Kraton: Perbedaan revisi

25 bita ditambahkan ,  15 tahun yang lalu
(tambahan)
==Gelar Kebangsawanan==
Masyarakat Keraton pada umumnya memiliki gelar kebangsawanan. Beberapa gelar kebangsawanan tersebut antara lain:
* Garwa Padmi (permaisuri sultan): Gusti KanjengKangjeng Ratu (GKR)
* Garwa Ampeyan (bukan permaisuri): Kangjeng RadenRadèn Ayu (KRA)
* Putra mahkota: Kangjeng Gusti PangeranPangéran Adipati Anom (KGPAA)
* Putra/putri sultan dari Garwa Padmi: Gusti RadenRadèn Mas/Gusti RadenRadèn Ajeng
* Putra/putri sultan dari Garwa AmpeyanAmpéyan (bukan permaisuri): Bendara Raden Mas/Bendara RadenRadèn Ajeng
* Putra Sultan (setelah dewasa, diwisuda dan menjadi pangeran): Gusti Bendara PangeranPangéran Haryo (GBPH)
* KanjengKangjeng RadenRadèn Tumenggung Haryo (KRTH)
* KanjengKangjeng PangeranPangéran Haryo (KPH)
* Mas RadenRadèn Tumenggung (MRT)
* KanjengKangjeng RadenRadèn Tumenggung (KRT)
* KanjengKangjeng RadenRadèn Ayu (KRAy)
* RadenRadèn Mas Tumenggung (RMT)
* RadenRadèn NgantenNgantèn (RNg)
* Mas NgabeiNgabéi (MNg)
* KanjengKangjeng PangeranPangéran (KP)
 
Selain beberapa gelar tersebut di atas, di lingkungan keraton sering juga dijumpai sebutan khusus seperti:
* Sekartaji (untuk putri kedua)
* Candrakirana (untuk putri ketiga)
* Putra tertua dari seluruh Garwa Ampeyan bergelar Bendara Raden Mas Gusti dan akan berubah menjadi Gusti Pangeran setelah diangkat menjadi pangeran. Sedangkan putri tertua dari seluruh Garwa Ampeyan bergelar Bendoro Raden Ajeng Gusti dan akan berubah menjadi Pembayun setelah menikah. Khusus untuk putri sulung (tertua) dari Garwa AmpeyanAmpéyan mendapat gelar KanjengKangjeng Ratu.
 
[[kategori:Jawa]]