Kiai Madja: Perbedaan revisi

569 bita ditambahkan ,  10 bulan yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
 
===Dakwah Islam===
Dasar pengetahuan agama Kiai Madja berasal dari ayahnya yang seorang ulama besar. Setelah menunaikan ibadah [[haji]], Kiai Madja sempat bermukim di [[Mekkah]]. Pulang dari tanah suci, ia melanjutkan peran sang ayah mengelola pesantren di desanya dan berhasil menghimpun cukup banyak pengikut. Bersama para santrinya, Kiai Madja menggalang gerakan anti-pemurtadan yang marak di kalangan bangsawan kraton. Kiai Madja juga punya cita-cita suatu hari nanti tanah [[Jawa]] akan dikelola dengan pemerintahan berdasarkan [[syariat Islam]]. Dan itulah yang dijanjikan oleh Pangeran Diponegoro sehingga Kiai Mojo beserta para pengikutnya bersedia bergabung untuk menghadapi Belanda dalam [[Perang Diponegoro|Perang Jawa]].<ref name=a />
 
== Perang Jawa ==
=== Bergabung dengan Diponegoro ===
PeranKyai KiaiMojo bergabung sejak hari pertama pasukan Diponegoro tiba di [[Gua Selarong]] (terletak di Pajangan, [[Bantul]], Yogyakarta) untuk menjalankan siasat perang gerilya melawan Belanda. Ia juga menjadi wakil Diponegoro dalam perundingan penting dengan Belanda pada 29 Agustus 1827 di [[Klaten]]. Dalam upaya diplomasinya, Kyai Madja sangatdengan besartegas mengajukan sejumlah tuntutan. Ia juga berhasil mengubah paradigma perlawanan terhadap penjajah Belanda dari label "pemberontak" menjadi "perang sabil" atau [[Perang agama|Perang Suci]] melawan orang-orang kafir yang menjadi musuh Islam. Sejak bergabung dengan Diponegoro, Kiai Madja berhasil merekrut banyak tokoh berpengaruh, termasuk 88 orang kiai desa, 11 orang syekh, 18 orang pejabat urusan agama (penghulu, khatib, juru kunci, dan lain-lain), 15 orang guru mengaji, juga puluhan orang ulama dari [[Bagelen, Purworejo|Bagelen]], [[Keresidenan Kedu|Kedu]], Mataram, [[Pajang, Laweyan, Surakarta|Pajang]], [[Madiun]], [[Ponorogo]], dan seterusnya, serta beberapa orang santri perempuan.<ref name=a />
 
=== Perpecahan dengan Diponegoro ===
Setelah berjuang bersama selama sekitar tiga tahun, Kiai Madja menilaimulai adatidak gelagatsepaham kurang baik dari sepupunya itu.ketika Pangeran Diponegoro mulai menggunakan cara-cara yang dianggapnya menyimpang dari Islam untuk menarik simpati rakyat demi menambah kekuatannya. Diponegoro memakai sentimen budaya Jawa melalui konsep [[Ratu Adil]] atau [[juru selamat]] dalam kampanye merekrut pasukan. Salah satu gejalanya adalah ketika Diponegoro mengaku memperoleh tugas suci dari [[Tuhan]] yang didapatnya saat [[samadhi|bersemedi]]. Diponegoro juga mengklaim telah diangkat sebagai Ratu Adil dengan gelar “Jeng''Jeng Sultan Abdulhamid Herucakra Sayidin Panatagama Khalifah Rasullullah”Rasullullah'' di tanah Jawa. Pangeran Diponegoro, secara tersirat, menyamakan pengalaman spiritual yang diklaimnya dengan pengalaman Nabi [[Muhammad]] ketika diangkat menjadi Rasul. Diponegoro juga mengeksplorasi peristiwa-peristiwa khusus Rasullah terkait statusnya itu, seperti menyendiri di gua atau menerima wahyu dari Malaikatmalaikat [[Gabriel|Jibril]]. Efeknya cukup besar.Hasilnya, Pangeran Diponegoro dilayani pengikutnya seperti seorang [[raja]]. Kendati lebihMeskipun sering memakai jubah putih, namun ia juga punya koleksi pribadi berupa barang-barang mewah seperti [[pusaka]], [[keris]], [[kuda]], dan lain-lain. Diponegoro juga sering menonjolkan gaya dan atribut kerajaan, termasuk dipayungi para pengawalnya dengan payung berlapis emas dalam setiap kemunculannya.
 
Kiai Madja tidak sepaham dengan ekpresi yang dimunculkan Diponegorosepupunya itu. Ia menilai Diponegoro telah mengingkari janjinya untuk membentuk pemerintahan yang sesuai dengan ajaran Islam dan justru berambisi ingin mendirikan kerajaan tandingan di tanah Jawa. Hingga akhirnya, Diponegoro menyarankan agar Kiai Madja berhenti berperang. Kiai Madja akhirnya berinisiatif menemui Belanda untuk mengadakan perundingan demi berakhirnya perang. Dalam pertemuan pada 25 Oktober 1828 itu, Belanda bertanya kepada Kiai Madja tentang bagaimana jika PulauDiponegoro Jawadiberi “dikembalikan”wilayah kepadakekuasaan, Pangeran Diponegoro. Dengandengan kata lain, Diponegoro akan mendapatkan jatah sebagai raja baru di Jawa. Kiai Madja lalu berkata jika itu yang terjadi, maka akan disambut dengan senang hati oleh Diponegoro dan perang pun akan usai. Pernyataan tersebut menyiratkan persepsi bahwa Kiai Madja memang menilai Diponegoro sedang mengincar gelar raja Jawa dan ingin memimpin kerajaan baru meskipun tidak dengan sistem pemerintahan Islam.<ref name=a />
 
==Penangkapan dan Pengasingan==
[[Berkas:Kyai madja.jpg|jmpl|Makam Kyai Madja]]
Pada 17tanggal 12 November 1828, terjadiKyai penangkapanMojo didan desapara pengikutnya disergap di Kembangdaerah ArumMlangi, [[Jawa TengahSleman]], olehdekat BelandaSungai Bedog, kemudian dibawa ke [[Salatiga]]. Dalam penahanannya, Kiai Madja meminta agar para pengikutnta dibebaskan dan menerima apapun keputusan Belanda terhadap dirinya. Belanda mengabulkan permintaan tersebut dan hanya menyisakan Kiai Madja beserta orang-orang dekatnya dan beberapa tokoh berpengaruh, sementara sebagian besar pengikutnya dilepaskan.<ref name=a /> KiaiBaru Madjapada dibawatanggal dan17 diasingkanNovember 1828, Kyai Mojo beserta orang-orang yang masih menyertainya dikirim ke Batavia kemudiandan diasingkandiputuskan kembaliakan diasingkan ke [[Tondano]], [[Minahasa]], [[Sulawesi Utara]].<ref name=a /><ref name="b">{{Cite news|url=https://historia.id/kuno/articles/si-bantheng-pengiring-diponegoro-yang-paling-setia-P7x4Q|title=Si Bantheng, Pengiring Diponegoro yang Paling Setia|last=A. Nugroho|first=Yudi|newspaper=historia.id|language=id-ID|access-date=2020-01-25}}</ref> Di tanah pembuangan, Kyai Mojo terus berdakwah hingga wafat pada 20 Desember 1849 di usianya yang ke 57 tahun. Perang Jawa sendiri berakhir dua tahun setelah hengkangnya kubu Kiai Mojo dari pasukan Diponegoro.<ref name=a />
 
===Kampung Jawa Tondano===
Semua pengikut Kiai Madja yang dibuang ke Tondano adalah laki-laki. Mereka kemudian menikahi perempuan setempat, dan dari dua kebudayaan inilah lahir Kampung Jawa Tondano. Mereka mendirikan Masjid Al-Falah dan mengislamkan beberapa perempuan Minahasa dan menyisakan tradisi-tradisi Islam Jawa hingga kini. Penerus keturunan Kiai Madja biasa memakai nama Kiay Modjo. Salah satunya adalah dosen Bahasa Jerman di Universitas Sam Ratulangi, Julaiha Kiay Modjo. Ia berkata tak tahu lagi di mana orang-orang dengan nama marga Kiay Modjo tinggal di Kampung Jawa Tondano. Banyak juga marga Kiay Modjo yang tinggal di Gorontalo.<ref name="c">{{Cite news|url=https://tirto.id/dari-pengikut-kyai-mojo-lahirlah-kampung-muslim-jawa-tondano-cK6T|title=Dari Pengikut Kyai Mojo, Lahirlah Kampung Muslim Jawa Tondano|last=Matanasi|first=Petrik|newspaper=tirto.id|language=id-ID|access-date=2020-01-25}}</ref>
 
2.651

suntingan