Buka menu utama

Perubahan

943 bita ditambahkan ,  1 bulan yang lalu
 
== Masa Khulafaur Rasyidin ==
Marwan turut serta dalam pemerintahan Khalifah [[Utsman bin 'Affan|'Utsman bin 'Affan]] (berkuasa 644—656 M), yang juga merupakan sepupunya.{{sfn|Bosworth|1991|p=621}} Ia turut serta dalam perang melawan [[Kekaisaran Romawi Timur]] di [[Ifriqiyah]] (Afrika Utara bagian tengah), dan mendapat harta rampasan perang yang cukup banyak.{{sfn|Bosworth|1991|p=621}}{{sfn|Madelung|1997|p=81}} Inilah modal awal kekayaan Marwan, dan sebagian ia investasikan dalam tanah dan bangunan di [[Madinah]],{{sfn|Bosworth|1991|p=621}} ibu kota kekhalifahan. Pada tanggal yang tidak diketahui pasti, ia ditunjuk menjadi wali negeri (gubernur) di [[Fars]] dan kemudian kembali ke Madinah untuk menjadi ''[[katib]]'' (sekretaris atau juru tulis khalifah) dan kemungkinan juga sebagai bendahara [[baitul mal]].{{sfn|Bosworth|1991|p=621}}{{sfn|Donner|2014|p=106}} Sejarawan [[Clifford E. Bosworth]] menyebut bahwa karena kedudukannya ini Marwan "pastilahtak diragukan lagi membantu" dalam penyusunan [[mushaf]] Al-Quran di masa Utsman.{{sfn|Bosworth|1991|p=621}} Sejarawan [[Hugh N. Kennedy]] menyatakan bahwa Marwan adalah "tangan kanan" Utsman. Menurut sumber tradisi Muslim, anggota Quraisy yang sebelumnya mendukung Utsman perlahan-lahan menarik dukungannya akibat kedekatannya dengan Marwan, yang dianggap sebagai penyebab keputusan-keputusan kontroversial Utsman.{{sfn|Donner|2014|p=106}}{{sfn|Madelung|1997|p=92}}{{sfn|Della Vida|2000|p=947}} Sejarawan [[Fred Donner]] meragukan versi ini karena ia menganggap tidak mungkin Utsman dipengaruhi begitu saja oleh Marwan yang jauh lebih muda dan karena tidak adanya tuduhan yang bersifat spesifik terhadap Marwan. Donner juga menduga bahwa ada kemungkinan "upaya dari tradisi Muslim zaman selanjutnya untuk menyelamatkan reputasi Utsman sebagai salah satu Khulafaur Rasyidin dengan menjadikan Marwan ... kambing hitam (''the fall guy'') atas peristiwa-peristiwa memilukan di akhir dua belas tahun pemerintahan Utsman."{{sfn|Donner|2014|p=106}}
 
Banyak sejarawan percaya bahwa Marwan termasuk yang bertanggung jawab atas kekisruhan di tahun-tahun terakhir masa kekuasaan 'Utsman bin 'Affan yang berujung pada pemberontakan.<ref>Al-Ishabah, jld. 6, hlm. 204.</ref> Istri 'Utsman, Na-ilah, pernah menyatakan pendapatnya terkait Marwan kepada suaminya, "Bila engkau terus-menerus mengikuti Marwan, maka dia akan menjadi sebab kematianmu."<ref>[[Ibnu Katsir]], [[Al-Bidayah wan Nihayah]]</ref> Salah satu hal yang kerap dijadikan contoh dalam hal ini adalah kasus pemalsuan surat atas nama 'Utsman yang kerap diduga sebagai pekerjaan Marwan. Surat tersebut berisikan perintah kepada [[Abdullah bin Sa'ad bin Abi Sarh|'Abdullah bin Sa'ad bin Abi Sarh]] untuk membunuh [[Muhammad bin Abu Bakar]], yang baru ditunjuk sebagai Gubernur Mesir, beserta rombongan Mesir yang baru saja kembali dari Madinah untuk melayangkan keberatan secara langsung pada 'Utsman atas beberapa kebijakannya terkait Mesir. Saat rombongan tersebut menangkap pembawa surat dalam perjalanan pulang mereka ke Mesir, mereka marah dan berbalik kembali ke Madinah dan terjadilah huru-hara. Meski begitu, sebagian pendapat menyatakan bahwa surat tersebut dipalsukan oleh salah seorang dari rombongan tersebut sebagai jalan untuk menggantikan 'Utsman dengan 'Ali sebagai khalifah. Terlepas dari segala simpang-siur yang ada, saat gelombang protes berubah menjadi pemberontakan yang berujung pada pengepungan kediaman 'Utsman pada tahun 656, Marwan termasuk yang turut serta melindungi 'Utsman. Marwan terluka parah pada saat kejadian dan 'Utsman sendiri terbunuh.{{sfn|Bosworth|1991|p=621}}{{sfn|Donner|2014|p=106}} Setelahnya, 'Ali dilantik menjadi khalifah yang baru.