Hukum kemanusiaan internasional: Perbedaan revisi

k
Perubahan kosmetik tanda baca
k (Perubahan kosmetik tanda baca)
 
== Hukum Jenewa ==
 
Pembantaian penduduk sipil di tengah berlangsungnya konflik bersenjata merupakan hal yang mempunyai sejarah yang panjang dan gelap. Sejumlah contoh dapat dikemukakan, antara lain: pembantaian kaum [[Kalinga]] oleh [[Ashoka]] di India; pembantaian sekitar 100.000 orang Hindu oleh pasukan Muslim [[Tamerlane]]; atau pembantaian kaum Yahudi dan Muslim oleh [[Tentara Salib]] dalam [[Pengepungan Yerusalem (1099)]]. Ini hanyalah beberapa contoh yang dapat diambil dari daftar panjang dalam sejarah. Fritz Munch merangkum praktik militer dalam sejarah hingga tahun 1800 dengan kalimat singkat sebagai berikut: “Hal-hal yang esensial tampaknya adalah sebagai berikut: dalam pertempuran dan di kota-kota yang berhasil direbut dengan kekuatan, maka kombatan dan non-kombatan dibunuh dan harta benda dihancurkan atau dijarah.<ref>"Fritz Munch , History of the Laws of War, in: R. Bernhardt (ed.), Encyclopedia of Public International Law Volume IV (2000), hal. 1386-8.</ref> Pada abad ke-17, [[Hugo Grotius]], seorang ahli hukum Belanda, menulis, “Tak dapat disangkal bahwa perang, demi mencapai tujuannya, pasti menggunakan kekuatan dan teror sebagai cara paling utama.”<ref>[http://www.constitution.org/gro/djbp_301.htm Grotius, Book 3, Chapter 1:VI.]</ref>
 
=== Norma-norma Humaniter dalam sejarah ===
268.871

suntingan