Dinasti Ayyubiyah: Perbedaan antara revisi

Konten dihapus Konten ditambahkan
Tidak ada ringkasan suntingan
Tidak ada ringkasan suntingan
Baris 67:
Pada tahun 1164, Syirkuh ditugaskan oleh [[Nuruddin Zanki]] untuk memimpin pasukan ke Mesir agar [[Tentara Salib]] tidak dapat memperkuat pengaruhnya di wilayah yang sedang dilanda kekacauan tersebut. Syirkuh mengangkat anak laki-laki Ayyub, [[Salahuddin Ayyubi|Salahuddin]], sebagai seorang perwira yang tunduk kepadanya.<ref name="Shillington438">{{harvnb|Shillington|2005|p=438}}</ref> Mereka berhasil mengusir Wazir Dirgham dan mengembalikan wazir Mesir yang sebelumnya, [[Shawar|Syawar]], ke tampuk kekuasaan. Syawar kemudian memerintahkan agar Syirkuh dan pasukannya mundur dari Mesir, tetapi Syirkuh menolak dan mengklaim bahwa Nuruddin ingin agar ia tetap berada di sana.<ref name="LyonsJackson8">{{harvnb|Lyons|Jackson|1982|p=8}}</ref> Dalam kurun waktu beberapa tahun, Syirkuh dan Salahuddin berhasil mengalahkan pasukan gabungan Tentara Salib dan Syawar, mula-mula di [[Bilbais]] dan kemudian di sebuah tempat di dekat [[Giza]]. Salahuddin sendiri ditugaskan untuk mempertahankan kota [[Iskandariyah]] ketika Syirkuh sedang mengejar Tentara Salib di [[Mesir Hilir]].<ref name="LyonsJackson14">{{harvnb|Lyons|Jackson|1982|p=14}}</ref>
 
Syawar tutup usia pada tahun 1169 dan Syirkuh menggantikannya sebagai wazir, tetapi ia menjemput ajalnya pada tahun yang sama.<ref name="LyonsJackson25">{{harvnb|Lyons|Jackson|1982|p=25}}</ref> Salahuddin kemudian diangkat sebagai wazir oleh khalifah [[Kekhalifahan Fatimiyah|Fatimiyah]] [[al-Adid]] karena "tidak ada yang lebih lemah ataupun lebih muda" daripada Salahuddin, dan "tidak ada satu pun amir yang menurutinya atau mengabdi kepadanya", seperti yang dicatat oleh penulis kronik Muslim dari [[Abad Pertengahan]], [[Ibnu al-Atsir]].<ref name="LyonsJackson28">{{harvnb|Lyons|Jackson|1982|p=28}}</ref> Salahuddin kemudian menyadari bahwa kedudukannya menjadi lebih bebas daripada sebelum-sebelumnya, dan hal ini membuat khawatir Nuruddin yang ingin tetap menancapkan pengaruhnya di Mesir. Nuruddin mencoba memicu perpecahan di keluarga Ayyubiyah dengan mengizinkan kakak laki-laki Salahuddin, [[Turansyah]], untuk mendatangi Mesir dan mengawasi Salahuddin. Nuruddin juga memenuhi permintaan Salahuddin agar ayahnya, Ayyub, diperbolehkan pergi ke Mesir. Ayyub sebenarnya dikirim oleh Nuruddin untuk memastikan agar kekuasaan Abbasiyah dapat diproklamirkandiproklamasikan di Mesir, sementara Salahuddin enggan melakukan hal tersebut karena ia sedang mengabdi sebagai wazir Dinasti Fatimiyah. Walaupun Nuruddin gagal memicu permusuhan di antara anggota keluarga Ayyubiyah, kerabat jauh keluarga tersebut (khususnya sejumlah gubernur di Suriah) tidak mendukung Salahuddin.<ref name="Lev96-97">{{harvnb|Lev|1999|pp=96–97}}</ref>
 
Salahuddin mengukuhkan kekuasaannya di Mesir setelah ia mengirim Turansyah untuk memadamkan sebuah pemberontakan di [[Kairo]] yang dikobarkan oleh pasukan [[Nubia]] yang berjumlah 50.000 orang di angkatan darat Fatimiyah. Sesudah itu, Salahuddin mulai menganugerahkan jabatan-jabatan tinggi kepada anggota keluarganya, dan ia juga memperkuat pengaruh Sunni di kota Kairo yang didominasi oleh [[Syiah]] pada masa itu dengan memerintahkan pembangunan madrasah [[fikih]] bermazhab [[Maliki]] di kota tersebut dan satu madrasah lain yang bermazhab [[Syafi'i]] di [[al-Fustat]].<ref name="LyonsJackson41">{{harvnb|Lyons|Jackson|1982|p=41}}</ref> Pada tahun 1171, al-Adid wafat dan Salahuddin memanfaatkan kesempatan ini dengan mengambil alih kekuasaan di Mesir. Setelah itu, ia menyatakan kesetiaannya kepada Kekhalifahan Abbasiyah yang beraliran Sunni dan berpusat di [[Baghdad]].<ref name="Shillington438"/>