Nyai: Perbedaan revisi

165 bita ditambahkan ,  15 tahun yang lalu
k
k
 
==Nyai dalam sastra==
Di sejumlah karya [[sastra]] yang terbit pada masa kolonialisme, seorang nyai selalu digambarkan sebagai sosok perempuan yang suka serong, bodoh, dan suka mencuri harta tuannya. Cerita ''[[Nyai Dasima]]'' yang dikarang G. Francis misalnya. Dasima, perempuan dari Kampung Koeripan menjadi nyai Tuan Edward W. Ia sangat dicintai dan dimanjakan layaknya istri yang sah. Namun, Dasima yang rupanya elok ternyata bukan perempuan yang bisa dipercaya. Ia serong dengan Baba Samioen dari Kampung Pedjambon.
 
Cerita Nyai Dasima di atas memiliki kesamaan dengan cerita ''[[Si Tjonat]]'' karangan F.D.J. Pangemanann, yang anehnya adalah pengarang pribumi. Adalah Saipa, nyai Tuan Opmeijer, asal Desa Tjirenang yang sangat elok dan muda belia. Sebelum menjadi nyai Tuan Opmeijer, Saipa dijual Kaenoen, abahnya, kepada Tjengkao seharga F 40 dan kemudian dijual lagi seharga dua ratus rupiah. Selama menjadi nyai, Saipa sangat dicintai tuannya. Tetapi, Nyai Saipa berbuat serong dengan si Tjonat, jongos di rumahnya. Bahkan, Saipa memilih kabur bersama si Tjonat setelah terlebih dahulu mencuri uang, perhiasan, dan barang tuannya.
 
Oleh [[Pramoedya Ananta Toer]], cerita tentang seorang nyai diangkat lewat tokoh Nyai Ontosoroh dalam roman ''[[Bumi Manusia]]''. Pram menggambarkan, Ontosoroh tidak sekadar nyai yang hanya menjadi objek seksual dan prestise sosial tuan kolonial. Nyai Ontosoroh menghadirkan dirinya tidak lagi sekadar gundik, piaraan, dan pajangan tuannya. Begitu pun tabiat suka serong yang dilekatkan pada nyai dibantah Ontosoroh, ia tidak genit saat menerima tamu lelaki. Ontosoroh menjelmakan dirinya menjadi sosok nyai yang berbeda. Ia merupakan harmonisasi dari paras dan rupa Timur yang elok dengan keuletan, keberanian, dan kepintaran seorang perempuan Eropa. Di titik inilah Ontosoroh menjelmakan dirinya sebagai bagian dari politik narasi kebangsaan. Ia hadir, mengiringi sekaligus mengambil bagian di dalam pergulatan kebangsaan sepanjang awal sampai pertengahan abad ke-19, masa awal [[kebangkitan nasional]].
 
Cerita tentang seorang nyai diangkat juga dalam ''[[Cerita Nyai Sarikem]]'' ([[1900]]), ''[[Nyai Isah]]'' ([[1903]]), ''[[Nyai Permana]]'' ([[1912]]).
 
{{indo-stub}}
8.156

suntingan