Kraton: Perbedaan revisi

1.075 bita ditambahkan ,  15 tahun yang lalu
+gelar kebangsawanan
(+gelar kebangsawanan)
'''Kraton''' atau '''Keraton''' adalah sebuah [[kata]] dari [[bahasa Jawa]]; ''kraton'' yang berasal dari kata [[dasar]]: ''ratu'' yang berarti penguasa. Kata Jawa ''ratu'' berkerabat dengan kata dalam [[bahasa Melayu]]; [[datuk]]. Sebuah '''kraton''' bisa berarti [[daerah]] di mana seorang ''Ratu'' memerintah atau tempat tinggalnya.
 
==Gelar Kebangsawanan==
Masyarakat Keraton pada umumnya memiliki gelar kebangsawanan. Beberapa gelar kebangsawanan tersebut antara lain:
* Garwa Padmi (permaisuri sultan): Gusti Kanjeng Ratu
* Garwa Ampeyan (bukan permaisuri): Kanjeng Raden Ayu
* Putra mahkota: Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom
* Putra/putri sultan dari Garwa Padmi: Gusti Raden Mas/Gusti Raden Ajeng
* Putra/putri sultan dari Garwa Ampeyan (bukan permaisuri): Bendara Raden Mas/Bendara Raden Ajeng
* Putra Sultan (setelah dewasa, diwisuda dan menjadi pangeran): Gusti Bendara Pangeran Haryo (GBPH)
 
Selain beberapa gelar tersebut di atas, di lingkungan keraton sering juga dijumpai sebutan khusus seperti:
{{msg:stub}}
* Sekarkedhaton (untuk menyebut putri sulung permaisuri)
-----
* Sekartaji (untuk putri kedua)
Kembali ke:
* Candrakirana (untuk putri ketiga)
*[[Daftar perkataan K]]
* Putra tertua dari seluruh Garwa Ampeyan bergelar Bendara Raden Mas Gusti dan akan berubah menjadi Gusti Pangeran setelah diangkat menjadi pangeran. Sedangkan putri tertua dari seluruh Garwa Ampeyan bergelar Bendoro Raden Ajeng Gusti dan akan berubah menjadi Pembayun setelah menikah. Khusus untuk putri sulung (tertua) dari Garwa Ampeyan mendapat gelar Kanjeng Ratu.
*[[Wiktionary|Daftar Utama]]
 
 
[[ms:Kraton]]
112.688

suntingan