Buka menu utama

Perubahan

733 bita dihapus ,  11 tahun yang lalu
k
edit
|children = [[Ali ar-Ridha]] ''(penerus)''
}}
'''Musa al-Kadzim''' ('''[[Bahasa Arab|Arab]]''': '''الإمام موسى الكاظ'''م‎) (Tujuh [[Safar]], 128 H – 25 [[Rajab]] 183 H) (Bertepatan dengan: [[28 Oktober]] [[746]] - [[1 September]] [[799]]) merupakan [[Imamah|Imam ke-7]] dalam tradisi [[Islam]] [[Syi'ah]] [[Dua Belas Imam]]. Dia adalah putra dari [[Imamah|Imam]] ke-6, [[Ja'far ash-Shadiq]], dan ibunya bernama Hamidah Khatun. Dia lahir ketika terjadi pergolakan antara [[Bani Umayyah]] dan [[Bani Abbasiyah]] dan ia biasa pula dipanggil dengan nama '''Abu al-Hasan'''.
<!--Riwayat Singkat Imam Musa Al-Kazhim
 
Nama : Musa.
 
Gelar : Al-Kazhim.
 
Panggilan : Abul Hasan.
 
Ayah : Imam Ja’far as.
 
Ibu : Hamidah.
 
Kelahiran : Abwa’, 7 Safar 120 H.
 
Masa Imamah : 35 Tahun.
 
Usia : 54 Tahun.
 
Kesyahidan :Tahun 182 H.
 
Makam : Kazhimain, Irak.-->
'''Musa al-Kadzim''' bin '''[[Ja'far ash-Shadiq]]''' ([[Bahasa Arab]]: '''موسى الكاظم‎''') ([[Madinah]], [[10 November]] [[745]] – [[Baghdad]], [[4 September]] [[799]]) adalah [[Imamah|imam]] ke-7 dalam tradisi [[Islam]] [[Syi'ah]] [[Dua Belas Imam]].
 
==Keluarga==
===Kelahiran===
Imam Musa Al-Kazhim as lahir pada hari Ahad, bertepatan dengan 7 Shafar tahun 120128 Hijriah di sebuah lembah bernama Abwa’ yang terletak di antara [[Makkah]] dan [[Madinah]]. Ibunda beliau bernama Hamidah. Imam as mencapai kedudukan Imamah pada usia 21 tahun.
 
===Ibunda===
Abu Bashir menuturkan, “Kami bersama Imam Ja’far melakukan perjalanan ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Tidak lama setelah tiba di sebuah tempat yang dikenal dengan Abwa’ dan menyantap sarapan pagi di sana, Imam mendapat kabar bahwa Allah SWT telah menganugerahinya seorang putra. Dengan penuh suka-cita, Imam Ja’far segera menemui istrinya, Hamidah. Tidak lama kemudian, beliau kembali dengan wajah berseri dan berkata, “Allah SWT telah memberiku seorang anak. Kelahiran putraku ini merupakan anugerah terbaik dari-Nya.”
Ibunda Musa Al-Kazhim as adalah seorang budak yang dibeli oleh [[Ja'far ash-Shadiq|Imam Ja’far]]. Meskipun demikian, ibunda telah mendapatkan pengajaran ilmu dari Imam Ja’far as, yang menjadikannya sebagai wanita yang memiliki keluasan ilmu dan kecakapan dalam bidang ilmu-ilmu agama. Sehingga, terkadang Imam Ja’far meminta para wanita untuk bertanya masalah-masalah agama kepadanya.
 
===Keturunan===
Ibundanya bercerita bahwa ketika putranya lahir, ia merebah sujud dan memanjatkan rasa syukurnya kepada Allah SWT. Perbuatan ini merupakan tanda imamah beliau.
Diantara keturunan Musa al-Kadzim adalah:<ref name="Dialog">[[Muhammad al-Musawi|al-Musawi, Muhammad]]. '''''Mazhab Syiah''': Kajian Al-Quran dan Sunnah''. [[Bandung]]: Muthahhari Press, 2001. ISBN: 979-95564-6-5</ref>
 
#[[Ali ar-Ridha]] (penerus imamah)
Saat tiba di Madinah, Imam Ja’far Ash-Shadiq as menghidangkan jamuan makan selama tiga hari, mengundang orang-orang miskin, dan orang-orang yang tertimpa kesusahan.
#Ahmad bin Musa, dikenal pula dengan julukan ''Syah Chiragh''. Ia syahid di [[Syiraz]], [[Iran]].
 
#'Ala'uddin Husain, ia syahid di [[Syiraz]], [[Iran]].
Ya’qub As-Sarraj menuturkan, “Aku mengunjungi Imam Ash-Shadiq as di Madinah. Aku melihatnya berdiri di dekat ayunan putranya, Musa Al-Kazhim as. Aku mengucapkan salam kepada beliau, dan dengan tatapan yang cerah beliau membalas salamku. Beliau berkata, ‘Mari mendekat kepada Imam dan sampaikan salam padanya.’ Aku mendekatinya dan menyampaikan salam. Imam Ja’far berkata, ‘Allah SWT telah menganugerahimu seorang putri dan engkau telah memberinya nama yang kurang pantas untuknya. Pergilah dan gantilah namanya.’”
#Muhammad al-'Abid,
 
##Ibrahim al-Mujab, ia dikuburkan di [[Karbala]], [[Iraq]].
===Ibunda===
###Ahmad bin Ibrahim
Ibunda Musa Al-Kazhim as adalah seorang budak yang dibeli oleh Imam Ja’far. Meskipun demikian, ibunda telah mendapatkan pengajaran ilmu dari Imam Ja’far as, yang menjadikannya sebagai wanita yang memiliki keluasan ilmu dan kecakapan dalam bidang ilmu-ilmu agama. Sehingga, terkadang Imam Ja’far meminta para wanita untuk bertanya masalah-masalah agama kepadanya.
###Muhammad bin Ibrahim
###Ali bin Ibrahim
<!--
==Periode kehidupan==
Periode kehidupan Imam Musa Al-Kazhim as dapat dibagi menjadi dua bagian:
*Pertama, kehidupan beliau bersama ayahandanya di Madinah selama 20 tahun. Periode ini berlangsung sebelum beliau mencapai Imamah.
*Kedua, masa-masa awal perlawanan, pemenjaraan, dan pengasingan yang menimpa kehidupan Imam as.
 
Pertama, kehidupan beliau bersama ayahandanya di Madinah selama 20 tahun. Periode ini berlangsung sebelum beliau mencapai Imamah.
 
Kedua, masa-masa awal perlawanan, pemenjaraan, dan pengasingan yang menimpa kehidupan Imam as.
Akhlak Imam Musa
 
 
Peristiwa ini dikenal dalam sejarah sebagai tragedi Fakh dan pejuang ‘Alawi itu dikenal dengan “Husain”, Sang Syahid Fakh.
 
Hijrah Pertama ke Baghdad
 
 
Imam melewatkan hari-harinya di penjara itu dengan shalat, puasa, ibadah, dan doa. Semua itu menambah kedekatan diri beliau kepada Allah SWT.
 
Perlawanan di dalam Penjara
 
 
Imam as menulis sepucuk surat kepada Harun yang berbunyi, “Setiap hari kulalui dengan kesusahan, sementara kau lalui hari-harimu dengan kesenangan. Lalu, kita akan sama-sama mati. Hingga di suatu hari yang tiada akhirnya, kelak kita diberdirikan di hadapan Mahkamah Ilahi, ketika orang-orang licik hanya akan menjadi pecundang dan terhinakan.”
 
Hari Kesyahidan
 
 
==Sahabat-sahabat Imam Musa Al-Kazhim==
Ketika ayahnya yang mulia, Imam Ja’far Ash-Shadiq as wafat, murid-murid beliau memusatkan perhatian dan kesetiaan mereka kepada putranya, Imam Musa as. Mereka menuntut ilmu kepada Imam as selama tiga puluh tiga tahun. Beberapa murid beliau antara lain:
 
===Ibnu Abi Umair===
* “Dunia ini berkulit halus dan cantik, ibarat seekor ular. Namun, ia menyimpan racun pembunuh di dalamnya.”
 
==Referensi==
===Sumber===
{{reflist}}
===Lihat pula===
*[[Dua Belas Imam]]
{{islam-bio-stub}}
 
8.676

suntingan