Buka menu utama

Perubahan

6 bita dihapus ,  1 bulan yang lalu
Menurut penilaian Bosworth, Marwan "jelas sekali adalah pemimpin militer dan negarawan yang memiliki kecakapan dan ketegasan, dipenuhi dengan sifat ''ḥilm'' [kesabaran] dan ''dahiya'' [kecerdikan], seperti tokoh-tokoh Umayyah terkemuka lainnya."{{sfn|Bosworth|1991|p=622}} Meski ia tidak memiliki pusat kekuatan di Syam sebelum menjadi khalifah dan wilayah tersebut cukup asing baginya, ia berhasil mengambil kendali. Kukuhnya kekuasaan Umayyah di Syam menjadi landasan bagi anaknya, Abdul Malik, yang kelak akan berhasil menyatukan kembali kekhalifahan di bawah dinasti Umayyah. Kekhalifahan Umayyah akan berlanjut selama sekitar 65 tahun selanjutnya.{{sfn|Bosworth|1991|p=622}} Menurut sejarawan [[Wilferd Madelung]], naiknya Marwan ke posisi khalifah adalah sebuah "politik tingkat tinggi", puncak dari intrik-intrik yang dimulai dari awal karirnya.{{sfn|Madelung|1997|pp=348–349}} Menurut Madelung, intrik ini termasuk menempatkan diri sebagai "pembalas pertama" kematian Utsman dengan membunuh Thalhah dalam Pertempuran Jamal, serta dengan diam-diam melemahkan kekuasaan para khalifah Sufyani walaupun secara terbuka mendukungnya.{{sfn|Madelung|1997|pp=348–349}}
 
Dalam riwayat, Marwan dikenal sebagai pribadi yang kasar (''fāḥisy'') dan kurang memiliki adab. Luka-luka yang ia derita dalam pertempuran tampaknya cukup mempengaruhi kondisi fisiknya. Ia memiliki tubuh kurus dan tinggi sehingga dijuluki ''khayṭ bāṭil'' (benang tipis). Riwayat-riwayat anti-Umayyah memberinya julukan ''ṭarid ibn ṭarid'' ("orang terusir, putra dari orang terusir") karna ia diusir dari Madinah oleh Ibnu az-Zubair, dan ayahnya al-Hakam juga konon pernah diusir Muhammad ke [[Thaif]]. Pihak anti-Umayyah juga menjulukinya ''abūʾl-jabābirah'' (bapak dari para penguasa zalim) karena anaknya dan lima orang cucu-cucunya kelak berturut-turut menguasai kekhalifahan.{{sfn|Bosworth|1991|p=622}}
 
== Keluarga ==