Penyakit jembrana: Perbedaan revisi

3.337 bita ditambahkan ,  21 hari yang lalu
Sejarah penyakit
(Sejarah penyakit)
 
Melalui infeksi buatan, [[sapi ongole]] (''Bos indicus''), [[sapi holstein|sapi friesian holstein]] (''Bos taurus''), [[kerbau]] (''Bubalus bubalis''), dan [[babi]] mengalami demam ringan setelah diinokulasi virus jembrana, tetapi tidak ada tanda klinis lain yang nyata.{{sfn|Soeharsono dkk.|1990}} Meskipun tidak menunjukkan tanda klinis yang jelas, kerbau, babi, [[kambing]], dan [[domba]] mampu membawa virus jembrana hingga enam bulan.{{sfn|Dirkeswan|2015|p=11}}
 
== Distribusi penyakit ==
[[Berkas:Location Jembrana Regency.png|jmpl|kiri|250px|Lokasi Kabupaten Jembrana, tempat penyakit ini pertama kali muncul.]]
Dua peristiwa besar terjadi di Bali sebelum munculnya wabah penyakit jembrana. Peristiwa pertama adalah vaksinasi masal terhadap [[penyakit mulut dan kuku]] pada tahun 1963. Vaksinasi tersebut menyebabkan reaksi pascavaksin yang berat sehingga sejumlah sapi bali milik peternak ambruk.{{sfn|Soeharsono|Temadja|1997|p=3}} Pemberian vaksin yang diproduksi di [[Surabaya]] dihentikan, lalu dilanjutkan dengan vaksin yang diproduksi di [[Inggris]].{{sfn|Soeharsono|Temadja|1997|p=3}} Peristiwa kedua adalah meletusnya [[Gunung Agung]] pada 1963—1964 yang menyebabkan lebih dari 1.000 penduduk meninggal dunia. Abu dari letusan gunung menutupi lingkungan, termasuk rumput, sehingga petani perlu mencuci rumput tersebut sebelum diberikan sebagai pakan sapi. Kejadian ini berlangsung selama beberapa pekan sehingga sapi menjadi stres. Walaupun demikian, tidak diketahui apakah ada hubungan tidak langsung antara letusan Gunung Agung dengan munculnya wabah penyakit jembrana.{{sfn|Soeharsono|Temadja|1997|p=3}}
 
Penyakit jembrana pertama kali muncul dan mewabah pada sapi bali dan kerbau di Desa [[Sangkaragung, Jembrana, Jembrana|Sangkaragung]], Kabupaten Jembrana pada bulan Desember 1964.{{sfn|Soeharsono|Temadja|1997|p=3}}{{sfn|Pranoto|Pudjiastono|1967}} Ketika itu, penyakit yang umum ditemui adalah [[septisemia epizotik]] (SE) sehingga antiserum dan vaksin SE diberikan oleh dokter hewan setempat.{{sfn|Soeharsono|Temadja|1997|p=3}} Kasus penyakit tidak turun walaupun pemberian antiserum dan vaksin telah dilakukan. Pada bulan Agustus 1965, penyakit ini telah meluas ke semua kabupaten di Pulau Bali dengan angka kematian yang tinggi.{{sfn|Soeharsono|Temadja|1997|p=3}}{{sfn|Pranoto|Pudjiastono|1967}} Diperkirakan lebih dari 26.000 ekor sapi bali dan sekitar 5.000 ekor kerbau mengalami kematian.{{sfn|Dirkeswan|2015|p=1}}
 
Pada bulan Mei 1976, penyakit yang sama juga terjadi di Desa Rama Dewa, Kecamatan [[Seputih Raman, Lampung Tengah|Seputih Raman]], Kabupaten Lampung (secara administratif, saat ini terletak di [[Kabupaten Lampung Tengah]]), Provinsi [[Lampung]].{{sfn|Dirkeswan|2014|p=51}} Penyakit ini pun disebut sebagai penyakit rama dewa.
 
== Cara penularan ==
* {{cite book|last=Direktorat Kesehatan Hewan|year=2014|title=Manual Penyakit Hewan Mamalia, cetakan ke-2|pp=49-60|url=http://wiki.isikhnas.com/images/b/b9/Manual_Penyakit_Hewan_Mamalia.pdf|location=Jakarta|publisher=Direktorat Kesehatan Hewan, [[Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan]], [[Kementerian Pertanian Republik Indonesia]]|ref={{sfnref|Dirkeswan|2014}}}}
* {{cite book|last=Direktorat Kesehatan Hewan|year=2015|title=Pedoman Pengendalian dan Penanggulangan Penyakit Jembrana|url=http://keswan.ditjenpkh.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2017/07/Buku-Pedoman-Jembrana.pdf|location=Jakarta|publisher=Direktorat Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia|ref={{sfnref|Dirkeswan|2015}}}}
* {{cite book|last1=Soeharsono|first1=S.|last2=Temadja|first2=I.G.N. Teken|editor-first1=G.E.|editor-last1=Wilcox|editor-first2=S.|editor-last2=Soeharsono|editor-first3=D.M.N.|editor-last3=Dharma|editor-first4=J.W.|editor-last4=Copland|title=Jembrana Disease and the Bovine Lentiviruses: Proceedings of a Workshop 10-13 June 1996 Bali, Indonesia|series=ACIAR Proceedings|url=https://pdfs.semanticscholar.org/8f4d/385fc669c2a229e1cc2382423820dc9972d7.pdf|location=Brisbane|publisher=Australian Centre for International Agricultural Research|year=1997|pages=2–4|chapter=The Occurence and History of Jembrana Disease in Indonesia|isbn=1-86320-197-1|oclc=37039261|ref={{sfnref|Soeharsono|Temadja|1997}}}}
* {{cite book|last1=Soeharsono|first1=S.|last2=Budiantono|first2=A.|last3=Sulistyana|first3=K.|last4=Tenaya|first4=M.|last5=Hartaningsih|first5=N.|last6=Dharma|first6=D.M.N.|last7=Soesanto|first7=M.|last8=Wilcox|first8=G.E.|editor-first1=G.E.|editor-last1=Wilcox|editor-first2=S.|editor-last2=Soeharsono|editor-first3=D.M.N.|editor-last3=Dharma|editor-first4=J.W.|editor-last4=Copland|title=Jembrana Disease and the Bovine Lentiviruses: Proceedings of a Workshop 10-13 June 1996 Bali, Indonesia|series=ACIAR Proceedings|url=https://pdfs.semanticscholar.org/8f4d/385fc669c2a229e1cc2382423820dc9972d7.pdf|location=Brisbane|publisher=Australian Centre for International Agricultural Research|year=1997|pages=10–25|chapter=Clinical Changes in Bali Cattle and Other Ruminants Following Infection with Jembrana Disease Virus|isbn=1-86320-197-1|oclc=37039261|ref={{sfnref|Soeharsono dkk.|1997}}}}
{{refend}}
* {{Cite journal|last=Agustini|first=N.L.P.|last2=Tenaya|first2=I.W. Masa|last3=Supartika|first3=I.K.E.|title=Uji Efikasi Vaksin Jembrana|date=Juni 2015|url=http://bbvdps.ditjenpkh.pertanian.go.id/wp-content/uploads/2015/11/UJI-EFIKASI-VAKSIN-JEMBRANA.pdf|journal=Buletin Veteriner BBVet Denpasar|volume=XXVII|issue=86|issn=0854-901X|ref={{sfnref|Agustini dkk.|2015}}}}
* {{Cite journal|last=Kusumawati|first=Asmarani|last2=Wanahari|first2=Tenri Ashari|last3=Putri|first3=Rizqa Febriliany|last4=Untari|first4=Tri|last5=Hartati|first5=Sri|last6=Mappakaya|first6=Basofi Ashari|last7=Putro|first7=Prabowo Purwono|date=30 Desember 2014|year=|title=Clinical and Pathological Perspectives of Jembrana Disease Virus Infection: A Review|url=http://www.biotech-asia.org/absdoic.php?snoid=1509|journal=Biosciences Biotechnology Research Asia|language=|volume=11|issue=3|pages=1221–1225|doi=10.13005/bbra/1509|issn=0973-1245|ref={{sfnref|Kusumawati dkk.|2014}}}}
* {{Cite journal|last=Pranoto|first=R.A.|last2=Pudjiastono|first2=A.|title=An Outbreak of Highly Infectious Disease in Cattle and Buffaloes on the Island of Bali. Diagnosis Based on Clinical Signs and Post Mortem Findings|year=1967|journal=Folia Veterinaria Elveka|volume=2|page=10–53|ref={{sfnref|Pranoto|Pudjiastono|1967}}}}
* {{Cite journal|last=Soeharsono|first=S.|last2=Hartaningsih|first2=N.|last3=Soetrisno|first3=M.|last4=Kertayadnya|first4=G.|last5=Wilcox|first5=G. E.|year=1990|title=Studies of experimental Jembrana disease in Bali cattle. I. Transmission and persistence of the infectious agent in ruminants and pigs, and resistance of recovered cattle to re-infection|url=https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S002199750880134X?via%3Dihub|journal=Journal of Comparative Pathology|volume=103|issue=1|pages=49–59|doi=10.1016/s0021-9975(08)80134-x|issn=0021-9975|pmid=2394846|ref={{sfnref|Soeharsono dkk.|1990}}}}
* {{Cite journal|last=Soeharsono|first=S.|last2=Wilcox|first2=G. E.|last3=Putra|first3=A. A.|last4=Hartaningsih|first4=N.|last5=Sulistyana|first5=K.|last6=Tenaya|first6=M.|year=1995|title=The transmission of Jembrana disease, a lentivirus disease of Bos javanicus cattle|url=https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/7589275|journal=Epidemiology and Infection|volume=115|issue=2|pages=367–374|doi=10.1017/s0950268800058489|issn=0950-2688|pmc=2271399|pmid=7589275|ref={{sfnref|Soeharsono dkk.|1995}}}}
3.224

suntingan