Penduduk asli Taiwan: Perbedaan revisi

14 bita ditambahkan ,  6 bulan yang lalu
k
bentuk baku
k (bentuk baku)
 
=== Bentuk asimilasi saat ini ===
Beberapa bentuk asimilasi masih terjadi saat ini. Contohnya, saat otoritas pusan [[bahasa nasional|menasionalisasi]] satu bahasa, dalam rangka meningkatkan pengaruh ekonomi dan sosial terhadap bahasa tersebut. Seperti halnya generasi-generasi pada masa lampau, penggunaan bahasa asli seringkalisering kali menyusut atau menjadi punah, demikian pula identitas budaya dan linguistik. Namun, beberapa kelompok berjuang membangkitkan identitas asli mereka.<ref>{{Harvcol|Hsieh|2006}}</ref> Salah satu aspek politik pentingnya adalah membuat petisi kepada pemerintah untuk memberikan pengakuan resmi kepada pemerintah agar mereka diakui sebagai suku yang berbeda dan terpisah.
 
Kompleksitas dan cangkupan asimilasi dan akulturasi penduduk asli di Taiwan terbagi dalam tiga perubahan utama etnis Taiwan. Yang tertua terjadi saat migrasi Han dari [[Fujian]] dan [[Guangdong]] pada abad ke-17 yang membuat [[Penduduk Asli Dataran Rendah Taiwan|Penduduk Asli Dataran Rendah]] terpinggirkan ke wilayah pegunungan, dimana mereka menjadi suku-suku Dataran Tinggi pada masa sekarang.<ref>{{Harvcol|Shepherd|1993}}</ref> Pandangan paling terkini menyatakan bahwa akibat merebaknya pernikahan silang antara Han dan penduduk asli antara abad ke-17 dan ke-19, para penduduk asli secara menyeluruh di[[Sinikisasi]]kan.<ref>{{Harvcolnb|Lamley|1981|pp=282}}</ref><ref>{{Harvcolnb|Meskill|1979|pp=253–55}}</ref> Pada akhirnya, pembelajaran [[etnografi]] dan [[atropologi]] modern menunjukan susunan peralihan kebudayaan yang secara tumpang tindih dialami oleh Han dan Penduduk Asli Dataran Rendah, yang menghasilkan budaya hibrida. Pada masa sekarang, orang-orang ber[[Han Taiwan|etnis Han di Taiwan]] menerapkan kebudayaan utama yang berbeda dari Han di tempat lain.<ref>{{Harvcolnb|Brown|1996}}</ref><ref>{{Harvcolnb|Brown|2004}}</ref>
Penduduk asli Taiwan adalah [[suku bangsa Austronesia]], dengan hubungan linguistik dan genetik dengan kelompok etnis Austronesia lainnya, seperti bangsa [[Filipina]], [[Malaysia]], [[Indonesia]], [[Madagaskar]] dan [[Oseania]].<ref>{{Harvcolnb|Hill|Soares|Mormina|Macaulay|2007}}</ref><ref>{{Harvcolnb|Bird|Hope|Taylor|2004}}</ref> Peralatan pemecah batu yang berawal dari awal 15,000 tahun yang lalu menunjukan bahwa pemukiman manusia awal dari Taiwan adalah budaya [[Paleolitikum]] pada zaman [[Pleistosen]]. Suku bangsa tersebut bertahan hidup dengan memakan kehidupan laut. Bukti-bukti arkeologi menunjukan perubahan pada zaman [[Neolitikum]] yang terjadi pada sekitar 6,000&nbsp;tahun yang lalu, dengan kemajuan pertanian, hewan hinak, pengolahan batu dan tembikar. [[Alat pemotong baru]] diproduksi massal di [[Penghu]] dan pulau-pulau sekitarnya, yang terbuat dari bebatuan vulkanik yang ditemukan di sana. Bukti sejarah tersebut menunjukkan lalu lintas laut yang padat terjadi di antara Taiwan dan pulau-pulau tersebut pada masa tersebut.<ref>{{Harvcol|Rolett|Jiao|Lin|2002|pp=307–8; 313}}</ref>
 
Sejarah penduduk asli di Taiwan mulai tercatat pada sekitar abad ke-17, dan seringkalisering kali didominasik oleh pandangan dan kebijakan penguasa asing dan non-penduduk asli. Bermula dengan kedatangan para pedagang Belanda pada 1624, wilayah-wilayah tradisional penduduk asli berhasil dijajah oleh penguasa [[Formosa Belanda|Belanda]], [[Formosa Spanyol|Spanyol]], [[Kerajaan Tungning|Ming]], [[Taiwan di bawah kekuasaan Qing|Qing]], [[Taiwan di bawah kekuasaan Jepang|Jepang]], dan [[Taiwan setelah Perang Dunia II|Nasionalis Tiongkok]]. Setiap pusat kebudayaan "pensipilisasian" suksesif tersebut terlibat dalam konflik kekerasan dan interaksi ekonomi damai dengan kelompok suku [[Penduduk Asli Dataran Rendah Taiwan|Dataran Rendah]] dan Dataran Tinggi. Dengan berbagai tingkatan, mereka mempengaruhi atau mengubah budaya dan bahasa penduduk asli.
 
Empat abad masa kekuasaan non-penduduk asli diwarnai beberapa periode peralihan penguasa yang memerintah dan perubahan kebijakan resmi terhadap penduduk asli. Dari abad ke-17 sampai awal abad ke-20, dampak para pemukim asing—Belanda, Spanyol dan Han—menjadi lebih menonjol pada suku-suku Dataran Rendah. Penguasa Han jauh lebih dapat diakses secara geografi, dan lebih disepakati dengan para penguasa asing. Pada permulaaan abad ke-20, suku-suku Dataran Rendah secara garis besar berasimilasi dengan budaya Taiwan kontemporer sebagai akibat dari kekuasaan kolonial Eropa dan Han. Sampai paruh akhir era kolonial Jepang, suku-suku Dataran Tinggi secara keseluruhan masih tidak tersentuh oleh kelompok non-suku manapun. Namun, pertengahan 1930an menandai peralihan dalam dinamika antar-budaya, karena Jepang mulai memainkan peran yang jauh lebih dominan dalam budaya suku-suku Dataran Tinggi. Peristiwa tersebut meningkatkan tingkat kendali atas suku-suku Dataran Tinggi yang berlanjut pada masa pemerintahan Kuomintang. Pada dua era utama tersebut, terdapat beberapa perbedaan dalam dampak individual dan regional dari para penjajah dan "proyek-proyek pensipilisasian" mereka. Pada masa para penguasa asing datang, beberapa suku mengadopsi gaya berbusana dan praktik kebudayaan asing {{Harvcol|Harrison|2003}}, dan mengadakan kerjasama dagang terhadap barang-barang seperti [[kamper]], kulit rusa, gula, teh dan beras.<ref>{{Harvcol|Gold|1986|pp=24–8}}</ref> Sejumlah perubahan lainnya dari dunia luar dilakukan secara paksa.
Selama dua abad pemerintahan Dinasti Qing di Taiwan, populasi Han di pulau tersebut meningkat secara dramatis. Namun, tidak jelas apakah terjadi karena membludaknya pemukim Han, yang umumnya terdiri dari pria muda dari [[Zhangzhou]] dan [[Quanzhou]] di [[Fujian|provinsi Fujian]],<ref>{{Harvcol|Tsao|1999|p=331}}</ref> atau dari berbagai faktor lainnya, yang meliputi: pernikahan silang berkelanjutan antara Han dan pendidik asli, perombakan rumah tangga dan penghapusan aborsi, dan merebaknya adopsi gaya hidup pertanian Han karena menurunnya harga kebutuhan tradisional, yang berujung pada meningkatnya tingkat kelahiran dan pertumbuhan penduduk. Selain itu, akulturasi penduduk asli meningkat seiring meningkatnya pendatang Han.
 
Pemerintah Qing tak hanya secara resmi mengendalikan pemukiman Han, namun juga mengurusi ketegangan antara berbagai wilayah dan kelompok etnis. Selain itu, pemerintahan tersebut seringkalisering kali mengakui klaim suku-suku dataran rendah untuk teritorial tradisional dan lahan rusa.<ref>{{Harvcolnb|Knapp|1980|pp=55–68}}</ref><ref>{{Harvcolnb|Shepherd|1993|pp=14–20}}</ref> Otoritas Qing berharap daoat memasukkan suku-suku dataran rendah dalam subyek-subyek loyal, dan mengadopsi pajak kepala dan [[corvée]] terhadap penduduk asli, yang membuat penduduk asli dataran rendah secara langsung bertuga untuk pembayaran kepada pemerintah [[yamen]]. Perhatian yang dibayarkan oleh otoritas Qing kepada hak tanah penduduk asli merupakan bagian dari tujuan administratif yang lebih besar untuk meningkatkan perdamaian pada ketegangan Taiwan, yang seringkalisering kali menimbulkan konflik etnis dan regional.<ref name="conflict">"From 1684 to 1895, 159 major incidents of civil disturbances rocked Taiwan, including 74 armed clashes and 65 uprisings led by wanderers. During the 120 years from 1768 to 1887, approximately 57 armed clashes occurred, 47 of which broke out from 1768 to 1860" {{Harvcol|Chen|1999|p=136}}.</ref> Pemberontakan, kerusuhan dan penyerangan sipil berkelanjutan di Taiwan pada masa Dinasti Qing seringkalisering kali dituangkan dalam kalimat "setiap tiga tahun kebangkitan; setiap lima tahun pemberontakan".<ref>{{Harvcol|Kerr|1965|p=4}}</ref> Keikutsertaan penduduk asli dalam sejumlah pemberontakan besar pada era Qing, termasuk [[pemberontakan Ta-Chia-hsi]] yang dipimpin Taokas pada 1731–1732, menandakan suku-suku dataran rendah masih menjadi faktor berpengaruh dalam pembuatan kebijakan pemerintah Qing sampai akhir kekuasaan Qing pada 1895.<ref>{{Harvcol|Shepherd|1993|pp=128–29}}</ref>
 
Perjuangan atas sumber daya lahan adalah salah satu sumber konflik. Wilayah dataran rendah barat merupakan subyek perebutan lahan besar yang disebut ''Huan Da Zu'' (番大租—artinya, "Perebutan Besar Barbar"), sebuah kejadian yang masih ada sampai zaman penjajahan Jepang. Sebagian besar besar lahan rusa, yang dinaungi oleh Qing, dimiliki oleh suku-suku dan para anggota individual mereka. Suku-suku umumnya menawarkan para petani Han sebuah hak milik permanen untuk digunakan, meskipun mengutamakan kepemilikan anak tanah (田骨), yang disebut "dua juragan dari sebuah lahan" (一田兩主). Suku-suku dataran rendah seringkalisering kali mencurangi hak atas tanah dan menjualnya dengan harga yang tidak sepadan. Beberapa subgrup yang tak senang berpindah ke tengah atau timur Taiwan, namun sebagian besar masih berada di lokasi lama mereka dan berakulturasi atau berasimiliasi dalam masyarakat Han.<ref>{{Harvcol|Chen|1997}}</ref>
 
Penduduk asli seringkalisering kali menyerang para kru kapal tenggelam dari kapal-kapal barat. Pada 1867, seluruh kru Amerika ''Rover'' dibantai oleh para penduduk asli dalam [[insiden Rover]].<ref>{{cite book|title=Japan Weekly Mail|url=https://books.google.com/books?id=wWQvAQAAMAAJ&pg=PA263#v=onepage&q&f=false|year=1874|publisher=Jappan Meru Shinbunsha|pages=263–}}</ref> Saat pasukan Amerika meluncurkan [[Ekspedisi Formosa]] untuk pemulihan, para penduduk asli mengalahkan pasukan Amerika dan memaksa mereka pergi, dengan membunuh seorang marinir Amerika meskipun tidak ada korban dari pihak mereka sendiri.<ref>{{cite book|title=The Nation|url=https://books.google.com/books?id=OQwcAQAAMAAJ&pg=PA256#v=onepage&q&f=false|year=1889|publisher=J.H. Richards|pages=256–}}</ref><ref>http://www.greendragonsociety.com/Military_History/Taiwan_Formosa_page.htm http://michaelturton.blogspot.com/2010/12/rover-incident-of-1867.html http://michaelturton.blogspot.com/2010_12_01_archive.html {{cite news |last= |first= |date=Friday, Aug. 23. 1867 |title=Search Results THE PIRATES OF FORMOSA. - Official Reports of the Engagement of The United States Naval Forces with the Savages of the Isle. |url=http://query.nytimes.com/mem/archive-free/pdf?res=9501EFD8153BE63BBC4C51DFBE66838C679FDE |newspaper=The New York Times |location=WASHINGTON, Friday, Aug. 23. |access-date= }}{{cite news |last= |first= |date=August 24, 1867 |title=THE PIRATES OF FORMOSA.; Official Reports of the Engagement of the United States Naval Forces with the Savages of the Isle. |url=http://query.nytimes.com/gst/abstract.html?res=FA0B1EF93E5F137B93C6AB1783D85F438684F9 |newspaper=The New York Times |location= |access-date= }}{{cite news |last= |first= |date=August 14, 1867 |title=EUROPEAN INTELLIGENCE.; Garibaldi at Sienna Preparing to March Upon Rome Rumored Resignation of Omar Pasha as Turkish Commander in Crete Adjustment of the Difficulties Between Prussia and Denmark Bombardment of the Island of Formosa by American Ships of War CHINA Conflict Between United States Ships-of-War and the Pirates of the Island of Formosa Mexican Dollars Coined During the Reigh of Maximilian Uncurrent ITALY Garibaldi at Sienna Preparing for the Attack on Rome PRUSSIA Prebable Settlement of the Difficulties Between Prussia and Denmark CANDIA Rumored Resignation of Omar Pasha as Commander of the Turkish Forces Who Case of the Ship Anna Kimball Satisfactorily Settied IRELAND Sentence of the Fenian Capt. Moriarty Marine Disaster Attitude of the French and Italian Governments Toward the Garibaldians The Mission of Gen. Dumont from a French Point of View The Interference of France in the Affairs of Schleswig JAVA The Terrible Earthquake in the Island The Approaching Visit of Francis Joseph of Austria--Movements of the Emperor Napo |url=http://query.nytimes.com/gst/abstract.html?res=F60F1EFB3C551A7493C6A81783D85F438684F9 |newspaper=The New York Times |location= LONDON, Tuesday, Aug. 13–Evening |access-date= }}{{cite news |last= |first= |date=August 24, 1867 |title=NEWS OF THE DAY.; EUROPE. GENERAL. LOCAL. |url=http://query.nytimes.com/gst/abstract.html?res=F0081EF93E5F137B93C6AB1783D85F438684F9 |newspaper=The New York Times |location= |access-date= }}{{cite news |last= |first= |date=August 15, 1867 |title=The American Fleet in Chinese Waters--Avenging National Insults. |url=http://query.nytimes.com/gst/abstract.html?res=F40913FC3558147B93C7A81783D85F438684F9 |newspaper=The New York Times |location= |access-date= }}</ref>
Dalam [[Insiden Mudan (1871)]], penduduk asli menyerang 54 pelaut Ryūkyū yang berujuk pada [[invasi Jepang ke Taiwan (1874)]] melawan penduduk asli.<ref>{{cite book|title=Japan Gazette|url=https://books.google.com/books?id=eWQvAQAAMAAJ&pg=PA73#v=onepage&q&f=false|year=1873|pages=73–}}{{cite news |last= |first= |date=August 18, 1874 |title=WASHINGTON.; OFFICIAL DISPATCHES ON THE FORMOSA DIFFICULTY. PARTIAL OCCUPATION OF THE ISLAND BY JAPANESE THE ATTITUDE OF CHINA UNCERTAIN CHARACTER OF THE FORMOSAN BARBARIANS. THE RAILROAD AND THE MAILS. THE VACANT INSPECTOR GENERALSHIP OF STEAMBOATS. THE TREATY OF WASHINGTON. THE CURRENCY BANKS AUTHORIZED CIRCULATION WITHDRAWN. POSTMASTERS APPOINTED. APPOINTMENT OF AN INDIAN COMMISSIONER. THE WRECK OF THE SCOTLAND, NEW-YORK HARBOR. NAVAL ORDERS. TOLL ON VESSELS ENGAGED IN FOREIGN COMMERCE. THE TREASURY SECRET SERVICE. TREASURY BALANCES.|url=http://query.nytimes.com/gst/abstract.html?res=F20C1FF73A5D1A7493CAA81783D85F408784F9 |newspaper=The New York Times |location=WASHINGTON, Aug. 17. |access-date= }}</ref><ref name="Tsai2014">{{cite book|author=Shih-Shan Henry Tsai|title=Maritime Taiwan: Historical Encounters with the East and the West|url=https://books.google.com/books?id=vUbfBQAAQBAJ&pg=PA129&dq=Kabayama+Sukenori+aboriginals&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwjftej_ktzOAhXJmh4KHQrfB7IQ6AEIQTAF#v=onepage&q=Kabayama%20Sukenori%20aboriginals&f=false|date=18 December 2014|publisher=Routledge|isbn=978-1-317-46517-1|pages=129–}}</ref><ref name="Chow2008">{{cite book|author=P. Chow|title=The "One China" Dilemma|url=https://books.google.com/books?id=ctLGAAAAQBAJ&pg=PA29&dq=Kabayama+Sukenori+aboriginals&hl=en&sa=X&ved=0ahUKEwjftej_ktzOAhXJmh4KHQrfB7IQ6AEIWDAJ#v=onepage&q=Kabayama%20Sukenori%20aboriginals&f=false|date=28 April 2008|publisher=Springer|isbn=978-0-230-61193-1|pages=29–}}</ref>
Sedikit yang diketahui mengenai keadaan para suku pribumi Taiwan dari dataran tinggi sebelum mereka dikunjungi oleh para penjelajah dan misionaris dari Eropa dan Amerika pada [[abad ke-19]] dan awal [[abad ke-20]].<ref>{{Harvcolnb|Campbell|1915}}</ref><ref>{{Harvcolnb|Mackay|1896|}}</ref> Kekurangan data ini terutama diakibatkan oleh karantina Qing atas daerah di sebelah timur garis yang tidak boleh didatangi.
 
Kontak antara kaum Han dan para suku yang tinggal di pegunungan biasanya ialah karena mereka mencari [[kapur Barus]], sebuah zat kimia yang diambil dari pohon kapur Barus yang dipakai sebagai bahan obat-obatan. Pertemuan antara mereka biasanya berakhir dengan dipenggalnya kepala sang Han. Para anggota suku tanah datar seringkalisering kali dipakai sebagai penterjemah untuk berdagang antara para pedagang Han dan para anggota suku-suku tanah tinggi. Para suku pribumi ini berdagang kain, kulit, dan daging. Bahan-bahan ini dibarter besi dan senapan. Besi sebagai bahan dasar dipakai untuk membuat parang-parang untuk berburu dan mengayau para musuh.
 
[[Berkas:Atayal.jpg|ka|jmpl|300px|Seorang gadis suku [[Atayal]] dengan tato di wajahnya sebagai lambang kedewasaan, yang dilakukan oleh pria dan wanita. Adat itu dilarang semasa pemerintahan Jepang.]]
 
=== Pengayauan ===
Para anggota suku-suku tanah tinggi terkenal akan kemampuan dalam [[pengayauan]], yang seringkalisering kali dipandang sebagai liar dan tak beradab. Mereka yang menolak fenomena ini mengatakannya tanpa melihat fungsinya dalam konteks sosialnya di dalam beberapa masyarakat di Taiwan.
 
Di Taiwan, pengayauan dianggap merupakan simbol keberanian dan kejantanan. Hampir semua suku pribumi, kecuali Yami (Tao) melakukannya. Seringkali kepala-kepala yang telah dipenggal diundang sebagai anggota suku untuk menjaga dan melindungi mereka. Para penghuni dan penduduk Taiwan menerima peraturan pengayauan sebagai risiko kehidupan persukuan yang telah diperhitungkan. Kepala-kepala yang telah dipenggal direbus dan dikeringkan, seringkalisering kali bergantungan dari pohon atau rak-rak kepala. Sebuah kelompok yang pulang membawa sebuah kepala diterima dengan meriah karena hal ini dianggap akan membawa keberuntungan.
 
Suku Bunun seringkalisering kali akan mengambil tawanan dan menuliskan doa-doa atau pesan pada para sahabat dan sanak saudara yang telah meninggal dunia pada panah-panah mereka. Lalu panah-panah mereka tembakkan pada tawanan mereka dengan harapan doa mereka akan dibawakan kepada kenalan mereka di dunia baka. Para pendatang Han seringkalisering kali merupakan korban serangan pengayauan karena mereka diangkap pembohong dan musuh oleh para suku pribumi. Sebuah serangan pengayauan biasanya terjadi di ladang atau dengan membakar sebuah rumah dan memenggal semua penghuninya ketika mereka melarikan diri. Selain itu juga dianggap kebiasaan untuk memelihara anak-anak korban pengayauan mereka sebagai anggota penuh suku mereka. Suku-suku terakhir yang melakukan pengayauan adalah Paiwan, Bunun, dan Atayal. Pemerintahan Jepang mengakhiri praktik ini pada tahun 1930, namun beberapa orang Taiwan yang sudah lanjut usia masih bisa mengingat kebiasan pengayauan tersebut.
 
Kehidupan di antara suku-suku pribumi setelah datangnya pemerintahan Jepang menjadi berubah secara drastis, karena banyak struktur-struktur tradisional mereka diganti dengan kekuasaan militer. Suku-suku pribumi yang ingin memperbaiki status sosial mereka menggunakan pendidikan sebagai sarana yang baru dan bukan pengayauan. Para anggota suku-suku pribumi yang telah belajar bekerja sama dengan orang-orang Jepang lebih pantas untuk menjadi kepala desa. Mendekati akhir [[Perang Dunia II]], kaum pribumi yang mana ayah-ayah mereka tewas dalam kampanye pasifikasi merelakan diri untuk mati bagi sang Kaisar Jepang. Banyak kaum pribumi yang telah tua merasakan rasa identifikasi yang kuat terhadap orang Jepang dan lebih banyak atau lebih suka menggunakan bahasa Jepang daripada bahasa Mandarin.
Ketika pemerintahan Nasionalis China mendarat di Taiwan, mereka ketakutan bahwa daerah-daerah pegunungan yang dilanda kemiskinan akan menjadi basis komunisme. Partai KMT mengasosiasikan kaum pribumi Taiwan dengan pemerintahan Jepang dan mereka dianggap sebagai 'shan bao' atau penduduk gunung. Pada tahun 1946, sekolah-sekolah desa yang didirikan Jepang diubah menjadi pusat-pusat ideology KMT. Dokumen-dokumen Dinas Pendidikan menunjukkan bahwa kurikulum kala tersebut sarat dengan proganda dengan penekanan pada bahasa Mandarin, sejarah, dan kewarganegaraan. Sebuah laporan pemerintahan mengenai daerah-daerah pegunungan dari tahun 1953 menunjukkan bahwa tujuan mereka terutama mulai dari tahun ini ialah mempromosikan bahasa Mandarin demi memperkuat posisi nasional dan menciptakan tatakrama yang baik. Hal ini dimasukkan pada kebijakan 'Shandi Ping di hua' supaya membuat "daerah pegunungan menjadi lebih mirip dengan tanah datar". Kekurangannya para guru pada tahun-tahun pertama pemerintahan KMT menciptakan jurang-jurang yang dalam pada pendidikan kaum pribumi karena hanya sedikit guru-guru Tionghoa yang tinggal di Taiwan dan lebih sedikit lagi yang ingin mengajar di daerah pegunungan. Banyak pekerjaan berat mengajari kaum pribumi dilakukan oleh guru-guru yang kurang cakap namun bisa berbahasa Mandarin dan mampu mengajarkan ideologi dasar.
 
Pada tahun 1951 sebuah kampanye besar diluncurkan untuk mengubah adat-istiadat kaum pribumi supaya lebih mirip sukubangsa Han. Pada waktu yang sama, anggota suku-suku pribumi yang pernah bergabung dengan Tentara Dai Nippon ditugaskan untuk berperang pada peperangan yang sangat berdarah dalam mempertahankan pulau Kinmen dan Matsu, kedua pulau ini berada di bawah kekuasaan [[Republik Tiongkok]] namun posisinya paling dekat dengan daratan. Kemudian para prajurit KMT yang mengungsi dari Daratan Tiongkok seringkalisering kali menikahi wanita-wanita pribumi karena mereka berasal dari daerah-daerah miskin dan bisa lebih mudah dibeli sebagai istri. Kebijakan resmi pada identitas kaum pribumi ada pada rasio 1.1, di mana setiap pernikahan antarsuku menghasilkan seorang anak Tionghoa. Kemudian kebijakan ini diubah di mana status kesukuan sang bapak menentukan status si anak.
 
Medan penelitian budaya pribumi Taiwan hampir saja dihilangkan dari kurikulum pendidikan Taiwan dengan memberikan perhatian lebih khusus pada hal-hal yang lebih bernapaskan Tionghoa demi menolong memperkokoh kedudukan KMT di Taiwan. Hasilnya ialah punahnya beberapa bahasa Austronesia di Taiwan dan pengekalan rasa malu bagi mereka yang merupakan keturunan penduduk pribumi Taiwan. Hanya sedikit orang Taiwan saja yang bersedia mengemukakan bahwa mereka memiliki darah pribumi Taiwan meskipun studi-studi modern menunjukkan bahwa di Taiwan terjadi perkawinan campur dan pembauran secara luas. Pada sebuah studi tahun 1994, menunjukkan bahwa 71% dari semua keluarga Taiwan menolak gagasan jika putri mereka menikahi seorang pria pribumi Taiwan.
[[Berkas:taiwan bunun dancer.jpg|kiri|jmpl|250px|Seorang penari Bunun sebelum pertunjukan di Lona, Taiwan.]]
 
Kaum pribumi Taiwan jumlah secara relatif menurut pemerintah Taiwan hanyalah 2% dari jumlah penduduk secara keseluruhan. Di sisi lain 34% dari seluruh penduduk pribumi Taiwan telah berhijrah ke kota. Pertumbuhan ekonomi di Taiwan yang pesat pada dasawarsa-dasawarsa terakhir abad ke-20 menghasilkan fenomena urbanisasi. Pekerjaan pada proyek-proyek bangunan biasanya terbuka bagi kaum-kaum pribumi yang tidak bisa mendapatkan pendidikan yang cukup pada tempat-tempat reservasi mereka dan dengan begitu tidak memiliki kepandaian apa-apa. Mereka dengan cepat membentuk kelompok-kelompok dengan suku-suku lain karena mereka memiliki motif-motif politik yang sama untuk melindungi kepentingan mereka bersama sebagai tenaga kerja. Orang-orang pribumi ini menjadi pekerja besi yang terampil dan tim-tim pembangun di pulau ini dan seringkalisering kali dipilih untuk mengerjakan proyek-proyek yang sulit. Hasilnya ialah eksodus besar-besaran kaum pribumi dari desa-desa tempat mereka tinggal dan alienasi para pemuda pribumi yang tidak bisa mempelajari budaya mereka jika bekerja. Seringkali, para pemuda pribumi di daerah perkotaan terjerumus menjadi anggota gang proyek bangunan. Kebudayaan-kebudayaan pribumi di Taiwan menghadapi krisis besar.
 
Kemudian undang-undang baru yang mengizinkan masuknya tenaga kerja asing dari Indonesia, Vietnam dan Filipina mengikis kesempatan kerja kaum pribumi lebih jauh lagi. Sementara itu kelompok-kelompok pribumi lainnya berpaling kepada sektor pariwisata supaya bisa bersaing pada ekonomi lokal. Berkat keterdekatan kaum-kaum pribumi dengan pegunungan, banyak anggota kelompok ini lalu berharap bisa mendapatkan keuntungan pada usaha-usaha pemandian air panas dan hotel-hotel di mana mereka bisa menyanyi dan menari untuk memberikan dan menambahkan nuansa. Namun para kritikus sering menyebut usaha-usaha seperti ini kurang menghormati mereka atau hanya menggaris bawahi [[stereotipe]] kaum pribumi.