Dretarastra: Perbedaan revisi

8 bita ditambahkan ,  12 tahun yang lalu
k
Robot: Cosmetic changes
k (Robot: Cosmetic changes)
Sedikit berbeda dengan versi aslinya, tokoh Dretarastra dalam pewayangan Jawa disebut sebagai putra kandung [[Abyasa]].
 
=== Kelahiran ===
Dretarastra atau kadang disingkat Destarata, dilahirkan oleh [[Ambika]] dalam keadaan buta sebagai pengingat karena ketika pertama kali berjumpa dengan [[Abyasa]], ibunya itu memejamkan mata. Kedatangan [[Abyasa]] ke negeri [[Hastina]] ialah atas undangan ibunya, yaitu [[Durgandini]] untuk menikahi janda-janda [[Citrawirya]]. Tujuannya ialah untuk menyambung garis keturunan Wangsa Bharata, karena pewaris yang sesungguhnya, yaitu [[Bisma]], telah bersumpah untuk hidup ''wahdat''.
 
Sewaktu kecil Dretarastra serta kedua adiknya, yaitu [[Pandu]] dan [[Widura]] berguru kepada [[Bisma]] tentang ilmu pemerintahan dan kesaktian. Meskipun menyandang [[tunanetra]], namun Dretarastra mampu menguasai ilmu ''Lebur Geni'' sehingga mampu meremukkan apa saja melalui genggamannya.
 
=== Perkawinan ===
Dretarastra menikah dengan [[Gendari]] putri dari negeri Plasajenar. Dikisahkan [[Pandu]] pulang dari [[Mandura]] dengan membawa [[Kunti]] sebagai hadiah sayembara, serta [[Madrim]] putri dari Mandaraka. Di tengah jalan rombongan itu dihadang oleh Gendara raja Plasajenar yang terlambat mengikuti sayembara di [[Mandura]]. Pertempuran terjadi antara keduanya dan berakhir dengan kematian Gendara. Ia berwasiat menitipkan kedua adiknya, yaitu [[Gendari]] dan [[Sengkuni]] untuk dibawa Pandu.
 
Sesampainya di [[Hastina]], [[Pandu]] menyerahkan ketiga putri boyongannya untuk dipilih salah satu sebagai istri Dretarastra. Kakaknya itu memilih [[Gendari]] yang diramalkannya akan memberinya banyak putra. Perkawinan tersebut memang melahirkan seratus orang anak, yang dikenal dengan nama [[Korawa]].
 
=== Pemerintahan ===
Karena menyandang cacad fisik, takhta [[Hastina]] pun diserahkan kepada [[Pandu]], sedangkan [[Abyasa]] yang bertindak sebagai raja sementara kembali ke pertapaannya di Saptaarga. Sementara itu, Dretarastra diangkat sebagai adipati (raja bawahan) di daerah Gajah Oya, sedangkan [[Widura]] di Pagombakan.
 
Setelah peristiwa itu, Dretarastra pun menyerahkan takhta [[Hastina]] kepada putra tertuanya yang bernama [[Duryudana]], sedangkan dirinya kembali menjadi adipati di Gajah Oya.
 
=== Akhir Hayat ===
Setelah [[Korawa]] tumpas dalam perang [[Baratayuda]], pihak [[Pandawa]] datang ke [[Hastina]] untuk mengambil hak mereka atas takhta negeri itu. Dretarastra memanggil [[Bimasena]] ([[Pandawa]] nomor dua) untuk dipeluknya. Karena curiga, [[Kresna]] selaku penasihat [[Pandawa]] memberi isyarat agar [[Bima]] menyerahkan benda lain sebagai ganti dirinya.
 
259.487

suntingan