Hans Küng: Perbedaan revisi

236 bita ditambahkan ,  15 tahun yang lalu
tidak ada ringkasan suntingan
 
Küng belajar [[teologi]] dan [[filsafat]] di [[Universitas Kepausan Gregoriana]] di [[Roma]] dan [[ditahbiskan]] pada [[1954]]. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di berbagai kota Eropa, misalnya di [[Universitas Paris|Sorbonne]] di [[Paris]]. Tesis doktoralnya berjudul "''[[Pembenaran]]. Doktrin [[Karl Barth]] dan sebuah refleksi Katolik''".
 
<!--In [[1960]] Küng was appointed [[professor]] of theology at [[Eberhard Karls university|Eberhard Karls University]], [[Tübingen]], [[Germany]]. Just like his colleague Joseph Ratzinger (later [[Pope Benedict XVI]]), in [[1962]] he was appointed ''peritus'' by [[Pope John XXIII]], serving as an expert theological advisor to members of the [[Second Vatican Council]] until its conclusion in [[1965]]. At Küng's instigation, the Catholic Faculty at Tübingen appointed Ratzinger as professor of dogmatics. However, due to the fact that Ratzinger moved in a more conservative direction in the reaction to the [[1968]] [[German student movement|students revolt]], cooperation between the two came to an end.-->
 
InPada theakhir latetahun 1960s1960-an Küng becamemenjadi theteolog firstpenting majorKatolik RomanRoma Catholic theologian after the latesetelah [[19th centuryskisma]] [[OldGereja CatholicKatolik ChurchLama]] schismpada toakhir reject[[abad theke-19]] doctrineyang ofmenolak doktrin [[papalinfalibilitas infallibilitypaus]], in particular inkhususnya hisdalam bookbukunya ''Infallible? An Inquiry'' ("Infalibel? Suatu Telaah") ([[1971]]). ConsequentlyAkibatnya, onpada [[December 18 Desember]], [[1979]], heizin wasmengajarnya strippedsebagai ofseorang histeolog licenseKatolik toRoma teachdicabut, asnamun aia Romantetap Catholicmengajar theologiansebagai butseorang carriedprofesor on teaching as ayang ber[[tenurejabatan]]d professordalam ofbidang [[ecumenismekumenisme|ecumenicalteologi theologyekumenis]] at thedi University ofUniversitas Tübingen untilhingga hismasa retirementpensiunnya (''Emeritierung'') inpada [[1996]]. ToHingga thishari dayini heia remainstetap amerupakan persistentkritikus criticyang ofgigih papalterhadap authoritykewibawaan paus, whichyang hedisebutnya claimssebagai isciptaan man-mademanusia (anddan karena itu thusdapat reversibledibatalkan) ratherdan thanbukan institutedsesuatu byyang ditetapkan oleh [[GodAllah]]. HeKüng was nottidak [[Excommunicationekskomunikasi|excommunicateddiekskomunikasi]] anddan remainstetap amenjabat Romansebagai Catholicseorang priestimam Katolik Roma.
 
Pada awal tahun [[1990-an]] Küng memulai sebuah proyek yang dinamai ''Weltethos'' (''Etika Global''), yang merupakan upaya untuk menggambarkan kesamaan di antara agama-agama dunia (ketimbang menekankan hal-hal yang membedakan mereka) dan menyusun suatu susunan peraturan perilaku minimal yang dapat diterima oleh setiap orang. Visinya tentang suatu [[etika global]] terwujud dalam dokumen yang rancangan awalnya disusun oleh Küng, ''Menuju suatu Etika Global: Suatu Deklarasi Awal''. Deklarasi ini ditandatangani pada [[Parlemen Agama-agama Dunia]] tahun [[1993]] oleh banyak pemimpin agama dan spiritual dari seluruh dunia. Belakangan proyek Küng ini memuncak menjadi "Dialog antar Peradaban" yang diselenggarakan oleh [[PBB]], dan untuk itu Küng ditunjuk sebagai salah satu dari 19 "tokoh terkemuka." Meskipun proyek ini diselesaikan pada November 2001, tak lama setelah serangan teroris pada 11 September 2001, media AS tidak meliputnya. Hal ini dikelukan oleh Küng.
In the early [[1990s]] Küng initiated a project called ''Weltethos'' (''Global Ethic''), which is an attempt at describing what the world religions have in common (rather than what separates them) and at drawing up a minimal code of rules of behaviour everyone can accept. His vision of a [[global ethic]] was embodied in the document for which he did the initial draft, ''Towards a Global Ethic: An Initial Declaration''. This Declaration was signed at the [[1993]] [[Parliament of the World's Religions]] by many religious and spiritual leaders from around the world. Later Küng's project would culminate into the [[UN]]'s "Dialogue among Civilizations" to which Küng was assigned as one of 19 "eminent persons." Even though completed shortly after the terrorist attacks of September 11 (in November 2001), there was no coverage in the U.S. media, something about which Küng complained.
 
BasedBerdasarkan onpada kuliah-kuliah "Studium Generale"&mdash;lectures atdi TübingenUniversitas UniversityTübingen, histerbitannya latestyang publicationterbaru ''Der Anfang aller Dinge'' ("ThePermulaan beginningdari ofsegala all thingssesuatu") discussesmembahas thehubungan relationship betweenantara [[scienceilmu pengetahuan anddan religionagama]]. InDalam ansebuah analysisanalisis spanningyang frommerentang dari [[quantumfisika physicskuantum]] tohingga [[neuroscienceneurosains]] heia alsojuga commentsmengomentari onperdebatan thesaat currentini debatedi aboutAmerika Serikat mengenai [[evolutionevolusi]], indan themengecam Unitedmereka States,yang dismissingmenentang thoseevolusi opposedsebagai toorang evolution asyang "naivenaif [anddan] un-enlightenedtidak tercerahkan".-->
 
Pada [[26 September]] [[2005]] ia terlibat dalam suatu diskusi bersahabat tentang teologi Katolik dalam sebuah makan malam bersama Paus Benediktus XVI -- sesuatu yang mengejutkan sejumlah pengamat.
24.084

suntingan