Buka menu utama

Perubahan

11 bita ditambahkan ,  4 bulan yang lalu
k
namun (di tengah kalimat) → tetapi
Reformasi-reformasi yang terjadi misalnya pendirian [[seminari|seminari-seminari]] untuk pelatihan [[imam|para imam]] secara tepat dalam kehidupan rohani dan [[Teologi Katolik|tradisi-tradisi teologis]] Gereja, pembaruan [[hidup bakti|kehidupan membiara]] dengan mengembalikan [[tarekat religius|tarekat-tarekat]] kepada landasan-landasan kerohanian mereka, serta gerakan-gerakan kerohanian baru yang berfokus pada kehidupan devosional dan relasi pribadi dengan [[Kristus]], termasuk para [[mistikus Spanyol]] dan [[aliran spiritualitas Prancis]].<ref name="britannica.com">{{en}} {{cite web |url=http://www.britannica.com/EBchecked/topic/140219/Counter-Reformation |title=Counter-Reformation |publisher=Encyclopædia Britannica, Inc.}}</ref>
 
Periode ini juga menyangkut aktivitas-aktivitas politik yang mencakup [[Inkuisisi Roma]]. Salah satu penekanan utama Kontra-Reformasi adalah misi untuk menjangkau bagian-bagian dunia yang pernah menjadi [[Gelombang pertama kolonisasi Eropa|koloni]] yang dominan Katolik dan juga adanya upaya untuk mengubah kembali wilayah-wilayah seperti Swedia dan Inggris yang pernah menjadi wilayah-wilayah dominan Katolik, namuntetapi telah didominasi Protestan pada masa Reformasi Protestan.<ref name="britannica.com"/>
 
Fokus dari berbagai teolog Kontra-Reformasi sebatas pembelaan posisi-posisi doktrinal seperti sakramen-sakramen dan praktik-praktik kesalehan yang ditentang oleh para reformis Protestan,<ref>{{en}} {{Cite news|url=https://www.britannica.com/event/Counter-Reformation|title=Counter-Reformation {{!}} religious history|work=Encyclopedia Britannica|access-date=2017-05-11|language=en}}</ref> hingga berlangsungnya [[Konsili Vatikan II]] pada 1962–1965. Salah satu dari antara "momen-momen paling dramatis" dalam konsili tersebut adalah intervensi dari Uskup Belgia [[:fr:Émile-Joseph De Smedt|Emil de Smedt]]. Saat berlangsungnya diskusi tentang hakikat Gereja, sang uskup menyerukan untuk diakhirinya "klerikalisme, legalisme, dan triumfalisme" yang pernah menjadi karakteristik Gereja pada abad-abad sebelumnya.<ref>{{en}} [http://www.americamagazine.org/issue/404/article/anniversary-thoughts "Anniversary Thoughts" in ''America'', 7 October 2002.]</ref>
 
== Para pendahulu ==
Abad ke-14, ke-15, dan ke-16 merupakan suatu periode kebangunan rohani di Eropa, yang menempatkan pertanyaan seputar [[keselamatan (agama)|keselamatan]] sebagai titik sentral. Gerakan pembaruan ini menjadi dikenal dengan sebutan Reformasi Katolik. Beberapa teolog{{who}} menelusuri kembali ke masa-masa awal Kekristenan dan mempertanyakan spiritualitas mereka. Pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan meluas ke sebagian besar Eropa Barat pada abad ke-15 dan ke-16, sementara para kritikus sekuler{{who}} turut menelaah praktik keagamaan, perilaku klerikal, dan posisi-posisi doktrinal Gereja. Terdapat sejumlah gerakan pemikiran yang bervariasi, namuntetapi gagasan-gagasan reformasi dan pembaruan dipimpin oleh kalangan klerus.{{citation needed|date=April 2015}}
 
Reformasi-reformasi yang diputuskan pada [[Konsili Lateran V]] (1512–1517) hanya menimbulkan sedikit pengaruh.{{citation needed|date=April 2015}} Beberapa posisi doktrinal bergerak semakin menjauh dari posisi resmi Gereja,{{citation needed|date=April 2015}} sehingga mengarah pada perpecahan dengan [[Takhta Suci|Roma]] dan pembentukan denominasi-denominasi Protestan. Kendati demikian, kalangan-kalangan konservatif maupun reformis masih tetap bertahan di dalam [[Gereja Katolik]], bahkan ketika Reformasi Protestan menyebar. Kalangan [[Protestan]] secara definitif keluar dari Gereja Katolik pada tahun 1520-an. Kedua posisi dogmatis yang berbeda di dalam Gereja Katolik diperkukuh pada tahun 1560-an. Reformasi Katolik menjadi dikenal dengan istilah Kontra-Reformasi, yang didefinisikan sebagai reaksi terhadap Protestanisme alih-alih sebagai gerakan reformasi. Sejarawan [[Daniel-Rops|Henri Daniel-Rops]] mengatakan:
{{quote|Bagaimanapun, kendati lazim, istilah {{interp|Kontra-Reformasi|orig=itu}} menyesatkan: tidak dapat diterapkan dengan benar secara logis maupun kronologis pada gairah yang mendadak tersebut, seakan-akan dari sesosok raksasa yang terkejut, untuk upaya peremajaan dan reorganisasi seperti demikian, yang dalam waktu tiga puluh tahun memberikan Gereja suatu penampilan yang sama sekali baru. ... Yang disebut 'kontra-reformasi' itu tidak dimulai dengan Konsili Trento, lama setelah Luther; asal mula dan pencapaian-pencapaian awalnya jauh lebih dahulu daripada ketenaran Wittenberg. Reformasi itu dilakukan bukan dengan cara menanggapi 'para reformis', namun dalam ketaatan pada tuntutan-tuntutan dan prinsip-prinsip yang merupakan bagian dari tradisi Gereja yang tidak dapat diubah serta bersumber dari loyalitas-loyalitas paling mendasar yang dimiliki Gereja.<ref>{{en}} {{cite web |url=http://www.ewtn.com/library/HOMELIBR/ROPSCARE.TXT |title=The Catholic Reformation |author=[[Daniel-Rops|Henri Daniel-Rops]] |publisher=[[EWTN]] |others=Taken from the Fall 1993 issue of ''The Dawson Newsletter''}}</ref>}}
 
Tarekat-tarekat regular melakukan upaya-upaya pertama mereka untuk reformasi pada abad ke-14. 'Bulla Benediktin' tahun 1336 membarui tarekat [[Benediktin]] dan [[Sistersien]]. Pada tahun 1523, [[Kamaldolesi|Pertapa-Pertapa Kamaldolesi dari Monte Corona]] (Er. Cam.) diakui sebagai suatu kongregasi tersendiri para rahib. Pada tahun 1435, Santo [[Fransiskus dari Paola]] mendirikan Para Pertapa Miskin dari Santo Fransiskus dari Assisi, yang kemudian menjadi Frater-Frater [[Minimi (tarekat religius)|Minimi]] (O.M.). Pada tahun 1526, [[Matteo da Bascio]] mengusulkan pembaruan aturan hidup [[Fransiskan]] kepada kemurnian asalinya sehingga melahirkan tarekat [[Ordo Saudara Dina Kapusin|Kapusin]] (O.F.M.Cap.), yang memperoleh pengakuan dari paus pada tahun 1619.<ref name="Péronnet213">{{fr}} Michel Péronnet, ''Le XVe siècle'', Hachette U, 1981, p 213</ref> [[Ordo keagamaan Katolik|Tarekat atau ordo]] ini dikenal baik oleh kaum awam dan memainkan peranan penting dalam pewartaan publik. Untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan baru akan evangelisasi, kaum klerus membentuk [[kongregasi (Katolik)|kongregasi-kongregasi]] religius, mengikrarkan [[kaul religius|kaul-kaul]] khusus tetapi tanpa kewajiban untuk membantu dalam suatu pelayanan religius di [[biara (tempat tinggal)|biara]]. [[Klerus Regular|Klerus regular]] ini mengajar, melakukan pewartaan, dan menerima [[Sakramen Tobat (Gereja Katolik)|pengakuan]], namuntetapi berada di bawah wewenang seorang uskup secara langsung serta tidak terkait dengan wilayah atau paroki tertentu layaknya seorang [[vikaris]] ataupun [[kanonik (imam)|kanonik]].<ref name="Péronnet213"/>
 
Di Italia, kongregasi pertama klerus regular adalah [[Teatin]] (C.R.), yang dibentuk pada tahun 1524 oleh [[Cajetan|Kayetanus]] dan [[Paus Paulus IV|Kardinal Carafa]]. Pendirian itu diikuti dengan pendirian [[Imam-Imam Somaski]] (C.R.S.) pada tahun 1528, [[Barnabit]] pada tahun 1530, [[Ursulin]] (O.S.U.) pada tahun 1535, [[Yesuit]] (S.J.) yang diakui secara kanonis pada tahun 1540, [[Klerus Regular dari Bunda Allah dari Lucca]] (O.M.D.) pada tahun 1583, [[Kamilian]] (M.I.) pada tahun 1584, [[Pastor-pastor Adorno|Imam-Imam Adorno]] (C.R.M.) pada tahun 1588, dan [[Piaris]] (S.P.) pada tahun 1621. Pada tahun 1524,{{clarification needed|reason=It is hard to believe since he was born on 1515.}} sejumlah imam di kota [[Roma]] mulai menjalani kehidupan dalam suatu komunitas yang berpusat pada [[Filipus Neri]]. Mereka melembagakan diri sebagai [[Serikat Oratorian Neri|Oratorian]] (C.O.) dan mendapat pengakuan kepausan sebagai suatu kongregasi pada tahun 1575. Mereka memanfaatkan musik dan nyanyian untuk menarik perhatian umat.<ref name="Péronnet214">Michel Péronnet, p 214</ref>
[[Transubstansiasi]], ajaran bahwa roti dan anggur yang di[[konsekrasi]] [[kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi|benar-benar diubah secara substansial]] menjadi ''[[Tubuh Kristus|tubuh]], [[Darah Kristus|darah]], jiwa, dan [[Kristologi|keilahian]]'' Kristus, juga ditegaskan kembali bersama dengan [[Sakramen (Katolik)|ketujuh sakramen]] Gereja Katolik berdasarkan [[Tradisi Suci]]. Praktik-praktik lain yang menimbulkan kemarahan para reformis Protestan, seperti [[peziarahan Kristen|ziarah]], [[venerasi|penghormatan orang kudus]] dan [[relikui]], penggunaan [[Gambar religius dalam teologi Kristen|gambar dan rupa yang diberkati]], serta [[penghormatan Maria dalam Gereja Katolik|penghormatan Perawan Maria]], mendapat penegasan kembali sebagai praktik-praktik yang terpuji secara rohani.
 
Dalam [[Kanon Trento]], Konsili secara resmi menerima daftar kitab [[Perjanjian Lama]] dalam [[Vulgata]], yang mencakup kitab-kitab [[deuterokanonika]] (juga disebut [[Apokrifa Alkitab|Apokrifa]] oleh pihak Protestan) dalam kesetaraan dengan 39 kitab yang pada umumnya didapati dalam [[Teks Masoret]]. Hal ini menegaskan kembali hasil-hasil dari [[Konsili Roma]] dan [[Konsili Kartago]] (keduanya diadakan pada abad ke-4 M), yang telah menegaskan [[Deuterokanonika|Deuterokanon]] sebagai bagian dari [[Kitab Suci Katolik|Kitab Suci]].<ref>Mengikuti [[Septuaginta]], pihak [[Ortodoks Timur]] umumnya memasukkan kitab-kitab deuterokanonika dengan beberapa kitab tambahan yang tidak ditemukan dalam [[Alkitab Katolik]], namuntetapi kitab-kitab tersebut dipandang sebagai otoritas sekunder. [[Gereja Inggris]] dapat menggunakan Alkitab yang menempatkan kitab-kitab deuterokanonika di antara [[Protokanonika]] Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, tidak dipadukan di antara kitab-kitab Perjanjian Lama yang lain sebagaimana adanya dalam Alkitab Katolik.</ref> Konsili juga menugaskan penyusunan [[Katekismus Roma]], yang berfungsi sebagai pengajaran Gereja yang berwibawa hingga dikeluarkannya ''[[Katekismus Gereja Katolik]]'' pada tahun 1992.
 
Sementara landasan-landasan tradisional Gereja ditegaskan kembali, terdapat perubahan-perubahan nyata untuk menanggapi keluhan-keluhan yang secara tidak langsung bersedia diakui oleh para Kontra-Reformis adalah sahih. Di antara kondisi-kondisi yang perlu diperbaiki oleh para reformis Katolik misalnya melebarnya jurang pemisah antara kaum klerus dengan kaum awam: banyak klerikus di paroki-paroki pedesaan yang berpendidikan rendah. Seringkali para imam pedesaan tersebut tidak menguasai [[bahasa Latin]] dan tidak memiliki kesempatan untuk menerima pendidikan teologi. Bagaimana mengatasi pendidikan para imam telah menjadi salah satu fokus mendasar dari para reformis [[humanisme|humanis]] di masa lalu.
Tarekat Teatin melakukan pengamatan seputar penyebaran bidah dan memberikan kontribusi dalam regenerasi kaum klerus. Tarekat Kapusin, salah satu cabang tarekat [[Fransiskan]] yang dikenal karena pewartaan dan perawatan yang mereka lakukan bagi kaum miskin dan sakit, berkembang dengan pesat. Kelompok-kelompok persaudaraan Kapusin memberi perhatian khusus pada kaum miskin dan menjalani hidup dengan cara yang sangat sederhana. Adanya para anggota tarekat-tarekat yang terlibat aktif dalam perluasan misioner di luar negeri mengekspresikan pandangan bahwa paroki-paroki pedesaan seringkali membutuhkan pemahaman akan iman Kristen sebagaimana halnya pada kaum pagan di Asia dan Amerika.
 
Tarekat Ursulin berfokus pada tugas khusus [[pendidikan perempuan|mendidik anak-anak perempuan]],<ref>{{en}} {{cite web|title=The Ursulines|url=http://www.newadvent.org/cathen/15228b.htm|publisher=Catholic Encyclopedia|accessdate=8 March 2015|quote=A religious order founded by St. Angela de Merici for the sole purpose of educating young girls}}</ref> menjadi tarekat wanita pertama yang mengabdikan diri untuk tujuan tersebut.<ref>{{en}} [[Philip Hughes (sejarawan Katolik)|Philip Hughes]] (1957), ''A Popular History of the Reformation'', 1960 reprint, Garden City, New York: Image Books, Ch. 3, "Revival and Reformation, 1495–1530", Sec. iii, "The Italian Saints", p. 86.</ref> Pembaktian diri pada karya-karya tradisional belas kasih memperlihatkan contoh penegasan kembali Reformasi Katolik akan makna penting [[iman dalam Kekristenan|iman]] dan [[perbuatan baik|perbuatan]], maupun [[keselamatan (Kristen)|keselamatan]] melalui rahmat Allah, serta penolakan terhadap prinsip ''[[sola scriptura]]'' yang ditekankan oleh mazhab-mazhab Protestan. Mereka dipandang tidak sekadar menjadikan Gereja lebih efektif, namuntetapi juga menegaskan kembali premis-premis fundamental dari Gereja Abad Pertengahan.
 
Tarekat Yesuit dianggap sebagai tarekat Katolik baru yang paling efektif pada periode ini. Sebagai pewaris tradisi-tradisi [[devosi Katolik|devosional]], [[Ordo Fratrum Minorum|observantin]], dan [[legalisme (teologi)|legalis]], tarekat tersebut mengorganisasi diri seturut karakteristik 'kemiliteran'. Dikatakan bahwa keduniawian Gereja Renaisans tidak mendapat tempat dalam tarekat baru mereka. ''[[Latihan Rohani]]'', karya besar dari [[Ignatius dari Loyola|St. Ignatius]] pendirinya, menunjukkan penekanan pada karakteristik buku-buku pegangan para reformis Katolik sebelum era [[Reformasi Protestan]], mengingatkan pada praktik-praktik devosional. Para anggota tarekat Yesuit menjadi pewarta, bapa [[Sakramen Tobat (Gereja Katolik)|pengakuan]] dari pangeran dan pemimpin monarki, serta pendidik humanisme.<ref name="Froom">{{en}} {{cite book|last=Froom|first=LeRoy|authorlink=Le Roy Froom|title=The Prophetic Faith of our Fathers| volume= 1| year=1950 | url=http://docs.adventistarchives.org//doc_info.asp?DocID=42770|format={{DjVulink}} and PDF |page=24}}</ref>
Reformasi Katolik tidak dilihat sebagai suatu gerakan yang sekadar berorientasi pada politik dan kebijakan Gereja, tetapi juga sebagai gerakan yang melibatkan tokoh-tokoh besar seperti St. [[Ignatius dari Loyola]], St. [[Teresa dari Ávila]], St. [[Yohanes dari Salib]], St. [[Fransiskus dari Sales]], dan St. [[Filipus Neri]], yang kesemuanya memperkaya [[spiritualitas Katolik|spiritualitas]] dari Gereja Katolik. Santa Teresa dari Avila dan Santo Yohanes dari Salib adalah para pembaru dan [[mistisisme Kristen|mistikus]] Spanyol dari [[Karmelit|Ordo Karmel]], yang karya pelayanannya berfokus pada [[kehidupan batin (teologi Katolik)|konversi batin]] menuju Kristus, pendalaman doa, dan penyerahan diri kepada kehendak Allah. Teresa menerima tugas dari bapa pengakuannya untuk menulis tentang [[Jalan Kesempurnaan|jalan menuju kesempurnaan]] dalam cinta dan persatuan dengan Kristus. Karya-karya tulisnya yang dipublikasikan, terutama autobiografinya yang terbit dengan judul ''Riwayat Hidup St. Teresa'' (judul buku dalam terjemahan Indonesia), dikatakan menghasilkan banyak pengaruh. [[Thomas Merton]] menyebut St. Yohanes dari Salib sebagai yang terbesar di antara semua teolog mistik.<ref>{{en}} {{cite book|title=John of the Cross|chapter=[[Mendaki Gunung Karmel|Ascent of Mount Carmel]]|publisher=Image Books|year=1958|ref=harv}}</ref>
 
Klarifikasi seputar kata "mistik" atau "mistis" dianggap perlu. Ketika seseorang memikirkan definisinya ataupun hakikat dari "mistisisme", kesalahpahaman yang lazim terjadi yaitu apabila seseorang ingin menjadi seorang mistikus maka ia harus mengasingkan diri secara fisik dari dunia luar untuk mendapatkan pengalaman demikian. Kendati pengasingan semacam itu dapat menjadi satu-satunya karya kerasulan yang di dalamnya sejumlah orang dipanggil untuk menjalani suatu kehidupan doa, terdapat orang-orang lain yang terpanggil untuk melakukan karya kerasulan ganda. Yohanes dari Salib melayani sebagai pembimbing rohani sekaligus bapa pengakuan di dalam batas-batas [[tarekat religius tertutup|komunitas tertutup]], yang giat dibentuknya bersama dengan Teresa dari Ávila, namuntetapi ia juga secara harfiah membantu membangun sejumlah [[biara (tempat tinggal)|biara]] itu. Ignatius dari Loyola dan Fransiskus dari Sales terpanggil untuk melakukan karya kerasulan atau spiritualitas yang lebih aktif, tetapi panggilan mereka tidak dipandang sebagai "lawan" dari Teresa dan Yohanes sebagaimana dipaparkan sebelumnya. "Melihat Allah dalam segala hal" adalah satu ungkapan khas Ignatius dan salah satu tema utama dalam ''[[Latihan Rohani]]'' karyanya.<ref>Ignatius dari Loyola: ''Latihan Rohani''</ref>
 
Spiritualitas Filipus Neri, yang tinggal di [[Roma]] pada saat bersamaan dengan Ignatius, juga berorientasi pada praktik aktif, namuntetapi sama sekali berbeda dengan pendekatan tarekat [[Yesuit]] yang didirikan Ignatius. Kata Filipus, "Jika saya mengalami suatu persoalan yang sebenarnya, saya merenungkan apa yang akan dilakukan Ignatius ... dan kemudian saya melakukan apa yang benar-benar kebalikannya." Sebagai pengakuan atas kontribusi bersama mereka pada pembaruan spiritual dalam reformasi Katolik, [[Ignatius dari Loyola]], [[Filipus Neri]], dan [[Teresa dari Ávila]] di[[kanonisasi]] pada hari yang sama, 12 Maret 1622.
 
[[Maria|Perawan Maria]] memainkan satu peranan yang semakin penting dalam [[devosi Katolik]]. Kemenangan di [[Pertempuran Lepanto]] pada 1571 dipandang berkat [[perantaraan para kudus|perantaraan]] Perawan Maria, dan mengindikasikan awal mula dari suatu pembaruan yang intens atas devosi-devosi Marian.<ref>{{de}} Otto Stegmüller: "Barock", Dalam: ''Lexikon der Marienkunde'', Regensburg 1967, 566</ref> Selama dan setelah Reformasi Katolik, praktik kesalehan Marian mengalami pertumbuhan yang tak terduga dengan dihasilkannya lebih dari 500 halaman tulisan mariologis sepanjang abad ke-17 saja.<ref>{{la}} A Roskovany, conceptu immacolata ex monumentis omnium seculorum demonstrate III, Budapest 1873</ref> [[Francisco Suárez]], seorang imam Yesuit, menjadi teolog pertama yang menggunakan metode [[Thomisme|Thomis]] dalam [[Mariologi]]. Kontributor terkenal lainnya bagi spiritualitas Marian misalnya St. [[Laurensius dari Brindisi]], St. [[Robertus Bellarminus]], dan St. [[Fransiskus dari Sales]].
Kanon 8 menyatakan bahwa, "Karena misteri-misteri suci semestinya dirayakan dengan rasa hormat sepenuhnya, dengan perasaan terdalam yang terarah kepada Allah semata maupun dengan penyembahan lahiriah yang benar-benar sesuai dan pantas, sehingga orang-orang lain dapat dipenuhi dengan hormat bakti dan merasa terpanggil untuk beribadah: ... Semuanya seharusnya diatur sehingga Misa, entah dirayakan tanpa ataupun dengan nyanyian, dengan segala sesuatunya dilakukan secara jelas dan lekas, dapat sampai ke telinga para pendengar dan menembus hati mereka dalam kesenyapan. Dalam Misa yang lazim menggunakan organ dan musik berbirama, tidaklah seharusnya hal-hal profan bercampur baur di dalamnya, selain himne-himne dan pujian-pujian ilahi. Jika sesuatu dari ibadah ilahi dinyanyikan dengan organ selagi ibadah berlangsung, hendaknya itu dilantunkan dengan suara yang sederhana dan jernih, demi menghindari ketidakkentaraan pengucapan kata-kata suci. Tetapi keseluruhan cara bernyanyi dalam tangga-tangga nada musikal seharusnya diperhitungkan agar tidak memberikan kesenangan sia-sia pada telinga, sehingga kata-katanya dapat dipahami oleh semua orang. Dengan demikian, hati para pendengar dapat diangkat ke gairah akan harmoni-harmoni surgawi dan kontemplasi sukacita orang-orang yang terberkati."<ref>Monson. 9.</ref>
 
Kanon 8 kerap disitir sebagai dekret Konsili Trento mengenai musik gereja, namuntetapi terdapat suatu kesalahpahaman yang mencolok: kanon 8 hanya merupakan sebuah dekret yang diusulkan. Pada kenyataannya, delegasi-delegasi di Konsili Trento tidak pernah secara resmi menerima kanon 8 dalam wujudnya yang populer itu, tetapi uskup-uskup dari Granada, Coimbra, dan Segovia mendesak agar pernyataan panjang tentang musik tersebut dikurangi dan banyak [[prelat]] lainnya dalam Konsili yang mendukung dengan antusias.<ref>Monson. 10–11.</ref> Batasan-batasan yang ditetapkan pada sesi ke-22 sebatas menjauhkan unsur-unsur sekuler dari musik gereja, menyebabkan polifoni secara implisit diperbolehkan.<ref>Monson. 12.</ref> Isu kejelasan tekstual tampak dalam pembahasan-pembahasan awal dan baru tercantum dalam keputusan-keputusan final sesi ke-22.<ref>Monson. 22.</ref> Sesi ke-22 hanya melarang hal-hal "yang membangkitkan nafsu" dan "profan" bercampur baur dengan musik, namuntetapi Paleotti, dalam keputusan-keputusan yang dibuatnya, mengangkat isu-isu kejelasan tekstual dengan tingkat kepentingan yang setara.<ref>Monson. 24.</ref>
 
Gagasan bahwa Konsili Trento berhimpun untuk menyingkirkan segala bentuk polifoni dari Gereja Katolik telah tersebar luas, namuntetapi tidak terdapat bukti dokumenter untuk mendukung klaim tersebut. Bagaimanapun, mungkin saja beberapa bapa konsili pernah mengusulkan tindakan demikian.<ref>Manzetti. 331.</ref> [[Ferdinand I, Kaisar Romawi Suci]], mendapat kredit sebagai "penyelamat musik gereja" karena ia mengatakan bahwa polifoni seharusnya tidak dihalau keluar dari Gereja. Dikatakan bahwa Ferdinand kemungkinan besar seorang alarmis dan ia melihat adanya kemungkinan polifoni dilarang sepenuhnya melalui Konsili Trento.<ref>Monson. 16.</ref> Konsili Trento tidak berfokus pada gaya musik, tetapi pada sikap-sikap dalam ibadah dan penghormatan selama misa.<ref>Fellerer and Hadas. 576.</ref>
 
==== Legenda penyelamat ====
 
=== Reformasi setelah Konsili Trento ===
Sebagaimana Palestrina yang semasa dengannya, seorang komponis Flandria bernama [[Jacobus de Kerle]] (1531/32–1591) juga mendapat kredit dengan memberikan suatu model komposisi untuk Konsili Trento. Komposisi karyanya dalam empat bagian, ''[[Preces]] Speciales'', menandai "titik balik resmi dari kesempurnaan akapela Kontra Reformasi".<ref>Smith and Dinneen. 45.</ref> Kerle adalah satu-satunya komponis terkemuka Belanda yang bertindak sejalan dengan Konsili Trento.<ref>{{en}} Hugo Leichtentritt. "The Reform of Trent and Its Effect on Music". ''The Musical Quarterly'', Vol. 30, No. 3 (1944). [https://www.jstor.org/stable/739479 in JSTOR]. p. 326.</ref> [[Orlando de Lassus]] (1530/32–1594), raksasa musik lainnya yang dapat disetarakan dengan Palestrina, merupakan tokoh penting dalam sejarah musik kendati bukan seorang puris layaknya Palestrina.<ref>Davey. 56.</ref> Ia mengungkapkan rasa simpati atas apa yang menjadi perhatian Konsili, namuntetapi tetap memperlihatkan kesukaan akan "Misa-Misa Parodi ''chanson''".<ref>Leichtentritt. 326.</ref>
 
Terlepas dari langkanya keputusan-keputusan dari Konsili Trento seputar polifoni dan kejelasan tekstual, reformasi yang merupakan tindak lanjut dari sesi ke-22 mengisi kekosongan yang ditinggalkan Konsili dalam aspek-aspek gaya. Pada sesi ke-24, Konsili memberi wewenang pada "Sinode-Sinode Provinsial" untuk menghasilkan ketentuan-ketentuan seputar musik gereja.<ref>Fellerer and Hadas. 576–577.</ref> Keputusan untuk menyerahkan aplikasi praktis dan persoalan gaya kepada para pemimpin gerejawi setempat dipandang penting dalam membentuk masa depan musik gereja Katolik.<ref>Monson. 27.</ref> Para musikus dan pemimpin gereja setempat dipercayakan untuk menemukan aplikasi yang tepat untuk dekret-dekret Konsili.<ref>{{en}} [[Lewis Lockwood|Lewis H. Lockwood]]. "Vincenzo Ruffo and Musical Reform after the Council of Trent". ''The Musical Quarterly'', Vol. 43, No. 3 (1957), [https://www.jstor.org/stable/740297 in JSTOR]. p. 346.</ref>
268.871

suntingan