Kesultanan Pontianak: Perbedaan antara revisi

101 bita dihapus ,  2 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
|leader2 = [[Sultan Hamid II]]
|year_leader2 = 1945-1978
|leader3 = Sultan Syarif AbubakarMahmud Alkadrie
|year_leader3 = 20042017-Sekarang
|currency =
|footnotes =
Pada [[28 Oktober]] [[1946]], Pemerintah Sipil Hindia Belanda sebagai Dewan Borneo Barat membentuk Daerah Istimewa Kalimantan Barat dan mendapat kedudukan sebagai [[Daerah Istimewa]] pada [[12 Mei]] [[1947]]. Daerah Istimewa Kalimantan Barat meliputi monarki-monarki ([[swapraja]]) di [[Kalimantan Barat]], termasuk Kesultanan Pontianak. Saat itu [[Sultan Hamid II]] ditujuk sebagai Kepala Daerah Istimewa Kalimantan Barat. Sebelum [[5 April]] [[1950]], Daerah Istimewa Kalimantan Barat bergabung dengan [[Negara Republik Indonesia (RIS)]]. Daerahnya kemudian menjadi bagian dari Provinsi Administratif Kalimantan. Setelah pembubaran [[Republik Indonesia Serikat]] pada [[17 Agustus]] [[1950]], wilayah Kesultanan Pontianak menjadi bagian [[Provinsi Kalimantan Barat]].
 
Setelah [[Sultan Hamid II]] wafat pada [[30 Maret]] [[1978]], terjadi kekosongan jabatan sultan di keluarga Kesultanan Paontianak. Kekosongan jabatan itu bahkan berlangsung selama 25 tahun. Namun pada [[15 Januari]] [[2004]], pihak bangsawan Istana Kadriyah mengangkat Syarif Abubakar Alkadrie sebagai [[Sultan Pontianak]] ke. VIII. Jauh sebelumnya, tepatnya pada [[29 Januari]] [[2001]] seorang bangsawan senior, Syarifah Khadijah Alkadrie binti Sultan Syarif Muhammad Alkadrie bin Sultan Syarif Yusuf Alkadrie, ibni Sultan Hamid.I, bin Sultan Osman,bin Sultan Abdurrahman Alkadrie, pendiri kesultanan Kadriah, mengukuhkan Kerabat Muda Istana KadriahKadriyah Kesultanan Pontianak. Kerabat MudaKekerabatan ini bertujuan menjaga segala tradisi dan nilai budaya [[Melayu]] [[Pontianak]], termasuk menghidupkan dan melestarikannya.
 
== Daftar Sultan Pontianak ==
1.533

suntingan