Xuanzang: Perbedaan revisi

5 bita ditambahkan ,  2 tahun yang lalu
k
ibukota → ibu kota
(Perbaikan kesalahan ketik)
Tag: Suntingan perangkat seluler Suntingan aplikasi seluler Suntingan aplikasi Android
k (ibukota → ibu kota)
 
== Awal Kehidupan ==
Xuanzang, yang dengan nama Chen Hui sewaktu dilahirkan, lahir di sebuah keluarga yang menjunjung tinggi pendidikan. Ia merupakan yang terkecil dari empat bersaudara. Kakek buyutnya adalah seorang pejabat, dan kakeknya ditunjuk sebagai profesor di perguruan tinggi kerajaan di ibukotaibu kota. Ayahnya adalah seorang penganut [[Kong Hu Cu]] yang melepaskan semua jabatan untuk melepaskan diri dari konflik politik di Tiongkok pada saat itu. Menurut biografi tradisional, Xuanzang menunjukkan intelejensi yang kuat. Bersama dengan saudaranya, dia menerima pendidikan dari ayahnya, yang memberikan pelajaran tentang literatur-literatur klasik dan beberapa ajaran Kong Hu Cu.
 
Walaupun keluarganya beragama Kong Hu Cu, masa muda dia menunjukkan ketertarikan menjadi Bhikkhu. Setelah ayah dia meninggal dunia tahun [[611]], dia hidup bersama dengan kakak sulung di Chensu (sekarang Chanjie) selama lima tahun di [[kuil Jingtu]] (淨土寺) di [[Luoyang]]. Dalam masa ini dia mempelajari ajaran Buddha baik aliran [[Theravada]] maupun [[Mahayana]], yang kemudian lebih condong memilih [[Mahayana]].
 
Tahun [[618]], dinasti Sui runtuh dan Xuanzang beserta dengan kakak sulungnya menghindar ke Chang'an, di mana dijadikan sebagai ibukotaibu kota [[dinasti Tang]], kemudian ke [[Chengdu]], [[Sichuan]]. Di sinilah kedua bersaudara menghabiskan waktu dua sampai tiga tahunnya melanjutkan studi di kuil [[Kong Hui]].
 
Xuanzang menjadi seorang bhikkhu pada tahun [[622]] ketika berumur dua puluh tahun. Terdapat berbagai kontradiksi dan perbedaan dalam berbagai sumber mengenai waktu di mana Xuanzang memutuskan untuk melakukan perjalanan ke India. Ia kemudian meninggalkan kakak sulungnya dan kembali ke Chang'an untuk mempelajari bahasa asing dan melanjutkan studinya. Ia menguasai bahasa Sanskerta pada tahun [[626]], dan kemungkinan juga mempelajari [[Bahasa Tokharia]]. Pada masa ini Xuanzang menjadi tertarik kepada bidang metafisika [[Yogacara]].
mengikuti gunung [[Tian Shan]] ke arah Barat, dan sampai ke [[Turfan]] tahun [[630]]. Di sinilah dia bertemu dengan Raja Turfan, seorang umat Buddha yang memberinya beberapa peralatan dan barang-barang berharga untuk membiayai perjalanannya.
 
Berjalan menuju ke barat, Xuanzang melarikan diri dari perampok dan mencapai [[Yanqi]], kemudian melancong ke kuil [[Theravada]] di [[Kucha]]. Lebih jauh lagi, dia melewati [[Aksu]] sebelum berputar ke arah barat laut untuk melewati Tian Shan ke daerah yang sekarang dikenal sebagai [[Kirgizstan]]. Ia menuju ke [[Issyk Kul]] sebelum mengunjungi [[Tokmak, Uzbekistan|Tokmak]] di sebelah barat daya, dan bertemu dengan [[Khan]] Turki barat, yang pada saat itu ramah dengan kaisar [[Dinasti Tang]]. Setelah jamuan pesta, Xuanzang melanjutkan perjalanannya ke arah barat kemudian barat daya ke [[Tashkent]] (Chach/Che-Shih), ibukotaibu kota [[Uzebkistan]] sekarang. Dari sini, dia menyeberangi padang pasir ke barat menuju [[Samarkand]]. Di Samarkand, yang mana di bawah kekuasaan [[Kerajaan Persia]], dia membuat raja lokal di sana terkesan dengan khotbah ajarannya. Berlanjut ke arah selatan, Xuanzang menyeberangi [[Gunung Pamir]]. Lebih jauh lagi, dia mencapai [[Amu Darya]] dan [[Termez]], di mana dia menemukan sebuah komunitas dengan lebih dari 1.000 bhikkhu.
 
Lebih jauh ke arah timur, dia melewati [[Kunduz]], di mana dia menginap untuk beberapa waktu menyaksikan pemakaman [[Pangeran Tardu]]. Di sinilah dia bertemu dengan Bhikkhu [[Dharmasimha]], dan atas anjurannya dia melakukan perjalanan ke arah barat menuju [[Balkh]] ([[Afganistan]]) untuk menyaksikan situs dan relik buddhis, terutama [[wihara Nava]], atau Nawbahar, yang oleh dia dikatakan sebagai institusi monastik paling barat di dunia. Di sini Xuanzang juga menemukan lebih dari 3.000 bhikkhu Theravada, termasuk [[Prajnakara]], seorang bhikkhu yang pernah belajar bersama dengan dia. Ia mendapatkan teks penting [[Mahāvibhāṣa]] di sini, yang kemudian dia menerjemahkannya ke dalam Bahasa Mandarin. Prajnakara kemudian menemani dia ke arah selatan menuju [[Bamiyan]], di mana Xuanzang bertemu dengan raja dan melihat sepuluh kuil [[Theravada]], dengan tambahan dua patung raksasa [[Patung Buddha Bamiyan|Buddha Bamiyan]]. Romobongan kemudian melanjutkan perjalanan ke arah timur, melewati [[Shibar]] dan menuju ibukotaibu kota [[Kapisi]] (sekita 60 km dari [[Kabul]]). Xuanzang kemudian melanjutkan perjalanan ke [[Jalalabad]] dan [[Laghman]], di mana dia telah sampai ke India tahun [[630]].
 
== India ==
Tahun [[633]], Xuanzang meninggalkan Kashmir dan melanjutkan perjalanan ke selatan menuju [[Chinabhukti]].
 
Tahun [[634]], dia menuju timur ke [[Jalandhara]] di bagian timur [[Punjab]], sebelum mendaki gunung ke kuil [[Theravada]] di [[Lembah Kulu]] dan kemudian memutar ke arah selatan kembali ke [[Bairat]] kemudian ke [[Mathura]]. Terdapat 2.000 bhikkhu di Mathura dari dua aliran Agama Buddha walaupun didominasi oleh Hindu. Xuanzang melancong ke [[Srughna]] sebelum menyeberang ke timur menuju [[Matipura]] dan sampai pada tahun [[635]]. Dari sini, dia menuju selatan ke [[Sankasya]] (Kapitha), kemudian melanjutkan ke ibukotaibu kota kerajaan India [[Harsha]], [[Kanyakubja]] (Kanauji). Di sini, tahun [[636]], Xuanzang menemukan 100 kuil dengan 10.000 bhikkhu, dan terkesan dengan kebijakan raja yang mempromosikan Agama Buddha. Xuanzang menghabiskan waktu di kota ini mempelajari aliran Theravada, sebelum menuju ke timur ke [[Ayodhya]] (Saketa). Xuanzang kemudian berjalan ke selatan menuju [[Kausambi]] (Kosam).
 
Xuanzang kemudian kembali ke utara menuju [[Sravasti]], berjalan melalu [[Terail]] di bagian selatan [[Nepal]], kemudian ke [[Kapilavastu]], pemberhentian terakhir dia sebelum [[Lumbini]], tempat lahir [[Siddharta Gautama]]. Sesampainya di Lumbini, dia mengunjungi pilar dekat pohon Ashoka di mana Buddha dikatakan lahir. Pilar ini dibangun oleh Raja [[Ashoka]], dan kemudian ditemukan kembali oleh A. Fuhrer tahun [[1895]].
268.871

suntingan