Buka menu utama

Perubahan

3 bita dihapus ,  1 bulan yang lalu
 
=== Kematian ===
Marwan meninggal pada awal tahun 685 saat belum genap setahun berkuasa. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan sejarawan mengenai tanggal pasti kematiannya. S[[Ibnu Sa'ad]], [[Ibnu Jarir ath-Thabari]], dan Khalifah bin Khayyath berpendapat bahwa Marwan meninggal pada tanggal 11 April 685, [[Al-Mas'udi]] berpendapat pada tanggal 13 April, sedangkan Elias, Uskup Agung Nisibis, berpendapat kematian sang khalifah terjadi pada pada 7 Mei.{{sfn|Bosworth|1991|p=622}} Sebagian besar sumber Muslim menyatakan bahwa Marwan meninggal di Damaskus, sedangkan Al-Mas'udi berpendapat bahwa Marwan meninggal di kediaman musim dinginnya di [[Ash-Shinnabra]], dekat [[Danau Tiberias]].{{sfn|Bosworth|1991|p=622}} Sejarawan-sejarawan Muslim awal menukil riwayat (dengan [[wikt:sanad|isnad]] yang baik) bahwa Marwan dibunuh saat ia tidur oleh istrinya Umm Hasyim Fakhitah akibat hinaan kasar yang sebelumnya diucapkan Marwan kepadanya, tetapi kisah ini ditolak atau diabaikan oleh kebanyakan sejarawan Barat modern.{{sfn|Madelung|1997|p=351}} Bosworth menduga bahwa Marwan meninggal akibat wabah penyakit yang menimpa negeri Syam pada saat kematiannya.{{sfn|Bosworth|1991|p=622}}
 
Sebelum Marwan meninggal, sekembalinya ia ke Syam dari Mesir pada tahun 685, ia sempat menunjuk putra-putranya Abdul Malik dan Abdul Aziz sebagai penerusnya, sekalipun hasil pertemuan di Jabiyah menetapkan Khalid bin Yazid dan Amr bin Said sebagai khalifah selanjutnya. Ia melakukannya setelah ia mendengar bahwa Ibnu Bahdal mendukung Amr sebagai calon penerus Marwan.{{sfn|Mayer|1952|p=185}}{{sfn|Madelung|1997|p=349}} Ia memanggil dan mencecar Ibnu Bahdal, dan akhirnya memintanya menyatakan baiat terhadap Abdul Malik sebagai putra mahkota.{{sfn|Mayer|1952|p=185}} Setelah meninggalnya Marwan, Abdul Malik bin Marwan menjadi khalifah tanpa pertentangan dari Khalid maupun Amr.{{sfn|Bosworth|1991|p=622}} Dengan ini, keputusan pertemuan Jabiyah telah dibatalkan dan prinsip pemilihan khalifah berdasarkan garis keturunan langsung kembali berlaku.{{sfn|Bosworth|1991|p=622}}{{sfn|Duri|2011|p=25}}
 
Sebelum Marwan meninggal, sekembalinya ia ke Syam dari Mesir pada tahun 685, ia sempat menunjuk putra-putranya Abdul Malik dan Abdul Aziz sebagai penerusnya, sekalipun hasil pertemuan di Jabiyah menetapkan Khalid bin Yazid dan Amr bin Said sebagai khalifah selanjutnya. Ia melakukannya setelah ia mendengar bahwa Ibnu Bahdal mendukung Amr sebagai calon penerus Marwan.{{sfn|Mayer|1952|p=185}}{{sfn|Madelung|1997|p=349}} Ia memanggil dan mencecar Ibnu Bahdal, dan akhirnya memintanya menyatakan baiat terhadap Abdul Malik sebagai putra mahkota.{{sfn|Mayer|1952|p=185}} Setelah meninggalnya Marwan, Abdul Malik bin Marwan menjadi khalifah tanpa pertentangan dari Khalid maupun Amr.{{sfn|Bosworth|1991|p=622}} Dengan ini, keputusan pertemuan Jabiyah telah dibatalkan dan prinsip pemilihan khalifah berdasarkan garis keturunan langsung kembali berlaku.{{sfn|Bosworth|1991|p=622}}{{sfn|Duri|2011|p=25}}
 
== Metode pemerintahan ==