Buka menu utama

Perubahan

31 bita dihapus ,  6 bulan yang lalu
k
Perubahan kosmetik tanda baca
 
== Basis fundamental ajaran Buddha ==
Ajaran Buddha dalam perkembangannya memiliki cakupan yang sangat luas. Dalam tinjauannya, ajaran Buddha pada masa-masa awal dapat direduksi menjadi beberapa fondasi dasar yakni : empat kebenaran mulia, jalan mulia berunsur delapan (jalan tengah), kamma, dan kelahiran berulang atau punnabhawa.<ref name=":2">{{Cite web|url=https://www.accesstoinsight.org/ptf/dhamma/sacca/index.html|title=Four Noble Truths: cattari ariya saccani|website=www.accesstoinsight.org|language=en|access-date=2017-10-18}}</ref><ref>{{Cite news|url=https://www.britannica.com/topic/Four-Noble-Truths|title=Four Noble Truths {{!}} Definition & Facts|newspaper=Encyclopedia Britannica|language=en|access-date=2017-10-18}}</ref>
 
====== Empat Kebenaran Mulia ======
{{utama|Empat Kebenaran Mulia}}
Salah satu ajaran dasar Buddha dikenal sebagai Empat Kebenaran Mulia. Empat Kebenaran Mulia merupakan ajaran Buddha mengenai ''Dukkha'' atau penderitaan.<ref>{{Cite web|url=https://www.accesstoinsight.org/ptf/dhamma/sacca/sacca1/dukkha.html|title=Dukkha|website=www.accesstoinsight.org|language=en|access-date=2017-10-18}}</ref> Menurut ajaran Buddha, untuk menghindari ''dukkha'', maka manusia harus memahami empat kebenaran mulia yaitu :<ref name=":0">{{Cite web|url=http://www.bbc.co.uk/religion/religions/buddhism/beliefs/fournobletruths_1.shtml|title=BBC - Religions - Buddhism: The Four Noble Truths|access-date=2017-10-18}}</ref><ref>{{Cite news|url=https://www.thoughtco.com/life-is-suffering-what-does-that-mean-450094|title=What Buddhists Really Mean by 'Life Is Suffering'|newspaper=ThoughtCo|access-date=2017-10-18}}</ref><ref name=":1">{{Cite web|url=https://thebuddhistcentre.com/text/four-noble-truths|title=Four Noble Truths {{!}} The Buddhist Centre|website=thebuddhistcentre.com|language=en|access-date=2017-10-18}}</ref>
# '''Kebenaran tentang penderitaan (dukkha)''' : Dalam ''Dhammacakkappavattana Sutta'' dijelaskan bahwa dukkha meliputi lima proses atau aspek yang dialami manusia di dunia, yaitu : kelahiran , proses penuaan, hingga kematian; kesedihan serta keputus-asaan; disatukan dengan yang tidak dicintai; perpisahan dengan yang dicintai; dan tidak memperoleh yang diinginkan; kelima hal yang melekat pada diri manusia tersebut adalah dukkha.<ref name=":0" /><ref name=":1" /><ref>{{Cite web|url=https://www.accesstoinsight.org/ptf/dhamma/sacca/sacca1/index.html|title=The First Noble Truth: The Noble Truth of dukkha|website=www.accesstoinsight.org|language=en|access-date=2017-10-18}}</ref>
# '''Kebenaran tentang asal mula penderitaan (samudaya''') :Samudaya secara harafiah berarti sebab. Setiap penderitaan di dunia ini menurut ajaran Buddha memiliki sebab, contohnya : penyebab seorang manusia dilahirkan kembali adalah adanya keinginan untuk hidup. Sumber dari dukkha atau penderitaan menurut ajaran Buddha adalah ''tanhâ'', yaitu nafsu keinginan yang tidak ada habis-habisnya. Nafsu ini dibagi terwujud dalam tiga bentuk yang disebut sebagai tiga akar kejahatan yang didalamnya terdapat keserakahan, kebodohan, dan kebencian.<ref name=":2" /><ref name=":0" /><ref name=":3">Emmanuel M. Steven (2013). ''A Companion to Buddhist Philosophy''. Willey-Blackwell. hlm 13-46</ref>
# '''Kebenaran tentang terhentinya penderitaan (nirodha)''' :Kebenaran mulia yang ketiga berkaitan dengan teori tentang terhentinya dukkha. Menurut ajaran Buddha, cara menghentikan penderitaan atau dukkha ialah dengan menghentikan sumber dari penderitaan tersebut, yaitu ''tanhâ'' yang dibahas pada kebenaran mulia yang kedua. Secara singkat, jika kita menghentikan sebab maka tidak akan ada akibat yang kita peroleh dari dukkha itu sendiri.<ref>{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/437204503|title=An Introduction to Buddhist Philosophy.|last=J.|first=Laumakis, Stephen|date=2008|publisher=Cambridge University Press|isbn=9780511385896|location=Leiden|oclc=437204503}} Hlm. 57. "The Third Noble Truth is concerned with the cessation of dukkha and is rather straightforward and obvious in theory, if not in practice. According to the Buddha, the way to stop dukkha is to stop its cause, tanha. In short, if you want to avoid the fruit of an action or intention, avoid the action or ....."</ref> Setelah terbebas dari dukkha, maka kita akan menuju nirvana ; ketiadaan yang abadi.<ref>{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/7835226|title=Selfless persons : imagery and thought in Theravāda Buddhism|last=1951-|first=Collins, Steven,|date=1982|publisher=Cambridge University Press|isbn=9780521397261|location=Cambridge|oclc=7835226}} Hlm.82-84</ref><ref>{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/15790547|title=Linguistic approach to Buddhist thought|last=1915-|first=Sasaki, Genjun,|date=1986|publisher=Motilal Banarsidass|isbn=9788120800380|location=Delhi|oclc=15790547}} Hlm. 124-125</ref>
# '''Kebenaran tentang jalan menuju terhentinya penderitaan (magga) :''' Kebenaran mulia yang terakhir berkaitan dengan jalan atau praktik penghentian dukkha.<ref name=":3" /> Jalan ini dinamakan jalan tengah atau jalan mulia berunsur delapan.
 
====== Jalan Mulia Berunsur Delapan ======
{{utama|Jalan Mulia Berunsur Delapan}}
Jalan mulia berunsur delapan merupakan jalan penghentian ''dukkha'' yang juga termasuk dalam kebenaran keempat dari empat kebenaran mulia''.'' Delapan jalan ini dapat dikelompokan dalam tiga aspek yakni :<ref name=":3" />
* Kebijaksanaan (''Panna''), terdiri dari Pengertian Benar (''sammä-ditthi'') dan Pikiran Benar (''sammä-sankappa'').
* Kemoralan (''Sila''), terdiri dari Ucapan Benar (''sammä-väcä''), Perbuatan Benar (sammä-kammanta''), dan Pencaharian Benar (''sammä-ajiva'').''
* Konsentrasi (''Samädhi''), terdiri dari Daya-upaya Benar (''sammä-väyäma''), Perhatian Benar (''sammä-sati''), dan Konsentrasi Benar (''sammä-samädhi'').
Kedelapan jalan ini dapat ditabulasikan sebagai berikut :
 
{| class="wikitable"
 
====== Kelahiran kembali (punabhava) ======
Kelahiran kembali (Pali : ''Punabbhava'') merupakan suatu proses menjadi ada/eksis atau lahir kembali dari suatu makhluk hidup di kehidupan mendatang (setelah ia meninggal/mati). Proses ini berkaitan dari kamma (perbuatannya) suatu individu pada kehidupan lampau.<ref>Tim, Bhagavant.com. [http://bhagavant.com/home.php?link=dhamma_sari&n_id=75 "Punabhava (Kelahiran Kembali)"]. Diakses tanggal 21-10-2017.</ref> Terjadinya kelahiran kembali pada suatu makhluk mengindikasikan bahwa makhluk tersebut masih memiliki keterikatan duniawi. Ajaran Buddha mengajarkan untuk menghindari kelahiran kembali melalui jalan mulia berunsur delapan.<ref name=":3" />
 
== Perkembangan mazhab Buddha dalam kajian filsafat ==
[[Berkas:Sermon in the Deer Park depicted at Wat Chedi Liem-KayEss-1.jpeg|kiri|jmpl|Lukisan Sang [[Siddhartha Gautama|Buddha Gautama]] saat memberikan khotbah.]]
Theravada secara harafiah berarti, "Ajaran Sesepuh" atau "Pengajaran Dahulu". [[Theravada]] merupakan ajaran yang konservatif, dan secara menyeluruh merupakan ajaran terdekat dengan ajaran Buddha pada awalnya.<ref>Emmanuel M. Steven (2013). [https://books.google.co.id/books/about/A_Companion_to_Buddhist_Philosophy.html?id=P_lmCgAAQBAJ&redir_esc=y ''A Companion to Buddhist Philosophy''.] Willey-Blackwell. hlm 72-85. "The title “Theravāda” is Pāli language, meaning “doctrine (vāda) of the Elders ...(thera),”
</ref> Ajaran Theravada berakar pada ontologi yang realistis terhadap alam semesta. Dalam definisi ini, pemikir , pikiran dan objek yang dipikirkan merupakan entitas yang keadaannya tidak saling berkaitan, sehingga objek merupakan hal yang nyata dan bukanlah produk pemikiran dari subjek pemikir.<ref name=":12">{{Cite web|url=http://www.advaitayoga.org/advaitayogaarticles/buddhistschools.html|title=Buddhist beliefs: Theravada (Hinayana) and Mahayana schools of philosophy.|website=www.advaitayoga.org|access-date=2017-10-21}}</ref> Namun menurut pandangan [[Theravada]], objek dan dunia ini tidak memiliki keadaan yang mutlak. Setiap objek dalam kajian Theravada memiliki ketergantungan dengan objek yang lainnya. Seperti contoh pasir berasal dari kerikil, kerikil berasal dari batu, batu berasal dari magma dan seterusnya, sehingga dunia ini, secara keseluruhan dalam pandangan Theravada hanya memiliki realitas yang relatif dan bukan absolut. Keadaan dunia yang memiliki realitas saling bergantung ini dinamakan ''[[Paticcasamuppada]]'' atau hukum sebab musabab.<ref>{{Cite web|url=http://www.buddhism-guide.com/buddhism/pratitya-samutpada.htm|title=Buddhism / pratitya-samutpada|website=www.buddhism-guide.com|access-date=2017-10-21}}</ref> Tujuan spiritual dari pengertian ini adalah untuk menyadari bahwa dunia ini hanyalah aliran semu dari berbagai objek terhadap waktu. Dengan kesadaran ini manusia diharapkan dapat terbebas dari nafsu dan kemudian terbebas dari ''dukkha'' dan penderitaan, sehingga kemudian mencapai [[Nirwana|''nibbana'']] .<ref name=":12" />
 
Dalam bahasan metafisika lainnya, kajian-kajian yang berkaitan dengan Theravada membedakan jenis kebenaran menjadi dua; yakni kebenaran konvensional dan kebenaran akhir (''ultimate''). Kebenaran konvensional menurut kajian Theravada merupakan kebenaran yang membuat kita berhasil melakukan suatu tindakan, sedangkan kebenaran akhir merupakan kebenaran yang berkaitan dengan cara alam semesta bekerja atau ilmu alam.<ref name=":17">{{Cite book|url=https://plato.stanford.edu/archives/spr2017/entrieswotruths-india/|title=The Stanford Encyclopedia of Philosophy|last=Thakchoe|first=Sonam|date=2017|publisher=Metaphysics Research Lab, Stanford University|editor-last=Zalta|editor-first=Edward N.|edition=Spring 2017}}</ref><ref name=":13" /> Pada pandangan metafisika yang berkaitan dengan eksistensi, telah disebutkan bahwa kajian Theravada memandang suatu objek, fenomena, dan subjek pemikir merupakan entitas yang terpisahkan atau independen. Berkaitan dengan eksistensi objek, fenomena dan subjek pemikir tersebut, kajian Theravada juga mengelompokan objek yang ada di dunia menjadi dua jenis; Objek yang nyata secara konvensional (''conventionally-real)'' dan Objek nyata primer (''ultimate-real)''.<ref name=":13" /> Objek yang nyata secara konvensional objek yang memiliki penyusun seperti tubuh manusia, rumah, pesawat dan lain sebagainya, sementara objek yang nyata primer (''ultimate-real'') terdiri dari empat unsur yakni : air, tanah, udara, dan api. Terdapat pula objek nyata primer yang tidak berbentuk fisis dalam definisi kajian Theravada seperti perasaan, kemauan, dan kesadaran.<ref name=":17" /><ref name=":13" />
 
====== Mahayana ======
{{utama|Buddha Mahayana}}
Sementara ajaran Mahayana sering dikaitkan dengan ontologi idealis.<ref name=":12" /><ref name=":13">Emmanuel M. Steven (2013). [https://books.google.co.id/books/about/A_Companion_to_Buddhist_Philosophy.html?id=P_lmCgAAQBAJ&redir_esc=y ''A Companion to Buddhist Philosophy''. Willey-Blackwell]. hlm 129-222</ref> [[Ontologi]] [[Idealisme|idealistis]] menyatakan objek dalam realita merupakan produk kesadaran. Sehingga dapat dikatakan objek-objek di dunia ini merupakan objek semu karena bergantung pada kesadaran terhadap setiap individu atau subjek pemikir.<ref>{{Cite book|url=https://plato.stanford.edu/archives/fall2015/entries/idealism/|title=The Stanford Encyclopedia of Philosophy|last=Guyer|first=Paul|last2=Horstmann|first2=Rolf-Peter|date=2015|publisher=Metaphysics Research Lab, Stanford University|editor-last=Zalta|editor-first=Edward N.|edition=Fall 2015}}</ref> Dalam kajiannya secara umum, ajaran Buddha Mahayana memiliki dua aliran yakni : [[Madhyamaka]] dan [[Yogacara]].
 
Pemikir awal dan sering juga disebut sebagai pencetus dari aliran Madhyamaka adalah [[Nagarjuna]]. Nagarjuna menulis banyak risalah tentang kajian filsafat dalam ajaran Buddha. Salah satunya adalah ''Mula-madhyamaka-karika'' yang merupakan literatur kunci dari bahasan Madhyamaka.<ref name=":13" /> Pokok dari bahasan filsafat ajaran Madhyamaka adalah gagasan dalam ajaran Buddha bahwa, setiap individu dan kejadian yang terjadi di dunia ini sejatinya tanpa esensi ''(svabaha'' dan ''sunyata'').<ref>{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/57245990|title=The center of the sunlit sky : Madhyamaka in the Kagyü tradition : including a translation of Pawo Rinpoche's commentary on the knowledge section of Śāntideva's The entrance to the Bodhisattva's way of life (Bodhicaryāvatāra)|last=Karl.|first=Brunnhölzl,|date=2004|publisher=Snow Lion Publications|isbn=9781559392181|location=Ithaca, N.Y.|oclc=57245990}} Hlm. 590 "To the contrary, it is precisely the fact of their emptiness—their lack of solid and independent existence—that allows for the unimpeded and dynamic flow of the dependent origination of conditioned phenomena. As Nagarjuna says....."</ref> Nagarjuna menggambarkan pemikirannya sebagai jalan tengah diantara dua kajian ekstrim. Nagarjuna menolak pandangan eternalisme yakni pandangan yang menyatakan bahwasannya suatu realitas yang tidak bergantung waktu ; masa lalu masih ada dan masih berjalan, masa kini sedang berjalan, masa depan telah ada dan telah berjalan.<ref name=":13" /><ref>{{Cite book|url=https://plato.stanford.edu/archives/fall2016/entriesime/|title=The Stanford Encyclopedia of Philosophy|last=Markosian|first=Ned|last2=Sullivan|first2=Meghan|last3=Emery|first3=Nina|date=2016|publisher=Metaphysics Research Lab, Stanford University|editor-last=Zalta|editor-first=Edward N.|edition=Fall 2016}}</ref> Nagarjuna juga menolak gagasan [[nihilisme]] berkaitan dengan kekosongan (''sunyata'') mutlak bahwa setiap fenomena yang terjadi didunia tidak memiliki inti dan merupakan sesuatu yang semu. Menurut Nagarjuna kesemua entitas dan fenomena yang ada dan terjadi di dunia ini nyata namun bersifat sementara. Pandangan inilah kemudian disebut sebagai jalan tengah.<ref name=":13" /><ref>{{Cite book|url=https://books.google.co.id/books/about/Nagarjuna_s_Philosophy.html?id=h-Mslj917EsC&redir_esc=y|title=Nagarjuna's Philosophy: As Presented in the Maha-Prajnaparamita-Sastra|last=Ramanan|first=K. Venkata|date=1987|publisher=Motilal Banarsidass Publ.|isbn=9788120802148|language=en}} Hlm 60.</ref> Sementara pandangan Yogacara menolak gagasan realisme dari Theravada dan kesementaraan fenomena-objek yang ditawarkan Mahayana.<ref name=":14">{{Cite news|url=https://www.britannica.com/topic/Yogachara|title=Yogachara {{!}} Buddhist school|newspaper=Encyclopedia Britannica|language=en|access-date=2017-10-22}}</ref> Ajaran Yogacara menekankan pembahasan suatu fenomena-objek di alam semesta harus melalui pikiran(''citta'') dan kesadaran(''vijnana'') manusia.<ref name=":13" /><ref name=":14" /><ref>{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/72868510|title=Buddhism as philosophy : an introduction|last=1946-|first=Siderits, Mark,|date=2007|publisher=Ashgate|isbn=9780872208735|location=Aldershot, England|oclc=72868510}} Hlm. 147</ref> Dalam ajaran Yogacara, realitas termasuk didalamnya yaitu, objek dan fenomena yang dapat dirasakan manusia, bukanlah sesuatu yang nyata, karena hal tersebut dihasilkan oleh kesadaran manusia; kesadaran manusia merupakan hal yang nyata dan juga sementara dalam ajaran ini.<ref name=":13" /><ref name=":14" /> Selain kesadaran manusia, hal lain yang dipandang sebagai sesuati yang nyata dalam ajaran Yogacara adalah kekosongan (''sunyata).''<ref name=":14" />
 
====== Tibet ======
Ajaran Buddha di Tibet merupakan perkembangan lebih lanjut dari ajaran Mahayana; aliran Madhamaka dan Yogacara. Juga dalam perkembangannya terdapat pengaruh dari kepercayaan lokal ''[[Bön]]''.<ref name=":15">{{Cite web|url=http://www.bbc.co.uk/religion/religions/buddhism/subdivisions/tibetan_1.shtml|title=BBC - Religions - Buddhism: Tibetan Buddhism|access-date=2017-10-22}}</ref> Ajaran Buddha mulai berpengaruh di Tibet pada masa pemerintahan Raja [[Songtsen Gampo|Songtsän Gampo]] sekitar tahun 641 M. Lebih lanjut, ajaran Buddha di Tibet berkembang menjadi empat aliran yang dikenal secara umum yakni :<ref name=":15" /><ref>{{Cite web|url=http://www.iep.utm.edu/tibetan/|title=Tibetan Philosophy {{!}} Internet Encyclopedia of Philosophy|website=www.iep.utm.edu|language=en-US|access-date=2017-10-22}}</ref>
# ''Nyingma'' : Nyingma merupakakan aliran Buddha tertua di Tibet. Menurut ajaran Nyingma inti atau esensi dari setiap makhluk adalah kesadaran.<ref name=":15" /><ref>{{Cite book|url=https://www.worldcat.org/oclc/828834208|title=Tibetan Buddhism : a very short introduction|last=Matthew.|first=Kapstein,|isbn=9780199735129|location=Oxford|oclc=828834208}} Hlm 29-44</ref><ref>{{Cite news|url=https://www.thoughtco.com/nyingma-school-450169|title=History, Overview of Nyingmapa, the Oldest School of Tibetan Buddhism|newspaper=ThoughtCo|access-date=2017-10-22}}</ref>
# ''[[Sakya (aliran)|Sakya]]'' : Sakya memiliki bahasan yang erat kaitannya dengan literatur-literatur [[Wajrayana|Tantra]].<ref>{{Cite web|url=http://kagyuoffice.org/buddhism/buddhism-in-tibet/the-sakya-school/|title=The Sakya School {{!}} Karmapa – The Official Website of the 17th Karmapa|website=kagyuoffice.org|language=en-US|access-date=2017-10-22}}</ref> Sakya menekankan anti-realisme dalam pembahasan fenomena-objek di dunia.<ref>{{Cite book|url=https://books.google.co.id/books/about/Recognizing_Reality.html?id=_zv_zyIEtckC&redir_esc=y|title=Recognizing Reality: Dharmakirti's Philosophy and Its Tibetan Interpretations|last=Dreyfus|first=Georges B. J.|publisher=SUNY Press|isbn=9781438401546|language=en}} Hlm. 2</ref>
# ''[[Kagyu]]'' : Kagyu memiliki doktrin utama yang dinamakan [[Mahamudra]]. Mahamudra merupakan gabungan teknik meditasi dan Yoga yang dipercaya dapat memberikan kita persepektif terhadap kehampaan (''sunyata).''<ref>{{Cite news|url=https://www.thoughtco.com/kagyu-oral-transmission-school-450168|title=Introduction to the Kagyu School of Tibetan Buddhism: History and More|newspaper=ThoughtCo|access-date=2017-10-22}}</ref><ref>{{Cite web|url=http://kagyuoffice.org/kagyu-lineage/|title=Kagyu Lineage {{!}} Karmapa – The Official Website of the 17th Karmapa|website=kagyuoffice.org|language=en-US|access-date=2017-10-22}}</ref>
# ''[[Gelug]]'' : Gelug merupakan aliran yang erat kaitannya dengan Dalai lama.<ref>{{Cite news|url=https://www.thoughtco.com/the-gelug-school-of-tibetan-buddhism-449627|title=Background on the Gelug or Geluk School of Tibetan Buddhism|newspaper=ThoughtCo|access-date=2017-10-22}}</ref> Di antara aliran lainnya, Gelug merupakan aliran yang paling menekankan pembelajaran filsafat. Bahasan filsafat yang ditekankan terkait ajaran Buddha di antaranya : [[Prajnaparamita]], [[Madhyamaka]], Pramana, [[Abhidharma]] dan [[Vinaya Piṭaka|Vinapa]].<ref>{{Cite web|url=http://kagyuoffice.org/buddhism/buddhism-in-tibet/the-gelug-school/|title=The Gelug School {{!}} Karmapa – The Official Website of the 17th Karmapa|website=kagyuoffice.org|language=en-US|access-date=2017-10-22}}</ref>
Ajaran Buddha di Tibet merupakan perkembangan lebih lanjut dari aliran [[Mahāyāna|Mahayana]]. Sehingga, dalam menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan bahasan filsafat, ajaran Buddha di Tibet menggunakan persepektif yang serupa dengan aliran Mahayana; Menekankan aspek kesadaran individu dalam setiap pembahasan fenomena-objek yang terjadi di dunia.<ref name=":13" /> Selain itu [[Wajrayana|Vajrayana]] yang merupakan aliran Buddha yang erat kaitannya dengan literatur [[Tantra]], juga memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan ajaran Buddha di Tibet, baik dari bahasan filsafat maupun praktik seperti yoga dan meditasi.<ref name=":13" /><ref>{{Cite news|url=https://www.britannica.com/topic/Vajrayana|title=Vajrayana {{!}} Buddhism|newspaper=Encyclopedia Britannica|language=en|access-date=2017-10-22}}</ref>
 
====== Asia Timur ======
Serupa dengan perkembangan di Tibet, perkembangan ajaran Buddha di Asia Timur (Tiongkok, Jepang , dan Korea) merupakan kelanjutan dari mazhab Mahayana dan erat kaitannya dengan literatur-literatur [[Wajrayana|Tantra]].<ref name=":16">Emmanuel M. Steven (2013). [https://books.google.co.id/books/about/A_Companion_to_Buddhist_Philosophy.html?id=P_lmCgAAQBAJ&redir_esc=y ''A Companion to Buddhist Philosophy''. Willey-Blackwell]. hlm 110-125</ref><ref>{{Cite web|url=http://www.buddhanet.net/e-learning/buddhistworld/east-asia.htm|title=The Buddhist World: Buddhism in East Asia - China, Korean, Japan.|website=www.buddhanet.net|access-date=2017-10-22}}</ref> Sehingga bahasan yang berkaitan dengan filsafat pada umumnya memiliki inti yang serupa dengan ajaran Buddha [[Mahāyāna|Mahayana]], meskipun dalam kelanjutannya terdapat berbagai variasi. Variasi ini berkaitan dengan pengaruh kepercayaan atau ajaran lokal yang telah berkembang seperti [[Agama Khonghucu|Konfusianisme]] dan [[Taoisme]].<ref name=":16" /> Mazhab filsafat Buddha di Asia Timur juga nantinya akan berkembang menjadi beberapa aliran; di antaranya yang dikenal secara luas : aliran ''Huayan'', aliran ''[[Zen]]'' atau ''Chan'', dan aliran ''[[Tiantai]].''<ref name=":16" /><ref>{{Cite web|url=http://www.buddhanet.net/e-learning/buddhistworld/china-txt.htm|title=Buddhist Studies: Mahayana Buddhism: Chinese|website=www.buddhanet.net|access-date=2017-10-22}}</ref>
 
== Isu kontemporer dan aplikasi ==
</ref>
 
Untuk memperoleh kesehatan; menyembuhkan diri dan menghindarkan diri dari penyakit fisik, manusia mengembangkan ilmu [[biomedis]]. Namun dalam perkembangan ilmu biomedis terdapat fenomena-fenomena yang cenderung kontroversial karena dianggap tidak lumrah atau bahkan bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, seperti contoh : [[aborsi]], [[Eutanasia|euthanasia]], dan donor organ. Seperti halnya etika lingkungan, permasalahan yang berkaitan dengan biomedis dan bioetika merupakan permasalahan zaman modern, sehingga membutuhkan kajian lebih lanjut dari ajaran Buddha untuk memahami bagaimana sebenarnya pandangan Buddha terhadap permasalahan ini.
 
Pada kasus aborsi, seperti masyarakat pada umumnya, terdapat pro kontra di kalangan umat Buddha terhadap tindakan ini. Umat dan pemuka ajaran Buddha konservatif menyatakan bahwa aborsi merupakan tindakan yang berkaitan dengan pembunuhan sehingga bertentangan dengan ajaran Buddha seperti pada konsep ''[[ahimsa]]''.<ref name=":7">{{Cite web|url=http://www.bbc.co.uk/religion/religions/buddhism/buddhistethics/abortion.shtml|title=BBC - Religions - Buddhism: Abortion|access-date=2017-10-21}}</ref> Sementara Umat Buddha dengan pandangan yang moderat menganggap tindakan aborsi merupakan hak personal.<ref name=":7" /> [[Dalai Lama]] dalam wawancaranya dengan New York Times menyatakan bahwa, baik buruknya pandangan terhadap suatu tindakan aborsi bergantung kepada situasi yakni, jika sang bayi mengalami diindikasikan mengalami kelainan atau keterbelakangan mental, atau bahkan menyebabkan masalah kesehatan yang serius terhadap ibu yang mengandungnya maka kasus tersebut merupakan pengecualian.<ref>{{Cite news|url=http://www.nytimes.com/1993/11/28/magazine/the-dalai-lama.html|title=The Dalai Lama|last=Dreifus;|first=Claudia|date=1993-11-28|newspaper=The New York Times|language=en-US|issn=0362-4331|access-date=2017-10-21}} "So I think it is better that that situation be stopped right from the beginning -- birth control. Of course, abortion, from a Buddhist viewpoint, is an act of killing and is negative, generally speaking. But it depends on the circumstances. If the unborn child will be retarded or if the birth will create serious problems for the parent, these are cases where there can be an exception. I think abortion should be approved or disapproved according to each circumstance...... "</ref>
Pun pada tindakan donor organ terdapat perbedaan pendapat antar pemuka umat Buddha. Perbedaan tersebut terkait ajaran Buddha yang menyarankan untuk menghindari tindakan yang berkaitan dengan pembunuhan atau menyakiti, karena donor organ dapat membahayakan nyawa pendonor.<ref name=":5">{{Cite journal|last=McCormick|first=Andrew J.|date=2013-04-01|title=Buddhist Ethics and End-of-Life Care Decisions|url=http://dx.doi.org/10.1080/15524256.2013.794060|journal=Journal of Social Work in End-of-Life & Palliative Care|volume=9|issue=2-3|pages=209–225|doi=10.1080/15524256.2013.794060|issn=1552-4256|pmid=23777235}}</ref> Terlebih terdapat kesalahpahaman di kalangan umat Buddha awam yang memiliki pemikiran mengaitkan donor organ dengan kelahiran kembali dari seorang manusia; Jika manusia mati dengan mendonorkan atau kehilangan organ maka, di kelahiran berikutnya ia akan mengalami cacat yang berkaitan dengan organ tersebut.<ref>{{Cite web|url=https://www.buddhistdoor.net/features/a-buddhist-perspective-on-organ-donation|title=A Buddhist Perspective on Organ Donation {{!}} Buddhistdoor|website=www.buddhistdoor.net|access-date=2017-10-21}}</ref> Namun jika organ yang didonorkan oleh seorang manusia tidak membahayakan nyawa pendonor atau pendonor tersebut telah meninggal, maka pendapat pemuka agama Buddha secara umum kompak menyetujui tindakan donor organ. Bahkan [[Sogyal Rinpoche]], seorang pemuka agama Buddha ternama dari [[Tibet]], menyatakan bahwa tindakan donor organ merupakan tindakan yang sangat mulia, dan membawa karma yang baik.<ref>{{Cite web|url=http://enlight.lib.ntu.edu.tw/FULLTEXT/JR-AN/an130326.pdf|title=The Tibetan Book of Living & Dying A Dialogue With Sogyal Rinpoche With Swami Virato|last=|first=|date=|website=enlight.lib.ntu.edu.tw|publisher=[[Universitas Nasional Taiwan]]|access-date=2017-10-21}}</ref>
 
Prinsip yang menekankan kebebasan dari suatu individu merupakan pokok dari nilai-nilai dan etika Kebaratan. Prinsip ini juga menekankan bahwa setiap individu berhak memilih metode medis untuk dirinya sendiri termasuk tindakan yang ekstrim yakni [[Eutanasia|euthanasia]].<ref>{{Cite journal|last=McCormick|first=Andrew J.|date=2011-04-01|title=Self-Determination, the Right to Die, and Culture: A Literature Review|url=https://academic.oup.com/sw/article/56/2/119/1882552/Self-Determination-the-Right-to-Die-and-Culture-A|journal=Social Work|volume=56|issue=2|pages=119–128|doi=10.1093/sw/56.2.119|issn=0037-8046}}</ref><ref>Brock , D. ( 2004 ). Physician-assisted suicide as a last-resort option at the end of life . In T. E.Quill , & M. Battin (Eds.), ''[http://scholar.google.com/scholar_lookup?publication_year=2004&pages=130-149&issue=2&author=D.+Brockauthor=T.+E.+Quillauthor=M.+Battin&title=+Physician+assisted+suicide:+The+case+for+palliative+care+and+patient+choice+& Physician assisted suicide: The case for palliative care and patient choice]'' , (Hlm. 130 – 149 ). Baltimore , MD :Johns Hopkins University Press</ref> Pada praktiknya terdapat euthanasia yang tidak secara sukarela dilakukan oleh seorang pasien, melainkan atas permintaan keluarga. Dalam hal ini pandangan pemuka agama Buddha secara umum tidak menyetujui tindakan tersebut, karena melanggar prinsip ajaran Buddha untuk tidak membunuh.<ref name=":6">{{Cite web|url=http://www.bbc.co.uk/religion/religions/buddhism/buddhistethics/euthanasiasuicide.shtml|title=BBC - Religions - Buddhism: Euthanasia and suicide|access-date=2017-10-21}}</ref> Namun jika praktik ini dilakukan secara sukarela maka terjadi perbedaan pendapat, karena terdapat fakta dengan beberapa biksu secara sengaja bermeditasi hingga meninggal dunia yang dapat dikaitkan dengan tindakan bunuh diri.<ref name=":5" /><ref name=":6" />
 
====== Perang dan perdamaian dalam pandangan Buddha ======
Dalam ajaran Buddha, tidak ditemukan ayat yang mendukung penggunaan kekerasan untuk menyelesaikan suatu permasalahan, bahkan termasuk untuk mempertahankan diri.<ref name=":8">{{Cite web|url=http://www.bbc.co.uk/religion/religions/buddhism/buddhistethics/war.shtml|title=BBC - Religions - Buddhism: War|access-date=2017-10-21}}</ref> Pada ''Kamcupamasutta, Majjhima-Nikkaya I ~ 28-29'' terdapat kutipan :<ref>{{Cite web|url=https://www.accesstoinsight.org/tipitaka/mn/mn.021x.than.html|title=Kakacupama Sutta: The Simile of the Saw|website=www.accesstoinsight.org|language=en|access-date=2017-10-21}}</ref><ref>{{Cite news|url=https://samaggi-phala.or.id/tipitaka/kakacupama-sutta/|title=Kakacupama Sutta - Samaggi Phala|date=2010-10-25|newspaper=Samaggi Phala|language=en-US|access-date=2017-10-21}}</ref>
 
{{cquote|''Demikian pula, bila ada penjahat yang dengan buas memotong tangan dan kaki(mu) dengan gergaji, ia yang (jika kamu) membangkitkan kebencian karena hal itu tidak akan dapat melaksanakan ajaranku. Inilah caranya kamu sekalian harus melatih diri: ‘Pikiran kami tidak akan terpengaruh, kami … untuk semua makhluk di alam semesta ini sebagai obyeknya..''
 
====== Hak asasi manusia dalam pandangan ajaran Buddha ======
Secara singkat, [[hak asasi manusia]] merupakan suatu norma yang didefinisikan secara universal untuk melindungi seluruh manusia dari penyalahgunaan kekuasaan, hukum, dan tradisi.<ref>{{Cite book|url=https://plato.stanford.edu/archives/spr2017/entries/rights-human/|title=The Stanford Encyclopedia of Philosophy|last=Nickel|first=James|date=2017|publisher=Metaphysics Research Lab, Stanford University|editor-last=Zalta|editor-first=Edward N.|edition=Spring 2017}}</ref> Contoh hak asasi manusia seperti : hak dalam kebebasan beragama, hak untuk hidup, hak untuk tidak mendapat siksaan, hak untuk terlibat dalam aktivitas politik, dan lain-lain.<ref>{{Cite web|url=http://www.un.org/en/universal-declaration-human-rights/|title=Universal Declaration of Human Rights|website=www.un.org|language=en|access-date=2017-10-21}}</ref> Dalam ajaran Buddha, tidak terdapat definisi pasti mengenai hak asasi manusia. Kata "hak" selalu menjadi kata yang asing jika diterjemahkan dalam bahasa yang terkait literatur ajaran Buddha.<ref name=":11">Emmanuel M. Steven (2013). ''A Companion to Buddhist Philosophy''. Willey-Blackwell. hlm. 651-662. "There is no precise definition of human rights in the Buddhist lexicon and no concept that can be mapped without problem in any of the Buddhist canonical languages. No matter how we parse the word “rights,” it remains a foreign concept when translated into Buddhist languages ......"
</ref> Meskipun demikian, hal ini bukan berarti ajaran Buddha tidak mendukung konsepsi dari hak asasi manusia, bukan pula menandakan bahwasanya ajaran Buddha kekurangan konsep untuk menjelaskan istilah "hak asasi manusia". Melainkan perlu dilakukan kajian lebih lanjut terhadap ajaran Buddha untuk mendapatkan pandangannya terhadap konsep hak asasi manusia. Pandangan ajaran Buddha terhadap hak asasi manusia jika dikaji lebih lanjut, tersatukan bersama konsep kewajiban dan pengakuan terhadap adanya ''dukkha.''<ref name=":11" /> Kewajiban manusia dalam ajaran Buddha diatur melalui hukum karma. Melalui hukum ini, setiap individu bertanggung jawab terhadap perbuatan, perkataan dan pemikiran mereka, dan juga menerima konsekuensinya.<ref name=":11" /> Tersirat juga dari hukum karma bahwa setiap memiliki kebebasan untuk melakukan hal apapun namun dianjurkan untuk tidak melakukan tindakan yang merugikan makhluk lainnya, karena akan membawa karma buruk yang berdampak pada diri sendiri.
 
268.871

suntingan