Sri Tanjung: Perbedaan revisi

2 bita ditambahkan ,  2 tahun yang lalu
k
namun (di tengah kalimat) → tetapi
k (ibukota → ibu kota)
k (namun (di tengah kalimat) → tetapi)
 
== Asal mula ==
Asal mula atau siapakah pencipta kisah ini tidak diketahui, namuntetapi diduga kisah ini berasal dari [[Banyuwangi]], [[Jawa Timur]], karena terkait dengan [[legenda]] asal mula nama kota Banyuwangi. Kisah ini diperkirakan berasal dari zaman awal kerajaan [[Majapahit]] sekitar awal abad ke-13 Masehi. Pendapat ini didasarkan atas bukti arkeologi, bahwa selain dalam bentuk tembang, kisah Sri Tanjung juga diabadikan dalam bentuk bas-relief yang terukir di dinding [[Candi Panataran]], [[Gapura Bajang Ratu]], [[Candi Surawana]] dan [[Candi Jabung]].
 
== Cerita ==
Lantas Sidapaksa diutus oleh Raja Sulakrama pergi ke [[Swargaloka]] dengan membawa surat yang isinya ''"Pembawa surat ini akan menyerang Swargaloka"''. Atas bantuan Sri Tanjung yang menerima warisan selendang ajaib peninggalan ibunya dari ayahnya, Raden Sudamala, Sidapaksa dapat terbang ke Swargaloka. Setibanya di Swargaloka, Sidapaksa yang tidak mengetahui apa isi surat itu menyerahkan surat itu kepada para dewa. Akibatnya dia dihajar dan dipukuli oleh para dewa. Namun akhirnya, dengan menyebut leluhurnya adalah Pandawa, maka jelaslah kesalahpahaman itu. Raden Sidapaksa kemudian dibebaskan dan diberi berkah oleh para dewa.
 
Sementara itu di bumi, sepeninggal Sidapaksa, Sri Tanjung digoda oleh Raja Sulakrama. Sri Tanjung menolak, namuntetapi Sulakrama memaksa, memeluk Sri Tanjung, dan hendak memperkosanya. Mendadak datang Sidapaksa yang menyaksikan istrinya berpelukan dengan sang Raja. Raja Sulakrama yang jahat dan licik, malah balik memfitnah Sri Tanjung dengan menuduhnya sebagai wanita sundal penggoda yang mengajaknya untuk berbuat [[zina]]. Sidapaksa termakan hasutan sang Raja dan mengira istrinya telah berselingkuh, sehingga ia terbakar amarah dan kecemburuan. Sri Tanjung memohon kepada suaminya agar percaya bahwa ia tak berdosa dan selalu setia. Dengan penuh kesedihan Sri Tanjung bersumpah apabila dirinya sampai dibunuh, jika yang keluar bukan darah, melainkan air yang harum, maka itu merupakan bukti bahwa dia tak bersalah. Akhirnya dengan garang Sidapaksa yang sudah gelap mata menikam Sri Tanjung dengan [[keris]] hingga tewas. Maka keajaiban pun terjadi, benarlah persumpahan Sri Tanjung, dari luka tikaman yang mengalir bukan darah segar melainkan air yang beraroma wangi harum semerbak. Raden Sidapaksa menyadari kekeliruannya dan menyesali perbuatannya. Sementara sukma Sri Tanjung terbang ke Swargaloka dan bertemu Dewi [[Durga]]. Setelah mengetahui kisah ketidakadilan yang menimpa Sri Tanjung, Sri Tanjung dihidupkan kembali oleh Dewi Durga dan para dewa. Sri Tanjung pun dipersatukan kembali dengan suaminya. Para dewa memerintahkan Sidapaksa untuk menghukum kejahatan Raja Sulakrama. Ia pun membalas dendam dan berhasil membunuh Raja Sulakrama dalam suatu peperangan. Konon air yang harum mewangi itu menjadi asal mula nama tempat tersebut. Maka sampai sekarang ibu kota kerajaan [[Blambangan]] dinamakan [[Banyuwangi]] yang bermakna "air yang wangi".
 
== Referensi ==
268.871

suntingan