Saras Dewi: Perbedaan revisi

222 bita ditambahkan ,  2 tahun yang lalu
Tag: VisualEditor menghilangkan referensi [ * ]
== Kehidupan dan karier ==
=== Awal kehidupan dan keluarga ===
Saras Dewi bernama lengkap L.G. Saraswati Putri yang lahir di [[Denpasar]], [[Bali]]. Ia adalah anak sulung dari sepuluh bersaudara dari pasangan Nyoman Dhamantra dan Lilik Kelana Putri yang berbeda keyakinan.<ref name="Saras Dewi: Philosophical songs">{{cite news|title=Saras Dewi: Philosophical songs|url=http://www.thejakartapost.com/news/2011/04/18/philosophical-songs.html|work=thejakartapost.com|date=18 April 2011}}</ref><ref>{{cite news|title=570405 – NYOMAN DHAMANTRA|url=http://infocaleg.org/caleg/570405-nyoman-dhamantra/|work=infocaleg.org}}</ref> Setelah lulus SMA, Saras memilih Jurusan Filsafat di [[Universitas Indonesia]]. Dari sarjana hingga bergelar doktor, Saras konsisten dengan mendalami [[filsafat]]. Dia kemudian menikah dengan musisi gitaris dari band [[Netral (grup musik)|Netral]], [[Christopher Bollemeyer]].<ref>{{cite news|title=Saras Dewi Kesengsem Coki|url=http://showbiz.liputan6.com/read/218230/saras-dewi-ikesengsemi-coki|work=showbiz.liputan6.com|date=7 Juli 2002}}</ref>
 
=== Penyanyi ===
Dari sarjana hingga bergelar doktor, Saras konsisten dengan mendalami [[filsafat]]. Pada tahun 2001 dia mendapat beasiswa sampai jenjang S3 namun dengan dan ikatan kerja. Pertama kali diajak mengajar oleh [[Gadis Arivia]] dengan menjadi asistennya selama dua semester sebelum akhirnya mendapat kepercayaan untuk memegang kelas sendiri.<ref>{{cite news|title=Saras Dewi: Menemukan Diri Dalam Filsafat|url=http://www.dailysylvia.com/2013/09/25/saras-dewi-menemukan-diri-dalam-filsafat/|work=dailysylvia.com|date=23 September 2013}}</ref>
 
Mengawali menjadi dosen luar biasa disana semenjak 2006, dan pada tahun 2009 menjadi dosen Pegawai Negeri Sipil untuk Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Sekarang diaPernah menjabat sebagai Ketua Program Studi Ilmu Filsafat.<ref>{{citepada news|title=Sarastahun Dewi, Berani Mengejar Cita2010-cita|url=http://bali.tribunnews2016.com/2014/05/12/saras-dewi-berani-mengejar-cita-cita|work=bali.tribunnews.com|date=12 Mei 2014}}</ref> Dia mengajar mata kuliah eksistensialismeEksistensialisme, filsafatFilsafat timurTimur, Etika Lingkungan, Filsafat dan etikaHAM, Fenomenologi, dan Filsafat lingkunganSastra. Pada bulan Juli 2013, dia berhasil menyelesaikan program [[doktor]]al di usia 29 tahun.
 
=== Penulis dan aktivis ===
Telah menerbitkan 4 buku, yang pertama ada karya sastra kumpulan puisi dengan judul ''Jiwa Putih'' pada tahun 2004, buku yang kedua merupakan buku non fiksi tentang ''Hak Azasi Manusia'' yang diterbitkan pada tahun 2006 oleh UI Press bekerja sama dengan Uni Eropa, sedangkan buku ketiga yang berjudul ''Cinta Bukan Coklat'' terbit pada tahun 2010 dan yang baru terbit pada tahun 2015 berjudul ''Ekofenomenologi''.
 
Tulisannya sebagai kolumnis mengisi di berbagai media, termasuk [[Media Indonesia]], [[Jawa Pos]], Bali Post, Media Hindu, Raditya, Nusa Tenggara Post. Ia banyak menulis tentang tema-tema sosial, budaya dan politik. Selain itu kerap mengirimkan puisi-puisi dan telah dimuat oleh Media Indonesia dan Bali Post. Esai terbarunya diterbitkan oleh Jawa Pos yang berjudul Melampaui Kebencian; Kosmos dan Pendidikan Karakter; Pilpres dan Politik Ekologi; Hak Asasi Manusia dan Ambivalensi Politik; Realitas Semu Demokrasi di Indonesia; Kekerasan Seksual dan Budaya Diskriminasi; dan Tak Ada yang Privat dalam Kekerasan Seksual yang ditampilkan dalam segmen halaman muka Sudut Pandang.
 
Saras juga terlibat dalam gerakan konser amal dan koin sastra untuk penyelamatan [[Pusat Dokumentasi Sastra H.B Jassin]] karena adanya pemotongan anggaran operasional dari Pemrpov DKI di era [[Fauzi Bowo]] yang mengangkat keprihatinan seniman Jakarta dan pecinta sastra. Sebagai pengguna aktif media sosial twitter, dia membantu menyuarakan kesadaran akan peran seni sastra dan masalah yang dihadapi lewat akun pribadinya.<ref name="Saras Dewi: Philosophical songs"/><ref>{{cite news|title=Konser Amal untuk PDS HB Jassin|url=http://nasional.kompas.com/read/2011/04/13/0441476/Konser.Amal.untuk.PDS.HB.Jassin|work=kompas.com|date=13 April 2011}}</ref> Pada tahun 2014, dia bersama Walhi dan beberapa artis lokal Bali sama-sama memperjuangkan penolakan reklamasi kawasan hijau Benoa. Dia melihat ada ketidakseimbangan, hancurnya Bali, hilangnya spesies, kehidupan yang tidak seimbang, sampah, limbah, kemacetan dan over populasi yang luar biasa.
 
Dalam kasus pelecehan seksual yang dilakukan penyair, sastrawan dan budayawan [[Sitok Srengenge]], dia juga vokal mengusut dan mendampingi korban yang juga mahasiswi [[Universitas Indonesia]] karena sejak awal korban telah datang kepadanya dan bercerita tentang kasus ini.<ref>{{cite news|title=Perkosa Mahasiswi UI, Sitok Merasa Bersalah tapi Tak Mau Tanggung Jawab|url=http://beritajatim.com/hukum_kriminal/191223/perkosa_mahasiswi_ui,_sitok_merasa_bersalah_tapi_tak_mau_tanggung_jawab.html#.U_Six2Mucn4|work=beritajatim.com|date=30 November 2013}}</ref><ref>{{cite news|title=Korban Sitok Srengenge Diduga Lebih Dari Tiga|url=http://www.kapanlagi.com/showbiz/selebriti/korban-sitok-srengenge-diduga-lebih-dari-tiga-eba4eb.html|work=kapanlagi.com|date=18 Desember 2013}}</ref>
 
Selama 3 bulan, Mei-Juli 2015 mengikuti ''fellowship'' dan riset ke Leiden University.
 
Saras Dewi dipilih oleh Dewan Kesenian Jakarta sebagai penyaji pidato kebudayaan yang berjudul Sembahyang Bhuvana bertempat di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada tanggal 10 November 2018. Dia memaparkan pidato yang berfokus pada problem pengetahuan dan lingkungan hidup yang sedang mengalami krisis.
 
== Diskografi ==
Pengguna anonim