Nyai: Perbedaan revisi

293 bita ditambahkan ,  15 tahun yang lalu
k
tambahan dikit
k (tambahan dikit)
'''Nyai''' adalah sebutan umum di [[Jawa Barat]], khususnya bagi wanita dewasa. Namun, kata ini memiliki konotasinya lain pada jaman kolonial [[Hindia Belanda]]. Ketika itu nyai berarti gundik, selir, atau wanita piaraan para pejabat dan serdadu [[Belanda]].
 
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang diterbitkan [[Depdikbud]] pada [[1989]]. seorang nyai memiliki kesinoniman dengan gundik dan selir. Baik nyai, gundik maupun selir, dalam KBBI, diartikan sebagai bini gelap, perempuan piaraan, dan istri yang tidak pernah dikawini resmi.
Ketika itu nasib nyai jauh lebih beruntung daripada para budak. Di masa awal kolonisasi Hindia Belanda, para pejabat Belanda datang tanpa disertai ''[[mevrouw]]'' (nyonya). keberadaan nyai sepenuhnya difaktori kepentingan seksual dan status sosial pejabat kolonial di tanah Hindia.
 
KetikaPada itumasa kolonial, nasib nyai jauh lebih beruntung daripada para budak. Di masa awal kolonisasi Hindia Belanda, para pejabat Belanda datang tanpa disertai ''[[mevrouw]]'' (nyonya). keberadaan nyai sepenuhnya difaktori kepentingan seksual dan status sosial pejabat kolonial di tanah Hindia.
Seorang nyai berada dalam posisi yang tinggi secara ekonomis, tapi rendah secara moral. Secara ekonomis, mereka berada di atas rata-rata perempuan [[pribumi]] yang bukan bangsawan. Para nyai mengenakan kain [[songket]] bersulam benang emas dan perak, mengenakan tusuk konde roos, peniti intan, dan giwang yang terbuat dari berlian.
 
Seorang nyai berada dalam posisi yang tinggi secara ekonomis, tapi rendah secara moral. Secara ekonomis, mereka berada di atas rata-rata perempuan [[pribumi]] yang bukan bangsawan. Para nyai mengenakan kain [[songket]] bersulam benang emas dan perak, mengenakan tusuk konde roos, peniti intan, dan giwang yang terbuat dari berlian.
 
==Nyai dalam sastra==
8.156

suntingan