Jakartasentrisme: Perbedaan revisi

1 bita dihapus ,  7 bulan yang lalu
k
clean up, replaced: atau pun → ataupun
k (→‎Ekonomi: - fixed OJK)
k (clean up, replaced: atau pun → ataupun)
[[Berkas:Mall culture jakarta35.jpg|jmpl|290x290px|Televisi merupakan sarana penyebarluasan bahasa dan gaya hidup yang Jakartasentris.]]
=== Budaya ===
Budaya masyarakat Jakarta yang disiarkan melalui media massa mampu menguasai masyarakat Indonesia secara luas dan mendapatkan kedudukan sebagai [[budaya populer]]. Media massa Jakarta yang mengutamakan gambaran-gambaran kehidupan orang Jakarta membuat budaya Jakarta menjadi sebuah [[adibudaya]] (''super-culture'') yang secara perlahan mengesampingkan keberadaan kebudayaan daerah. Sebagai sebuah bentuk [[Hegemoni budaya|hegemoni]], masyarakat Indonesia di berbagai daerah secara sukarela menerima paparan budaya Jakarta. Tayangan sinetron atau program hiburan lain yang Jakartasentris lalu dianggap penting dan menjadi bagian dari perbincangan sehari-hari. Lebih jauh lagi, hal ini kemudian menjadi semacam pedoman gaya hidup, gaya bicara, cara pandang atau punataupun gaya berbusana bagi masyarakat daerah.<ref name=":1" /><ref>{{Cite journal|last=|first=Zakaria L. S|year=2011|title=Budaya Jakarta: Budaya Metropolitan, Budaya Pop, dan Superkultur|url=|journal=AL-AZHAR INDONESIA SERI PRANATA SOSIAL|volume=1|issue=2|pages=103|doi=}}</ref><ref name=":1" />[[Berkas:Dessy murthy on lokasi sinetron mini seri CIUNG WANARA.jpg|jmpl|290x290px|Proses rekaman sinetron. Sinetron dianggap sebagai salah satu tayangan Jakartasentris di televisi.]]Dalam hal kebahasaan, Jakartasentrisme melalui tayangan hiburan di televisi membuat sebagian masyarakat di daerah memilih berbicara dalam ragam bahasa Jakarta karena dianggap lebih keren atau lebih berprestise.<ref>{{Cite web|url=https://kumparan.com/@kumparannews/lu-gue-dan-fenomena-jakarta-sentris-dalam-berbahasa-indonesia-1qpTVPOEIvR|title=Lu, Gue, dan Fenomena Jakarta Sentris dalam Berbahasa Indonesia|website=kumparan|language=id-ID|access-date=2019-08-06}}</ref> Bahasa gaul Jakarta, yang berbeda dengan bahasa Betawi, disebut telah menggerus keberadaan bahasa Indonesia baku dan bahasa-bahasa daerah. Hal ini mengancam keanekaragaman bahasa di Indonesia, terlebih bahasa daerah diberi label buruk, seperti ''kampungan'' atau ''norak'', oleh pengguna bahasa gaul Jakarta.<ref>{{Cite web|url=https://ksm.ui.ac.id/sikap-jakarta-sentris-dalam-berbahasa-indonesia/|title=Sikap Jakartasentris dalam berbahasa Indonesia|last=KSM Eka Prasetya|first=|date=29 November 2019|website=Kelompok Studi Mahasiswa Eka Prasetya Universitas Indonesia|access-date=}}</ref>
 
Kurikulum pendidikan di Indonesia juga disebut Jakartasentris karena tidak mewadahi semangat anak untuk mengenali lingkungan alam dan adat-istiadat. Model pendidikan seperti itu dianggap membuat anak pergi, bukan mengabdi pada lingkungannya.<ref>{{Cite web|url=https://m.dream.co.id/your-story/menggagas-konsep-pendidikan-yang-tepat-untuk-anak-pedalaman-180925l.html|title=Kurikulum Terlalu Jakarta-sentris|website=Dream.co.id|access-date=2019-08-06}}</ref><ref>{{Cite web|url=https://koranbanten.com/pendidikan-indonesia-antara-infrastruktur-dan-suprastruktur|title=Pendidikan Indonesia, Antara Infrastruktur Dan Suprastruktur {{!}}|language=en-US|access-date=2020-02-11}}</ref> Sudut pandang Jakarta dalam mengelola pendidikan di Indonesia juga disebut tidak memberikan sarana bagi keberagaman budaya di daerah. Pada musim-musim tertentu misalnya, kehadiran siswa rendah karena peserta didik harus membantu panen raya. Kebijakan hantam rata pendidikan nasional juga tidak memberikan ruang bagi perbedaan kebutuhan, budaya dan lingkungan hidup di daerah.<ref>{{Cite web|url=http://rise.smeru.or.id/id/blog/panen-nira-dan-multiple-policy-sebuah-refleksi|title=Panen Nira dan Multiple Policy, Sebuah Refleksi {{!}} PROGRAM RISE DI INDONESIA|website=rise.smeru.or.id|access-date=2020-02-11}}</ref> Kelengkapan sarana sekolah di daerah juga tidak selalu mampu mengakomodasi kurikulum nasional yang rumit yang dibuat dengan sudut pandang Jakarta yang menganggap setiap sekolah telah memiliki sarana penunjang yang lengkap.<ref>{{Cite web|url=https://www.portonews.com/2019/pendidikan/pentingnya-pendidikan-karakter/|title=Pentingnya Pendidikan Karakter|date=2019-09-09|website=PORTONEWS|language=id-ID|access-date=2020-02-11}}</ref><ref>{{Cite web|url=https://www.radartasikmalaya.com/kurikulum-sudah-ketinggalan-zaman/|title=Kurikulum Sudah Ketinggalan Zaman|last=Andriansyah|date=2019-11-04|website=Radar Tasikmalaya|language=id-ID|access-date=2020-02-11}}</ref>