Pelajar Islam Indonesia: Perbedaan revisi

38 bita ditambahkan ,  1 tahun yang lalu
k (TOKOH)
'''Pelajar Islam Indonesia''' adalah organisasi massa Pelajar [[Islam]] yang bergerak di bidang kepelajaran dan perkaderan<ref>{{Cite web|url=https://israyuda.wordpress.com/tag/pelajar-islam-indonesia/|title=pelajar islam indonesia {{!}} ORGANIZATION|language=id-ID|access-date=2019-05-02}}</ref> yang bertujuan terciptanya kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang berdasarkan [[Islam]] bagi segenap bangsa [[Indonesia]] dan umat manusia. Berdiri hari Ahad, 4 Mei 1947 M/ 12 Jumadi Tsani 1366 H di [[Yogyakarta]] dengan tokoh pertamanya Yoesdi Ghazali<ref>{{Cite web|url=https://pelajarislam.wordpress.com/sejarah-pii/|title=Sejarah PII|date=2015-03-30|website=Pelajar Islam Indonesia #NTB|language=id-ID|access-date=2019-05-02}}</ref> dan saat ini Ketua Umum PB (Pengurus Besar) PII, [[Husin Tasrik Makrup Nasution]].<ref>{{Cite news|url=https://kompas.id/label/ketua-umum-pb-pii-husin-tasrik-makruf-nasution/|title=Ketua Umum PB PII Husin Tasrik Makruf Nasution – Kompas.Id|last=kompas.id|newspaper=Kompas.Id|language=en-US|access-date=2018-07-18}}</ref>
 
== BerdirinyaSebab-sebab berdirinya PII ==
Kebijakan politik Belanda dan Jepang pada masa pra kemerdekaan telah memberikan dampak yang sangat negatif bagi umat Islam. Salah satu dampak yang terasa di kalangan pelajar yaitu adannya perpecahan antara pelajar yang mengenyam pendidikan di sekolah umum dan pelajar (santri) yang mengenyam pendidikan di pesantren. Dalam hal kurikulum, pemikiran Belanda (Barat) yang sangat materialistis telah menjadi basis cara pandang pelajar didikan Belanda (sekolah umum). Mereka cenderung banyak meniru Barat dalam pola hidup maupun budaya pribadi seperti terlihat pada cara berpakaian, bersikap, dan bertingkah laku. Sisi positif yang dapat diambil dari hasil pendidikan Barat ini terletak pada metode yang modern karena memakai kurikulum dan kelas. Metode ini dapat memberikan keteraturan dan kedinamisan. Sementara sisi negatifnya terletak pada kemerosotan rasa patriotisme dan masuknya paham sekulerisme ke dalam pikiran para pelajarnya. Dari sisi pekerjaan, umumnya pelajar hasil pendidikan gaya Belanda ini menjadi pegawai rendahan pada pemerintah kolonial Belanda.<ref>Djayadi Hanan, Gerakan Pelajar Islam Di Bawah Bayang-Bayang Negara. Yogyakarta: PB PII dan UII Press, 2006, hlm 55</ref>
 
# Jiwa yang beku (statis)
 
== Proses Berdirinyapembentukan PII ==
Pada tanggal 25 Februari 1947, Yoesdi Ghozali sedang beri’tikaf di Masjid Besar Kauman, Yogyakarta. Atas dasar refleksinya tentang situasi dan kondisi yang terjadi pada bangsa Indonesia saat itu, terlintas gagasan untuk membentuk suatu organisasi bagi pelajar Islam yang dapat mewadahi segenap lapisan pelajar Islam yang saat itu terpecah dan belum terkoordinasi. Gagasannya disampaikan pada Anton Timur Djaelani, Amin Syahri, Ibrahim Zarkasyi, dan Noersyaf saat pertemuan di Gedung SMP Negeri 2 Sekodiningratan, Yogyakarta. Semua yang hadir ini sepakat untuk mendirikan organsasi Pelajar Islam.
 
* Wustho, dan
* Ali -->
== Daftar Ketua Umum Pengurus Besar PII ==
== Kepengurusan ==
{| class="wikitable"
!No