber potensial, tetapi sejauh ini tidak ada populasi sumber tegas yang diidentifikasi. Telah dihasilkan data luas genom dari dua populasi Kalimantan Tenggara, Banjar dan Ngaju, bersama-sama dengan data yang dipublikasikan dari populasi di seluruh wilayah Samudra Hindia. Para peneliti menemukan dukungan kuat untuk asal mula leluhur Asia Malagasi di antara orang Banjar. Kelompok ini muncul dari keberadaan lama sebuah pos perdagangan Kekaisaran Melayu di Kalimantan Tenggara, yang mendukung pencampuran antara Melayu dan kelompok Borneo asli, Ma'anyan. Menggabungkan data genetik, sejarah, dan linguistik, para peneliti menunjukkan bahwa Banjar, dalam pelayaran yang dipimpin orang Melayu, adalah sumber Asia yang paling memungkinkan di antara kelompok-kelompok yang dianalisis dalam pendirian kumpulan gen Malagasi.<ref name="Malagasy Genetic Ancestry">{{en}} {{cite news
|author=
|title=Malagasy Genetic Ancestry Comes from an Historical Malay Trading Post in Southeast Borneo
|location=
|publisher=
|url=https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4989113/
|date=5 Juli 2016
|isbn=}}</ref>
 
Hipotesis nenek moyang orang Madagaskar sempat diduga berasal dari Suku Bajo, Bugis dan Dayak Maanyan, namun ternyata konfirmasi riset genetik menunjukkan itu identik dengan Suku Banjar.<ref name="secara-genetik">{{id}} {{cite news
|author=Nograhany Widhi Koesmawardhani
|title=Herawati Sudoyo: Secara Genetik, Asal Usul Orang Indonesia Itu Beragam
|location=Indonesia
|publisher=detikNews
|url=http://news.detik.com/wawancara/d-3345371/herawati-sudoyo-secara-genetik-asal-usul-orang-indonesia-itu-beragam?single=1
|date=15 November 2016
|isbn=}}</ref>
 
Mengapa [[Bahasa Madagaskar]] atau Malagasy 90 persen sama dengan [[Bahasa Dayak Maanyan]] di [[Kalimantan Selatan]] walaupun orang Dayak Maanyan genetiknya tidak sama dengan Madagaskar? Secara genetik, [[orang Madagaskar]] jauh lebih dekat dengan orang Banjar. Dari riset genetik dan antropologi dapat disimpulkan bahwa bahasa Dayak Maanyan dipakai orang Banjar dan dibawa pergi ke [[Madagaskar]] 1200 tahun lalu.<ref name="Sains Sekitar Kita">{{cite web
| url=https://news.bbmessaging.com/id/berita/theconversation-com/articles/860963
| title=Sains Sekitar Kita: Dari gen terungkap tak ada manusia pribumi Indonesia
| website=news.bbmessaging.com
| p=
| date=02-04-2018
| access-date=2018-09-23}}</ref>
 
Nicolas Brucato, peneliti dari Laboratorium Antropologi Molekuler dan Sintesis Citra (AMIS), Universitas Toulouse, Prancis mengungkapkan bahwa bedasarkan penelitian antropologi menunjukkan bahasa orang Malagasi berakar dari bahasa orang Dayak Ma’anyan yang ada di Kalimantan bagian tenggara. Namun genetik orang Malagasi justru lebih dekat kepada orang Banjar, yang juga berasal dari kawasan yang sama dengan Dayak Ma’anyan. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antara warisan genetik dan bahasa orang Dayak Ma’anyan di masyarakat Malagasi.<ref name="Penelitian Eijkman">{{id}} {{cite news
|author=GABRIEL WAHYU TITIYOGA
|title=Penelitian Eijkman Ungkap Penghuni Paling Awal Nusantara
|location=Indonesia
|publisher=Tempo.co
|url=https://tekno.tempo.co/read/841113/penelitian-eijkman-ungkap-penghuni-paling-awal-nusantara
|date=30 Januari 2017
|isbn=}}</ref>
 
Gen orang Madagaskar terdiri atas 37% gen orang Banjar (Kalimantan) dan 63% gen orang Bantu (Afrika Selatan). Percampuran ini sudah lebih dari tujuh abad, sejak 1275 M.<ref name="Jejak Nusantara">{{id}} {{cite web
|author=Husein Abdulsalam
|title=Ada Jejak Nusantara pada Gen Orang Madagaskar
|location=Indonesia
|publisher=tirto.id
|url=https://tirto.id/ada-jejak-nusantara-pada-gen-orang-madagaskar-cEPw
|date=15 Februari 2018
|isbn=}}</ref>
 
Kelompok Ricaut telah menunjukkan bahwa keragaman genetik Malagasi adalah 68 persen orang Afrika dan 32 persen orang Asia. Berdasarkan bukti mereka, Banjar adalah populasi Asia yang paling mungkin melakukan perjalanan ke Madagaskar. Penanggalan genetik mendukung hipotesis bahwa migrasi Austronesia ini terjadi sekitar 1.000 tahun yang lalu, sedangkan migrasi Bantu terakhir yang signifikan ke Madagaskar dimulai 300 tahun kemudian, mungkin setelah perubahan iklim di Afrika.
Pergeseran bahasa diduga telah terjadi di Kalimantan Tenggara setelah migrasi Banjar ke Madagaskar. Diperkirakan bahwa orang Banjar, yang saat ini berbicara bahasa Melayu, mungkin berbicara bahasa yang lebih dekat dengan bahasa yang direkonstruksi untuk Proto-Malagasi. Perubahan linguistik ini akan mengikuti campuran budaya dan genetik utama dengan Melayu, didorong oleh pos perdagangan Kekaisaran Melayu di Kalimantan Tenggara. Runtuhnya Kekaisaran Melayu selama abad ke-15 dan ke-16 bisa bersamaan dengan berakhirnya campuran gen Melayu ke dalam populasi Banjar.<ref name="No one is an island">{{id}} {{cite news
|author=Oxford University Press
|title=No one is an island: The history of human genetic ancestry in Madagascar
|location=
|publisher=phys.org
|url=https://phys.org/news/2016-07-island-history-human-genetic-ancestry.html
|date=5 Juli 2016
|isbn=}}</ref>
 
Terdapat empat fase migrasi yang terjadi di Afrika Timur. Migrasi Banjar 'melahirkan' budaya baru karena berpadu dengan Afrika Timur di Madagaskar dan Komoro terjadi pada fase kedua. Budaya tersebut berada dan hidup berdampingan selama berabad-abad dan memunculkan budaya baru.<ref name="Bukan Afrika">{{id}} {{cite web
|author=kumparan.com
|title=Bukan Afrika, Leluhur Penduduk Madagaskar Berasal dari Indonesia
|location=Indonesia
|publisher=kumparan.com
|url=https://kumparan.com/@kumparantravel/bukan-afrika-leluhur-penduduk-madagaskar-berasal-dari-indonesia?ref=mtren
|date=27 April 2018
|isbn=}}</ref>
 
Secara genetika suku Banjar purba sudah terbentuk ribuan tahun yang lalu yang merupakan pembauran orang Melayu purba sebagai unsur dominan dan Dayak Maanyan. Suku Banjar yang memiliki genetik Melayu dominan ini telah melakukan [[migrasi]] keluar [[pulau Kalimantan]] sekitar tahun 830 Masehi atau 1.200 tahun yang lalu menuju Madagasikara alias [[Madagaskar]] yang menurunkan [[bangsa Malagasi]].<ref>http://print.kompas.com/baca/english/2016/07/16/Ancestors-of-Malagasy-Came-from-Banjar</ref><ref>http://print.kompas.com/baca/english/2016/07/04/The-Journey-across-the-Indian-Ocean?utm_source=bacajuga</ref><ref name="terradaily.com">http://www.terradaily.com/reports/The_history_of_human_genetic_ancestry_in_Madagascar_999.html</ref><ref name="terradaily.com"/><ref>https://academic.oup.com/mbe/article/33/9/2478/2579515/No-One-Is-an-Island-The-History-of-Human-Genetic</ref><ref>https://academic.oup.com/mbe/article-lookup/doi/10.1093/molbev/msw117</ref>
 
[[Bahasa Malagasi]] menunjukkan unsur-unsur bahasa Banjar dan bahasa Maanyan, misalnya varika dari warik (bahasa Banjar) dan rano dari kata ranu (bahasa Maanyan).<ref name="Atlas of Languages">{{en}} {{cite book|url=https://books.google.co.id/books?id=lFW1BwAAQBAJ&lpg=PA688&dq=banjarese%20srilangka&hl=id&pg=PA688#v=onepage&q=banjarese%20srilangka&f=false|title=Atlas of Languages of Intercultural Communication in the Pacific, Asia, and the Americas|author=Stephen A. Wurm|publisher=UNESCO|year=1996|isbn=|volume=1|location=Berlin; New York|page=688|coauthors=Peter Mühlhäusler, Darrell T. Tryon, Walter de Gruyter}}ISBN 3-11-013417-9</ref>
<ref name="Austronesian Diaspora">{{en}} {{cite book|url=https://books.google.co.id/books?id=Szvr5hUtD5kC&pg=PA209&dq=diaspora+banjar&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwj30sjH5bLUAhWKwI8KHTY1CGIQ6AEIJDAA#v=onepage&q=diaspora%20banjar&f=false|title=Austronesian Diaspora and the Ethnogeneses of People in Indonesian Archipelago: Proceedings of the International Symposium|author=Truman Simanjuntak|publisher=LIPI Press|year=2006|isbn=|location=Indonesia|page=209|coauthors=Ingrid Harriet Eileen Pojoh, Muhamad Hisyam}} ISBN 979-26-2436-8</ref> Adat pemakaman sekunder Dayak beragama Kaharingan yang disebut aruh [[Buntang]] disebut [[Famadihana]] di Madagaskar. Tetapi di Madagaskar tidak terdapat upacara [[Ijambe]] (kremasi/ngaben) maupun [[Aruh Baharin]]/[[Aruh Ganal]] (upacara panen) yang masih dilakukan masyarakat Dayak Kaharingan di Kalsel. Adat mengayau juga tidak dilakukan oleh penduduk Madagaskar. Selain itu masih terdapat adat memberi makan buaya di Madagaskar dan yang juga masih dilakukan orang Banjar di Kalimantan Selatan.
 
Suku bangsa Banjar adalah pembauran orang Melayu purba yang membawa bahasa Melayik dengan Dayak Barito-Meratus dari suku [[Dayak Maanyan]], [[Dayak Meratus]], dan sebagian rumpun [[Dayak Ngaju]] terutama yang tinggal di hilir (disebut Dayak Ngawa: Berangas, Mendawai dan Bakumpai). Dan terakhir juga dilakukan Dayak Abal (rumpun Lawangan), yang hampir seluruh anggota sukunya bergabung dan berasimilasi dengan suku Banjar dan konversi ke agama Islam serta meninggalkan bahasa ibunya. Namun saat mereka masih belum diidentifikasikan sebagai [[Dayak]]. Dan sebelum [[Dayak]] dipakai sebagai penyebutan pribumi asli [[Borneo]].
Jadi pada pra-Islam, penduduk kampung Banjar Masih dan kampung sekitarnya yang ada di hilir sungai Barito tergolong sebagai warganegara Kerajaan Negara Daha atau '''Orang Negara Daha'''. Namun belakangan nama Banjar lebih populer sehingga dipakai untuk menamakan penduduk pada kedua wilayah tersebut, walaupun pada kenyataan kebudayaan di wilayah Batang Banyu merupakan kebudayaan Banjar yang lebih klasik. Penduduk Banjar dan Negara Daha sebenarnya menggunakan bahasa yang sama namun berbeda dialek. Peperangan antara Banjar melawan Negara Daha yang dimenangkan oleh Banjar ini hampir mirip dengan peperangan antara Demak melawan Majapahit yang dimenangkan oleh Demak, namun perbedaannya adalah Banjar kemudian dipakai sebagai nama etnik dan sedangkan Demak bukan merupakan nama etnik. Di daerah asalnya yang merupakan pusat budaya Banjar, suku Banjar terbagi menjadi tiga kelompok menurut lokasi permukimannya, berturut-turut kelompok pertama yaitu kelompok '''orang Banjar Masih''' yang kini lebih dikenal sebagai orang Banjar Kuala karena secara geografis mendiami bagian kuala/hilir, sedangkan kelompok kedua yaitu bekas penduduk kerajaan Hindu Negara Daha (Banjar klasik) dikenal sebagai Banjar Batang Banyu, sedangkan kelompok ketiga dikenal sebagai Banjar Pahuluan yang hidup secara harmonis dengan tempat tinggal yang bersisian langsung dengan beberapa sub suku Dayak yang masih menganut agama Kaharingan. Di wilayah Pahuluan bagian utara masih dapat ditemukan kantong-kantong permukiman sub-sub Dayak Maanyan seperti [[Dayak Warukin]] dan [[Dayak Dusun Halong]]. Sedangkan di wilayah Pahuluan bagian tengah dan selatan, ditemukan sub-sub Dayak Meratus (Banjar arkhais) seperti Dayak Pitap, Dayak Labuhan dan lain-lain.
 
== Kekerabatan genetika dengan Dayak Meratus menurut mitologi ==
Mitologi [[suku Dayak Meratus]] (Suku Bukit) menyatakan bahwa Suku Banjar (terutama Banjar Pahuluan) dan Suku Bukit merupakan keturunan dari dua kakak beradik yaitu Datung Ayuh (datung= kakek buyut) atau Si Ayuh/Dayuhan/Sandayuhan yang menurunkan suku Bukit dan Bambang Siwara/Bambang Basiwara alias Intingan yang menurunkan suku Banjar.<ref>http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/37-Datung-Ayuh-dan-Bambang-Siwara</ref> Dalam khasanah cerita prosa rakyat berbahasa Dayak Meratus ditemukan legenda yang sifatnya mengakui atau bahkan melegalkan keserumpunan genetika (saling berkerabat secara geneologis) antara orang Banjar dengan orang Dayak Meratus. Dalam cerita prosa rakyat berbahasa Dayak Meratus dimaksud terungkap bahwa nenek moyang orang Banjar yang bernama Bambang Basiwara adalah adik dari nenek moyang orang Dayak Meratus yang bernama Sandayuhan. Bambang Basiwara digambarkan sebagai adik yang berfisik lemah tetapi berotak cerdas. Sedangkan Sandayuhan digambarkan sebagai kakak yang berfisik kuat dan jago berkelahi.
 
Sesuai dengan statusnya sebagai nenek-moyang atau cikal-bakal orang Dayak Maratus, maka nama Sandayuhan sangat populer di kalangan orang Dayak Meratus. Banyak sekali tempat-tempat di seantero [[pegunungan Meratus]] yang sejarah keberadaannya diceritakan berasal usul dari aksi heroik Sandayuhan. Salah satu di antaranya adalah tebing batu berkepala tujuh, yang konon adalah penjelmaan dari Samali’ing, setan berkepala tujuh yang berhasil dikalahkannya dalam suatu kontak fisik yang sangat menentukan.<ref>{{cite book
| url= http://books.google.co.id/books?id=qcsdcQk35EUC&lpg=PA72&dq=orang-orang%20banjar&pg=PA75#v=onepage&q=orang-orang%20banjar&f=true
| title= Di Bawah Bayang-Bayang Ratu Intan: Proses Marjinalisasi pada Masyarakat
| last= Tsing
| first= Anna Lowenhaupt
| publisher= Yayasan Obor Indonesia
| isbn= 9789794613061
| pages= 75-79, 405
}}ISBN 979-461-306-1</ref>
 
== Kekerabatan genetika dengan Orang Komoro dan [[Bangsa Malagasi|Orang Madagaskar]] (Vezo/Bajo, Mikea, Antemoro) menurut riset ilmiah ==
 
{{multiple image
| footer = Arsitektur rumah etnik Banjar
| align = right
| image1 = COLLECTIE TROPENMUSEUM Paalwoningen langs de rivier Bandjermasin TMnr 10016913.jpg
| width1 = 150
| alt1 = Rumah Bubungan Tinggi yang sederhana milik keluarga petani nelayan beratap rumbia dan berdinding pelupuh/gedhek.
| image2 = Rumah Bubungan Tinggi.jpg
| width2 = 150
| alt2 = Atap Bubungan Tinggi pada [[Rumah Bubungan Tinggi]] beratap sirap.
}}
 
{{multiple image
| footer = Arsitektur rumah etnik [[bangsa Malagasi]]
| align = right
| image1 = Besakana traditional Merina andriana house Rova Antananarivo Madagascar.jpg
| width1 = 150
| alt1 = Large wooden rectangular house with steeply peaked roof in thatch
| image2 = Reconstructed Mahitsielafanjaka palace at Rova of Antananarivo Madagascar.JPG
| width2 = 150
| alt2 = Reconstructed Mahitsielafanjaka palace
}}
 
Penelitian genetika oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman menemukan bahwa etnis Banjar di Kalimantan Selatan sebagai nenek moyang penduduk [[Madagaskar]] yang biasa disebut [[bangsa Malagasi]]. Diaspora melintasi Samudra Hindia itu terjadi 1.200 tahun lalu dan menjawab teka-teki orang Indonesia yang menjadi leluhur populasi di lepas pantai timur Afrika tersebut. Dugaan bahwa nenek moyang orang Madagaskar berasal dari Indonesia sebenarnya telah lama diketahui.<ref>http://news.detik.com/internasional/1874649/28-wanita-indonesia-tak-sengaja-temukan-madagaskar-1200-tahun-silam</ref><ref>http://news.detik.com/berita/1893986/madagaskar-pertama-kali-dikoloni-28-perempuan-indonesia-1200-tahun-lalu</ref><ref>http://news.detik.com/berita/1894053/ternyata-bahasa-penduduk-madagaskar-meminjam-bahasa-indonesia</ref><ref>http://news.detik.com/berita/1894003/tes-dna-buktikan-orang-indonesia-dan-madagaskar-bersaudara</ref><ref>http://popular-archaeology.com/issue/summer-2016/article/new-picture-emerges-on-human-settlement-of-madagascar</ref>
Dapat dipastikan bahwa 90 persen bahasa Madagaskar berakar dari bahasa Dayak Ma’anyan yang tinggal di Sungai Barito, Kalimantan Selatan. Kesamaan bahasa itu yang membuat Dayak Ma’anyan awalnya diduga sebagai leluhur Madagaskar.<ref>https://eprints.uns.ac.id/5115/1/187911011201108011.pdf</ref>
Riset genetika yang dilakukan peneliti Lembaga Eijkman Institute for Molecular Biology yang beralamat di Jl. Dipenogoro 69 Jakarta menemukan bahwa genetika Dayak Ma’anyan berbeda dengan orang Madagaskar. Hasil studi tersebut telah dipublikasikan pada jurnal Nature Scientific Reports edisi 18 Mei 2016.<ref name="nature.com">http://www.nature.com/articles/srep26066</ref><ref>http://news.detik.com/berita/2855830/dari-indonesia-bagian-mana-28-perempuan-nenek-moyang-orang-madagaskar</ref>
 
Sejumlah peneliti dari Universitas Toulouse, Prancis dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman telah mencocokkan genetika orang Madagaskar dengan seluruh data genetik orang Indonesia lainnya. Hasil dari penelitian tersebut ditemukan kecocokan genetika orang Madagaskar dengan orang Banjar. Orang Banjar sendiri terbentuk dari percampuran Dayak Ma’anyan dengan Melayu. Percampuran itu diduga terjadi karena kegiatan perdagangan lintas pulau di Nusantara sejak sekitar abad ke-5, dan diduga semakin intensif di era Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7. Orang Melayu yang menjadi nenek moyang orang Banjar ini memiliki kemiripan genetik populasi di Semenanjung Malaysia saat ini. Komposisi orang Banjar adalah 76-77 persen Melayu dan 23-24 persen Dayak Ma’anyan.
 
Etnis Banjar berlayar ke Madagaskar 1.000-1.200 tahun lalu, kemudian kawin-mawin dengan etnis Bantu dari Afrika Selatan. Percampuran genetik antara Banjar dan Bantu di Madagaskar ini terekam pertama kali sekitar 670 tahun lalu dan kemudian membentuk populasi Madagaskar saat ini, yang memiliki komposisi genetis etnis Banjar 36-37 persen dan sisanya etnis Bantu dari Afrika. (Kompas, Ahmad Arif, 16 Juli 2016).<ref name="nature.com"/><ref>http://print.kompas.com/baca/sains/iptek/2016/07/16/Leluhur-Orang-Madagaskar-dari-Banjar</ref><ref>https://www.researchgate.net/publication/273703326_Mitochondrial_DNA_and_the_Y_chromosome_suggest_the_settlement_of_Madagascar_by_Indonesian_sea_nomad_populations</ref><ref>https://www.sciencedaily.com/releases/2016/07/160705183132.htm</ref><ref>https://www.researchgate.net/profile/Pradiptajati_Kusuma</ref><ref>http://mbe.oxfordjournals.org/content/33/9/2396</ref><ref>http://kaltim.hypotheses.org/1042</ref><ref>http://bmcgenomics.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12864-015-1394-7</ref><ref>https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3903192/</ref><ref>https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1199379/</ref><ref>http://mbe.oxfordjournals.org/content/26/9/2109.full</ref><ref>https://www.pressreader.com/</ref><ref>http://www.academia.edu/9383544/Austronesians_in_Madagascar_a_critical_assessment_of_the_works_of_Paul_Ottino_and_Philippe_Beaujard</ref><ref>http://mbe.oxfordjournals.org/content/early/2016/06/29/molbev.msw117.full.pdf</ref><ref>http://massey.genomicus.com/publications/Brucato_2016_MolBiolEvol_v33_p2396.pdf</ref><ref>http://edisidumai.com/2017/01/herawati-sudoyo-secara-genetik-asal-usul-orang-indonesia-itu-beragam/</ref>
 
== Haplogroup Y-DNA suku Banjar ==
 
Komposisi haplogroup Y-DNA suku Banjar terdiri:{{br}}
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Y-DNA_haplogroups_in_populations_of_East_and_Southeast_Asia
* [[:en:Haplogroup C-M130|C]] - 13.3 % (Paleo Asia, mongolia)
* [[:en:Haplogroup F-M89|F(xK)]] - 6.7 % (nenek moyang negrito k, dravidia h, kaukasia g, dan Mesopotamia I, j)
* [[:en:Haplogroup O-M119|O1a]] atau O-M119 - 26.7 % (Austronesia Taiwan)
* [[:en:Haplogroup O-K18|O1b1a1a (M95)]] atau O-K18 (dahulu disebut Haplogroup O2) - 26.7 % (Austroasiatic Nicobar)
* [[:en:Haplogroup O-M122|O2]] atau O-M122 (dahulu disebut Haplogroup O3) - 26.7% - [[Rumpun bahasa Tibeto-Burma|Tibeto-Burma]]: [[suku Naga]] (di timur India); [[suku Derung]] (di Yunnan selatan Tiongkok)
* B4a1a1 - 0 % (motif Polynesia)
* B4a1a1b - 0 % (motif Madagascar)
* E1b1b1 - 0 % (motif Yahudi)
 
https://haplomaps.com/haplogroup-k/
 
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Haplogroup_O-M175
{{clade
|label1=[[:en:Haplogroup O-M175|O]] (M175)&nbsp;
|1={{clade
|label1=[[:en:Haplogroup O-M122 (Y-DNA)|O2]] (M122)&nbsp;
|1={{clade
|label1=&nbsp; [[Sino-Tibetan languages|Sino-Tibetan]]&nbsp;[[:en:Haplogroup O-M134 (Y-DNA)|O2a2b1]]&nbsp;(M134)&nbsp;
|1={{clade
|1=&nbsp;[[:en:Varieties of Chinese|Sinitic]]&nbsp;O2a2b1a2&nbsp;(F114)&nbsp;
|2=&nbsp;[[:en:Tibeto-Burman languages|Tibeto-Burman]]&nbsp;[[:en:Haplogroup O-M117|O2a2b1a1]]&nbsp;(M117)&nbsp;
}}
|label2=&nbsp;[[:en:Hmong–Mien languages|Hmong–Mien]]&nbsp;[[:en:Haplogroup O-M7 (Y-DNA)|O2a2a1a2]]&nbsp;(M7)&nbsp;
|2={{clade
|1={{clade
|1=&nbsp;[[:en:Hmong language|Hmong]] (Miao)&nbsp;
|2=&nbsp;[[:en:She language|She]] {{harv|Ratliff|1998}}&nbsp;
}}
|2=&nbsp;[[:en:Mien language|Mien]] (Yao)&nbsp;
}}
}}
|label2=[[:en:Haplogroup O-F265|O1]] (F265) ("[[:en:Austric languages|Austric]]")&nbsp;
|2={{clade
|1={{clade
|label1=&nbsp;[[:en:Austroasiatic languages|Austroasiatic]]&nbsp;[[:en:Haplogroup O-M95 (Y-DNA)|O1b1a1a]] (M95)&nbsp;
|1={{clade
|1=&nbsp;[[Munda languages|Munda]]&nbsp;
|2=&nbsp;[[Mon–Khmer languages|Mon–Khmer]]&nbsp;
}}
|label2=&nbsp;[[:en:Austro-Tai languages|Austro-Tai]]&nbsp;[[:en:Haplogroup O-M119 (Y-DNA)|O1a]]&nbsp;(M119)&nbsp;
|2={{clade
|label1=&nbsp;[[:en:Austronesian languages|Austronesian]]&nbsp;
|1={{clade
|1=&nbsp;[[:en:Formosan languages|Formosan]]&nbsp;
|2=&nbsp;[[:en:Malayo-Polynesian languages|Malayo-Polynesian]]&nbsp;
}}
|label2=&nbsp;[[Kra–Dai languages|Kra–Dai]]&nbsp;
|2={{clade
|1=&nbsp;[[:en:Kra languages|Kadai]] <ref group=Note>The outlier Kadai branch is called "Kra" by Thai linguist Weera Ostapirat and "Geyang" by Chinese linguists.</ref>&nbsp;
|label2=&nbsp;[[:en:Kam–Tai languages|Kam–Tai]]&nbsp;
|2={{clade
|1=&nbsp;[[:en:Kam–Sui languages|Kam–Sui]]&nbsp;
|2=&nbsp;[[:en:Tai languages|Tai]]&nbsp;
}}
}}
}}
}}
}}
}}
}}
 
M Haplogroup suku Banjar: 0,060 <ref name="Tropical Diseases">{{cite book
| first=
| last=
| author= Sangkot Marzuki, Jan Verhoef, Harm Snippe
| url= https://books.google.co.id/books?id=mSd5dFAxyl4C&pg=PA9&dq=DNA+Malay+Banjar&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjN48iiu7_fAhUENI8KHZ3BAlEQ6AEIMTAB#v=onepage&q=DNA%20Malay%20Banjar&f=false
| title= Tropical Diseases: From Molecule to Bedside ; [proceedings of the Second International Eijkman Symposium on Tropical Diseases: from Molecule to Bedside: in the Footsteps of Christiaan Eijkman, Held September 2 - 6, 2001, in Bogor, Indonesia]
| location= Indonesia
| publisher= Springer Science & Business Media
| date= 31 Juli 2003
| page= 10
| isbn=
}}</ref><ref>https://academic.oup.com/mbe/article/26/9/2109/1197149</ref>
 
Austronesia-Tai peoples
 
The following table of [[:en:human Y-chromosome DNA haplogroups|Y-chromosome DNA haplogroup]] frequencies of [[:en:Austro-Tai peoples]] (i.e., [[:en:Tai–Kadai-speaking peoples|Tai-Kadai peoples]] and [[:en:Austronesian peoples]]) is from Li, et al. (2008).<ref name="LiHui2008">Li, Hui, et al. (2008). "[https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18482451 Paternal genetic affinity between western Austronesians and Daic populations]." ''BMC Evolutionary Biology'' 2008, 8:146. {{doi|10.1186/1471-2148-8-146}}</ref>
 
{| class="wikitable sortable" style="text-align:center; font-size: 100%"
! Ethnolinguistic group !! Language branch !! ''n'' !! [[:en:Haplogroup C (Y-DNA)|C]] !! [[:en:Haplogroup D (Y-DNA)|D]]<br>(xD1) !! D1 !! [[:en:Haplogroup F (Y-DNA)|F(xK)]] !! [[:en:Haplogroup M (Y-DNA)|M]] !! [[:en:Haplogroup K (Y-DNA)|K]]<br>{{resize|75%|<br>(most likely [[:en:haplogroup K2a (Y-DNA)|K2a(xN,O)]]),<br> [[:en:haplogroup K2b (Y-DNA)|K2b]] (which includes M, P, Q, R & S)<br> and/or [[:en:Haplogroup LT|LT]]}} !! [[:en:Haplogroup O (Y-DNA)|O]]<br>(xO1a,<br>O1b1a1a,O2) !! [[:en:Haplogroup O-M119|O1a]](xO1a2) !! [[:en:Haplogroup O-M110|O1a2]] (M110/M50) !! [[:en:Haplogroup O-M95|O1b1a1a]]<br>(xO1b1a1a1a1a) !! [[:en:Haplogroup O-M111|O1b1a1a1a1a]] (M111/M88) !! [[:en:Haplogroup O-M122|O2]]<br>(xO2a1a1a1a1,<br>O2a2a1a2,<br>O2a2b1a1) !! [[:en:Haplogroup O-M121|O2a1a1a1a1]] (M121) !! [[:en:Haplogroup O-M122#M7|O2a2a1a2]] (M7) !! [[:en:haplogroup O-M134|O2a2b1]]<br>(xO2a2b1a1) !! [[:en:Haplogroup O-M117|O2a2b1a1]] (M117) !! [[:en:Haplogroup P (Y-DNA)|P]]&nbsp;(inc.&nbsp;Q&nbsp;&&nbsp;R)
|-
! [[Bunun language|Bunun]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Formosan languages|Formosan]])
|| 17
||
||
||
||
||
|| 5.9
||
|| 17.6
|| 58.8
||
|| 17.6
||
||
||
||
||
||
|-
! [[Saisiyat language|Saisiyat]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Formosan languages|Formosan]])
|| 11
||
||
||
||
||
||
||
|| 45.5
|| 9.1
|| 9.1
|| 9.1
|| 27.3
||
||
||
||
||
|-
! [[Batak language|Batak]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Northwest Sumatra–Barrier Islands languages|Northwest Sumatra–Barrier Islands]])
|| 13
||
||
||
||
||
|| 11.6
|| 19.3
|| 23.1
||
|| 15.4
||
|| 23.1
||
||
||
||
|| 7.7
|-
! [[Bangka language|Bangka]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Malayo-Sumbawan languages|Malayo-Sumbawan]])
|| 13
|| 7.7
||
||
||
||
|| 7.7
||
|| 30.8
||
|| 23.1
||
|| 23.1
||
|| 7.7
||
||
||
|-
! [[Malay language|Malay]] ([[Riau]])
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Malayo-Sumbawan languages|Malayo-Sumbawan]])
|| 13
||
||
||
|| 7.7
||
|| 7.7
|| 7.7
|| 38.5
||
|| 7.7
||
|| 23.1
||
||
||
||
|| 7.7
|-
! [[Minangkabau language|Minangkabau]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Malayo-Sumbawan languages|Malayo-Sumbawan]])
|| 15
||
||
||
|| 6.7
||
|| 20.0
|| 20.0
||
||
|| 13.3
||
|| 20.0
||
||
||
||
|| 20.0
|-
! [[Palembang language|Palembang]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Malayo-Sumbawan languages|Malayo-Sumbawan]])
|| 11
|| 9.1
||
||
||
||
||
||
|| 63.6
||
|| 18.2
||
|| 9.1
||
||
||
||
||
|-
! [[Nias language|Nias]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Northwest Sumatra–Barrier Islands languages|Northwest Sumatra–Barrier Islands]])
|| 12
||
||
||
||
||
||
||
||
||
||
|| 8.3
|| 91.7
||
||
||
||
||
|-
! [[suku Dayak|Dayak]] ([[Kalimantan Tengah]])
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[:en:Greater North Borneo languages|Bornean]])
|| 15
||
||
||
|| 6.7
||
|| 26.7
||
|| 20.0
|| 20.0
|| 6.7
|| 6.7
|| 13.3
||
||
||
||
||
|-
! [[Banjar language|Banjar]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Malayo-Sumbawan languages|Malayo-Sumbawan]])
|| 15
|| 13.3
||
||
|| 6.7
||
||
||
|| 26.7
||
|| 26.7
||
|| 26.7
||
||
||
||
||
|-
! [[Javanese language|Javanese]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Javanese language|Javanese]])
|| 15
||
||
||
||
||
|| 26.7
|| 26.7
|| 20.0
||
|| 13.3
||
|| 13.3
||
||
||
||
||
|-
! [[Tengger language|Tengger]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Javanese language|Javanese]])
|| 12
|| 16.7
||
||
||
||
|| 8.3
||
|| 33.3
||
|| 33.3
||
||
||
|| 8.3
||
||
||
|-
! [[Balinese language|Balinese]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Malayo-Sumbawan languages|Malayo-Sumbawan]])
|| 14
||
||
||
||
||
|| 28.6
|| 14.3
|| 7.1
||
|| 28.6
||
|| 14.3
||
|| 7.1
||
||
||
|-
! [[Bugis language|Bugis]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[South Sulawesi languages|South Sulawesi]])
|| 15
||
||
||
|| 13.3
||
|| 20.0
||
|| 33.3
||
||
||
|| 26.7
||
||
||
|| 6.7
||
|-
! [[Toraja language|Toraja]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[South Sulawesi languages|South Sulawesi]])
|| 15
||
||
||
|| 13.3
||
|| 13.3
|| 13.3
|| 13.3
|| 6.7
|| 33.3
||
||
||
|| 6.7
||
||
||
|-
! [[Minahasan languages|Minahasa]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Philippine languages|Philippine]])
|| 14
||
||
||
||
|| 7.1
|| 50.0
||
|| 21.4
||
|| 7.1
||
|| 14.3
||
||
||
||
||
|-
! [[Makassar language|Makassar]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[South Sulawesi languages|South Sulawesi]])
|| 13
|| 23.1
||
||
||
||
||
||
|| 30.8
|| 15.4
|| 7.7
||
|| 23.1
||
||
||
||
||
|-
! [[Kaili language|Kaili]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Celebic languages|Celebic]])
|| 15
|| 6.7
||
||
||
||
|| 33.3
||
|| 20.0
||
|| 6.7
||
|| 26.7
||
||
||
||
|| 6.7
|-
! [[Sasak language|Sasak]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Malayo-Sumbawan languages|Malayo-Sumbawan]])
|| 15
|| 13.3
||
||
||
||
|| 13.3
|| 26.7
|| 6.7
||
|| 20.0
||
|| 20.0
||
||
||
||
||
|-
! [[Sumbawa language|Sumbawa]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Malayo-Sumbawan languages|Malayo-Sumbawan]])
|| 18
||
||
||
||
||
|| 16.7
||
||
||
||
||
|| 83.3
||
||
||
||
||
|-
! [[Sumba language|Sumba]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Central–Eastern Malayo-Polynesian languages|CEMP]])
|| 14
||
||
||
|| 14.3
||
|| 78.6
||
||
||
||
||
|| 7.1
||
||
||
||
||
|-
! [[Alor–Pantar languages|Alor]]
|| [[Trans–New Guinea languages|Trans–New Guinea]]
|| 13
|| 38.5
||
||
||
||
|| 30.7
||
||
||
||
||
|| 23.1
||
||
||
||
|| 7.7
|-
! [[Cenderawasih languages|Cenderawasih]]<br> ([[Geelvink Bay]])
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Central–Eastern Malayo-Polynesian languages|CEMP]])
|| 11
|| 45.5
||
||
||
|| 36.4
|| 18.2
||
||
||
||
||
||
||
||
||
||
||
|-
! [[Cham language|Cham]]<br> ([[Binh Dinh Province|Binh Dinh]])
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Malayo-Sumbawan languages|Malayo-Sumbawan]])
|| 11
||
||
||
||
||
||
|| 9.1
|| 90.9
||
||
||
||
||
||
||
||
||
|-
! [[Tsat language|Tsat]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Malayo-Sumbawan languages|Malayo-Sumbawan]])
|| 31
|| 12.9
||
||
||
||
||
|| 16.1
|| 58.1
||
|| 3.2
||
||
||
||
|| 6.5
|| 3.2
||
|}
 
== Sejarah ==
* Letjen [[Z.A. Maulani]], Kepala BIN 1998-1999.
* [[Fadjroel Rachman]], Juru Bicara Presiden.2019-sekarang
 
== Kekerabatan genetika dengan Dayak Meratus menurut mitologi ==
Mitologi [[suku Dayak Meratus]] (Suku Bukit) menyatakan bahwa Suku Banjar (terutama Banjar Pahuluan) dan Suku Bukit merupakan keturunan dari dua kakak beradik yaitu Datung Ayuh (datung= kakek buyut) atau Si Ayuh/Dayuhan/Sandayuhan yang menurunkan suku Bukit dan Bambang Siwara/Bambang Basiwara alias Intingan yang menurunkan suku Banjar.<ref>http://ceritarakyatnusantara.com/id/folklore/37-Datung-Ayuh-dan-Bambang-Siwara</ref> Dalam khasanah cerita prosa rakyat berbahasa Dayak Meratus ditemukan legenda yang sifatnya mengakui atau bahkan melegalkan keserumpunan genetika (saling berkerabat secara geneologis) antara orang Banjar dengan orang Dayak Meratus. Dalam cerita prosa rakyat berbahasa Dayak Meratus dimaksud terungkap bahwa nenek moyang orang Banjar yang bernama Bambang Basiwara adalah adik dari nenek moyang orang Dayak Meratus yang bernama Sandayuhan. Bambang Basiwara digambarkan sebagai adik yang berfisik lemah tetapi berotak cerdas. Sedangkan Sandayuhan digambarkan sebagai kakak yang berfisik kuat dan jago berkelahi.
 
Sesuai dengan statusnya sebagai nenek-moyang atau cikal-bakal orang Dayak Maratus, maka nama Sandayuhan sangat populer di kalangan orang Dayak Meratus. Banyak sekali tempat-tempat di seantero [[pegunungan Meratus]] yang sejarah keberadaannya diceritakan berasal usul dari aksi heroik Sandayuhan. Salah satu di antaranya adalah tebing batu berkepala tujuh, yang konon adalah penjelmaan dari Samali’ing, setan berkepala tujuh yang berhasil dikalahkannya dalam suatu kontak fisik yang sangat menentukan.<ref>{{cite book
| url= http://books.google.co.id/books?id=qcsdcQk35EUC&lpg=PA72&dq=orang-orang%20banjar&pg=PA75#v=onepage&q=orang-orang%20banjar&f=true
| title= Di Bawah Bayang-Bayang Ratu Intan: Proses Marjinalisasi pada Masyarakat
| last= Tsing
| first= Anna Lowenhaupt
| publisher= Yayasan Obor Indonesia
| isbn= 9789794613061
| pages= 75-79, 405
}}ISBN 979-461-306-1</ref>
 
== Kekerabatan genetika dengan Orang Komoro dan [[Bangsa Malagasi|Orang Madagaskar]] (Vezo/Bajo, Mikea, Antemoro) menurut riset ilmiah ==
 
{{multiple image
| footer = Arsitektur rumah etnik Banjar
| align = right
| image1 = COLLECTIE TROPENMUSEUM Paalwoningen langs de rivier Bandjermasin TMnr 10016913.jpg
| width1 = 150
| alt1 = Rumah Bubungan Tinggi yang sederhana milik keluarga petani nelayan beratap rumbia dan berdinding pelupuh/gedhek.
| image2 = Rumah Bubungan Tinggi.jpg
| width2 = 150
| alt2 = Atap Bubungan Tinggi pada [[Rumah Bubungan Tinggi]] beratap sirap.
}}
 
{{multiple image
| footer = Arsitektur rumah etnik [[bangsa Malagasi]]
| align = right
| image1 = Besakana traditional Merina andriana house Rova Antananarivo Madagascar.jpg
| width1 = 150
| alt1 = Large wooden rectangular house with steeply peaked roof in thatch
| image2 = Reconstructed Mahitsielafanjaka palace at Rova of Antananarivo Madagascar.JPG
| width2 = 150
| alt2 = Reconstructed Mahitsielafanjaka palace
}}
 
Lembaga Biologi Molekuler Eijkman meneliti DNA orang Dayak pada tahun 2012 yang bertujuan memastikan kaitan antara Dayak Maanyan dan Madagaskar.<ref name="DNA Orang Dayak">{{id}} {{cite news
|author=Yunanto Wiji Utomo
|title=DNA Orang Dayak Akan Diteliti
|location=Indonesia
|publisher=Kompas.com
|url=https://nasional.kompas.com/read/2012/06/21/1826016/DNA.Orang.Dayak.Akan.Diteliti
|date=21 Juni 2012
|isbn=}}</ref>
 
Upaya-upaya sebelumnya untuk menemukan asal Asia Malagasi menyoroti Kalimantan secara luas sebagai sumber potensial, tetapi sejauh ini tidak ada populasi sumber tegas yang diidentifikasi. Telah dihasilkan data luas genom dari dua populasi Kalimantan Tenggara, Banjar dan Ngaju, bersama-sama dengan data yang dipublikasikan dari populasi di seluruh wilayah Samudra Hindia. Para peneliti menemukan dukungan kuat untuk asal mula leluhur Asia Malagasi di antara orang Banjar. Kelompok ini muncul dari keberadaan lama sebuah pos perdagangan Kekaisaran Melayu di Kalimantan Tenggara, yang mendukung pencampuran antara Melayu dan kelompok Borneo asli, Ma'anyan. Menggabungkan data genetik, sejarah, dan linguistik, para peneliti menunjukkan bahwa Banjar, dalam pelayaran yang dipimpin orang Melayu, adalah sumber Asia yang paling memungkinkan di antara kelompok-kelompok yang dianalisis dalam pendirian kumpulan gen Malagasi.<ref name="Malagasy Genetic Ancestry">{{en}} {{cite news
|author=
|title=Malagasy Genetic Ancestry Comes from an Historical Malay Trading Post in Southeast Borneo
|location=
|publisher=
|url=https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4989113/
|date=5 Juli 2016
|isbn=}}</ref>
 
Hipotesis nenek moyang orang Madagaskar sempat diduga berasal dari Suku Bajo, Bugis dan Dayak Maanyan, namun ternyata konfirmasi riset genetik menunjukkan itu identik dengan Suku Banjar.<ref name="secara-genetik">{{id}} {{cite news
|author=Nograhany Widhi Koesmawardhani
|title=Herawati Sudoyo: Secara Genetik, Asal Usul Orang Indonesia Itu Beragam
|location=Indonesia
|publisher=detikNews
|url=http://news.detik.com/wawancara/d-3345371/herawati-sudoyo-secara-genetik-asal-usul-orang-indonesia-itu-beragam?single=1
|date=15 November 2016
|isbn=}}</ref>
 
Mengapa [[Bahasa Madagaskar]] atau Malagasy 90 persen sama dengan [[Bahasa Dayak Maanyan]] di [[Kalimantan Selatan]] walaupun orang Dayak Maanyan genetiknya tidak sama dengan Madagaskar? Secara genetik, [[orang Madagaskar]] jauh lebih dekat dengan orang Banjar. Dari riset genetik dan antropologi dapat disimpulkan bahwa bahasa Dayak Maanyan dipakai orang Banjar dan dibawa pergi ke [[Madagaskar]] 1200 tahun lalu.<ref name="Sains Sekitar Kita">{{cite web
| url=https://news.bbmessaging.com/id/berita/theconversation-com/articles/860963
| title=Sains Sekitar Kita: Dari gen terungkap tak ada manusia pribumi Indonesia
| website=news.bbmessaging.com
| p=
| date=02-04-2018
| access-date=2018-09-23}}</ref>
 
Nicolas Brucato, peneliti dari Laboratorium Antropologi Molekuler dan Sintesis Citra (AMIS), Universitas Toulouse, Prancis mengungkapkan bahwa bedasarkan penelitian antropologi menunjukkan bahasa orang Malagasi berakar dari bahasa orang Dayak Ma’anyan yang ada di Kalimantan bagian tenggara. Namun genetik orang Malagasi justru lebih dekat kepada orang Banjar, yang juga berasal dari kawasan yang sama dengan Dayak Ma’anyan. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antara warisan genetik dan bahasa orang Dayak Ma’anyan di masyarakat Malagasi.<ref name="Penelitian Eijkman">{{id}} {{cite news
|author=GABRIEL WAHYU TITIYOGA
|title=Penelitian Eijkman Ungkap Penghuni Paling Awal Nusantara
|location=Indonesia
|publisher=Tempo.co
|url=https://tekno.tempo.co/read/841113/penelitian-eijkman-ungkap-penghuni-paling-awal-nusantara
|date=30 Januari 2017
|isbn=}}</ref>
 
Gen orang Madagaskar terdiri atas 37% gen orang Banjar (Kalimantan) dan 63% gen orang Bantu (Afrika Selatan). Percampuran ini sudah lebih dari tujuh abad, sejak 1275 M.<ref name="Jejak Nusantara">{{id}} {{cite web
|author=Husein Abdulsalam
|title=Ada Jejak Nusantara pada Gen Orang Madagaskar
|location=Indonesia
|publisher=tirto.id
|url=https://tirto.id/ada-jejak-nusantara-pada-gen-orang-madagaskar-cEPw
|date=15 Februari 2018
|isbn=}}</ref>
 
Kelompok Ricaut telah menunjukkan bahwa keragaman genetik Malagasi adalah 68 persen orang Afrika dan 32 persen orang Asia. Berdasarkan bukti mereka, Banjar adalah populasi Asia yang paling mungkin melakukan perjalanan ke Madagaskar. Penanggalan genetik mendukung hipotesis bahwa migrasi Austronesia ini terjadi sekitar 1.000 tahun yang lalu, sedangkan migrasi Bantu terakhir yang signifikan ke Madagaskar dimulai 300 tahun kemudian, mungkin setelah perubahan iklim di Afrika.
Pergeseran bahasa diduga telah terjadi di Kalimantan Tenggara setelah migrasi Banjar ke Madagaskar. Diperkirakan bahwa orang Banjar, yang saat ini berbicara bahasa Melayu, mungkin berbicara bahasa yang lebih dekat dengan bahasa yang direkonstruksi untuk Proto-Malagasi. Perubahan linguistik ini akan mengikuti campuran budaya dan genetik utama dengan Melayu, didorong oleh pos perdagangan Kekaisaran Melayu di Kalimantan Tenggara. Runtuhnya Kekaisaran Melayu selama abad ke-15 dan ke-16 bisa bersamaan dengan berakhirnya campuran gen Melayu ke dalam populasi Banjar.<ref name="No one is an island">{{id}} {{cite news
|author=Oxford University Press
|title=No one is an island: The history of human genetic ancestry in Madagascar
|location=
|publisher=phys.org
|url=https://phys.org/news/2016-07-island-history-human-genetic-ancestry.html
|date=5 Juli 2016
|isbn=}}</ref>
 
Terdapat empat fase migrasi yang terjadi di Afrika Timur. Migrasi Banjar 'melahirkan' budaya baru karena berpadu dengan Afrika Timur di Madagaskar dan Komoro terjadi pada fase kedua. Budaya tersebut berada dan hidup berdampingan selama berabad-abad dan memunculkan budaya baru.<ref name="Bukan Afrika">{{id}} {{cite web
|author=kumparan.com
|title=Bukan Afrika, Leluhur Penduduk Madagaskar Berasal dari Indonesia
|location=Indonesia
|publisher=kumparan.com
|url=https://kumparan.com/@kumparantravel/bukan-afrika-leluhur-penduduk-madagaskar-berasal-dari-indonesia?ref=mtren
|date=27 April 2018
|isbn=}}</ref>
 
Secara genetika suku Banjar purba sudah terbentuk ribuan tahun yang lalu yang merupakan pembauran orang Melayu purba sebagai unsur dominan dan Dayak Maanyan. Suku Banjar yang memiliki genetik Melayu dominan ini telah melakukan [[migrasi]] keluar [[pulau Kalimantan]] sekitar tahun 830 Masehi atau 1.200 tahun yang lalu menuju Madagasikara alias [[Madagaskar]] yang menurunkan [[bangsa Malagasi]].<ref>http://print.kompas.com/baca/english/2016/07/16/Ancestors-of-Malagasy-Came-from-Banjar</ref><ref>http://print.kompas.com/baca/english/2016/07/04/The-Journey-across-the-Indian-Ocean?utm_source=bacajuga</ref><ref name="terradaily.com">http://www.terradaily.com/reports/The_history_of_human_genetic_ancestry_in_Madagascar_999.html</ref><ref name="terradaily.com"/><ref>https://academic.oup.com/mbe/article/33/9/2478/2579515/No-One-Is-an-Island-The-History-of-Human-Genetic</ref><ref>https://academic.oup.com/mbe/article-lookup/doi/10.1093/molbev/msw117</ref>
 
[[Bahasa Malagasi]] menunjukkan unsur-unsur bahasa Banjar dan bahasa Maanyan, misalnya varika dari warik (bahasa Banjar) dan rano dari kata ranu (bahasa Maanyan).<ref name="Atlas of Languages">{{en}} {{cite book|url=https://books.google.co.id/books?id=lFW1BwAAQBAJ&lpg=PA688&dq=banjarese%20srilangka&hl=id&pg=PA688#v=onepage&q=banjarese%20srilangka&f=false|title=Atlas of Languages of Intercultural Communication in the Pacific, Asia, and the Americas|author=Stephen A. Wurm|publisher=UNESCO|year=1996|isbn=|volume=1|location=Berlin; New York|page=688|coauthors=Peter Mühlhäusler, Darrell T. Tryon, Walter de Gruyter}}ISBN 3-11-013417-9</ref>
<ref name="Austronesian Diaspora">{{en}} {{cite book|url=https://books.google.co.id/books?id=Szvr5hUtD5kC&pg=PA209&dq=diaspora+banjar&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwj30sjH5bLUAhWKwI8KHTY1CGIQ6AEIJDAA#v=onepage&q=diaspora%20banjar&f=false|title=Austronesian Diaspora and the Ethnogeneses of People in Indonesian Archipelago: Proceedings of the International Symposium|author=Truman Simanjuntak|publisher=LIPI Press|year=2006|isbn=|location=Indonesia|page=209|coauthors=Ingrid Harriet Eileen Pojoh, Muhamad Hisyam}} ISBN 979-26-2436-8</ref> Adat pemakaman sekunder Dayak beragama Kaharingan yang disebut aruh [[Buntang]] disebut [[Famadihana]] di Madagaskar. Tetapi di Madagaskar tidak terdapat upacara [[Ijambe]] (kremasi/ngaben) maupun [[Aruh Baharin]]/[[Aruh Ganal]] (upacara panen) yang masih dilakukan masyarakat Dayak Kaharingan di Kalsel. Adat mengayau juga tidak dilakukan oleh penduduk Madagaskar. Selain itu masih terdapat adat memberi makan buaya di Madagaskar dan yang juga masih dilakukan orang Banjar di Kalimantan Selatan.
 
 
Penelitian genetika oleh Lembaga Biologi Molekuler Eijkman menemukan bahwa etnis Banjar di Kalimantan Selatan sebagai nenek moyang penduduk [[Madagaskar]] yang biasa disebut [[bangsa Malagasi]]. Diaspora melintasi Samudra Hindia itu terjadi 1.200 tahun lalu dan menjawab teka-teki orang Indonesia yang menjadi leluhur populasi di lepas pantai timur Afrika tersebut. Dugaan bahwa nenek moyang orang Madagaskar berasal dari Indonesia sebenarnya telah lama diketahui.<ref>http://news.detik.com/internasional/1874649/28-wanita-indonesia-tak-sengaja-temukan-madagaskar-1200-tahun-silam</ref><ref>http://news.detik.com/berita/1893986/madagaskar-pertama-kali-dikoloni-28-perempuan-indonesia-1200-tahun-lalu</ref><ref>http://news.detik.com/berita/1894053/ternyata-bahasa-penduduk-madagaskar-meminjam-bahasa-indonesia</ref><ref>http://news.detik.com/berita/1894003/tes-dna-buktikan-orang-indonesia-dan-madagaskar-bersaudara</ref><ref>http://popular-archaeology.com/issue/summer-2016/article/new-picture-emerges-on-human-settlement-of-madagascar</ref>
Dapat dipastikan bahwa 90 persen bahasa Madagaskar berakar dari bahasa Dayak Ma’anyan yang tinggal di Sungai Barito, Kalimantan Selatan. Kesamaan bahasa itu yang membuat Dayak Ma’anyan awalnya diduga sebagai leluhur Madagaskar.<ref>https://eprints.uns.ac.id/5115/1/187911011201108011.pdf</ref>
Riset genetika yang dilakukan peneliti Lembaga Eijkman Institute for Molecular Biology yang beralamat di Jl. Dipenogoro 69 Jakarta menemukan bahwa genetika Dayak Ma’anyan berbeda dengan orang Madagaskar. Hasil studi tersebut telah dipublikasikan pada jurnal Nature Scientific Reports edisi 18 Mei 2016.<ref name="nature.com">http://www.nature.com/articles/srep26066</ref><ref>http://news.detik.com/berita/2855830/dari-indonesia-bagian-mana-28-perempuan-nenek-moyang-orang-madagaskar</ref>
 
Sejumlah peneliti dari Universitas Toulouse, Prancis dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman telah mencocokkan genetika orang Madagaskar dengan seluruh data genetik orang Indonesia lainnya. Hasil dari penelitian tersebut ditemukan kecocokan genetika orang Madagaskar dengan orang Banjar. Orang Banjar sendiri terbentuk dari percampuran Dayak Ma’anyan dengan Melayu. Percampuran itu diduga terjadi karena kegiatan perdagangan lintas pulau di Nusantara sejak sekitar abad ke-5, dan diduga semakin intensif di era Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7. Orang Melayu yang menjadi nenek moyang orang Banjar ini memiliki kemiripan genetik populasi di Semenanjung Malaysia saat ini. Komposisi orang Banjar adalah 76-77 persen Melayu dan 23-24 persen Dayak Ma’anyan.
 
Etnis Banjar berlayar ke Madagaskar 1.000-1.200 tahun lalu, kemudian kawin-mawin dengan etnis Bantu dari Afrika Selatan. Percampuran genetik antara Banjar dan Bantu di Madagaskar ini terekam pertama kali sekitar 670 tahun lalu dan kemudian membentuk populasi Madagaskar saat ini, yang memiliki komposisi genetis etnis Banjar 36-37 persen dan sisanya etnis Bantu dari Afrika. (Kompas, Ahmad Arif, 16 Juli 2016).<ref name="nature.com"/><ref>http://print.kompas.com/baca/sains/iptek/2016/07/16/Leluhur-Orang-Madagaskar-dari-Banjar</ref><ref>https://www.researchgate.net/publication/273703326_Mitochondrial_DNA_and_the_Y_chromosome_suggest_the_settlement_of_Madagascar_by_Indonesian_sea_nomad_populations</ref><ref>https://www.sciencedaily.com/releases/2016/07/160705183132.htm</ref><ref>https://www.researchgate.net/profile/Pradiptajati_Kusuma</ref><ref>http://mbe.oxfordjournals.org/content/33/9/2396</ref><ref>http://kaltim.hypotheses.org/1042</ref><ref>http://bmcgenomics.biomedcentral.com/articles/10.1186/s12864-015-1394-7</ref><ref>https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3903192/</ref><ref>https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1199379/</ref><ref>http://mbe.oxfordjournals.org/content/26/9/2109.full</ref><ref>https://www.pressreader.com/</ref><ref>http://www.academia.edu/9383544/Austronesians_in_Madagascar_a_critical_assessment_of_the_works_of_Paul_Ottino_and_Philippe_Beaujard</ref><ref>http://mbe.oxfordjournals.org/content/early/2016/06/29/molbev.msw117.full.pdf</ref><ref>http://massey.genomicus.com/publications/Brucato_2016_MolBiolEvol_v33_p2396.pdf</ref><ref>http://edisidumai.com/2017/01/herawati-sudoyo-secara-genetik-asal-usul-orang-indonesia-itu-beragam/</ref>
 
== Haplogroup Y-DNA suku Banjar ==
 
Komposisi haplogroup Y-DNA suku Banjar terdiri:{{br}}
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Y-DNA_haplogroups_in_populations_of_East_and_Southeast_Asia
* [[:en:Haplogroup C-M130|C]] - 13.3 % (Paleo Asia, mongolia)
* [[:en:Haplogroup F-M89|F(xK)]] - 6.7 % (nenek moyang negrito k, dravidia h, kaukasia g, dan Mesopotamia I, j)
* [[:en:Haplogroup O-M119|O1a]] atau O-M119 - 26.7 % (Austronesia Taiwan)
* [[:en:Haplogroup O-K18|O1b1a1a (M95)]] atau O-K18 (dahulu disebut Haplogroup O2) - 26.7 % (Austroasiatic Nicobar)
* [[:en:Haplogroup O-M122|O2]] atau O-M122 (dahulu disebut Haplogroup O3) - 26.7% - [[Rumpun bahasa Tibeto-Burma|Tibeto-Burma]]: [[suku Naga]] (di timur India); [[suku Derung]] (di Yunnan selatan Tiongkok)
* B4a1a1 - 0 % (motif Polynesia)
* B4a1a1b - 0 % (motif Madagascar)
* E1b1b1 - 0 % (motif Yahudi)
 
https://haplomaps.com/haplogroup-k/
 
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Haplogroup_O-M175
{{clade
|label1=[[:en:Haplogroup O-M175|O]] (M175)&nbsp;
|1={{clade
|label1=[[:en:Haplogroup O-M122 (Y-DNA)|O2]] (M122)&nbsp;
|1={{clade
|label1=&nbsp; [[Sino-Tibetan languages|Sino-Tibetan]]&nbsp;[[:en:Haplogroup O-M134 (Y-DNA)|O2a2b1]]&nbsp;(M134)&nbsp;
|1={{clade
|1=&nbsp;[[:en:Varieties of Chinese|Sinitic]]&nbsp;O2a2b1a2&nbsp;(F114)&nbsp;
|2=&nbsp;[[:en:Tibeto-Burman languages|Tibeto-Burman]]&nbsp;[[:en:Haplogroup O-M117|O2a2b1a1]]&nbsp;(M117)&nbsp;
}}
|label2=&nbsp;[[:en:Hmong–Mien languages|Hmong–Mien]]&nbsp;[[:en:Haplogroup O-M7 (Y-DNA)|O2a2a1a2]]&nbsp;(M7)&nbsp;
|2={{clade
|1={{clade
|1=&nbsp;[[:en:Hmong language|Hmong]] (Miao)&nbsp;
|2=&nbsp;[[:en:She language|She]] {{harv|Ratliff|1998}}&nbsp;
}}
|2=&nbsp;[[:en:Mien language|Mien]] (Yao)&nbsp;
}}
}}
|label2=[[:en:Haplogroup O-F265|O1]] (F265) ("[[:en:Austric languages|Austric]]")&nbsp;
|2={{clade
|1={{clade
|label1=&nbsp;[[:en:Austroasiatic languages|Austroasiatic]]&nbsp;[[:en:Haplogroup O-M95 (Y-DNA)|O1b1a1a]] (M95)&nbsp;
|1={{clade
|1=&nbsp;[[Munda languages|Munda]]&nbsp;
|2=&nbsp;[[Mon–Khmer languages|Mon–Khmer]]&nbsp;
}}
|label2=&nbsp;[[:en:Austro-Tai languages|Austro-Tai]]&nbsp;[[:en:Haplogroup O-M119 (Y-DNA)|O1a]]&nbsp;(M119)&nbsp;
|2={{clade
|label1=&nbsp;[[:en:Austronesian languages|Austronesian]]&nbsp;
|1={{clade
|1=&nbsp;[[:en:Formosan languages|Formosan]]&nbsp;
|2=&nbsp;[[:en:Malayo-Polynesian languages|Malayo-Polynesian]]&nbsp;
}}
|label2=&nbsp;[[Kra–Dai languages|Kra–Dai]]&nbsp;
|2={{clade
|1=&nbsp;[[:en:Kra languages|Kadai]] <ref group=Note>The outlier Kadai branch is called "Kra" by Thai linguist Weera Ostapirat and "Geyang" by Chinese linguists.</ref>&nbsp;
|label2=&nbsp;[[:en:Kam–Tai languages|Kam–Tai]]&nbsp;
|2={{clade
|1=&nbsp;[[:en:Kam–Sui languages|Kam–Sui]]&nbsp;
|2=&nbsp;[[:en:Tai languages|Tai]]&nbsp;
}}
}}
}}
}}
}}
}}
}}
 
M Haplogroup suku Banjar: 0,060 <ref name="Tropical Diseases">{{cite book
| first=
| last=
| author= Sangkot Marzuki, Jan Verhoef, Harm Snippe
| url= https://books.google.co.id/books?id=mSd5dFAxyl4C&pg=PA9&dq=DNA+Malay+Banjar&hl=id&sa=X&ved=0ahUKEwjN48iiu7_fAhUENI8KHZ3BAlEQ6AEIMTAB#v=onepage&q=DNA%20Malay%20Banjar&f=false
| title= Tropical Diseases: From Molecule to Bedside ; [proceedings of the Second International Eijkman Symposium on Tropical Diseases: from Molecule to Bedside: in the Footsteps of Christiaan Eijkman, Held September 2 - 6, 2001, in Bogor, Indonesia]
| location= Indonesia
| publisher= Springer Science & Business Media
| date= 31 Juli 2003
| page= 10
| isbn=
}}</ref><ref>https://academic.oup.com/mbe/article/26/9/2109/1197149</ref>
 
Austronesia-Tai peoples
 
The following table of [[:en:human Y-chromosome DNA haplogroups|Y-chromosome DNA haplogroup]] frequencies of [[:en:Austro-Tai peoples]] (i.e., [[:en:Tai–Kadai-speaking peoples|Tai-Kadai peoples]] and [[:en:Austronesian peoples]]) is from Li, et al. (2008).<ref name="LiHui2008">Li, Hui, et al. (2008). "[https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18482451 Paternal genetic affinity between western Austronesians and Daic populations]." ''BMC Evolutionary Biology'' 2008, 8:146. {{doi|10.1186/1471-2148-8-146}}</ref>
 
{| class="wikitable sortable" style="text-align:center; font-size: 100%"
! Ethnolinguistic group !! Language branch !! ''n'' !! [[:en:Haplogroup C (Y-DNA)|C]] !! [[:en:Haplogroup D (Y-DNA)|D]]<br>(xD1) !! D1 !! [[:en:Haplogroup F (Y-DNA)|F(xK)]] !! [[:en:Haplogroup M (Y-DNA)|M]] !! [[:en:Haplogroup K (Y-DNA)|K]]<br>{{resize|75%|<br>(most likely [[:en:haplogroup K2a (Y-DNA)|K2a(xN,O)]]),<br> [[:en:haplogroup K2b (Y-DNA)|K2b]] (which includes M, P, Q, R & S)<br> and/or [[:en:Haplogroup LT|LT]]}} !! [[:en:Haplogroup O (Y-DNA)|O]]<br>(xO1a,<br>O1b1a1a,O2) !! [[:en:Haplogroup O-M119|O1a]](xO1a2) !! [[:en:Haplogroup O-M110|O1a2]] (M110/M50) !! [[:en:Haplogroup O-M95|O1b1a1a]]<br>(xO1b1a1a1a1a) !! [[:en:Haplogroup O-M111|O1b1a1a1a1a]] (M111/M88) !! [[:en:Haplogroup O-M122|O2]]<br>(xO2a1a1a1a1,<br>O2a2a1a2,<br>O2a2b1a1) !! [[:en:Haplogroup O-M121|O2a1a1a1a1]] (M121) !! [[:en:Haplogroup O-M122#M7|O2a2a1a2]] (M7) !! [[:en:haplogroup O-M134|O2a2b1]]<br>(xO2a2b1a1) !! [[:en:Haplogroup O-M117|O2a2b1a1]] (M117) !! [[:en:Haplogroup P (Y-DNA)|P]]&nbsp;(inc.&nbsp;Q&nbsp;&&nbsp;R)
|-
! [[Bunun language|Bunun]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Formosan languages|Formosan]])
|| 17
||
||
||
||
||
|| 5.9
||
|| 17.6
|| 58.8
||
|| 17.6
||
||
||
||
||
||
|-
! [[Saisiyat language|Saisiyat]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Formosan languages|Formosan]])
|| 11
||
||
||
||
||
||
||
|| 45.5
|| 9.1
|| 9.1
|| 9.1
|| 27.3
||
||
||
||
||
|-
! [[Batak language|Batak]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Northwest Sumatra–Barrier Islands languages|Northwest Sumatra–Barrier Islands]])
|| 13
||
||
||
||
||
|| 11.6
|| 19.3
|| 23.1
||
|| 15.4
||
|| 23.1
||
||
||
||
|| 7.7
|-
! [[Bangka language|Bangka]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Malayo-Sumbawan languages|Malayo-Sumbawan]])
|| 13
|| 7.7
||
||
||
||
|| 7.7
||
|| 30.8
||
|| 23.1
||
|| 23.1
||
|| 7.7
||
||
||
|-
! [[Malay language|Malay]] ([[Riau]])
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Malayo-Sumbawan languages|Malayo-Sumbawan]])
|| 13
||
||
||
|| 7.7
||
|| 7.7
|| 7.7
|| 38.5
||
|| 7.7
||
|| 23.1
||
||
||
||
|| 7.7
|-
! [[Minangkabau language|Minangkabau]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Malayo-Sumbawan languages|Malayo-Sumbawan]])
|| 15
||
||
||
|| 6.7
||
|| 20.0
|| 20.0
||
||
|| 13.3
||
|| 20.0
||
||
||
||
|| 20.0
|-
! [[Palembang language|Palembang]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Malayo-Sumbawan languages|Malayo-Sumbawan]])
|| 11
|| 9.1
||
||
||
||
||
||
|| 63.6
||
|| 18.2
||
|| 9.1
||
||
||
||
||
|-
! [[Nias language|Nias]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Northwest Sumatra–Barrier Islands languages|Northwest Sumatra–Barrier Islands]])
|| 12
||
||
||
||
||
||
||
||
||
||
|| 8.3
|| 91.7
||
||
||
||
||
|-
! [[suku Dayak|Dayak]] ([[Kalimantan Tengah]])
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[:en:Greater North Borneo languages|Bornean]])
|| 15
||
||
||
|| 6.7
||
|| 26.7
||
|| 20.0
|| 20.0
|| 6.7
|| 6.7
|| 13.3
||
||
||
||
||
|-
! [[Banjar language|Banjar]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Malayo-Sumbawan languages|Malayo-Sumbawan]])
|| 15
|| 13.3
||
||
|| 6.7
||
||
||
|| 26.7
||
|| 26.7
||
|| 26.7
||
||
||
||
||
|-
! [[Javanese language|Javanese]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Javanese language|Javanese]])
|| 15
||
||
||
||
||
|| 26.7
|| 26.7
|| 20.0
||
|| 13.3
||
|| 13.3
||
||
||
||
||
|-
! [[Tengger language|Tengger]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Javanese language|Javanese]])
|| 12
|| 16.7
||
||
||
||
|| 8.3
||
|| 33.3
||
|| 33.3
||
||
||
|| 8.3
||
||
||
|-
! [[Balinese language|Balinese]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Malayo-Sumbawan languages|Malayo-Sumbawan]])
|| 14
||
||
||
||
||
|| 28.6
|| 14.3
|| 7.1
||
|| 28.6
||
|| 14.3
||
|| 7.1
||
||
||
|-
! [[Bugis language|Bugis]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[South Sulawesi languages|South Sulawesi]])
|| 15
||
||
||
|| 13.3
||
|| 20.0
||
|| 33.3
||
||
||
|| 26.7
||
||
||
|| 6.7
||
|-
! [[Toraja language|Toraja]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[South Sulawesi languages|South Sulawesi]])
|| 15
||
||
||
|| 13.3
||
|| 13.3
|| 13.3
|| 13.3
|| 6.7
|| 33.3
||
||
||
|| 6.7
||
||
||
|-
! [[Minahasan languages|Minahasa]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Philippine languages|Philippine]])
|| 14
||
||
||
||
|| 7.1
|| 50.0
||
|| 21.4
||
|| 7.1
||
|| 14.3
||
||
||
||
||
|-
! [[Makassar language|Makassar]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[South Sulawesi languages|South Sulawesi]])
|| 13
|| 23.1
||
||
||
||
||
||
|| 30.8
|| 15.4
|| 7.7
||
|| 23.1
||
||
||
||
||
|-
! [[Kaili language|Kaili]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Celebic languages|Celebic]])
|| 15
|| 6.7
||
||
||
||
|| 33.3
||
|| 20.0
||
|| 6.7
||
|| 26.7
||
||
||
||
|| 6.7
|-
! [[Sasak language|Sasak]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Malayo-Sumbawan languages|Malayo-Sumbawan]])
|| 15
|| 13.3
||
||
||
||
|| 13.3
|| 26.7
|| 6.7
||
|| 20.0
||
|| 20.0
||
||
||
||
||
|-
! [[Sumbawa language|Sumbawa]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Malayo-Sumbawan languages|Malayo-Sumbawan]])
|| 18
||
||
||
||
||
|| 16.7
||
||
||
||
||
|| 83.3
||
||
||
||
||
|-
! [[Sumba language|Sumba]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Central–Eastern Malayo-Polynesian languages|CEMP]])
|| 14
||
||
||
|| 14.3
||
|| 78.6
||
||
||
||
||
|| 7.1
||
||
||
||
||
|-
! [[Alor–Pantar languages|Alor]]
|| [[Trans–New Guinea languages|Trans–New Guinea]]
|| 13
|| 38.5
||
||
||
||
|| 30.7
||
||
||
||
||
|| 23.1
||
||
||
||
|| 7.7
|-
! [[Cenderawasih languages|Cenderawasih]]<br> ([[Geelvink Bay]])
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Central–Eastern Malayo-Polynesian languages|CEMP]])
|| 11
|| 45.5
||
||
||
|| 36.4
|| 18.2
||
||
||
||
||
||
||
||
||
||
||
|-
! [[Cham language|Cham]]<br> ([[Binh Dinh Province|Binh Dinh]])
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Malayo-Sumbawan languages|Malayo-Sumbawan]])
|| 11
||
||
||
||
||
||
|| 9.1
|| 90.9
||
||
||
||
||
||
||
||
||
|-
! [[Tsat language|Tsat]]
|| [[Austronesian languages|Austronesian]] ([[Malayo-Sumbawan languages|Malayo-Sumbawan]])
|| 31
|| 12.9
||
||
||
||
||
|| 16.1
|| 58.1
||
|| 3.2
||
||
||
||
|| 6.5
|| 3.2
||
|}
 
 
== Lihat pula ==
2.871

suntingan