Surat Batak: Perbedaan revisi

470 bita ditambahkan ,  1 bulan yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
k (Bot: Perubahan kosmetika)
Tag: Suntingan visualeditor-wikitext
|sample_desc= Huruf-huruf dalam Surat Batak. Variasi dalam aksara Karo, Toba, Dairi, Simalungun, dan Mandailing dicampur.
}}
'''SuratAksara Batak,''' (atau yang lebih dikenal dengan nama ''surat Batak'' ([[Batak Toba|Toba]]''':{{batk|ᯘᯮᯮᯒᯖ᯲ ᯅᯖᯂ᯲ᯘᯮᯒᯖ᯲ᯅᯖᯂ᯲}}, ''' [[Suku Karo|Karo]]''': {{batk|ᯘᯬᯒᯗ᯳ ᯆᯗᯂ᯳ᯘᯬᯒᯗ᯳ᯆᯗᯂ᯳}}, '''[[Batak Simalungun|Simalungun]]''': {{batk|ᯙᯮᯮᯓᯖ᯳ ᯅᯖᯃ᯳ᯙᯯᯓᯖ᯳ᯅᯖᯃ᯳}}, '''[[Batak Pakpak|Pakpak]]''': {{batk|ᯘᯮᯒᯗ᯲ ᯅᯗᯂ᯲ᯘᯮᯒᯗ᯲ᯅᯗᯂ᯲}}, '''[[Batak Angkola|Angkola]]-[[Suku Mandailing|Mandailing]]: {{batk|ᯚᯮᯒᯖ᯲ᯅᯖᯄ᯦᯲}}), ''surat na sampulu sia'': ({{batk|ᯚᯮᯒᯖ᯲ ᯅᯖᯄᯱ᯲ᯘᯮᯒᯀᯖ᯲ᯉᯘᯔ᯲ᯇᯮᯞᯮᯘᯪᯀ}}) adalah nama [[huruf|aksara]] yang digunakan untuk menuliskanmenulis bahasa-bahasa Batak yang terbagi dalam lima dialek besar, yaitu bahasadialek Angkola-Mandailing, Karo, Pakpak-Dairi, Simalungun, dan Toba. SuratAksara Batakini masih berkerabat dengan aksara-aksara turunan NusantaraKawi lainnya seperti [[Surat Ulu]] di [[Bengkulu]] dan [[Sumatera Selatan|Sumatra Selatan]], [[Aksara Rencong|Surat Incung]] di Kerinci,[[Aksara danLampung|, [[Had Lampung]] . Aksara ini memiliki beberapa varian bentuk, tergantung bahasa dan wilayah. Secara garis besar, ada lima varian Surat Batakaksara-aksara di Sumatra,Filipina.<ref>{{cite yaitu Angkolaweb|url=http://ulikozok.com/aksara-Mandailing, Karo, Pakpakbatak/sejarah-Dairi, Simalungun, dan Toba.aksara-batak/|title=Sejarah Aksara ini wajib diketahui oleh para ''datu'', yaitu orang yang dihormati oleh [[suku Batak|masyarakatauthor=Uli Batak]]Kozok|accessdate=17 karenaMay menguasai ilmu sihir, ramal, dan penanggalan. Kini, aksara ini masih dapat ditemui dalam berbagai ''[[pustaha]]'', yaitu kitab tradisional masyarakat Batak.2014}}</ref>
 
Para pendeta atau ''datu'' Batak menggunakan aksara Batak terutama untuk penulisan ilmu sihir, ramal, dan penanggalan. Tidak diketahui berapa banyak rakyat bukan ''datu'' yang melek aksara Batak, tetapi jika dilihat dari tradisi saling mengirim surat cinta, terutama di kalangan orang Batak Karo, Simalungun, dan Angkola-Mandailing, ada kemungkinan sebagian besar dari mereka mampu membaca dan menulis aksara Batak. Setelah kedatangan orang Eropa di tanah Batak, Pemerintah Hindia Belanda selain mengajarkan huruf latin juga mengajarkan surat Batak di sekolah-sekolah. Di sekolah-sekolah tersebut, materi pengajaran dan agama Kristen dicetak dalam aksara Batak.<ref>Kozok 2009:168.</ref>
 
Segera setelah [[Perang Dunia I]] berakhir, para misionaris memutuskan untuk menghentikan pencetakan buku dalam aksara Batak. Aksara ini kini hanya digunakan untuk tujuan pendidikan dan penulisan [[pustaha|''pustaha'']], yaitu kitab tradisional masyarakat Batak.
 
== Ciri khas ==
 
Surat Batak adalah sebuah jenis aksara yang disebut ''[[abugida]]'', jadi merupakan sebuah perpaduan antara [[alfabet]] dan aksara suku kata. Setiap karakter telah mengandung [[konsonan]] sekaligus [[vokal]] dasar. Vokal dasar ini adalah bunyi {{IPA|[a]}}. Namun dengan [[Diakritik|tanda diakritisdiakriti]]<nowiki/>k atau apa yang disebut ''anak ni surat'' dalam bahasa Batak, maka vokal ini bisa diubah-ubah.
 
Huruf [[Vokal (linguistik)|vokal]] dan [[konsonan]] dalam aksara Batak diurutdiurutkan menurut tradisi mereka sendiri, yaitu: a, ha, ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, ya, nga, la, nya, ca, nda, mba, i, u. Aksara Batak biasanya ditulis pada bambu/kayu.<ref name="omniglot">{{cite web|url = http://www.omniglot.com/writing/batak.htm| title = ''Batak alphabet''| last = Ager| first = Simon |publisher = Omniglot.com}}</ref> Penulisan dimulai dari atas ke bawah, dan baris dilanjutkan dari kiri ke kanan. (Sumber: Kozok, Uli. 2009. Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII. Jakarta: École française d'Extrême-Orient, Kepustakaan Populer Gramedia.)
 
== Jenis aksara dan penyebaran ==
 
Setiap bahasa Batak memiliki varian Surat Batak sendiri-sendiri. Namun varian-varian ini tidaklah terlalu berbeda satu sama lain. Dengan membandingkan kelima aksara Batak dan mengadakan analisis nama-nama huruf diakritik maka Prof. Dr. Uli Kozok dari [[Universitas Hawaii|University of Hawai'i at Manoa]], dapat membuktikan bahwa aksara Batak mula-mula ada di Mandailing. Dari Mandailing, aksara Batak menyebar ke kawasan Toba Timur (perbatasan dengan Simalungun), lalu ke Simalungun dan ke Toba Timur. Dari Toba Timur aksara Batak menyebar lagi ke Pakpak Dairi, sedangkan dari Toba Barat ke Simalungun, sedangkan aksara Karo menunjukkan pengaruh baik dari Pakpak-Dairi maupun dari Simalungun. (Sumber: Kozok, Uli. 2009. Surat Batak: Sejarah Perkembangan Tulisan Batak, Berikut Pedoman Menulis Aksara Batak dan Cap Si Singamangaraja XII. Jakarta: École française d'Extrême-Orient, Kepustakaan Populer Gramedia.)
 
== Penggunaan ==
Surat Batak zaman dahulu kala digunakan untuk menulis naskah-naskah Batak yang di antaranya termasuk buku dari kulit kayu yang dilipat seperti akordeon. Dalam bahasa Batak buku tersebut dinamakan ''[[pustaha]]'' atau pustaka. ''Pustaha-pustaha'' ini yang ditulis oleh seorang "guru" atau ''datu'' ([[dukun]]) berisikan penanggalan dan ilmu nujum.
 
Penulisan huruf surat Batak secara garis besar terbagi dalam dua kategori, yaitu ''ina ni surat'' dan ''anak ni surat''.
 
=== ''Ina ni surat'' ===
 
''Ina ni surat'' (Karo : ''Indung Surat'') merupakan huruf-huruf pembentuk dasar huruf aksara Batak. Selama ini, ina ni surat yang dikenal terdiri dari: a, ha, ka, ba, pa, na, wa, ga, ja, da, ra, ma, ta, sa, ya, nga, la, ya, nya, ca, nda, mba, i, u. Nda dan Mba adalah konsonan rangkap yang hanya ditemukan dalam variasi Batak Karo, sedangkan Nya hanya digunakan di Mandailing akan tetapi dimasukkan juga dalam alfabatalfabet Toba walaupun tidak digunakan. Aksara Ca mandiri hanya terdapat di Karo sedangkan di Angkola-Mandailing huruf Ca ditulis dengan menggunakan huruf Sa dengan sebuah tanda diakritik yang bernama tompi di atasnya.
 
 
{| class="wikitable" style="width:100%; margin:auto; clear:both; margin:0; font-size:90%;"
|-
| [u]
|-style="text-align:center;"
| style="width:10%; text-align:center;"|'''TranliterasiAlih aksara'''
| a
| ha
| u
|- style="length:20%;"
| rowspan="2" style="width:10%; text-align:center;" |'''Karo'''
| align="center" |[[Berkas:Batak A-1, Ha.svg|30px|link=|alt=A]]
| align="center"|[[Berkas:Batak A-1, Ha.svg|30px|link=|alt=Ha]]
| align="center" |[[Berkas:Batak Ba-2.svg|30px|link=|alt=Ba]]
| align="center" |[[Berkas:Batak Pa-1.svg|30px|link=|alt=Pa]]
| alignrowspan="center6" rowspanalign="5center" |[[Berkas:Batak Na.svg|30px|link=|alt=Na]]{{ref|1|1}}
| align="center" |[[Berkas:Batak Wa-1.svg|30px|link=|alt=Wa]]
| align="center"|[[Berkas:Batak Ga-1.svg|30px|link=|alt=Ga]]
| alignrowspan="center6" rowspanalign="5center" |[[Berkas:Batak Ja.svg|30px|link=|alt=Ja]]
| alignrowspan="center6" rowspanalign="5center" |[[Berkas:Batak Da.svg|30px|link=|alt=Da]]
| align="center"|[[Berkas:Batak Ra-1.svg|30px|link=|alt=Ra]]
| align="center"|[[Berkas:Batak Ma-1.svg|30px|link=|alt=Ma]]
| align="center"|[[Berkas:Batak Sa-1, Ca-1.svg|30px|link=|alt=Sa]]
| align="center" |[[Berkas:Batak Ya-1.svg|30px|link=|alt=Ya]]
| alignrowspan="center6" rowspanalign="5center" |[[Berkas:Batak Nga.svg|30px|link=|alt=Nga]]
| align="center" |[[Berkas:Batak La-1.svg|30px|link=|alt=La]]
|
|[[Berkas:Karo nda.svg|al=Karo Nda|20x20px]]
|[[Berkas:Batak Ba-1.svg|30px|link=|alt=Ba]]
| alignrowspan="center6" rowspanalign="5center" |[[Berkas:Batak I.svg|30px|link=|alt=I]]
| alignrowspan="center6" rowspanalign="5center" |[[Berkas:Batak U.svg|30px|link=|alt=I]]
|-
|{{batk|ᯀ}}
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|- style="length:10%;"
| style="width:10%; text-align:center;"|'''Mandailing'''