Kota Surabaya: Perbedaan revisi

536 bita dihapus ,  7 bulan yang lalu
=== Agama ===
[[Berkas:Masjid Nasional Al-Akbar.jpeg|jmpl|200px|[[Masjid Al Akbar]] Surabaya.]]
AgamaMayoritas penduduk Surabaya menganut agama [[Islam]] adalah agama mayoritas penduduk Surabaya(85,41%). Surabaya merupakan salah satu pusat penyebaran agama Islam yang paling awal di tanah Jawa dan merupakan basis warga [[Nahdlatul 'Ulama]] yang beraliran moderattradisional. [[Masjid Ampel]] didirikan pada abad ke-15 oleh [[Sunan Ampel]], salah satu pioner [[Walisongo]]. Di Surabaya juga berdiri [[Masjid Al-Akbar]] yang merupakan masjid terbesar kedua di Indonesia setelah [[Masjid Istiqlal]], Jakarta dan [[Masjid Cheng Ho Surabaya|Masjid Cheng Ho]] yang terletak di daerah Ketabang yang memiliki arsitektur layaknya [[kelenteng]].
 
[[Berkas:Pagoda-Tian-Ti.jpg|jmpl|kiri|200px|[[Klenteng Sanggar Agung|Kelenteng Sanggar Agung]], Kenjeran, Surabaya.]]
Agama lain yang dianut sebagian penduduk adalah [[Kristen]] ([[Protestanisme|Protestan]] & [[Katolik]]); [[Hindu]]; [[Buddha]]; dan [[Konghucu]]. Walaupun Islam merupakan mayoritas di Surabaya, namun kerukunan umat beragama untuk saling menghormati; menghargai; dan menolong sesamanya cukuplah besar. Hal ini terlihat dari bangunan [[Masjid Al-Akbar]] yang merupakan masjid terbesar kedua di Indonesia setelah [[Masjid Istiqlal]], Jakarta. Di Surabaya juga terdapat [[Masjid Cheng Ho Surabaya|Masjid Cheng Ho]] yang terletak di daerah Ketabang yang memiliki arsitektur layaknya [[kelenteng]].
 
[[Berkas:Graha Bethany Nginden.jpg|jmpl|200px|Graha Bethany, Nginden, Surabaya.]]
Agama lain yang dianut sebagian penduduk adalah [[Kristen]] ([[Protestanisme|Protestan]] (12,87%) & [[Katolik]] (3,95%). Penganutnya kebanyakan berasal dari etnis Tionghoa, Batak, etnis Indonesia Timur dan minoritas suku Jawa setempat. Di Surabaya ini juga berdiri [[Gereja Bethany Indonesia|Gereja Bethany]] yang merupakan salah satu gereja terbesar di Indonesia.
Selain itu, di kota ini juga berdiri [[Gereja Bethany Indonesia|Gereja Bethany]] yang merupakan salah satu gereja terbesar di Indonesia, dan gedung Graha Bethany di daerah Nginden, Surabaya yang merupakan salah satu gedung gereja terbesar di Asia Tenggara. Tidak hanya itu saja, di Surabaya juga banyak terdapat [[yayasan]] sosial berasaskan agama, yang bekerja sama dalam berbagai kegiatan bakti sosial. Bahkan ada beberapa wadah kerukunan umat beragama di Surabaya yang sering eksis dalam menyikapi permasalahan sosial agar antar-sesama masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang akan merusak persatuan dan kesatuan masyarakat Jawa Timur serta bangsa Indonesia.
 
[[Berkas:Pagoda-Tian-Ti.jpg|jmpl|kiri|200px|[[Klenteng Sanggar Agung|Kelenteng Sanggar Agung]], Kenjeran, Surabaya.]]
Agama lain yang dianut masyarakat Surabaya yaitu [[Buddha]] (1,46%) dan [[Konghucu]] (0,02%) yang dianut etnis Tionghoa; serta [[Hindu]] (0,24%) yang dianut suku Bali dan India.
 
=== Etnis ===
[[Suku Jawa]] adalah suku bangsa asli yang menjadi mayoritas di Surabaya adalah [[Suku Jawa]] (83,68%). Dibanding dengan masyarakat Jawa pada umumnya, suku Jawa di Surabaya memiliki temperamen yang sedikit lebih ''keras'' dan ''[[Egalitarianisme|egaliter]]''. Salah satu penyebabnya adalah jauhnya Surabaya dari [[keraton]] yang dipandang sebagai ''sentral'' kebudayaan Jawa.
 
Meskipun Jawa adalah suku mayoritas (83,68%), tetapi Surabaya juga menjadi tempat tinggal [[suku Madura]] (7,5%); [[Tionghoa-Indonesia|Tionghoa]] (7,25%) dan [[Arab-Indonesia|Arab]] (2,04%). Suku Madura di Surabaya sebagian besar merupakan perantau yang berasal dari [[Pulau Madura]] dan wilayah [[Tapal Kuda, Jawa Timur|Tapal Kuda]]. Suku Tionghoa di Surabaya merupakan perantau yang berasal dari [[Tiongkok]] yang datang ke Surabaya pada kurun abad ke-13 hingga ke-20. Permukiman pertama orang-orang Tionghoa di Surabaya berada di sepanjang [[Kali Mas]]. Sedangkan suku Arab di Surabaya umumnya merupakan warga keturunan Arab yang bertempat tinggal atau menetap di Surabaya. Beberapa di antaranya membuat komunitas yang terkonsentrasi di kawasan [[Masjid Ampel]], Surabaya. Suku bangsa lain yang ada di Surabaya meliputi [[India-Indonesia|suku India]]<ref>https://radarsurabaya.jawapos.com/read/2017/09/26/15628/digunakan-untuk-berkumpul-orang-india</ref>; [[Suku Bali|Bali]]; [[Suku Sunda|Sunda]]; [[Suku Batak|Batak]]; [[Suku Bugis|Bugis]]; [[Suku Banjar|Banjar]]<ref>[http://www.tribunnews.com/regional/2013/09/02/ratusan-warga-kalimantan-gelar-silaturahmi-di-surabaya Ratusan Warga Kalimantan Gelar Silaturahmi di Surabaya]</ref>; [[Suku Minahasa|Manado]]; [[Suku Minangkabau|Minangkabau]]<ref>[http://www.gebuminangjatim.org/index.php?option=com_content&view=article&id=194:perantau-minang-jawatimur-ramaikan-rumah-gadang&catid=57:gm-jatim&Itemid=203 Perantau Minang JawaTimur Ramaikan 'Rumah Gadang']</ref>; [[Suku Dayak|Dayak]]; [[Suku Toraja|Toraja]]; [[Suku Ambon|Ambon]]; [[Suku Aceh|Aceh]]; [[Suku Melayu|Melayu]]; [[Suku Betawi|Betawi]]; serta warga asing.
 
Sebagai salah satu kota tujuan pendidikan, Surabaya juga menjadi tempat tinggal pelajar / mahasiswa dari berbagai daerah dari seluruh Indonesia, bahkan di antara mereka juga membentuk wadah komunitas tersendiri. Sebagai salah satu pusat perdagangan regional, banyak warga asing ([[ekspatriat]]) yang tinggal di Surabaya, terutama di daerah Surabaya Barat.
2.865

suntingan