Buka menu utama

Perubahan

6 bita ditambahkan ,  3 bulan yang lalu
k
namun (di tengah kalimat) → tetapi
Inilah yang menyulitkan menelusuri sejarah Sunda di wilayah pedalaman (tengah pulau) termasuk Sindangkasih. Sumber-sumber luar seperti dari Catatan Musafir [[Republik Rakyat Tiongkok|China]], [[Portugal|Portugis]] dan [[Arab Saudi|Arab]] bisa menjadi sumber sejarah ([[Protosejarah|Proto-Sejarah]]). Catatan [[Belanda]] bisa menjadi sumber sejarah, karena dianggap bersumber dari dalam negeri. Keberadaan Sindangkasih merujuk wilayah [[Majalengka, Majalengka|Kota Majalengka]] Sekarang ada dalam tulisan catatan Belanda mengenai perjalan selama masa perkebunan kopi: Namun tdak menyebutkan secara jelas bahwa Sindangkasih adalah kerajaan, tetapi Sindangkasih adalah Kota Majalengka sekarang.
 
Kembali ke [[Mandala]] atau [[kabuyutan]]. Sepertinya, Sindangkasih hanya berupa Kamandalaan atau Kabuyutan yang Bercorak Agama [[Hyang]] (Darma), Budha atau Hindu. Meskipun dalam berbagai legenda diceritakan bahwa Nyi Rambut Kasih bergamana Hindu. Berawal dari rencana mengunjungi Kerajaan Talaga, namuntetapi niat ini dibatalkan karena kerajaan Talaga telah beragama Islam.
 
==== Sindangkasih dalam Wilayah Tatar Ukur ====
Berdasarkan data surat dari Rangga Gempol III di atas, menunjukan data bahwa wilayah Sindangkasih (Majalengka kota sekarang) adalah bagian dari [[Kerajaan Sumedang Larang]].
 
Meskipun awalnya Mandala merupakan sebuah tempat suci keagamaan, namuntetapi penyebutannya mencakup ke dalam wilayah yang lebih luas. Kota Majalengka sekarang dahulu disebut Sindangkasih. Hingga abad ke-18 - abad ke-19, Setidaknya dalam buku ''"Tijdschrift voor neërlands indie"'' tahun [[1844]] masih menyebut kota Sindangkasih, bukan Majalengka.<ref>{{Cite book|url=http://hdl.handle.net/2027/coo.31924023011798|title=De redaktie van het Tijdschrift van Neêrland's Indië aan de nagedachtenis van Zijne Excellentie den Luitenant Generaal D.J. de Eerens, Gouverneur van Neêrland's Indië /|date=1840.|publisher=Batavia,}}</ref> kota Majalengka masih disebut Sindangkasih sebagaimana dicatat dalam buku ''"Commentaar § 1-1500. II. Staten en Tabellen"'', 1912 mengaskan bahwa Sindangkasih yang dimaksud adalah Majalengka<ref>Haan, Frederik: ''I. "Commentaar § 1-1500. II. Staten en Tabellen"'', 1912</ref>. Buku ini merupakan komentar atau review sejarah penyerangan Mataram ke [[Batavia]] dari sudut pandang Belanda. Kejadian ini pada 17 Juni 1741. Yang paling tegas menyebutkan pada buku ''"Handleiding bij de beoefening der land- en volkenkunde van Nederlandsch-Oost Indie"'' lebih jelas dan tegas bahwa kota Majalengka sekarang adalah Sindangkasih.<ref>Hollander, J. J. de. "Handleiding bij de beoefening der land- en volkenkunde van Nederlandsch-Oost Indie" Breda, Broese & comp., 1882-1884.</ref><ref>{{Cite web|url=http://digital.staatsbibliothek-berlin.de/werkansicht?PPN=PPN683169181&PHYSID=PHYS_0267&view=fulltext-parallel|title=http://digital.staatsbibliothek-berlin.de/werkansicht?PPN=PPN683169181&PHYSID=PHYS_0267&view=fulltext-parallel|last=Developers|first=SBB|website=digital.staatsbibliothek-berlin.de|access-date=2018-04-04}}</ref>
 
Mengingat cara hidup di lingkungan Mandala lebih berat dari pada cara hidup di lingkungan Nagara, karena lebih banyak aturan yang bersifat keagamaan berupa perintah dan larangan, maka kiranya penduduk Mandala, termasuk orang Sindangkasih -majalengka generasi pertama, merupakan orang-orang pilihan yang memiliki pengetahuan agama, pengalaman rohani dan disiplin diri lebih banyak di bandingkan penduduk Nagara yang umum. Hubungan antara Mandala dan nagara umumnya berlangsung baik, karena kedua pihak saling membutuhkan. Nagara membutuhkan Mandala bagi keperluan dukungan moral dan spiritual serta pemberian do’a restu.
Pada tahun 1482 Masehi, Syeh Syarif Hidayatulloh ([[Sunan Gunung Jati]]) mengembangkan [[Islam]] di [[Jawa Barat]] dengan secara damai. Namun dari sekian banyak Kerajaan di tatar Pasundan hanya Kerajaan Rajagaluh yang sulit ditundukan.
 
Setelah Kerajaan Cirebon memisahkan diri dari wilayah Kerajaan Pajajaran maka pembayaran upeti dan pajak untuk Kerajaan Cirebon dibebeaskan, namuntetapi untuk Kuningan pajak dan upeti masih berlaku. Untuk penarikan pajak dan upeti dari Kuningan Prabu Siliwangi mewakilkan kepada Prabu [[Cakraningrat|Cakra Ningrat]] dari Kerajaan Rajagaluh. Akhirnya Prabu Cakra Ningrat mengutus Patihnya yang bernama Adipati Arya Kiban ke [[Kabupaten Kuningan|Kuningan]], namuntetapi ternyata adipati Kuningan yang bernama adipati Awangga menolak mentah-mentah tidak mau membayar pajak dengan alasan bahwa Kuningan sekarang masuk wilayah Kerajaan Cirebon yang sudah membebaskan diri dari Kerajaan Pajajaran. Sebagai akibat dari penolakannya maka terjadilah perang tanding antara Adipati Awangga dan Adipati Arya Kiban. Dalam perang tanding keduanya sama-sama digjaya, kekuatannya seimbang sehingga perang tanding tidak ada yang kalah atau yang menang. Tempat perang tanding sekarang dikenal sebagai desa ''"Jalaksana"'' artinya jaya dalam melaksanakan tugas.
 
Syeh Syarif Hidayatulloh mengutus anaknya Arya Kemuning yang dikenal sebagai Syeh Zainl Akbar alias Bratakalana untuk membantu Adipati Awangga dalam menghadapi Adipati Arya Kiban. Dengan bantuan Arya Kemuning akhirnya adipati Arya Kiban dapat dikalahkan. Adipati Arya Kiban melarikan diri dan menghilang didaerah Pasawahan disekitar Telaga Remis, sebagian prajuritnya ditahan dan sebagian lagi dapat meloloskan diri ke Rajagaluh. Semenjak kejadian tersebut Kerajaan Rajagaluh segera menghimpun kekuatannya kembali untuk memperkokoh pertahanan menakala ada serangan dari Kerajaan Cirebon.
 
Sebagai pengganti Adipati Arya Kiban ditunjuk Arya mangkubumi, Demang Jaga Patih, Demang Raksa Pura, dan dibantu oleh Patih Loa dan [[Dempu Awang]] keduanya berasal dari dataran Cina. Syeh Syarif Hidayatulloh melihat Kerajaan Rajagaluh berkesimpulan bahwa prajurit Cirebon tidak akan mampu menaklukan Rajagaluh kecuali dengan taktik yang halus. Hal ini mengingat akan kesaktian Prabu Cakraningrat. Akhirnya Syeh Sarif Hidayatulloh mengutus 3 (tiga) orang utusan yakni Syeh Magelung Sakti, Pangeran Santri, Pangeran Dogol serta diikut sertakan ratusan Prajurit. Pengiriman utusan dari Cirebon dengan segera dapat diketahui oleh Prabu Cakra Ningrat, beliaupun segera menugaskan patih Loa dan Dempu Awang untuk menghadangnya. Saat itupun terjadilah pertempuran sengit, namuntetapi prajurit Cirebon dapat dipukul mundur, Melihat prajurit Cirebon kucar-kacir maka majulah Syeh Magelung Sakti, Pangeran Santri dan Pangeran Dogol, terjadilah perang tanding melawan Patih Loa dan Dempu Awang. Perang tanding tidak kunjung selesai karena kedua belah pihak seimbang kekuatannya, yang akhirnya pihak Cirebon mundur dari daerah Rajagaluh.
[[Berkas:Batu Jangkung Rajagaluh.jpg|al=Situ Batu Jangkung peninggalan kerajaan Rajagaluh|jmpl|Situ Batu Jangkung peninggalan kerajaan Rajagaluh]]
Prajurit Cirebon terus menerus berupaya menyerbu kota Rajagaluh. Pertahanan Rajagaluh semakin lemah sehingga Rajagaluh mengalami kekalahan. Prabu Cakra Ningrat sendiri melarikan diri. Sementara anaknya Nyi Putri Indangsari tidak ikut serta dengan ayahnya, Ia pergi kesebelah utara sekarang di kenal dengan Desa Cidenok. Di Cidenok Nyi Putri tidak lama, ia teringat akan ayahnya. Nyi Putri sadar apapun kesalahan yang dilakukan oleh Sang Prabu Cakra Ningrat, sang Prabu adalah ayah kandungnya yang sangat ia cintai, iapun berniat menyusul ayahnya, namuntetapi ditengah perjalanan Nyi Putri dihadang oleh prajurit Cirebon yang dipimpin oleh Pangeran Birawa. Nyi Putri dan pengawalnya ditangkap kemudian diadili. Pengadilan akan membebaskan hukuman bagi Nyi Putri dengan syarat mau masuk islam. Akhirnya semua pengawalnya masuk islam tapi Nyi Putri sendiri menolaknya, maka Nyi Putri Indangsari ditahan disebuah gua. Alkisah menghilangnya Adipati Arya Kiban yang cukup lama akibat kekalahannya oleh Adipati Awangga saat perang tanding, ia timbul kesadarannya untuk kembali ke Rajagaluh untuk menemui Prabu Cakra Ningrat untuk meminta maaf atas kesalahannya. Namun yang ia dapatkan hanyalah puing-puing kerajaan yang sudah hancur luluh. Ia menangis sedih penuh penyesalan. Ia menrenungkan nasibnya dipinggiran kota Rajagaluh. Tempat tersebut sekarang dikenal dengan Batu Jangkung (batu tinggi). Ditempat itu pula akhirnya Adipati Arya Kiban ditangkap oleh prajurit Cirebon, kemudian ditahan/dipenjarakan bersama Nyi Putri Indangsari disebuah gua yang dikenal dengan Gua Dalem yang berada di daerah Kedung Bunder, Palimanan. Dikisahkan bahwa Nyi Putri Indangsari dan Adiapti Arya Kiban meninggal di gua tempat ia dipenjarakan (Gua Dalem), kisah lain keduanya mengilang.<ref>{{Cite web|url=http://kknm.unpad.ac.id/singawada/2013/02/12/sejarah-desa-rajagaluh/|title=sejarah desa rajagaluh : : Blog Desa Singawada|website=kknm.unpad.ac.id|access-date=2018-04-04}}</ref>
 
=== Masa Penjajahan Belanda ===
268.871

suntingan