Jarak (tumbuhan): Perbedaan revisi

6 bita dihapus ,  1 tahun yang lalu
k
Perubahan kosmetik tanda baca
k (namun (di tengah kalimat) → tetapi)
k (Perubahan kosmetik tanda baca)
<!--TOLONG BACA [[Risin]] TERLEBIH DULU; Biji, akar, daun, dan minyak dari bijinya bisa dimanfaatkan untuk kesehatan. Biji jarak yang dibuang kulitnya dan dilumatkan hingga menjadi serbuk dapat ditempel ke tubuh sebagai obat korengan, sedangkan minyak yang diambil dari bijinya bisa diminum untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak dan orang dewasa. Daunnya berkhasiat untuk menyembuhkan batuk dan sesak napas. Akarnya dapat dimanfaatkan untuk menjaga stamina tubuh<ref> Lestari, Ratna Dwi. Pohon Jarak. Percik Yunior Edisi 6. Oktober 2008. ISSN 1978-5429</ref>. -->
 
Bagian tanaman jarak yang dapat dimanfaatkan adalah biji, akar, daun, dan minyak dari bijinya. Secara umum, hampir semua bagian tanaman jarak dapat dipergunakan sebagai obat. Bagian daun digunakan sebagai obat untuk penyakit koreng, eczema, gatal (pruritus), batuk sesak dan hernia. Bagian akar digunakan untuk rematik sendi, tetanus, epilepsy, bronchitis pada anakanak, luka terpukul, TBC kelenjar dan schizophrenia (gangguan jiwa). Bagian biji digunakan untuk mengurangi kesulitan buang air besar (konstipasi), kanker mulut rahim dan kulit (carcinoma of cervix and skin), visceroptosis/gastroptosis, kesulitan melahirkan dan retensi plasenta/ari ari, kelumpuhan otot muka, TBC kelenjar, bisul, koreng, scabies ,infeksi jamur dan bengkak [9]. Biji jarak juga menghasilkan suatu minyak yang disebut dengan minyak jarak atau minyak ricin. Minyak jarak pada umumnya, sering dipergunakan untuk keperluan industri, pengobatan dan militer. Di Indonesia, minyak jarak (castor oil) dipergunakan untuk industri cat, tekstil, serat sintetis, obat-obatan, hingga bahan kosmetik serta bahan bakar roket <ref name=":2">Kumar, A., S. Sharma. (2008). An evaluation of mulipurpose oil seed crop for industrial uses (''Jatropha curcas''): A review. Indsutrial Crops and Products doi:10.1016/j.indcrop</ref>
 
Tanaman ini merupakan sumber [[minyak jarak]], dan mengandung zat [[ricin]], sejenis racun yang mematikan. '''Pohon jarak''' merupakan satu-satunya tumbuhan yang bijinya kaya akan suatu asam lemak hidroksi, yaitu [[asam ricinoleat]]. Kehadiran asam lemak ini membuat [[minyak jarak|minyak biji jarak]] memiliki kekentalan yang stabil pada suhu tinggi sehingga minyak jarak dipakai sebagai campuran [[pelumas]]. Minyak jarak yang memiliki sifat tahan panas ini, selama ini banyak disukai dan dipesan oleh industri pengolahan kosmetik, farmasi, pabrik cat, industri kayu lapis, tekstil, dan lain-lain, baik dari dalam maupun luar negeri. Di negara yang telah maju, minyak jarak digunakan oleh militer sebagai pelumas pesawat terbang dan bahan peledak. Selain itu, minyak jarak digunakan juga sebagai bahan untuk memproduksi sabun sintetis, nilon, tinta, pernis dan cat [11]. Hingga saat ini, biji jarak tetap diperlukan di Indonesia oleh perusahaan farmasi, produsen minyak cat, dan lem dempul perahu, meski produksi dalam negeri yang berkisar 12.000 ton setahun belum mampu memenuhi kebutuhan biji jarak<ref>Soenardi, M., Romli, Djumali, dan Suhadi. (2000). Sistem tanam tumpangsari jarak dan palawija. Laporan Hasil Penelitian. Balitbas: Malang. Hal 18</ref>
Minyak jarak pagar ini dikembangkan dalam produksi biodiesel. Dalam proses produksi biodiesel, selama ini menggunakan metode transesterifikasi konvensional. Pada saat ini dilakukan inovasi dalam produksi yaitu dari bahan baku lebih dahulu diambil minyaknya lalu minyak tersebut dikonversi menjadi biodiesel. Namun untuk minyak non pangan, dengan asumsi bahwa minyak tersebut memang diperuntukkan untuk bahan baku biodiesel, maka dapat dilakukan metode transesterifikasi secara langsung (in situ), dari biji bahan tersebut. Pada tahap ini proses ekstraksi (pengambilan minyak) dan proses reaksi atau konversi minyak menjadi biodiesel dijadikan satu. Dengan harapan penghilangan satu proses yaitu proses pengambilan minyak dihilangkan maka produk biodiesel yang dihasilkan akan lebih murah<ref name=":3" />
 
Dalam proses pengolahan biji jarak menjadi biodiesel, dilakukan dengan beberapa tahap yaitu :
 
1)     Proses Pembuatan ''Crude Jatropha Oil'' (CJO)
2)     Proses Pembuatan Biodiesel
 
- Reaksi Esterifikasi : CJO mempunyai komponen utama berupa trigliserida dan asam lemak bebas. Asam lemak bebas harus dihilangkan terlebih dahulu agar tidak mengganggu reaksi pembuatan biodiesel (reaksi transesterifikasi). Penghilangan asam lemak bebas ini dapat dilakukan melalui reaksi esterifikasi.
 
Pada reaksi ini asam lemak bebas direaksikan dengan metanol menjadi biodiesel sehingga tidak mengurangi perolehan biodiesel. Tahap ini menghasilkan ''Jatropa Oil'' (JO) yang sudah tidak mengandung asam lemak bebas, sehingga dapat dikonversi menjadi biodiesel melalui reaksi transesterifikasi.
 
-Reaksi Transesterifikasi : Reaksi transesterifikasi merupakan reaksi utama dalam pembuatan biodiesel.
 
Pada reaksi ini, trigliserida (minyak) bereaksi dengan metanol dalam katalis basa untuk menghasilkan biodiesel dan gliserol (gliserin). Sampai pada tahap ini, pembuatan biodiesel menggunakan bahan baku alternatif tanaman jarak pagar telah selesai dan dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif pengganti minyak solar <ref name=":3" />
Petani Jabar sebenarnya masih trauma untuk menanam jarak karena sebelumnya sempat mengalami kegagalan dalam pengembangan. Pengembangan tersebut tidak berlanjut karena gagal dalam hal teknologi, pasar, dan sumber daya manusia. Dahulu pemerintah sudah mencoba mengembangkan tanaman jarak dengan melibatkan banyak pihak termasuk BUMN tapi gagal karena tidak ada pasar yang mau menampung. Harganya sangat rendah yaitu hanya Rp 700 per kg. Pengembangan jarak di Jabar sudah terhenti sejak 2010. Salah satu permasalahannya adalah hasil produksinya belum memiliki nilai ekonomis. Melalui anggaran  APBN Dinas Perkebunan Jabar, pengembangan jarak pagar dilakukan selama 2006 – 2009. Saat itu lokasinya meliputi Subang, Cirebon, dan  Kota Banjar. Pengembangannya seluas 630 ha dan ada 54 kebun bibit yang tersebar di beberapa wilayah di Jabar<ref name=":1" />
 
Padahal dalam analisis finansial usaha tani jarak hasil penelitian Indrawanto et al. (2009) untuk luasan areal 10 ha dengan asumsi; populasi tanaman 2.500 pohon/ha, produktivitas maksimum sebesar 7 ton biji kering dicapai umur 5 tahun, periode analisis selama 30 tahun dan nilai discount factor sebesar 12 % dengan harga Rp.1.200,-/kg biji kering menunjukkan usahatani jarak pagar ini layak diusahakan. Hasil analisis sensitivitas ternyata break event point finansial usahatani terjadi apabila harga biji kering jarak Rp.1.000,-. Dari segi analisis finansial agroindustri biodiesel ternyata prospek agroindustri biodiesel dalam skala kecil hasil 100 l minyak jarak kasar (''crude jatropha oil'') selama 5 jam juga layak dilaksanakan dengan kondisi break event point harga biodiesel sebesar Rp.6.540,-/l dengan asumsi kondisi lainnya tetap. Namun demikian, perkembangan produksi yang terjadi di tingkat petani tidak sesuai dengan yang diprediksi oleh karena berbagai masalah dan kendala sebagai berikut :
 
a. Komponen teknologi seperti: varietas, budidaya, pasca panen dan alat pengolahan yang masih dalam taraf penelitian. Sebagai contoh, varietas yang dihasilkan ternyata produktivitas per hektar masih rendah dengan kesesuaian lahan yang belum jelas, sehingga apa yang dihasilkan saat ini belum layak untuk diolah menjadi biodiesel.
 
=== 1. Karakteristik Minyak Jarak ===
Sifat fisik dan kimia minyak jarak, memenuhi persyaratan sebagai pelumas dasar kecuali pada persyaratan bilangan penyabunan dan pour point. Karakteristik tersebut adalah : kerapatan 0,9157 kg/m3 ; flash point 270<sup>o</sup> C ; pour point 0<sup>o</sup> C ; viskositas 40<sup>o</sup> C (cSt) 34,17 ; viskositas 100<sup>o</sup> C (cSt) 7,95 ; viskositas indeks 217 ; indeks bias 25<sup>o</sup> C 1,4655 ; bilangan penyabunan 96,7 mg KOH/gr dan bilangan iod 108,5 gr/100 gr. 2. Sifat kimia dan fisik hasil pengujian FTIR dan GC menunjukkan perlunya perbaikan sifat fisik dan kimia minyak jarak pagar. Beberapa contoh modifikasi yang dapat dilakukan adalah interesterifikasi dengan minyak nabati yang lebih baik, blending dengan ester sintestis untuk meningkatkan sifat bahan pelumas pada temperatur rendah, mengurangi ketidakjenuhan sehingga minyak menjadi lebih stabil <ref>Akbar E, Z. Yaakob, S.K. Kamarudin, M. Ismail, J. Salimon, (2009). Characteristic and Composition of Jatropha Curcas Oil Seed from Malaysia and its Potential as Biodiesel Feedstock Feedstock. European Journal of Scientific Research. Vo. 29 (3):396-403.</ref>
 
 
268.871

suntingan