Saron: Perbedaan revisi

497 bita dihapus ,  1 tahun yang lalu
Dikembalikan ke revisi 14060771 oleh JohnThorne (bicara)
k (Bot: Perubahan kosmetika)
(Dikembalikan ke revisi 14060771 oleh JohnThorne (bicara))
Tag: Pembatalan
[[Berkas:Traditional indonesian instruments.jpg|jmpl|225px|Saron barung (tampak depan, dengan tabuh kayu) dan saron panerus (di belakang, dengan tabuh tanduk)]]
 
'''Saron''' atau yang biasanya disebut juga ricik ,adalah salah satu instrumen gamelan yang termasuk keluarga balungan.
 
Dalam satu set gamelan gaya Surakarta biasanya mempunyai 2 pasang saron, laras pelog dan slendro. Saron menghasilkan nada satu oktaf lebih tinggi daripada demung atau saron panembung, dengan ukuran fisik yang lebih kecil. Tabuh saron biasanya terbuat dari kayu, dengan bentuk seperti palu.
 
Dalam memainkan saron, tangan kanan memukul wilahan / lembaran logam dengan tabuh, lalu tangan kiri memencet wilahan yang dipukul sebelumnya untuk menghilangkan dengungan yang tersisa dari pemukulan nada sebelumnya. Teknik ini disebut memathet (kata dasar: ''pathet'' = pencet)
 
Mengapa harus memathet/mekak wilahan? Bisa dibayangkan bahwa jika wilahan ditabuh tanpa dipekak, maka bunyinya akan berdengung-dengung. Maka bunyi nada 1 dengan lainnya akan bercampur, sehingga bunyinya tidak jelas. Untuk itu, teknik ini adalah teknik dasar yang harus dikuasai oleh penabuh saron khususnya, balungan umumnya.
 
== Galeri ==
<gallery>
<gallery widths="800" heights="300" showfilename="yes" caption="Saron Gaya Surakarta: [https://www.enjang.com/wp-content/uploads/2019/04/Saron-gaya-Surakarta.jpg]">
Berkas:Btsaron.jpg|Saron Gaya Yogyakarta
Berkas:Bttabuhsaron.jpg|Tabuh Saron
</gallery>