Buka menu utama

Perubahan

1.304 bita ditambahkan ,  11 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
'''Lembu Sora''' atau '''Mpu Sora''' atau(lahir: '''Ken? Sora'''- atauwafat: '''Andaka[[Majapahit]], Sora'''[[1300]]) adalah nama salah satuseorang pengikut [[Raden Wijaya]] yang berjasa besar dalam berdirinyaperjuangan mendirikan [[Kerajaan Majapahit]]. Ia sering dianggap sebagai abdi Raden Wijaya yang paling setia, namun akhirnya mati sebagai pemberontak padadi tahunhalaman 1300istana Majapahit.
 
Dalam beberapa karya sastra, Mpu Sora juga disebut dengan nama '''Lembu Sora''', '''Ken Sora''', '''Andaka Sora''', atau kadang disingkat '''Sora''' saja.
== Peran Sora dalam Perjuangan ==
''[[Pararaton]]'' menyebut Sora sebagai abdi [[Raden Wijaya]] yang paling setia. Ia mengawal [[Raden Wijaya]] saat menghindari kejaran pasukan [[Jayakatwang]] tahun 1292, di mana ia menyediakan punggungnya sebagai tempat duduk [[Raden Wijaya]] dan istrinya saat beristirahat, serta menggendong istri [[Raden Wijaya]] saat menyeberangi sungai dan rawa-rawa.
 
== Peran Sora dalam Perjuangan ==
Pada tahun 1293 [[Raden Wijaya]] dibantu pasukan [[Mongol]] menyerang [[Jayakatwang]] di [[Kadiri]]. Dalam perang itu, Sora menggempur benteng selatan dan berhasil membunuh Patih [[Kadiri]] '''Kebo Mundarang'''.
''[[Pararaton]]'' menyebutmengisahkan Sora sebagaiikut abdimengawal [[Raden Wijaya]] yangsewaktu palingmenghindari setia.kejaran Ia mengawalpasukan [[Raden WijayaJayakatwang]] saatpada menghindari kejaran pasukantahun [[Jayakatwang1292]]. tahun''Kidung 1292Panji Wijayakrama'' menyebutkan, diSora manadengan iasetia menyediakan punggungnyaperutnya sebagai tempat duduk [[Raden Wijaya]] dan istrinya saat keduanya beristirahat,. sertaIa juga menggendong istri [[Raden Wijaya]] saat menyeberangi sungai dan rawa-rawa.
 
Pada tahun 1293 [[1293]] Raden Wijaya]] dibantu pasukan [[Mongol]] menyerang [[Jayakatwang]] di [[Kadiri]]. Dalam perangpertempuran itutersebut, Sora bertugas menggempur benteng selatan dan berhasil membunuh Patihpatih [[Kadiri]] '''yang bernama Kebo Mundarang'''.
== Jabatan Sora ==
Menurut ''[[Pararaton]]'', setelah kemenangan tersebut, [[Raden Wijaya]] mendirikan [[Kerajaan Majapahit]]. Lembu Sora diangkat sebagai ''rakryan demung''.
 
Dalam siasat selanjutnya, Raden Wijaya mengusir pasukan Mongol yang sedang berpesta pora merayakan jatuhnya Kadiri. Dalam pertempuran tersebut, Sora dan keponakannya yang bernama [[Ranggalawe]] bertindak sebagai pembantai orang-orang Mongol tersebut.
Berita itu terbukti salah, karena menurut [[prasasti Penanggungan]] (1296) diketahui nama ''rakryan demung Majapahit'' adalah '''Mpu Renteng''', sedangkan Mpu Sora menjabat sebagai ''rakryan patih Daha'', atau patih bawahan di [[Kadiri]].
 
== Jabatan Soradi Majapahit ==
Keputusan tersebut memicu pemberontakan [[Ranggalawe]] tahun 1295. Menurut [[Ranggalawe]], Lembu Sora lebih pantas menjabat sebagai ''rakryan patih Majapahit'' dari pada [[Nambi]]. Meskipun [[Ranggalawe]] adalah keponakan Sora, namun Sora justru mendukung [[Raden Wijaya]] supaya tetap mempertahankan [[Nambi]] sebagai patih [[Majapahit]].
Setelah [[Jayakatwang]] berhasil dikalahkan dan pasukan [[Mongol]] yang dipimpin [[Ike Mese]] diusir dari [[Pulau Jawa]], Raden Wijaya pun mendirikan mendirikan [[Kerajaan Majapahit]] pada tahun [[1293]]. Naskah ''[[Pararaton]]'' menyebutkan jabatan Sora dalam kerajaan baru tersebut adalah ''rakryan demung''.
 
Berita itudi terbuktiatas salah,kurang tepat karena menurutdalam prasasti Sukamreta tahun [[prasasti Penanggungan1296]], (1296) diketahuitertulis nama ''rakryan demung Majapahit'' adalah '''Mpu Renteng''', sedangkan Mpu Sora menjabat sebagai ''rakryan patih ri Daha'', atau patih bawahan di [[Kadiri]].
== Kematian Sora ==
Kematian Sora pada tahun 1300 diceritakan singkat dalam ''[[Pararaton]]'', dan diuraikan panjang lebar dalam ''Kidung Sorandaka''.
 
Keputusan Raden Wijaya tersebut konon memicu pemberontakan [[Ranggalawe]] pada tahun 1295. Menurut [[Ranggalawe1295]],. Ranggalawe berpendapat Lembubahwa Sora lebih pantas menjabatdiangkat sebagai ''rakryan patih Majapahit'' dari padadaripada [[Nambi]]. MeskipunNamun meskipun [[Ranggalawe]] adalah keponakan Sora, namun Sora justru mendukung [[Raden Wijaya]] supaya tetap mempertahankan [[Nambi]] sebagai patih [[Majapahit]].
Dikisahkan Sora ikut serta dalam pasukan [[Majapahit]] dalam penumpasan pemberontakan [[Ranggalawe]] di [[Tuban]]. Dalam perang itu, [[Ranggalawe]] mati dibunuh [[Kebo Anabrang]]. Melihat keponakannya tewas, Sora merasa sakit hati. Ia pun ganti membunuh [[Kebo Anabrang]] dari belakang.
 
== Kematian SoraAkibat Fitnah ==
Pembunuhan terhadap rekan sepasukan tersebut baru diungkit tahun 1300. Rupanya keluarga [[Kebo Anabrang]] segan menuntut hukuman karena Sora adalah abdi kesayangan [[Raden Wijaya]].
Kematian Sora menurut ''[[Pararaton]]'' terjadi pada tahun [[1300]] yang diuraikan panjang lebar dalam ''Kidung Sorandaka''. Menurut ''Pararaton'' kematiannya terjadi pada pemerintahan [[Jayanagara]], sedangkan menurut ''Kidung Sorandaka'' terjadi pada pemerintahan [[Raden Wijaya]]. Dalam hal ini pengarang ''Pararaton'' kurang teliti karena menurut ''[[Nagarakretagama]]'' Jayanagara naik takhta menggantikan Raden Wijaya baru pada tahun [[1309]].
 
Dikisahkan bahwa, Sora ikut serta dalam pasukan [[Majapahit]] dalamyang bergerak penumpasanmenumpas pemberontakan [[Ranggalawe]] di [[Tuban]] tahun [[1295]]. Dalam perangpertempuran itudi Sungai Tambak Beras, [[Ranggalawe]] mati dibunuhdi tangan [[Kebo Anabrang]]. Melihat keponakannya tewas,Diam-diam Sora merasa sakit hati melihat keponakannya dibunuh secara kejam. Ia pun berbalik ganti membunuh [[Kebo Anabrang]] dari belakang.
Suasana itu dimanfaatkan oleh [[Mahapati]], seorang tokoh licik yang mengincar jabatan patih. Ia menghasut putra [[Kebo Anabrang]] yang bernama '''Mahisa Taruna''' supaya berani menuntut Sora. Ia juga menghasut [[Raden Wijaya]] bahwa para menteri resah karena raja seolah-olah melindungi kesalahan Sora.
 
PembunuhanPeristiwa pembunuhan terhadap rekan sepasukansatu pasukan tersebut baruseolah-olah diungkitdidiamkan tahunbegitu 1300saja. Rupanyahal itu dikarenakan keluarga [[Kebo Anabrang]] segan menuntut hukuman pengadilan karena Sora adalahdianggap sebagai abdi kesayangan [[Raden Wijaya]].
[[Raden Wijaya]] tersinggung dituduh tidak adil. Ia pun memberhentikan Lembu Sora dari jabatannya untuk menunggu keputusan selanjutnya. [[Mahapati]] mengusulkan agar Lembu Sora jangan dihukum mati mengingat jasa-jasanya yang sangat besar. [[Raden Wijaya]] memutuskan bahwa Sora akan dihukum buang ke '''Tulembang'''.
 
Suasana kusut itu akhirnya dimanfaatkan oleh [[Mahapati]], seorang tokoh licik yang mengincar jabatan ''[[patih|rakryan patih]]''. Ia menghasut putra [[Kebo Anabrang]] yang bernama '''Mahisa Taruna''' supaya berani menuntut pengadilan untuk Sora. Ia juga menghasutmelapor kepada [[Raden Wijaya]] bahwa para menteri merasa resah karena raja seolah-olah melindungi kesalahan Sora.
[[Mahapati]] menemui Sora di rumahnya untuk menyampaikan keputusan raja. Sora sedih atas keputusan itu. Ia berniat ke ibu kota meminta hukuman mati dari pada harus diusir dari tanah airnya.
 
[[Raden Wijaya]] tersinggung karena dituduh berlaku tidak adil. Ia pun memberhentikan Lembu Sora dari jabatannya untuk menunggu keputusan selanjutnyalebih lanjut. [[Mahapati]] mengusulkansegera agarmengusulkan Lembusupaya Sora jangan dihukum mati mengingat jasa-jasanya yang sangat besar. [[Atas pertimbangan tersebut, Raden Wijaya]] pun memutuskan bahwa Sora akan dihukum buang ke '''Tulembang'''.
[[Mahapati]] lebih dulu menghasut [[Nambi]] bahwa Sora akan datang untuk membuat kekacauan karena tidak puas atas hukuman raja. Setelah mendesak raja, [[Nambi]] pun diizinkan menghadang Sora yang datang bersama '''Gajah Biru''' dan '''Juru Demung'''. Maka terjadilah peristiwa di mana Sora dan kedua sahabatnya mati dikeroyok tentara [[Majapahit]].
 
[[Mahapati]] menemui Sora di rumahnya untuk menyampaikan surat keputusan raja. Sora sedih atas keputusan itu. Ia berniat ke ibu kota meminta hukuman mati dari padadaripada harus diusir darimeninggalkan tanah airnya.
Berbeda dengan kisah dalam ''Kidung Sorandaka'' di atas, ''[[Pararaton]]'' menyebut kematian Juru Demung terjadi pada tahun 1313, sedangkan Gajah Biru pada tahun 1314. Keduanya tewas sebagai pemberontak pada pemerintahan [[Jayanagara]] putra [[Raden Wijaya]].
 
[[Mahapati]] lebih dulu menghasut [[Nambi]] dengan mengatakan bahwa Sora akan datang untuk membuat kekacauan karena tidak puas atas hukumankeputusan raja. Setelah mendesak rajaRaden Wijaya, [[Nambi]] pun diizinkan menghadang Sora yang datang bersama '''dua orang sahabatnya, yaitu Gajah Biru''' dan '''Juru Demung'''. Maka terjadilah peristiwa di mana Sora dan kedua sahabatnyatemannya itu mati dikeroyok tentara [[Majapahit]] di halaman istana.
== Referensi ==
 
Berbeda dengan kisahKisah dalam ''Kidung Sorandaka'' di atas, sedikit berbeda dengan ''[[Pararaton]]'' yang menyebut kematian Juru Demung terjadi pada tahun [[1313]], sedangkan Gajah Biru pada tahun [[1314]]. KeduanyaKematian tewaskedua sebagaisahabat pemberontakSora tersebut terjadi pada masa pemerintahan [[Jayanagara]] putra [[Raden Wijaya]].
 
== Keepustakaan ==
* [[Slamet Muljana]]. 1979. ''Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya''. Jakarta: Bhratara
* [[Slamet Muljana]]. 2005. Menuju Puncak Kemegahan (terbitan ulang 1965). Yogyakarta: LKIS
 
[[Kategori:Kerajaan Majapahit]]
1.090

suntingan